
Tiga hari kemudian...
"Dua orang ini mengikutimu sejak tiga hari ini. Mereka dalam satu mobil. Kami bisa melacaknya dengan jelas. Kita akan menciptakan kesempatan untuk mereka malam ini. Mereka bahkan menaruh mobil dekat dengan area tempatmu parkir di basement sekarang. Tidak salah lagi mereka berencana menyergapmu malam ini." Kami sengaja membuat jadwal tetap supaya mereka bisa melacakku.
"Jadi penyergapan akan dilakukan di basement?"
"Iya ini lingkungan yang keluar masuknya bisa kita kendalikan, beberapa hari ini kau juga parkir ditempat yang sama, pulang di jam yang sama, mereka juga pasti sudah menangkap patern ini dan mempersiapkan penyergapan di sana, disana adalah tempat termudah untuk memperoleh akses. Kita ikuti saja rencana mereka. Memang itu juga yang kita inginkan."
"Baiklah, jam 22.15 aku akan ke basement seperti biasa...."
"22.15 , mengerti Nona Sandra. Sementara kau sebaiknya tidak keluar dari restoran jika tidak ada keperluan mendesak, jika ada kabarkan ke Maggie, dia akan mengirim orang untuk mengawasi.
"Oke."
Rencana telah dibuat dengan matang, lokasi telah dianalisa. Tak boleh ada kesalahan, aku hanya harus muncul di tempat parkir, dengan hati-hati, dengan terbatasnya waktu harusnya mereka tak mungkin membawa senjata, selama berhari-hari sebuah tim mengawasi mereka, mereka tidak punya seseorang untuk menghubungkan mereka ke penyedia senjata, walaupun dengan perhitungan terburuk kami punya cara bagaimana cara mengelak dari senjata.
Jam 22.15, aku bersiap turun ke basement, dengan banyak bayangan di kepalaku tentang apa yang akan terjadi, sementara alat komunikasi terpasang di telingaku.
"Baiklah Nona, kau sudah bisa turun, semua sudah siap disini. Satu bersiap di mobilnya, satu lagi ada di sebuah tiang dekat mobilmu jaraknya lima mobil dari mobilmu." Mereka diam-diam sudah memasang kamera tersembunyi dan meminta akses CCTV gedung ini untuk menjalankan penyergapan ini.
Aku sekarang turun, jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya, mencoba berjalan seperti biasa di basement, sementara bersiap mendengarkan perintah, alat serang khusus jarak dekat yang ada di tanganku akan membantuku meloloskan diri, tersembunyi di pocket mantel panjangku, di kanan satu adalah taser mini, satu lagi pulpen tactical di kantong besar mantel panjangku, kugenggam sementara aku berjalan keluar lift ke tempat parkir.
"Kami melihatmu Nona, mereka tetap ditempatnya. Terus jalan, tetap tenang." Aku mencoba tenang, kenyataannya jika bisa aku ingin berlari ke penyerangnya dan menyerangnya langsung sekarang daripada menunggu disergap begini.
"Satu mulai bergerak di belakangmu, dia tidak membawa senjata.... kau sudah di jangkauan kamera. Tahan sampai kau diberi aba-aba,... Aku akan memberi perkiraan jaraknya."
"Kau sudah di jangkauan jelas kamera, ... lima meter ... empat... tiga ... dua ... kanan, satu ... Go!" Anthony memperkirakan dari sebelah mana aku harus bersiap.
Seorang merangkul pundakku dari kanan. Ini sudah cukup tanda bukti dia akan menyergapku.
"Jangan macam-macam ikut aku." Dengan secepat kilat tubuh dan tanganku bergerak ke atas, sepersekian detik taser di tangan kananku sukses mengenai lehernya, dan membuatnya melepaskan cengkramannya padaku dan dia shock, itu cukup untukku untuk langsung lari ke mobilku, sementara dua agen lain yang sudah bersiap bersembunyi dari tadi sudah siap dengan high voltase taser gun, begitu jarum taser itu menembus baju dan kulitnya, high voltase gun itu tidak akan padam sebelum dia roboh.
Cara tercepat mengatasi lawan yang kau tahu punya skill bertarung diatas rata-rata.
Dan yang lain sudah siap dengan menodongkan senjata ke sebuah mobil di mana penculik ke dua ada. Dua orang menodongkan senjata, sambil memberikan tanda pria itu untuk keluar. Dia membuka pintu mobilnya, tahu dia sudah dikepung dengan peluru akan menembus tubuhnya jika dia nekat bergerak.
"Tangan diatas, keluar dengan pelan. Taruh tanganmu diatas kepala. Atau peluru ini bersarang di tubuhmu."
Dalam beberapa detik kemudian tim Anthony mengamankan orang ke dua. Dengan cepat sekarang keadaan dapat kami kuasai.
__ADS_1
"Nona, serahkan interogasinya kepada kami."
"Ohh baiklah, tidak usah aku ikut?"
"Tidak kami akan membawanya ke rumah interogasi dan tahanan, video pengakuannya akan Anda dapat segera setelah kami selesai, tidak akan lama, kami sudah tahu siapa mereka."
"Baiklah, aku dan Mama menunggu saja dari kalian."
"Jika besok pagi sudah selesai, Anda akan mendapatkannya segera, beristirahatlah malam ini biar kami mengurusnya."
"Aku akan menelepon sendiri Mamaku jika kita sudah berhasil. Kalian kerjakan interogasinya."
"Mengerti Nona."
Belum sempat aku menelepon Mama, Oliver sekarang meneleponku. Dia tahu hari ini aku akan menangkap mereka. Aku sudah bilang mereka akan menyergap kami di basement parkir.
"Sweetheart, kau baik-baik saja?"
"Iya, kami berhasil. Mereka sudah menangkap kaki tangan Ayah Cheng Xin dan sedang di bawa interogasi. Ini baru saja berakhir, tak apa semua sudah beres."
"Sudah beres? Kau tak cedera bukan."
"Dasar sombong. Aku akan kembali besok pagi. Pekerjaanku disini selesai lebih cepat. Pesawatku mendarat jam 11 siang, kita akan bertemu besok oke. Tak usah menjemputku..."
"Iya baiklah."
Akhirnya semuanya selesai. Aku menelepon Ibu dan mengatakan padanya apa yang terjadi.
"Pulanglah, Mama lega kau baik-baik saja. Tapi juga sedih mereka sampai harus melakukan semua ini."
Keluarga ini memang kacau. Tapi setidaknya besok tidak ada yang berani bertengkar lagi karena harta, karena apapun yang kau lakukan yang kau dapatkan tetap sama.
\=\=\=\=\=💙💙💙💙\=\=\=\=\=\=
"Cheng Xin dan Ayahnya sudah kembali ke Shanghai ternyata, mereka tentu saja mau pmenghindari kecurigaan kepada mereka atas hilangnya kau." Aku masih di apartment Mama, Ko Derrick meneleponku, aku masih menunggu ikut menunggu laporan dari tim yang di sewa Mama siang ini. Interogasi berjalan alot nampaknya.
"Mereka belum bisa memperoleh pengakuan."
"Belum, mereka alot. Koko sedang mengusahakan mengorek detail garis komando mereka di bawah siapa, Koko sedang menghubungi seseorang di Beijing yang bisa diminta bantuan. Apa dibawah Ayah Cheng Xin atau yang lain. Setahuku Ayah Cheng Xin ditempatkan di logistic dari sana dia memanfaatkan kesempatan bisnis menjadi supplier pemerintah. Dengan tahu detail pangkat mereka kita bisa mengancam mereka untuk buka mulut jika kau tahu dan membuka semua kartu mereka. Tapi ini tak akan lama. Hari ini akan selesai... karena taruhannya jelas, pangkat mereka atau cuci tangan."
__ADS_1
Mama ikut mendengar pembicaraanku dengan Ko Derrick.
"Ya sudah Ko, aku menunggu kabar saja dari tim Anthony." Pembicaraan selesai ternyata tak secepat itu untuk memperoleh pengakuan.
"Setelah bukti lengkap hari ini, aku sudah meminta pengacaraku memanggil mereka untuk meeting lusa, mempersiapkan berkas perceraian dan aku akan langsung memaksanya ke kantor pemerintah mendaftarkan perceraian kami dan selesai, aku akan kembali ke Hongkong dan menyibukkan diriku ke Shenzhen saja." Mama yang sekarang bicara.
"Akhirnya kita semua tak usah melihat suamimu itu lagi Adik Ipar. Itu suatu berita bagus setidaknya...." Bibi menepuk bahu Mama, menberinya semangat.
"Ya setidaknya itu berita bagus. Kau benar, setidaknya setiap acara keluarga kita tak usah melihatnya lagi."
Ada seseorang mengetuk pintu. Mungkin Oliver sudah kembali dan mencariku kesini. Aku membuka pintu.
"Sweetheart, senang melihatmu baik-baik saja." Dia memelukku. Aku juga senang melihatnya. Kulitnya agak gelap karena terbakar matahari selama tiga minggu ini di proyek.
"Maaf kami membuatmu khawatir Oliver." Mama yang menyapanya sekarang.
"Bibi, dia yang meyakinkanku dia akan baik-baik saja. Kalian sudah membereskan semuanya?"
"Interogasi masih berjalan. Anthony akan kesini dengan semua pengakuan dan bukti nanti. Interogasinya agak alot nampaknya. Lusa aku akan menemani Ibu ke Shanghai sebentar."
"Aku ikut, rasanya ingin memberi adikmu itu bogem sendiri."
"Kau libur?"
"Aku sudah in-charge proyek tiga minggu, aku bisa mengambil libur. Lagipula lusa itu Jumat."
"Iya, ikutlah. Ada kau rasanya kami punya laki-laki disamping kami. Laki-laki di keluarga Bibi punya mental lintah penghisap semuanya, setidaknya ada kau yang bisa diandalkan. Maaf kau melihat keluarga kami seperti ini. Ini memang memalukan."
"Semua orang tidak ada yang hidupnya sempurna Bibi. Tapi yang pasti kita memegang prinsip harus mendukung keluarga bukan memanfaatkan keluarga, mungkin setelah kau memperlakukannya keras dia baru sadar bahwa dia bukan anak raja dan sikapnya bisa berubah, menurutku apa yang kau lakukan sudah benar Bibi." Oliver yang bicara menyejukkan hati Mama.
"Harapanku juga begitu Oliver, dia bisa berdiri sendiri."
Kami tinggal menunggu semua bukti terkumpul sekarang dan akan menyelesaikan semua ini. Sebentar lagi ini akan selesai.
❤❤❤❤
Maaf upnya 1 part dulu, yaaa
Besok-Besok diusahakan dua
__ADS_1
Jangan lupa vote, dan hadiahnya ya