
“Seneng banget?” Aku melihat wajah cerahnya. Menyapanya lagi setelah aku berhasil menenangkan diriku sendiri. Duduk berdua diruang tunggu itu sambil menyembunyikan debaran di dadaku, setidaknya aku bisa duduk disampingnya bersembunyi dalam status mui-mui tersayangnya(adik).
“Mau kembali ke rumah... ya seneng. Saya agak lama belum pulang, belakangan laporan sama boss di Singapore atau Jakarta kadang, dia sering bolak-balik Singapore, Jakarta, soalnya istrinya dari sini. Anak saya belakangan selalu yang jalan ke sini. Dia seneng banget ke Bali, Lombok, Raja Ampat.”
“Dia jemput nanti?”
“Ohh engga? Dia sekarang sibuk, bukan liburannya dia sekarang, sudah mau ujian kelulusan, mungkin nanti ketemu dia beberapa hari saja.”
“Boleh kenalan sama dia juga?” Aku harus bisa akrab dengan anaknya.
“Boleh, dia kenal dekat juga dengan Papa dan Tante Yun Lan, gimanapun itu masih termasuk keluarga, walaupun jauh.”
“Bahasa Inggrisnya lancar?”
“Tentu saja, dia kan kuliah di USA nanti.” Jawaban Ko Derrick membuatku berpikir. Apa anaknya tidak ingin Papanya berkeluarga, apa dia cemburu setiap ada wanita yang mendekatinya. Kurasa Koko ini setelah dia punya pekerjaan mapan punya keinginan berkeluarga, buktinya dia punya teman mesra.
Dia mengaku hanya menganggap Lisa teman, apa aku bisa menggodanya dengan bersembunyi di balik kata ‘adik’. Pikiran ini datang begitu saja padaku. Orang bilang cinta itu datang karena terbiasa, apa itu berlaku juga akan berlaku untuknya karena itu yang mungkin terjadi padaku.
Aku tak tahu, aku tak punya ide, aku malah tak pernah menggoda pria. Tapi yang pasti aku tak akan jatuh ke pelukan orang yang tak kusai jika aku menikah, atau semacam di jodohkan karena hubungan bisnis. Jika itu terjadi pada Ayah, aku tak akan membiarkan itu terjadi padaku.
“Kenapa kamu melamun lagi. Sebenarnya kenapa kamu...” Sekarang Ko Derrick memperhatikanku lagi, dia kepo juga kenapa aku marah-marah dengan dia hari ini, kurasa selama dia tidak pernah terganggu dengan keberadaanku di sampingnya. Aku harus hati-hati tidak menampakkan perasaanku, harus dia yang tergerak duluan bukan aku. Perasaanku tak boleh terbongkar.
Aku tak tahu apa pikiranku benar, tapi itu rencana yang paling logis.
“Ga pa-pa, cuma takut Papa gak kasih aku balik Jakarta lagi, aku seneng dengan kerjaanku, aku berjuang naik di karier ini dari nol, bukan dari faselitas orang tua. Kepikiran terus beberapa hari ini... Koko juga dipesen buat ngebujuk aku kan, pasti Koko juga di pihak Papa.” Aku mencari pengalih perhatian sekarang, nampaknya dia percaya.
__ADS_1
“Kamu sendiri di Jakarta siapa yang tidak kuatir.”
“Aku udah 34 Ko, masa aku gak tahu mana yang baik atau jelek. Udah bisa nilai oranglah.”
“Ya, coba ngomonglah ke Papa kamu. Koko netral aja sekarang.” Aku tersenyum padanya.
“Thanks Ko, janji ya gak ninggalin aku di Hongkong, pulang sama-sama. Janji...” Aku memberikan kelingkingku untuk perjanjian. Dia tertawa.
“Mesti janji ya?”
“Ko serius jangan ampe aku ditahan di HK. Bantuin Ko,...” Aku seneng bisa megang lengannya sekarang, peran adik manja ini menyenangkan juga. Aku bisa kadang-kadang manfaatin ini sebagai senjata nanti... “Ko, janji, jangan tinggalin aku di HK...”
“Iya-iya janji.” Dia memberikan kelingkingnya mengikat janji denganku.
“Kamu harus ngomong sendiri, janji sendiri, Koko gak bisa bantu banyak, cuma kalo disuruh janji ngeliat kamu ya bisa. Sampai situ aja ya”
“Iya-iya, sorry nyusahin Koko, tapi aku kan gak minta waktu Koko. Aku kan gak ngerepotin Koko tiap hari, ini aja kita cuma ketemu dua minggu kemarin. Ya?”
“Fine...” Dia mengangguk, tapi aku harus sudah putar otak gimana lebih sering sama-sama dia tapi dia gak terganggu.
Aku melepasnya kemudian, ya sudah, pelan-pelan saja. Perasaanku lebih baik sekarang karena aku bisa mencari jalan.
Dalam lima jam berikutnya aku harus duduk di pesawat sampai aku bosan.
“Lama banget ya Ko, pegel... Harusnya aku bawa buku saja buat dibaca.” Aku sudah cape menonton film dari layar di depanku.
__ADS_1
“Tidur, masih dua jam lagi.”
“Dua jam, masih lama banget rasanya... Koko masih punya apartment di HK Ko?”
“Engga, ada sih apartment, jarang ditinggali ya sudah disewain ke orang. Nginep di hotel aja.”
“Ohh, gak punya rumah keluarga?”
“Itu rumah Mama dan Papa, mereka kan sudah meninggal.”
“Ohh jadi di KH otomatis sebenarnya gak ada keluarga selain anak ya Ko.”
“Iya.” Dia lonely juga ya, status dia anak angkat, cuma punya anak, tapi ya sudah punya posisi bagus, sudah diakui jadi orang, bahkan Tante Yun Lan anggep dia keluarga.
“Tidur, katanya bosen.” Dia menunjuk bahunya, baek amat, aku langsung sumringah.
“Enak ya punya senderan. Boleh nyender? Beneran?"
“Saya memang Koko yang baik, soalnya gak pernah punya adek.” Biarpun perkataan adik itu agak menyakitkan tapi sudahlah yang penting aku bisa nyender di bahunya dan dia yang nyuruh sendiri. Ini membahagiakan, biarpun aku membohongi diriku sendiri karena lagi-lagi dia hanya menganggapku adik.
“Ko ajak jalan-jalan dong.” Sekarang manfaatin kesempatan sebaik-baiknya. Modus.
“Hongkong tempat jalan-jalannya itu-itu aja, rame sama turis, bagusan di Indo, paling di Hongkong makanan enak banyak.”
“Ya udah ayo jalan, sama anak Koko juga boleh kok. Ehh gak sih,sorry, your quality time sama princess Koko ya...nanti aku takut ganggu.”
“Engga juga, dia sudah besar, uda mulai punya pacar, kadang saya sudah merasa dilupakan. Sudah punya dunia sendiri.” Aku tertawa, ternyata orang tua pun punya fase seperti ini.
__ADS_1
“Kasian, sabar Ko ...” Aku bersandar ke bahunya, menyisipkan lenganku ke dalam lengannya dengan perasaan berdebar bahgia dan memejamkan mata, wangi parfumnya tercium dari kemejanya yang lembut. Aku suka wanginya, sesuka aku padanya.