
"Tidak, tak apa perban saja Richard." Papa menjawabnya dengan English.
"Kita tidak bisa menilai lukanya Paman, darahnya cukup banyak, saya membawa mobil kita ke emergency sekarang." Aku datang dengan handuk dan perban.
"Tekan lukanya Shiori, aku memanggil orangku dulu, mereka tak jauh aku tadi memastikan alamatmu dengan berjalan kaki." Sementara aku bertanya-tanya kenapa dia bilang orangnya, apa dia punya semacam pengawal yang mengikutinya.
"Lacak posisiku, rumah tembok putih tinggi no. 12, kalian langsung masuk ada keadaan darurat disini." Dia memberikan perintah dengan singkat dan efisien. Lacak posisinya?! Pengawalnya bahkan bisa melacaknya. Seperti bukan Louis yang kukenal dulu, suka bercanda, terlalu pintar, tapi mana mungkin becanda dalam situasi ini.
"Anda duduk dulu Paman, sebentar orang saya sampai. Tidak apa-apa kekacauan ini akan dibereskan oleh orang saya."
"Jika tak ada kau entah apa yang terjadi. Bagaimana kau bisa kesini Richard?" Dia melihat luka Ayah.
"Aku ingin mengunjungi kalian, Shiori pernah memberiku alamatnya dulu. Jadi karena tidak terlalu jauh aku memutuskan kesini. Tampaknya tidak ada kaca, ... antiseptik." Langsung kuberikan padanya yang ditaruh pada luka. "Saya akan membebatnya dengan kuat Sir."
"Papa kau merasa pusing?" Sementara tetes-tetes darah di baju Papa memberikan kengerian yang sama seperti kejadian yang kualami dulu.
"Shiori, ambilkan minum." Aku lupa karena panik harus melakukan apa.
"Siapa orang-orang itu."
"Kami tidak tahu, mereka mengatakan soal pembayaran hutang tapi kami sama sekali tak punya hutang." Ayah bicara sambil Richard membalut lukanya dengan cepat.
"Kalian punya masalah dengan orang lain."
"Masalah, tiga bulan lalu Shiori dipukul orang sampai gegar otak. Kurasa masalah yang sama..." Aku tak bisa mengelak lagi sekarang, ini pasti masalah yang sama. Yuna memutuskan mengancam orang yang dekatnya. Dia tidak akan menyerah dengan mudah.
"Kau dipukul orang?" Richard melihatku.
__ADS_1
"Sir Richard?!" Dua orang masuk, mereka melihat kondisi ruangan yang berantakan.
"Antonio, Ben, kalian tolong pastikan pecahan kaca tidak melukai orang lain, aku harus mengantar Tuan ini ke rumah sakit, Shiori bisa tunjukkan alat pembersih. Ibumu dimana?"
"Ibu sedang keluar, tunggu sebentar." Aku bergegas mengambil dua sapu dan pengumpul sampah berserta plastiknya. "Tuan, saya minta tolong." Aku membungkuk untuk menyatakan terima kasihku.
"Serahkan pada kami Mam. Ayah Anda lebih penting." Mereka menyerahkan kunci mobil pada Richard.
"Ayo Shiori,..." Aku mengandeng Ayah. "... jika ada seorang wanita tua kembali itu Ibunya. Dia fluent English. Bersikap sopanlah padanya."
Memberikan pesan terakhir kami membawa Papa ke emergency terdekat. Dia perlu lima jahitan, bersyukur karena itu luka gores saja tidak ada kondisi khusus. Sementara mereka menjahit lukanya, Richard menarikku lebih jauh untuk bicara.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Nada bicaranya jauh lebih tenang, delapan tahun membuat orang berubah, tapi entah kenapa dia bisa muncul didepanku.
"Aku punya masalah dengan seseorang anak Yakuza di sini."
"Aku memergokinya berselingkuh, dia menyuruh orang menghajarku l, lalu pria mantannya itu membalasnya dengan menyebarkan video perselingkuhannya ke media, dia artist, jadi itu menghancurkan kariernya, dia dendam, dan itu masih berlanjut sampai sekarang."
"Siapa? Namanya?"
"Kau mau apa dengan namanya?"
"Menghajarnya balik." Dia menjawabku singkat, nampaknya dia sangat yakin bisa melakukannya. Aku mau tak mau sedikit kagum.
"Kau bisa menghajar orang sekarang, kau orang asing disini, jangan mencari masalah." Kenapa semua orang di sekelilingku senang menghajar seseorang sekarang. Apa tidak bisa hidup damai saja. Tapi bagaimana kabarnya sekarang. Tiba-tiba dia muncul di depanku hari ini.
"Lama tak melihatmu, kupikir kau sudah tidak tinggal bersama orang tuamu lagi." Dia tidak menanggapi pertanyaanku malah bertanya hal lain.
__ADS_1
"Kau lama disini?"
Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya. Jika aku bercerita apa yang terjadi entah apa yang dikatakannya, kenapa dia ke rumah. Apa dia sama sepertiku, bertahun-tahun tak bisa melupakan hubungan kami.
"Mungkin beberapa minggu, ada beberapa hal yang harus kuurus."
"Apa Goldman Sanch sekarang menanggung biaya pengawalan pribadi untuk Direkturnya sekarang. Kau pasti orang sangat penting, kau bahkan berani menghajar orang." Aku jelas penasaran, setinggi apa posisinya. Dia punya keberanian begitu besar.
"Aku bukan bekerja di sana sekarang. Bossku terbiasa menghajar orang jika dia ingin. Bawahannya juga bisa melakukannya kalau dia ingin." Dia menghela napas dan tersenyum padaku. Kau melongo mendengarnya kemudian tertawa.
"Ternyata kau semacam mafia juga,... sejak kapan kau jadi begitu berani. Lingkunganmu nampaknya tak sehat, kau yakin dengan kehidupanmu sekarang." Dia tertawa kecil.
"Aku baik-baik saja Shiori, kau selalu mengkhawatirkanku. Sudahlah, aku senang melihatmu baik-baik saja. Kita bereskan ini dulu, yang penting Papamu baik-baik saja. Ibumu pasti shock nanti dengan kondisi rumah, apa kalian aman? Apa sebaiknya kalian pindah sementara."
"Tidak, tidak apa."
"Kau yakin. Aku bisa mendapatkan pengamanan sekarang juga."
"Kau pasti seseorang yang sangat penting." Dia tersenyum kecil, dia nampaknya punya banyak rahasia sekarang. Tapi tetap matanya seperti dulu, entah kenapa dia selalu begitu baik padaku. Aku bersalah mengecewakannya, tapi tetap saja dia tetap begitu baik.
"Aku akan menelepon seseorang memastikan kalian aman malam ini. Takutnya mereka kembali lagi. Kau lihat Ayahmu dulu." Dia beranjak pergi, aku tak bisa menolak. Dia langsung mengaturnya begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
bersambung besok .......
boleh bagi vote, like dan hadiahnya dong 😘
__ADS_1