
Cherrie akhirnya bisa ke Shanghai, Papanya tidak menganggu kami. Kudengar Mamanya sudah kembali dari LA dan mereka memulai perundingan perceraian.
"Bagaimana perasaanmu?" Kami semua duduk bersamanya saat dia menginap dua hari dirumah Tata sebelum dia ke Shanghai.
"Perasaanku baik-baik saja, mungkin tak perduli sekarang. Aku senang untuk pertama kalinya bisa keluar dari lingkaran keluargaku, hidup sendiri di kota baru. Mungkin aku bisa menemukan banyak hal baru, menjadi aku apa adanya tanpa harus diatur oleh Ayah."
"Begitu? Kau tak sedih Ayah Ibumu bercerai."
"Aku tahu perkawinan itu tak mudah, mereka punya pertimbangannya sendiri, biarkan saja perebutan perusahaan menjadi urusan Mama dan Papa. Aku tak ingin ikut urusan itu sama sekali. Aku sudah mengatakan padanya, dan dia hanya bilang, dia hanya ingin mendapatkan apa yang harus dia dapatkan untukku."
"Kau baik-baik disana, ada kantor Papa Lam-mu disana, jika kau ingin bantuan kau tahu kau bisa memintanya." Aku mengingatkannya.
"Iya Papa mengatakan hal yang sama. Aku akan baik-baik saja."
"Kau akan ke Jakarta bukan saat pesta pernikahan kami?"
"Aku akan ke sini, mana mungkin tidak. Ini satu-satunya yang kupanggil Cece."
Kami mengucapkan salam perpisahan dengan Cherrie untuk bertemu kembali nanti.
Masalah Cherrie sepertinya selesai. Belakangan tampaknya semua baik-baik, walau kami sibuk kami menikmati detik-detik persiapan pernikahan kami. Tapi belakangan nampaknya aku merasa Tata gampang marah, entah apa yang ada dalam pikirannya, dia harus dikorek dulu baru mau bicara.
Seperti saat ini dia kembali dengan wajah datar. Nampaknya ada sesuatu yang terjadi di kantor yang membuat wajahnya muram saat kembali.
"Tata, are you okay?" Dia melihatku dan menghela napas.
"Fine." Dia menghempaskan dirinya di sofa disampingku. Fine yang diucapkan dengan tidak rela itu adalah masalah.
"Ada masalah dikantor?" Dia duduk dengan kesal aku memijat pundaknya, membuatnya nyaman.
"Ada pimpinan tim tidak mendengarkan pendapat, jadinya kami lose, padahal sudah kubilang jangan pakai konsep itu, masih berkeras maksain idealisme dia. Kalah kan akhirnya. Pengen kuganti aja tuh pimpinan tim. Sekali lagi gak didengar, ku bikin perhitungan sama dia. Mentang-mentang senior selalu top tier.."
"Ya sudah jangan dibawa marahnya ke rumah, ayo mau makan dulu?" Dia duduk disampingku raut wajahnya masih kacau, kuambilkan minum untuknya.
"Thanks Ko."
"Menang dan kalah dalam proyek sesuatu yang biasa. Kamu kesal secara personal dengan orangnya nampaknya?"
__ADS_1
"Hmm... itu Marcello, dalam 2-3 tahun menurut performanya dia naik jadi Direktur Marketing, tapi sekarang aku yang menempati posisinya tiba-tiba karena Papa masuk sebagai investor, aku yang tiba-tiba naik, dia memang senang cari masalah denganku di kantor."
"Hmm, begitukah ... Sebenarnya kamu dan dia memang di posisi berbeda. Kamu salah berpikir begitu. Gak usah bawa perasaan dia memang senang cari masalah, judge by performance saja."
"Maksudnya?"
"Begini, ilustrasinya kamu adalah salah satu pemilik, sebagai pemilik kamu ingin perusahaan menghasilkan keuntungan dan perkembangan, sedangkan dia bekerja untuk gaji dan bonus, jadi hakimi dia dengan performa, gak usah bawa perasaan personal, jika pembangkangannya membuahkan hasil negatif, maka kamu berhak mengganti dia, melempar prospek ke yang lain, dia akan rugi sendiri, jika dia tetap no.1 kamu menyerahkan keputusan pada dia. Jadi gak usah bawa perasaan dia melakukannya secara personal saran tentu saja boleh, tapi gak usah tersinggung secara personal, dia asset perusahan, kamu kesal kamu jadi bias dalam menilai dan mengeliminasi calon profesional masa depan. Kamu di posisi pemilik, jika ada professional harusnya kamu dukung, jadi beban kerja tidak di kamu semua. Koko rasa kamu kesal tidak pada tempatnya, posisi kamu berbeda, kamu harus lihat dari sisi pemilik, jangan menggunakan sentimen pribadi sekali lagi, tapi ya mungkin kamu belum terbiasa pada posisi ini masih harus belajar."
Tata melihatku, menilai sudut pandangku.
"Tapi dia fail kali ini."
"Koko tahu dia fail, tapi kamu melakukan judging personal karena satu kesalahan, padahal sebenarnya dia asset potensial untuk perusahaan kamu. Kamu sendiri yang bilang dia sering top-tier kan. " Dia diam mencerna perkataanku.
"Hmm..." Nampaknya dia mengerti.
"Jangan membuat suasana kerja kacau, karena kamu judging personal kepada asset berharga perusahaan, kamu harus mengkondisikan mereka berada di lingkungan kondusif untuk bekerja menghasilkan keuntungan buat kamu karena kamu di posisi pimpinan marketing dan sekaligus pemilik, jangan malah menekan asset potensial dengan sentimen pribadi. Itu merugikan kamu sendiri. Mengerti sudut pandangnya Tata sayang." Dia mengangguk akhirnya.
"Hmm...Thanks Ko." Dia akhirnya sedikit tersenyum.
"Ada lagi? Belakangan kayanya kamu sering naik darah?" Dia tertawa.
"Udah cuma itu saja, atau ada yang menganggu lagi. Apa ada detail pengaturan pernikahan yang kamu gak suka? Gak usah simpen-simpen, ngomong... jangan bikin Koko nebak-nebak... Belum punya indra ke enam buat nebak pikiran kamu. Kalau ada yang gak setuju itu diomongin."
Dia tersenyum padaku, belakangan kurasa ada pengaturan yang tidak pas di hatinya, entah di bagian mana, tapi dia tidak bicara, seperti kemarin saat dia membahas Lisa dia malah membiarkanku menebak sendiri. Aku lupa bicara padanya saking banyaknya yang lalu lalang di pikiranku, lagipula kupikir aku tidak menggunakan itu untuk mengikat Lisa, bahkan Lisapun tidak tahu.
"Ayo ngomong apa yang salah?"
"Ko, aku mau kita pindah ke rumah aku. Aku masih sayang sama rumahnya. Walaupun Koko bilang di rumah Koko settingnya lebih safe, luasannya lebih besar, tapi kok aku gak rela ya..." Akhirnya dia mengatakannya, padahal kemarin dia mengiyakan.
"Jadi karena itu..." Aku tersenyum.
"Boleh tinggal disini aja Ko, Koko bisa rubah yang Koko bilang kurang aman. Boleh ya Ko? Rumah Koko aja yang disewa atau jual?"
"Hmm... Kemarin katanya iya, alasannya kan memang benar, kamu bisa simpan buat investasi, lagipula Koko pikir dari pandangan Papa kamu Koko yang harus sediain rumah. " Aku berlama-lama saja memikirkannya. Sebenarnya tak masalah tinggal dimanapun, rumah itu sudah cukup lama, aku merasa lebih aman disana, cuma aku tak menyukai asset menganggur, jadi salah satu mau tak mau harus mengalah.
"Ko, ya Ko... Aku sayang sama rumah ini. Kita tinggal disini aja yah, nanti kita bilang sama Papa..."
__ADS_1
"Cium dulu..." Dia mencium pipiku.
"Jadi gimana."
"Ya sudahlah, kita atur lagi nanti. Setelah selesai semua urusan saja, gak usah buru-buru mindahin rumah. Ada lagi masalah?"
"Ehmm... Koko ngundang Lisa gak?"
"Lisa engga, Sandra iya. Apa Sandra masalah buatmu."
"Engga. Undang aja, dia kan kerja kelewatan kalo gak diundang. Aku gak se- jealous itu kali." Aku meringis saja.
"Yakin."
"Jangan mulai Ko." Aku tertawa dengan protesnya.
"Apa ribet ngurus eedding, sepertinya kita sudah berusaha gak membuat ribet. WOnya membantu sekali."
"Engga. Kadang cuma suka mikir, jika saja Mama lihat. Sebentar lagi Mama setahun gak ada."
"Mamamu kayanya setuju sama Koko."
"PD banget.." Dia ketawa.
"Salah memang?" Aku tersenyun, Tata diam, pandangannya menerawang.
"Engga...Dia memang setuju." Jawabannya membuatku merangkulnya sekarang.
"Ya sudah, kangen Mama. Ayo kita lihat Mama." Dia tersenyum dan mengangguk.
Persiapan pernikahan kami tinggal dua bulan. Tak terasa itu sudah hampir setahun sejak meninggalnya Mamanya.
Setahun yang lalu aku duduk disampingnya, orang terdekat yang bisa dia andalkan, tak disangka setahun kemudian dia terus berada disampingku.
Takdir mengatakan kami harus bersama. Aku tak bisa mengatakan yang lain. Karena aku jatuh cinta pada seseorang yang awalnya kusebut adik, ...
Dulu kupegang tangannya agat tak terjatuh, tapi sekarang siapa sangka aku tak sanggup melepasnya lagi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=