TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 36. Bao Bei, Spoiled Brat! 1


__ADS_3

Tiga hari menghabiskan waktu bersama Mama, membuat dia gembira, melakukan apapun yang dia inginkan, kebetulan dia mengosongkan jadwalnya beberapa hari ini, agar kami bisa bersama.


"Mama, aku sudah membayarnya." Dia baru akan memanggil pelayan.


"Kenapa kau membayarnya? Kau ini? Mama yang membayarnya..."


"Mama aku punya gaji, gajiku cukup bagus, ehm...plus pacarku cukup loyal, jadi begini aturannya, Mama boleh memasak untukku. Tapi kita makan diluar aku yang membayar oke." Bonus 4 bulan gajiku kupakai untuk menyenangkan Mama. Mama tertawa.


"Pacar cukup loyal, bukankah kau bilang kalian baru jadian... dia sudah memberimu uang bulanan?"


"Dia memberiku ini..." Aku memamerkan kartu Oliver, Mama tertawa lebar.


"Baiklah Mama menarik lagi kata-kata Mama. Nampaknya calon menantu itu lumayan, dia cukup tahu diri." Aku tertawa ngakak, Mama ikut tertawa.


"Tidak aku tidak menggunakan kartunya, aku sudah bekerja lama Mama, walau aku tak sekaya Mama, aku punya sedikit investasi dan simpanan, mentraktir Mama pasti bisa. Kapan lagi aku berbakti pada Mama."


"Baiklah, Mama senang, terserah kau saja. Disini orang mengatakan lebih baik punya anak pria membawa nama keluarga, tapi sebanarnya anak wanita yang paling mengerti Ibunya. Kau tahu wanita disini adalah makluk langka, sulit didapat, kebanyakan wanita sekarang tak mau menukar karier bagus mereka dengan beban punya anak. Apalagi dengan laki-laki biasa yang penghasilannya lebih rendah dari mereka."


"Iya aku tahu Ma, di Hongkong pun begitu." Semua region Asia Timur nampaknya punya kecenderungan sama, Hongkong dan Jepang pun sama.


"Sayang, bagaimana jika kau bekerja pada kantor Mama?"


"Mama, pengalaman kerjaku di dunia hiburan malam dan bela diri, pengawalan pribadi. Aku tak bisa masuk ke bidang yang aku tak tahu Mama. Putrimu ini anggota triad Mama, aku akan membuatmu malu, kau tahu aku kabur dari sekolah umur 15 Ma, bagaimana aku bisa bekerja di kantormu yang penuh master degree."


"Ini salah Mama, andai mama menemukanmu lebih dulu. Tapi yang penting bagi Mama kau sudah mandiri, bisa menghidupi dirimu sendiri. Bahagia dengan hidupmu. Itu sudah sangat cukup. Jika Mama meninggalpun kau sudah berdiri tegak di dunia."


"Aku berusaha Mama, setidaknya aku hidup dan baik-baik saja sampai sekarang, cap pasporku sudah lebih dari 10 negara, itu nampaknya lumayan, tidak begitu menyedihkan."


"Itu tidak menyedihkan tentu saja. Mama bangga padamu, walau disisi lain Mama berharap bisa melakukan sesuatu untukmu. Tapi jangan berpikir terlalu cepat oke, kau jangan pergi dulu kau baru tiga hari bersama Mama. Tapi jika bisa kau jangan bekerja di pengawalan lagi, itu berbahaya nampaknya. Kita akan memikirkan sesuatu untukmu."


"Iya Mama, aku punya kekasih di Hongkong, dia juga minta aku jangan mengambil pengawalan lagi, di Boss Philip masalahku memang sudah selesai, tapi aku tak mau bekerja di bawah Kent lagi, tapi kemungkinan besar juga tak bisa kembali ke Jakarta."


"Kita pasti akan menemukan sesuatu yang sesuai dengan pengalamanmu. Tapi setidaknya kau jangan berpikir pulang dulu oke."

__ADS_1


Setidaknya aku bisa menyenangkannya saat kami bersama. Walau mungkin aku tak bisa tinggal bersamanya terlalu lama. Entah kenapa aku malu jika dianggap mengharapkan Mamaku. Mungkin aku terlalu berpikir berlebihan tapi aku tak ingin dikatakan mengemis warisannya.


Keesokan harinya aku sedang berjalan masuk ke rumahnya setelah puas mengelilingi kompleknya untuk jogging ketika kutemukan sebuah mobil di depan rumah. Nampaknya baru saja datang karena aku menemukan seseorang baru masuk ke dalan.


Aku masuk dari pintu depan, seseorang pria yang nampaknya lebih muda dariku ada di ruang tengah.


"Siapa kau?"


"Aku ..." Aku binggung menjawabnya. Dia bertanya siapa aku, aku tahu siapa dia. Tapi sialnya aku juga tak yakin dia akan menyukaiku. Tapi apa aku harus menyembunyikan indentitasku, malah kelihatannya lebih buruk. "Aku Sandra, ... Kau pasti Chen Xin. Hallo senang bertemu denganmu." Aku mengulurkan tanganku padanya.


"Iya, ...Sandra. Maksudmu kau anak perempuan Mamaku?" Dia bertanya tapi tak menyambut uluran tanganku.


"Iya." Aku tak jadi mengulurkan tangan lagi. Bao Pei, bayi kesayangan, anak laki-laki kesayangan, karena kebijakan satu anak, banyak anak manja terutama laki-laki karena mendapat perhatian penuh dari orang tuanya, dia lahir pasti setelah 79.


"Kenapa kau kesini." Aku cukup shock dia langsung menunjukkan dia tidak menyukaiku.


"Kenapa aku kesini? Aku menemui Mama."


"Ohh .." Dia langsung tersenyum sinis. Anak ini pasti berpikir aku kesini untuk berebut warisan Mamanya.


"Dia bukan kakakku, aku tak punya Kakak." Mama diam sekarang, nampaknya ini tak akan jadi mudah.


"Kenapa kau bicara begitu."


"Ma, sudahlah tak apa." Aku tak ingin kedatanganku membuat Mama dan adikku bertengkar. Mama menghela napas panjang sekarang.


"Kenapa kau kesini?"


"Mama bilang akan memberiku tambahan modal yang kubutuhkan."


"Berapa kali sudah aku memberimu tambahan?! Apa yang kau lalukan dengan tambahan terakhir kemana itu menguap?! Kau pakai foya-foya?!" Rupanya dia kesini meminta uang.


"Mama, itu hanya uang kecil bagimu,...."

__ADS_1


"Uang kecil? Kau pikir aku membuka pertanian pohon emas disini?! Jika iya petik daun dikebun sana lalu jual! Apa yang kau lakukan dengan perusahaanmu sendiri, kemarin kau malah liburan ke Eropa dua minggu bersama keluarga, pulang-pulang kau minta tambahan modal padaku?! Sebenarnya apa yang kau kerjakan!? " Astaga mereka bertengkar karena uang, Bao Bei ini anak manja yang berpikir dia gagal satu proyek dia masih bisa minta uang ke Mamanya yang kaya raya.


"Jadi kau tak ingin memberiku, aku akan melapor pada Papa ini karena anak tersayang dari selingkuhanmu datang kesini." WTF! Kenapa aku diikutkan dalam masalah ini.


Mama tak bisa bicara sekarang.


"Ini kali terakhir aku memberimu tambahan modal Chen Xin, jika kau masih meminta padaku jangan harap kau akan mendapatkannya lagi! Kuperingatkan kau! Ini yang terakhir!"


Mama masuk ke ruang dalam dengan menggerutu. Aku memandangnya, anak Mama ini mengeruk uang Mama karena dia pikir dia memilikinya.


"Kau jangan berpikir aku akan berbagi denganmu?! Keluargaku tak termasuk namamu." Astaga dia menunjukku begitu saja saat aku bertemu pandang dengannya.


"Kau gila...."


"Aku masih cukup waras melihat apa tujuanmu sebenarnya! Jangan jadi munafik di depanku. Kau menjijikkan, harusnya kau mati saja." Demi Dewa?! Dia langsung menuduhku yang baru ditemuinya ingin mencuri bagian warisannya. Adik tiriku ini nampaknya benar-benar akan membunuhku jika dia bisa.


"Pergi dari sini, awas saja kau mempengaruhi Mamaku, balik ke tempatmu, kau lihat apa yang bisa kulakukan padamu jika kau tetap disini." Hari pertama dia datang dan kami bicara untuk pertama kalinya, dia langsung mengancamku, sangat luar biasa.


"Apa yang kau katakan pada Sandra!?" Tiba-tiba Mama muncul.


"Aku hanya mengucapkan selamat datang kepada putrimu Mama, kau membelanya sekali."


"Kau pikir aku tak mendengarnya?!"


"Mama sudah... tak apa." Sekarang aku kasihan pada Mamaku. Anaknya membuatnya seperti sapi perah.


"Kau lihat, kau ternyata punya putri yang baik hati. Mana cekku?" Dia mengambil sendiri cek dari tangan Mamanya lalu berjalan pergi begitu saja.


Sungguh anak yang keterlaluan. Aku jadi membencinya.


"Mama, sikapnya buruk sekali padamu. Berapa umurnya?"


"33, berbeda 7 tahun darimu tapi kelakuannya seperti anak 17 tahun minta uang saku. Itu karena Ayahnya memanjakannya setiap kali. Dia selalu mengadu kepada Ayahnya."

__ADS_1


Aku tidak mengerti satu hal kenapa tadi Mama langsung memberikan saat dia mengatakan pada akan mengadu kepada Ayahnya.


"Mama apa kau sering diancam suamimu sendiri?" Sebuah helaan napas membuatku percaya itu memang terjadi.


__ADS_2