TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 7. Hanoi 5


__ADS_3

Tak usah mempercayai perkataan apapun lagi yang keluar dari mulutnya. Bangsat tetaplah bangsat!


Memutuskan tak usah meladeni Don Juan abadi itu.


Sudah gelap aku dan dua orang lainnya menyalakan api unggun, udara cukup dingin aku dan Nguyen ngobrol satu sama lain dengan tenang, Nguyen menceritakan tentang keluarga kecilnya. Dia Ayah yang baik, penuh perhatian dengan keluarganya. Dan punya keluarga kecil yang bahagia nampaknya.


"Sandra."


"Apa yang kau inginkan lagi Tuan Russel? Kau mau makan lagi, ada makanan ada di meja kayu itu." Aku memandangnya acuh tak acuh. Setelah fokus pada laptopnya beberapa jam, mungkin dia memutuskan saatnya mengganguku lagi.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Cuma kehidupan kami yang biasa. Tak ada yang istimewa. Nguyen hanya sedang menceritakan putrinya kepada kami..."


"Tuan, apa kau punya anak."


"Tidak." Sudah kuduga, bagi playboy seperti dia anak tak penting.


"Punya anak itu sangat menghibur sebenarnya." Dia tersenyum dengan perkataan Nguyen, bagaimana dia mau punya anak, komitmen aja tidak mungkin dia lakukan.


"Iya, pastinya." Oliver hanya mencoba jawaban diplomatis dan aman.


Aku jadi melamun, jika kau siap punya anak pasti itu baik. Tidak seperti aku yang di tinggalkan di panti asuhan. Tapi dari anak jalanan aku bisa bertemu teman-teman baik, pergi ke berbagai negara, tidak jatuh lebih dalam ke kehidupan sulit, hanya berbekal pendidikan high school, bukankah itu tidak buruk.


"Kau tak ingin berkeluarga Tuan? Kau orang kaya... Kenapa tak mencari istri cantik." Nguyen jadi penasaran.


"Justru kalau kau punya istri, kau tak bisa bergaul dengan wanita cantik." Aku langsung menyambar pertanyaan Nguyen sambil tertawa.


"Ohh ...benar juga." Nguyen tertawa dengan perkataanku, sementara Oliver melihatku sambil melipat tangannya di depan dada.


"Sorry Tuan Russell, itu bukan bicara tentangmu, itu tentang Elon Musk, yang tidak mau menikah walaupun memiliki anak dua orang dengan orang yang sama." Aku meringis lebar padanya. Dia termasuk yang kubicarakan tentu saja.

__ADS_1


"Ohh ya kau benar Nona, dia punya anak, punya hubungan dengan Ibu anaknya, tapi juga punya pacar, aku membaca berita itu, tapi dia punya anak 2x dengan wanita yang sama, tapi mereka tidak menikah, nampaknya hubungan tradisional tidak berlaku di dunia mereka."


"Hmm hartanya banyak, jika dia menikah dia membagi hartanya dengan istrinya, dia tidak mau terikat dokumen pernikahan. Bisa dimaklumi, orang seperti itu pasti punya pikirannya sendiri."


Oliver tak menanggapi kami, dia tahu dia adalah subjekku, begitulah aku memandangnya untuk saat ini. Tapi aku tak perduli, aku tak menyinggungnya terang-terangan. Lagipula setelah empat hari ini kami tak akan punya hubungan lagi.


"Nona, nampaknya negara maju punya pikirannya sendiri."


"Ohh benar, wanita di Hongkong juga banyak yang tak ingin menikah, kami punya sedikit pria, kadang mereka lebih tak kompeten di banding kami, wanita Hongkong sering di tuduh gold digger karena kebanyakan menetapkan harga yang tinggi. Jadi walaupun banyak wanita dibanding pria, bukan berarti pria Hongkong itu gampang memperoleh wanita." Aku tersenyum pada Nguyen.


"Kami disini jika peramal mengatakan kami cocok kemungkinan besar kami akan menikah." Nguyen tertawa menceritakan dirinya. Dia bercerita bagaimana orang tua mereka awalnya menjodohkan dia dengan istrinya, dia menyukainya dari pertemuan pertama, lalu dia meminta izin pada orang tuanya istrinya, yang harus dilalui dengan beberapa pertemuan dulu dengan keluarganya, intinya dalam tradisi Vietnam kau harus menyenangkan orang tuanya dulu sebelum bisa mengajak anak gadisnya keluar dan melalui pengaturan keluarga besar, yang harus dilihat kecocokan mereka oleh peramal nasib mereka akhirnya menikah.


"Ehmmm kelihatannya itu bagus."


"Setiap negara mempunyai keunikannya sendiri kukira Nona. Ada term 'pakipot' bagi para wanita disini, jadi semacam idiom wanita itu harus membuat dirinya sulit didapatkan, wanita disini harus menyembunyikan perasaannya, walaupun dia menyukai pria itu, jarang wanita menyatakan perasaannya di sini, itu sebabnya laki-laki harus mendapatkannya lewat orang tuanya, lalu orang tuanya menyampaikan ke anaknya." Nguyen menjelaskan.


Aku tersenyum mendengarnya.


Oliver diam mendengar kami.


"Kenapa Tuan Oliver, kau mau dijodohkan dengan gadis Vietnam? Suruh Nguyen mendapatkannya untukmu." Aku bercanda dengannya. Dia cuma tersenyum.


"Ya asal mereka bisa setia satu sama lain, itu hal yang baik harusnya. Dan bisa berbahagia seperti Nguyen." Dia bicara tentang kesetiaan, dia tidak punya tendensi setia sedikitpun.


"Aku tidur dulu Nona Sandra, Tuan Russell, kami tidak biasa tidur terlalu malam."


Nguyen masuk ke tenda, aku jadi hanya berdua dengan Oliver, group yang satunya hanya mengerti bahasa Vietnam aku jadi tak bisa bicara dengan mereka. Baru jam 10, aku tak terbiasa tidur begitu cepat.


Bintang-bintang bertaburan di atas kepalaku, jarang aku bisa melihat bintang begitu jelas. Polusi kota-kota besar membuat bintang di langit tak terlihat oleh manusia.


"Disini bintang jelas sekali, aku membayangkan jika resortnya sudah jadi akan indah sekali disini... Aku akan menabung dan menginap disini."

__ADS_1


"Hmm...jika begitu kita akan membuat teras untuk menatap bintang buatmu." Aku tertawa, itu kedengarannya bagus.


"Teras menatap bintang... Itu nama yang bagus. Kabarkan aku jika sudah selesai." Aku menatap pria tampan ini, ada ekspresi sedih padanya mendengar cerita Nguyen, mungkin sebagai pria dia juga punya impian itu, berkeluarga.


Entahlah aku tak ingin menebaknya, bukan urusanku.


"Kenapa kau tidak ingin menikah, apa benar banyak pria tak kompeten?" Dia tiba-tiba bertanya.


"Aku, sudah kubilang aku hanya tak beruntung."


"Kau tak punya seseorang yang kau cintai?"


"Hmm... ada. Tapi aku hanya karakter pendukung di sampingnya, dia tak pernah melihatku, kita teman, dia sangat baik, kariernya cemerlang, bahkan mungkin di beberapa bagian dalam hidupku dia pelindung bagiku."


"Tampaknya seorang yang sempurna." Aku tertawa kecil.


"Tak ada yang sempurna Tuan Russel, setiap manusia punya sisi baik dan gelapnya sekaligus. Kau tahu kenapa aku bisa mengatakan jangan membawa masa lalumu ke depanku, karena orang yang kusuka itu juga sama sepertimu, dia terlihat seperti bastard, playboy dingin tak tersentuh, tapi jika kau mengenalnya dari sisi lain, dia orang yang baik, setia kawan, dan menolong orang tanpa mengharapkan balasan."


"Dan kau begitu memujanya... Kenapa tak kau katakan saja."


"Aku cuma temannya, aku tak seperti wanita di matanya aku mungkin brother-nya malah, bukan tipe tukang berkelahi bisa menendang orang sepertiku, kau tahu tipe wanita... yah seperti yang sering kau kencani."


"Hmm... begitu, kasihan sekali."


"Tidak aku tak perlu dikasihani, dia sangat baik padaku. Aku lebih suka mendapatkannya sebagai sahabat. Itu abadi, cinta, apa itu cinta hanya perasaan sesaat saja." Dia diam berbaring di terpal di rumput itu, memandang bintang di atas kami.


"Ini menakjubkan, bayangkan kau terlelap dengan langit penuh bintang diatas sana, agak menakutkan, bagaimana jika ada kilat dan hujan , tapi bisa menatap bintang seperti di planetarium itu memang menakjubkan,..." Kemudian tiba-tiba ada bintang jatuh, kali pertama aku melihat bintang jatuh dalam hidupku.


"Kau lihat, ada bintang jatuh! Pertama kalinya aku melihat bintang jatuh." Aku terbangun berharap aku melihat lagi, rasanya luar biasa bisa melihatnya.


"Aku berdoa kembali ke sini dan melihat teras bintang seperti katamu, kau harus membuatnya Tuan Russel. Kau harus membuatnya." Sekarang aku mengancam arsitek hotel bintang lima, dia tertawa melihatku.

__ADS_1


"Berjanjilah kau akan membuatnya, demi permohonanku ke bintang jatuh itu."


__ADS_2