
“Kok gak ditangapi.” Dia berpikir sebentar sebelum menjawabku.
“Entah, kadang kaya kamu juga, ngerasa dia sudah tahu background saya, tuntutannya tinggi, kadang ada yang terlalu tinggi hati orangnya, banyak hal kalau sudah melihat sedikit karakter jadinya tahu di belakangnya yang kamu bilang udang dibalik batu, mungkin belum nemu yang cocok, nemu mungkin pernah tapi background dianya yang jelek, saya sudah punya anak, harus mikir tanggapan putri saya juga, bisa komunikasi gak sama dia. Complicated... jadi friend ajalah.” Friendnya dengan orang seperti dia, well...aku langsung membayangkan seengaknya bulanan terjamin dengan status friend ini. Mungkin janda juga seperti dia, sugar baby-nya ada nih Koko. Kayanya bahagia yang jadi sugar babynya juga.
“Ohh, ribet ya Ko, lu cerewet juga ternyata...” ternyata si Koko ini sama pemilihnya. Dia ketawa doang. “Jadi punya sugar baby nih ceritanya.” Kali ini dia ngakak, tapi dia tidak menjawabku. Aku jadi penasaran.
“Sugar babynya umur berapa Ko?”
“Mau tahu urusan orang aja.”
“Janda apa gadis Ko? Pelit cerita, sama adek sendiri juga.” Dia meringis, tapi tetap tidak memberitahuku.
“Dah-dah, ganti topik.”
“Gak seru Ko, ahh lu pelit cerita.’
“Kan saya bilang kita temenan doang. Bukan sugar baby yang pake transaksi. Bantu sebagai teman, bukan membayar untuk transaksi.” Aku bisa membayangkan kisahnya, dengan orang yang dia bilang latar belakangnya tidak bagus ini.
“Maksud lu kaya gini, lu banyak bantu dia, support, terus kalian di posisi temen tapi mesra ya Ko.” Dia melihatku, tidak mau mengakui, tapi aku bertaruh itu benar. Koko ini kalo orang udah jadi temen dia pasti loyal. Tapi yang bisa jadi temannya itu pasti harus melewati banyak ujian integritas dulu. “Do you love her?” Pertanyaanku membuatnya tersenyum.
“Love words need many things in rewards Tata,...” perkataan seorang laki-laki senior tentang cinta. Sekarang dia hanya mengatakan cinta untuk anaknya. Komitmennya untuk anaknya... Aku tahu apa yang dia katakan. Cinta butuh banyak hal, tentu jika dia ingin mengobralnya itu bisa saja dia lakukan, tapi dia bukan orang seperti itu. Dia keren...
“Bahkan perlu hidupmu untuk membuktikannya. Ya, seperti Mama...” Seperti Mamaku yang kukatakan bodoh. Tapi itu cinta yang tidak menuntut. Cinta yang sebenarnya. Nampaknya sangat menderita... tapi dia bahagia dalam penderitaannya.
“Kamu masih muda, gak usah pesimis begitu. Nasib orang itu beda-beda. Ya nanti kamu juga ketemu yang baik, tapi seengaknya kamu mencoba kenal dulu bukan judge langsung dengan satu pertemuan...” Dia malah menceramahiku. “Kalau dia kaya ya itu previledge dia, mungkin saja dia memang suka kamu dari lihat kamu pertama di pemakaman Mama, dia tahu kamu anak siapa kemudian ya memang kondisinya begitu.”
“Gitu Ko?”
“Iya, begitu.”
Aku diam saja memikirkan perkataannya, mungkin benar aku terlalu menghakimi anak orang kaya itu. Hanya dari pertemuan pertama. Tak lama kemudian kami sampai ke restoran yang kumaksud.
Restoran ini familiar untukku, aku sering makan disini jika akhir pekan, bersama Mama, kami bahkan punya spot favorit kami berdua. Duduk disini lagi membuatku teringat pada Mama dan melamun.
__ADS_1
“Tata, pesen.” Aku tak sadar mbak nya sudah menunggu di samping meja, sampai Ko Derrick memanggilku.
“Yang biasa Kak? Mamanya gak ikut?” Ternyata Mba-nya yang biasa, dia sering melihat kami berdua kesini. Kami selalu memesan mangkok udon yang sama.
“Engga Mba, iya yang biasa ya.” Sayangnya dia tidak bisa ikut lagi.
“Iya Kak. Mohon ditunggu...” Pelayan itu pergi, aku menyibukkan diri mengambil sumpitku.
“Sering ke sini sama Mama.” Ko Derrick memperhatikanku.
“Iya. Ini resto favorit kita.” Aku tersenyum masam dan kembali melamun.
“Udah jangan dipikirin.”
“Engga mikir. Keinget doang Ko.”
“Jangan terlalu cape. Jangan pulang malem sering-sering, kalo butuh orang ngobrol telepon aja. Ngapain kamu di site produksi sampai malem begitu.”
“Iya.” Aku bukan orang yang senang menyusahkan orang, meminta perhatian. Tapi ku-iyakan saja.
“Jangan sekongkol ama Papa Ko.” Aku langsung mementahkan nasehatnya.
“Bukan Ko...” Aku langsung menaikkan tangan ke atas menghentikan ocehannya. Kalau tidak dia akan punya kewajiban menceramahiku sepanjang makan malam ini.
“Stttt..sttt, lagi mau makan, jangan ceramah.” Dia berhenti. Ingin berkata sesuatu lagi, tapi aku sudah pasang pertahanan. Dia tahu sia-sia dia mengatakan apapun juga.
“Derrick...” Seseorang memanggil Koko, wanita yang cantik dengan seorang putri kecilnya. Mungkin lebih tua usianya dariku, putrinya mungkin sekitar sekitar 9-10 tahun, dia melihat Ko Derrick dengan pandangan memuja, aku langsung mengambil kesimpulan siapa ini. Ternyata tepat apa yang kubayangkan. ”Kupikir aku salah ternyata bener kamu, lagi makan malam.” Dan wanita ini tak bisa menahan rasa penasaran siapa yang bersama dengan teman mesranya. Wanita jika dibaikin mana mungkin gak jatuh cinta sih, apalagi model kaya aki ganteng gini.
“Eh, kamu sedang jalan-jalan disini.” Aku bolak-balik memperhatikan wajah mereka.
“Salam ke Om Chila.”
“Hallo Om.”
__ADS_1
“Hei Chilla, lagi jalan-jalan sama Mama.”
“Iya Om.”
“Sorry apa saya ganggu.”
“Gak-gak, saya cuma sodara jauh, ketemu Koko diajak makan, ayo mau makan sama-sama? Ayo duduk sini...” Koko melihatku, aku tersenyum lebar padanya. Tapi wanita itu tak berani melangkah lebih jauh tanpa persetujuan Koko. Tipe-tipe penurut, mungkin Koko sudah benar-benar ngomong aturan kebaikan hatinya, batas hubungan mereka.Dia bukan orang yang masuk ke sebuah hubungan tanpa perhitungan matang nampaknya. “Ko, ajak dong.” Belum apa-apa aku udah kasian sama cewe ini dia pasti patah hati tapi ngarep.
“Ayo duduk, Cilla udah makan.” Cilla sekarang ganti melihat Mamanya. Mamanya mengangguk karena koko memberi izin.
“Hei namanya Cilla, sini duduk sama Tante, Tante pesenin udon nih.” Aku mau kepo ngorek-ngorek, biar si Koko tengsin sekarang. Karena aku tahu temen mesranya. Karena aku dan Ko Derrick tadinya berhadapan jadi mereka duduk berdua sekarang. Aku menyembunyikan senyumku.
“Namanya siapa? Kita belum kenalan.”
“Saya Lisa, ini anak saya Priscilla.”
“Kak Lisa, aku Nita. Senang ketemu Kak Lisa.” Kami memesan menu untuk mereka selanjutnya setelah itu aku melanjutkan ke-kepoanku. “Kerja dimana Kak Lisa.”
“Ohh, saya buka toko bakmie, tapi bukan di mall ini. Di mall ...” Dia menyebutkan namanya. Aku mengangguk, jadi si ko Derrick nampaknya support dia sampai punya usaha sendiri. Pasti single parent nih, koko-ku ini emang baik hati. Ko Derrick jadi kaku ke pergok sama aku. Sementara aku dengan senang hati melanjutkan kekepoanku mengorek-ngorek sampai aku puas. Sementara Koko berusaha membelokkan pembicaraan ke hal yang lebih umum.
“Pacarnya Koko Derrick ya?” aku menembak sekarang.
“Ohh bukan-bukan, cuma temen.” Dia langsung menggelengkan kepala. Aduh aku kasian cinta tak sampai ini, tapi dia kayanya udah makasih udah ditolong ama Ko Derrick. Jadi dia gak nuntut aneh-aneh. Ko Derrick ini emang tegaan. Aku udah puas ngorek, bikin Ko Derrick tengsin, aku baru beralih ke hal-hal umum dan tak macam-macam lagi.
Tiba saatnya pulang.
“Dah malem, saya kembali dulu. Makasih ya sudah traktir kita.”
“Ohh pulang sama siapa? Searah sama Koko gak?” Dengan berbaik hati aku meminta Koko Derrick mengantarnya.
“Oh gak, saya pulang sendiri, bawa kendaraan. Derrick aku jalan dulu. See you Nita, seneng ngobrol sama kalian. Bilang pulang ke Tante dan Om.” Aku melambai ke anak itu dengan senyum lebar. Aku melihat diriku dengan Mama dimatanya. Semoga dia jadi putri yang sayang ke Mamanya juga.
‘Ehm...ehm...Oh namanya Lisa. Cakep Ko.” Aku tertawa ngakak menertawakan Ko Derrick. “Tidak ada rahasia lagi diantara kita Koko ganteng, kasian tahu ngarep Kak Lisa tuh sama Koko.” Dia melipat tangan di depan dada membiarkanku tertawa sepuasku. Tidak bisa mengatakan apapun padaku.
__ADS_1
“Sudah ayo pulang.” Dia maksa langsung jalan pulang . Mungkin kehabisan kata-kata untuk berdebat denganku. Aku terpaksa mengikutinya sambil senyum-senyum sebagai adik yang jahil mengerjai Kokonya.
--------bersambung besok.