
Baiklah, dia tampan.
Aku melihatnya berjalan melintasi lobby, dengan kemeja rapi dan rambut klimis, seperti orang yang lain aura pria mapan dan dewasa, wanita mana yang akan bisa mengacuhkan pesona seperti ini, walaupun aku lebih suka gaya berantakannya.
Aku? Tetap dengan baju kemeja dan celana panjang.
Rambut pendekku hanya disisir rapi hanya make up standar yang diharuskan sebagai pengawal wanita. Hanya
"Mobil sudah di depan Sir Russel,..." Untuk 18 jam ini aku menjaga jarak sebaik-baiknya. Tidak akan ada lagi pembicaraan absurd seperti semalam, kurasa aku sedikit melewati batasku dengan bicara seperti kemarin.
"Kau ikut makan saja, nanti kubayar billnya." Tapi dia baik hati juga, dia menawariku saat kami berjalan ke restoran.
"Tak usah Sir, bill-ku dan operasional ditanggung kantor, kami tak diperbolehkan menerima tips, tidak sopan, tapi aku akan berada di meja yang lain tetap jika kau butuh sesuatu."
"Kau tak makan."
"Hmm aku makan, kau tenang saja. Itu bukan restoran yang terlalu mahal. Hanya menurut reviews authentic Vietnamese terbaik di kota ini."
"Begitu rupaya. Kau sudah melihat rupanya."
"Tentu saja aku bekerja disini. Kau tanggung jawabku."
"Kau bisa diminta mengawal seseorang?"
"Iya, memang itu perkerjaan kami, mengawal seseorang, atau sesuatu , misalnyan transport sesuatu dengan armored vehicle, keamana gedung, private security, aku punya lisensi karate dan Krav Maga level mahir, ada lisensi dan trainingnya, apa yang harus kami siapkan, intinya berjaga-jaga terhadap kemungkinan apapun yang kami jaga. Walaupun kau merasa mungkin tak akan menghadapi ancaman apapun, kami harus tahu cara mencegahnya."
"Sebenarnya aku sembarangan saja kemarin meminta pengawal karena aku belum pernah kesini, dan wanita, karena ... " Sekarang dia diam di bagian kenapanya. Aku sudah memiliki jawaban, karena wanita bisa digoda dan menyenangkan diajak mengobrol. "Sudahlah yang penting kau sudah disini." Dia tidak melanjutkannya. Aku juga tidak memperpanjang.
Malam berlalu dengan cepat, aku makan sendiri, menikmati makanannya enak disama sementara aku menunggu mereka bicara.
Hampir jam 10 mereka selesai akhirnya. Akhirnya aku bisa pulang tidur juga dengan nyenyak.
"Sir Russell. Tuan Dong." Aku membungkuk memberi hormat pada tamu yang mengundang kami saat mereka keluar.
"Ohh kau pengawal dari Hongkong, yang ditugaskan oleh Philip Leung? Wanita? Wah Tuan Russel, kau ini pintar memilih pengawal..." Laki-laki, mereka selalu berpikir praktis. Aku kesal dia menyebutku begitu, tapi aku tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kau tersinggung?" Aku mengemudikan mobil dalam diam menuju hotel.
"Maksud Tuan Russel dengan tersinggung?"
"Bisakah kau memanggilku Oliver saja sekarang, tentu saja dengan perkataan Tuan Dong tadi."
"Ohh itu, dia bebas berpikir apapun. Bukan urusanku. Asal dia tidak menyentuhku, itu akan lain persoalannya. Aku tak setersinggung itu, kami bekerja di bidang jasa, kau tak bisa terlalu mengambil hati di pekerjaan ini."
"Kau tidak tersinggung aku berbicara padamu menyimpang beberapa hari ini." Aku meringis.
"Kau juga tak tersinggung aku mengajakmu bertengkar." Dia ikut tersenyum sekarang.
"Terima kasih sudah bersikap jujur." Aku melihatnya, sekarang dia berganti wajah lagi bicara seperti orang normal.
"Pembicaraan kita kemarin lupakan saja"
"Pembicaraan apa?"
"Semuanya. Tentang janji teras bintang, tentang cinta tak sampai, anggap saja itu hanya cerita pengantar tidur? Aku merasa kelewatan mengatur designmu, malah membuat janji aneh tentang teras bintang itu, lupakan itu..."
"Mana mungkin itu Philip, aku tak pernah bekerja secara langsung dengannya, orangnya sekarang di Jakarta. Dulu kami pernah satu geng, berkelahi di jalanan Kowloon, kemudian karena backgroundnya mendukung dan otak cemerlangnya dia naik dengan cepat menjadi salah satu tangan kanan Philip di wilayah Semenanjung Malaya, dia punya level yang tak bisa kucapai, tapi dia memang baik hati dia menganggapku temannya sampai sekarang, lima tahun lalu aku sudah keluar dari tempat Boss besar Philip, tapi di Jakarta aku akhirnya di tugaskan membuat masalah dengan salah satu perusahaan yang dia awasi, di sanalah kami bertemu kembali. Dia meminta aku bekerja di bawahnya lagi akhirnya. Aku di Bali adalah hadiah darinya untuk membuatku membelot." Aku menceritakan semuanya, lagipula kami tak akan bertemu lagi.
"Kau masih mengharapkannya."
"Tentu saja tidak, sudah kubilang dia setinggi bintang di langit. Lagipula dia akan menikah sebentar lagi kurasa."
"Kau tak pernah memikirkan orang lain?"
"Hmm...Entahlah, aku mungkin tak beruntung, lagipula aku sudah terbiasa sendiri, rasanya sendiri lebih tenang, tidak banyak masalah, hanya kadang sedikit iri tentang yang tidak kita punyai itu normal bukan."
"Hmm...iya." Dia tidak mencoba mengodaku, membantahku dengan kata-katanya sendiri. "Kemarin perayaan ulang tahunmu ke berapa. Jika aku boleh tahu."
"Tebak?" Aku tersenyum padanya.
"Ehmm, kurasa sekitar 35,... Kau jelas sudah di angka 3, bicaramu terlalu tenang, kau tak bertingkah seperti gadis-gadis muda, setidaknya kau sudah 35-36."
"Aku ulang tahun ke 40 kemarin, sudah tidak muda lagi..."
__ADS_1
"Kau masih terlihat muda, masih terlihat cantik, tapi bicara pada yang seumuran memang berbeda." Aku tersenyum, senang di puji cantik, setiap wanita senang dipuji dia cantik.
"Terima kasih, ada hal yang lucu soal ini, ..."
"Apa?" Dia melihatku.
"Aku tak pernah cerita ini ke orang lain. Makanya anggap saja ini donggeng karena setelah ini kita tak akan bertemu lagi."
"Kau sangat yakin kita tak bertemu lagi."
"Memang tidak, bagaimana mungkin kita bisa bertemu lagi."
Kami sampai di hotel kemudian. Aku menghela napas dengan lega saat kami sampai, akhirnya aku bisa beristirahat dengan nyenyak malam ini, mataku sudah berat.
"Baiklah, selamat malam. Selamat beristirahat." Aku tiba di depan pintu kamarnya yang lebih depan dan memberi salam padanya dan berjalan ke kamarku sendiri.
"Kau tidak mau masuk." Tiba-tiba dia tersenyum kecil padaku.
"Tahanlah sebentar, besok kau di HK, banyak gadis disana." Aku mencibir padanya dan kembali bergerak ke kamarku sendiri.
Dia tertawa tapi malah mengikuti ke pintu kamarku. Aku jadi melihatnya dengan penuh perhitungan.
"Kenapa kau kesini?"
"Kalau begitu aku yang masuk kesini."
"Oliver, kita berbeda species. Aku tak hidup dalam duniamu, kenapa kau senang sekali membuktikan kalau kau benar."
"Berubahlah satu malam, kau tak akan menyesal,..." Suaranya berbisik di dekatku. Wangi parfumnya tercium sampai ke dekatku. Aku tersenyum padanya, memandang mata biru yang begitu menggoda itu. Malam ini aku malas mendebatnya, malas bertengkar dengannya, karena aku sangat mengantuk, lelah, tak punya energi buat berpikir lagi, kuambil kartuku dalam tas.
"Selamat malam, mimpi indah Oliver." Kututup pintuku di depan matanya. Dia tidak memaksa masuk atau menahan pintuku, atau mengetuknya lagi. Bisa kudengar dia masuk ke kamarnya kembali
Entah kenapa aku merasa tawarannya tadi hanya main-main, tapi dia hanya ingin mencoba sampai saat terakhir kalinya, untuk membuktikan bahwa dia bisa mempengaruhiku.
Aku jelas tak tahu apa yang ada di pikirannya.
Yang jelas, cerita kami akan berakhir dalam 12 jam lagi dan 8 jam diantaranya adalah dengan tertidur nyenyak.
__ADS_1