
"Ryohei, rumah kami didatangi oleh penagih hutang, dia memukul Papa dan merusak barang-barang." Aku harus memberitahunya segera.
"Wanita itu benar-benar set*an! Bagaimana Ayahmu sekarang? Kau terluka?"
"Ayah mendapat empat jahitan sepertinya. Sekarang sedang ditangani di UGD terdekat."
"Aku ke sana sekarang. Kirimkan alamatnya padaku."
"Tak usah, kami tak akan lama kau bisa ke rumah saja, mungkin Ibu perlu bantuan. Apa perlu dilaporkan ke polisi."
"Aku akan mengurusnya." Dia langsung memutuskan telepon.
Menelepon Ibu yang langsung panik kemudian, tapi sudah kubilang ada anak buah Richard ada disana. Dia bilang dia sudah dalam perjalanan pulang sebentar lagi sampai.
Aku menghampiri Papa sementara Richard belum kembali ke ruangan kami. Lukanya sedang dibalut setelah dokter menjahitnya.
"Apa sakit Papa?"
"Sudah berkurang jauh. Mamamu sudah tahu?"
"Sudah, aku sudah meneleponnya. Dan bilang dia tak usah kesini. Sudah kubilang ada orang Louis disana."
"Ini pasti orangnya Yuna Aize itu bukan. Dan apa ada kejadian lain sebelum ini?" Papa langsung menyimpulkan.
"Situasi nampaknya mangkin buruk, kemarin mereka merusak faselitas workshopnya di Osaka, menabrak mobil Sayuri dan menggangu pekerjaan kantor. Yang jelas dia ingin Ryohei membayarnya. Kurasa Ryohei sudah mengancamnya, tapi nampaknya dia tidak mau mengalah."
__ADS_1
"Mobil jemputan itu, dari kantormu atau dari Ryohei?"
"Sebenarnya itu dari Ryohei, dia tak mau aku tanpa pengawalan." Papa menghela napas.
"Sementara kau lebih baik menjauh dari masalah ini."
"Maksud Papa?"
"Kita sementara lebih baik pindah tempat saja. Dan kau tak terlihat bersamanya. Suruh dia membereskan ini tanpa melibatkanmu dulu. Papa tak mau kau juga dipukul lagi."
Aku diam. Papa khawatir tentu saja, aku juga khawatir kalau sampai Mama dan Papa jadi korban seperti ini. Mungkin ini yang terbaik untuk sementara.
Kami pulang ke rumah tak lama setelah menebus obat untuk Papa. Richard mengantar kami, sementara kami melihat mobil Ryohei di depan.
"Ada Ryohei di sini, sekalian Papa bicara." Ada beberapa polisi dirumah, mungkin dia sudah melaporkannya juga. Mama seharusnya sudah kembali.
"Ahh dia pria yang terlibat dengam wanita itu." Aku menjelaskan kepadanya.
"Kenapa dia di sini?"
"Dia kekasihku." Richard melihatku dengan heran.
"Jadi maksudmu setelah kau memergoki pacar selingkuh, yang adalah anak gangster itu, dia jadi kekasihmu? Dia memukulmu setelah kau jadi kekasihnya atau sebelum?"
"Sebelum, dia memukulku seminggu setelah kejadian itu. Bahkan Ryohei tidak menyebarkan berita perselingkuhannya, itu hanya balas dendam karena dia memukulku, dan masalah terus berlanjut sampai sekarang."
__ADS_1
"Bagaimana bisa ...kau jadi..." Dia tak melanjutkan kalimatnya. "Baiklah, itu memang bukan urusanku. Kau harus memberiku namanya."
"Kau tak usah menyusahkan dirimu sendiri."
"Shiori sayang, aku terbiasa menyusahkan banyak orang. Berikan aku namanya, kau tak lihat Ayahmu sampai jadi korban. Bagaimana jika itu Bibi, kau akan menyesal." Dia memberikan skenario terburuk, mau tak mau aku harus khawatir. Mungkin dia memang bisa membereskannya.
"Yuna Aize putri Waka Gashira."
"Aku akan mencatatnya. Ayo kita ke dalam saja Ibumu pasti sudah menunggu." Kami ke dalam segera kemudian.
Ryohei masih bicara dengan polisi, sementara nampaknya rumah sudah cukup rapi walaupun kaca-kaca pecah tapi nampaknya pecahannya sudah beres.
Sementara Papa di tanya sebentar oleh polisi, dan di dampingi oleh Ryohei, Mama menghampiriku.
"Kau tak apa?" Mama bertanya dengan khawatir.
"Tak apa Mama."
"Syukurlah ada Richard. Kau bagaimana bisa kesini Richard, jika tak ada kau entah bagaimana jadinya."
"Bibi, aku sedang di dekat sini. Hanya kebetulan ingin mengunjungi kalian."
Mama bertanya apa yang jelasnya terjadi, bagaimana kening Papa bisa luka. Aku menceritakannya dengan singkat tak mau dia bertambah khawatir.
"Kau bekerja di Jepang sekarang Richard." Mama memang menyukai Richard, dia yang paling menentang aku pindah kembali ke Jepang, sampai akhirnya dia juga menyuruhku kembali ke New York.
__ADS_1
"Ahh tidak Bibi, hanya sedang ada urusan beberapa minggu di sini. Shiori pernah memberi alamat kalian. Aku baru sekarang punya jadwal kerja ke Asia. Jadi aku ke sini melihat kalian."