
"Dia akan selalu bertengkar denganku dan merendahkanku dengan membawa masa laluku, mencercaku seakan dia yang membantu keluargaku menghapus aibku, jika kupikir-pikir aku lebih baik sendiri seumur hidup daripada bersamanya."
"Kenapa Mama tak tinggal di tempat lain saja?"
"Kemana? Aku sudah tua, walau kadang aku sendiri sangat ingin pergi, tapi tak bisa meninggalkan kenangan disini. Kadang ada cucu yang datang menghiburku, aku juga sangat jarang bertemu suamiku itu paling setahun tidak sampai 5x, kupikir aku bisa menahannya kata-katanya menulikan telingaku...."
"Tapi kadang juga menyakitkan melihat anak sendiri memperlakukan kita sebagai ATM pribadi. Kau tahu adikmu itu hanya tahu meminta uang, apa dia pernah memberi satu sen pun kepada Mama, istrinya sama saja... Hanya memeras suaminya untuk memanjakannya. Mama ingin berkeras hati, tapi itu anak Mama, dia menyalahkan Mama karena Papanya jarang kembali ke rumah di masa remajanya. Seperti semuanya salah Sandra..."
Aku hanya bisa mengelus punggungnya.
"Maaf, kau kesini malah mendengarkan masalah Mama." Mama ganti menggengam tanganku.
"Itu gunanya anak perempuan Mama, jadi pendengar yang pengertian. Ceritalah apapun padaku."
"Ohh ya, kau tak mengajak kekasihmu bertemu Mama. Nampaknya pekerjaannya bagus..." Aku menceritakan siapa Oliver padanya.
"Ternyata dia profesional yang handal. Kau beruntung sayang, cukup aneh kenapa dia bisa jatuh cinta padamu." Aku tertawa mendengar keheranan Mama.
"Kau benar Mama, dia kena karma karena tak pernah serius ke wanita."
\=\=\=\=\=
Keesokan siangnya, Mama sedang ada pertemuan dengan teman-temannya dan dia harus ke kantornya sebentar, aku berada di rumah dengan bosan.
Tapi seseorang kemudian datang. Siapa? Apa Cheng Xin lagi? Apa dia merasa belum cukup mencercaku. Atau jangan-jangan suami Mama?
Aku mengintip ke bawah.
Seorang wanita, dengan rambut bergelombang, gaun cantik, membawa makanan nampaknya. Kemungkinan besar itu adik iparku. Astaga mau apa lagi dia, menyindirku supaya pulang ke tempatku? Aku harus mempersiapkan diriku menghadapi sindiran langsung ataupun tidak langsung.
Aku tak mau mencari masalah dengannya, lebih tepatnya lebih baik aku menghindarinya. Caranya, tak mungkin aku pura-pura tidur di tengah siang begini.
__ADS_1
"Kudengar ada kakak iparku disini? Aku mau menemuinya mengucapkan salam."
"Saya akan sampainya Nona."
Aku masuk kamar. Bilang saja aku sedang bekerja. Mungkin dia tak tahan dan akhirnya pergi
"Nona, ada Nona Chiang, istrinya Cheng Xin, katanya ingin memberi salam pada Nona."
"Bilang aku dalam meeting, aku tak bisa meninggalkannya."
"Ohhh baik Nona." Aku mengunci pintuku tapi sejam kemudian dia belum ada tanda-tanda dia akan pergi.
"Kakak Ipar? Apa kau di dalam, aku Chiang Nan, istri Cheng Xin aku membawakan makanan untukmu?" Astaga perempuan ini gigih sekali. Dia pasti kesini untuk mengorek informasi tentangku.
"Maaf, aku sedang ada pekerjaan, maaf bisakah lain kali kita bicara."
"Tak apa aku akan menunggu. Mama juga belum pulang, ..."
Sejam kemudian mobil Mama memasuki halaman rumah. Akhirnya aku bisa menghadapi adik iparku yang sedang bermain sebagai mata-mata.
"Sandra?" Mama mengetuk pintuku. Aku langsung membuka dan menariknya masuk.
"Mama, menantumu itu sedang jadi mata-mata. Jadi aku disini pura-pura bekerja dan dia sudah menungguku 2,5 jam. Aku malas menghadapinyan" Mama terkikik dengan perkataanku.
"Untung kau menyadarinya. Aku sudah khawatir tadi menemukan mobilnya. Kita perlu membuat sandiwara kalau begitu."
"Sandiwara apa..."
"Begini, katakan kau istri arsitek terkenal, anggap saja pacarmu suamimu, lalu kau belum punya anak, kau punya gym bela diri sendiri di Hongkong, lalu sebuah klub malam, apa peran itu bisa kau mainkan. Jangan memberinya keterangan detail. Intinya kau Nyonya pebisnis, tidak seperti dia yang tukang menghabiskan uang saja, sindir dia habis-habisan supaya dia malu..." Aku tertawa dengan keinginan Mama.
"Ehm baiklah, aku bisa melakulan itu Mama, akan kulakukan dengan serius jika itu maumu." Aku meringis lebae mendengar bagaimana Mama mau menyindir menantunnya yang tukang foya-foya itu.
__ADS_1
"Itu memang yang kumau dengan si muka tebal itu. Soal bagaimana aku menemukanmu bilang saja, detektif kebetulan bertemu denganmu."
"Aku akan bilang sebemtar lagi kau keluar oke. Kau baru menyelesaikan pekerjaanmu." Aku memberi tanda oke padanya.
Tak lama aku turun ke ruangan bawah.
"Adik ipar maafkan aku aku ada pekerjaan, terima kasih atas makanannya."
"Ah tak apa Kakak, senang bisa bertemu denganmu."
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu. Astaga Mama, lihat tas adik ipar, bagus sekali, .... Mama kau saja tak pernah membeli tas begini." Aku langsung menyindir tas mahal yang dibawanya.
"Ohhh iya itu mahal, kurasa adik iparmu sangat up to date dengan merk itu, satu Shanghai tahu dia adalah pembeli loyal."
"Ckckck, adik ipar aku memujamu. Lihat bajumu, Givenchy, kalungmu Cartier, gelangmu Tiffany, jammu Harry Winston, sepatumu Manolo.. kau cantik sekali. ijung kepala sampai ujung kaku, kau bernilai ratusan ribu dollar nampaknya." Dia tersenyum kaku saat aku membantainya tanpa ampun. Istri Boss besarku saja tidak memakai barang seperti ini, astaga tapi wanita ini yang suaminya masih meminta uang pada Mamaku memakai barang seperti etalase berjalan. Apa dia mau mengatakan aku seujung kukunya?
"Kakak, aku hanya membeli ini untuk investasi..." pintar mengelak, kalau begitu kudorong ke jurang saja supaya jatuh sekalian.
"Ohhh begitu pantas saja suamimu sering datang kesini untuk meminta uang , rupanya digunakan untuk investasimu salah satunya.... Bagus-bagus, kau memang sangat pintar. Benar kan Mama." Aku menembaknya dengan bom atom dan mengajak Mama berpartisipasi.
"Ahh iya, cuma Return of Inventmentnya kurasa masih harus menunggu 50 tahun lagi, menunggunya jadi barang antik, ohhh tak udah dibicarakan kurasa aku sudah jadi abu." Mama tertawa terbahak-bahak yang sebenarnya ironis, Aku meringis lebar tapi ingin mencercanya.
"Mama jangan berkata begitu, kita baru bertemu kau sudah membicarakan jadi abu." Aku merangkul Mamaku sekarang.
"Tidak, aku memang tak mungkin hidup lagi 50 tahun lagi saat tas itu sudah masuk museum sayang. Apa yang bisa kukatakan." Ibu menjawabku.
"Kakak ipar, Mama menduga terlalu jauh bukan? Kalau dijual apa sudah untung investasimu itu. Kau jual saja buktikan pada Mama itu tidak perlu menunggu 50 tahun lagi...."
Aku tak memberinya kesempatan untuk bicara, kupingnya sudah memerah karena panas.
bersambung besok
__ADS_1