TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 2. Ternyata dia adalah....(1)


__ADS_3

“Eh, namanya siapa tadi Direktur Utamanya Yen?” Aku Anita Cahyani, 34 tahun dan pimpinan sebuah  tim project adv-ku sedang siap-siap presentasi materi iklan kami sekarang. Ini iklan besar, klien berani bayar talent artis untuk comercial dan skala pengerjaannya juga mencakup print, television,mobile and social media campaign, sampai juga akan digunakan outdoor advertising. Ini proyek besar, aku sangat berharap mendapatkan proyek ini. Bonusku pasti melonjak tajam jika aku menang presentasi kali ini.



Ini adalah untuk jaringan sebuah bisnis retail kosmetik yang mulai expand dari online ke toko mandiri sampai sekarang mendapat investor dan berkembang sampai bisa go public sekarang dan mendapat siraman siraman modal luar biasa sehingga mereka  bisa ‘bakar uang’ untuk promosi besar-besaran sekarang. Dan memperkenalkan membership istimewa mereka dengan  diskon “bakar uang” mereka.


“Derrick Tan, kabarnya ini wakil pemegang saham terbesar mba, perusahaan investasinya di Hongkong.  Jonathan Wu,  wakil direktur, Francesca Wibi, Direktur marketingnya, yang hubungan sama kita.” Assistenku menjawabku untuk hapalanku. Derrick Tan, kenapa sama dengan nama cowo yang kemarin ya ...   Nama  Derrick banyak. Gak mungkin orang yang sama lahh.


Fokus-fokus! Aku sudah siap-siap dengan story board keren hasil timku! Yakin  ini gak akan lolos! Amin-Amin! Ya Tuhan kasihlah aku bonus banyak taon ini! Komat-kamit dulu dalam hati baca mantra biar presentasi ini lancar.

__ADS_1


Ada lima orang yang   masuk ke ruangan aku mengangkat wajahku, yang aku  kenal Francesca Wibi dan satu assistennya. Dan empat orang laki-laki lainnya aku tak kenal. Dan aku pasti bermimpi sekarang, diantara kemungkinan paling  mustahil untuk bertemu sesama penyuka diskonan itu kami berhadapan muka.


“Ahhh penyuka diskonan, bikin iklan soal diskonan.” Komentar sadis pertama yang kudapatkan dari cowo itu. “Pasti menarik...” Aku terpaksa  harus senyum, sementara yang lain tak tahu yang siapa direktur mereka singgung karena aku senyum, yang lain jadi tahu sasarannya itu aku.



“Senang bertemu  lagi Pak Derrick. Saya memang suka diskonan, terima kasih sudah memberi  saya diskonan-nya.” Gue terpaksa membanting harga diri ke dasar jurang terjal dibawah sana.  Dia diam saja, sedikit menaikkan bibirnya sebelah, senyum sinis kaya mafia Triad dan duduk di kursinya pake cerutu. Yang punya duit memang harus punya gaya.  Kutu Kupret kalo lu bukan CEOnya, gak bakal lu gue sembah-sembah begini.


“Ohh ternyata memang pernah bertemu, ini Pak Derrick CEO kami, Pak Jonathan wakilnya. Bu Anita ini adalah kepala tim dari Blue Flag Advertising.” Bu Fransecca yang adalah Direktur Marketing menjelaskan padaku.

__ADS_1


“Mulai saja, langsung. Kita langsung bandingkan saja dengan dua tim sebelumnya.” Kalo di kantor dia ternyata tipe-tipe lugas,sombong  dan jarang senyum. Salaman pun engga mau.


“Sihlakan Bu Anita.” Dengan berdebar-debar aku maju ke depan dibawah tatapan Kutu Kupret ganteng yang sekarang gak pake senyum, yang  sekarang memakai kacamata ini.


“Terimakasih atas kesempatannya Pak Derrick, Pak Jonathan, Bu  Francessca.  Kami mengerti sasaran iklan massive ini adalah menanamkan nama Anda ke ingatan masyarakat seluruh Indonesia, jadi kami akan membuat iklan yang ingin ditonton  orang dan diingat masyarakat. Untuk itu kami akan  memakai pendekatan komedi.”


Aku menjelaskan ideku, dengan storyboard animasi yang sudah di persiapkan timku.


Ada sepasang kekasih yang sedang berbelanja di outlet perusahaan ini, pacarnya yang cantik itu, mengambil sejumlah barang, make up dan perawatan wajah, menumpuknya di meja kasir, kasir menyebutkan jumlah belanjaanya. Sang kekasih pria kebinggungan karena uangnya tidak cukup. Jadi akhirnya pacarnya itu tidak jadi mengambil produk make-up tapi kemudian mukanya berubah drastis menjadi jelek sehingga kasir dan pacarnya dan kasirnya ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2