
POV Louis.
Penangkapan Alberto Tosar. Aku menunggu berita itu seharian, bahkan makan siang di kantor.
Aku sudah melihat tren penurunan sahamnya sudah dari pagi, pemain-pemain besar yang dekat dengan broker sudah keluar duluan menyelamatkan uangnya sekaligus mengambil untung duluan. Broker-broker itu tentu saja percaya padaku.
"Sir, berita yang Anda tunggu sudah keluar." Tommy mengirimkanku linknya, berita penangkapannya sudah di release dengan life streaming breaking news khusus.
Kali ini dia nampak tertatih-tatih berjalan, rupanya pukulanku semalam membuat masalah padanya. Aku puas melihatnya menderita walau untuk sesaat. Mungkin aku memang mematahkan tulang rusuknya dengan tendangan dan pukulan itu. Untungnya aku masih giat berlatih sehingga bisa membalasnya begitu rupa.
Tetap rasanya tak sebanding dengan penderitaan keluarga yang sudah menjadi korban Alberto. Kami menanggung rasa kehilangan tahunan, merasa bersalah. Mungkin dia juga harus mengalami seseorang diambil darinya.
Sementara kejatuhan sahamnya terlihat jelas sesudah berita itu release saat siang, walaupun dia masih punya tenaga untuk mengatakan semua yang dikatakan dan dituduhkan oleh berita bohong, tapi publik sudah terlanjur mengambil tindakan, penurunan akan lebih tajam lagi besok setelah publikasi di media nasional detail kejahatan yang dilakukannya.
Selama beberapa hari melihat berita tentang penangkapan Alberto, terasa seperti beristirahat setelah perjalanan panjang. Broker berterima kasih atas informasi yang mereka dapatkan dariku. Aku mendapat sedikit uang terima kasih dari mereka, menerima itu terasa hambar, entahlah mungkin karena cerita di belakangnya.
Aku berusaha kembali ke rutinitas saat penyedikan berlangsung, karena memang saat ini tidak ada yang dapat kulakuan, Kimberlyyang sedang bekerja sama dengan jaksa menyusun tuntutan. Sementara Alan meneleponku meminta saran kapan dia bisa melakukan pembelian besar. Kubilang saja sampai dekat dengan keputusan akhir, sekarang masih belum, karena pemegang saham awam mungkin beberapa mungkin belum tahu.
"Jika kau mau membeli, beli preferred dengan harga deal khusus, paksa mereka menjual saham keluarga, kau bisa mendapatkan mayoritas lebih mudah Sir Alan, ganti langsung direksi, itu bisa mendapatkan pengantian kepercayaan investor lain lebih cepat. Nathan akan senang nilai investasinya dengan cepat naik.
"Ahh kau benar, aku memang berpikir memaksa membeli preferred, tapi benar juga caramu, aku akan memaksa mereka melepas saham keluarga, akan menendang mereka dari perusahaan sendiri, akan kulakukan untukmu, tenang saja aku akan membuat mereka jadi minoritas." Alan tahu ceritaku, dia kuanggap tempat bercerita kadang. Di tempat ini sejujurnya aku menemukan banyak teman dan keluarga.
"Terima kasih Sir." Kadang aku memanggilnya Sir daripada Alan saja untuk menunjukkan rasa hormatku.
"Ini balasan kesabaranmu selama ini. Kau berhasil menahan diri tidak mengotori tanganmu selama bertahun-tahun. Kau hebat."
"Aku tak tahu apa itu hebat atau tidak. Kurasa setengahnya aku terlalu lama menyelesaikan ini."
"Caranya baru kau temukan sekarang. Kau tak perlu menyalahkan dirimu lagi." Sir Alqn menepuk bahuku, memberiku semamgat.
__ADS_1
Minggu-minggu selanjutnya persidangan menjadi cepat. Semua saksi memberatkan dihadirkan, tak memberikan celah bahkan untuk pengacaranya berpikir bagaimana membelanya dengan begitu banyak saksi yang memberatkan memberikan kesaksian, pun akhirnya penggeledahan rumah menemukan uang cash dalam jumlah fantastis. Belum lagi dengan kesaksian beberapa kasus pembunuhan yang dengan sukarela di ungkapkan oleh para saksi. Para juri rasanya tak perlu lagi mendengar apapun dari pengacara yang membelanya, karena itu percuma.
"Datanglah ke sidang penutupan sebelum putusan Louis." Kimberly tiba-tiba meneleponku siang ini.
"Kenapa aku harus datang ini belum sidang terakhir?"
"Pokoknya datang saja, kau akan tahu nanti, aku meminta sekali ini saja kau datang."
"Baiklah, ini untukmu yang sudah bekerja keras untuk ini." Aku membatalkan rapat internal untuk memenuhi permintaan Kimberly.
"Kutunggu saja kau disana besok." Aku tak tahu kenapa Kimberly menyuruhku datang, aku datang dan duduk dengan tenang di sampingnya, kami duduk di bangku paling belakang, menunggu acara sidang dengan tenang.
Di akhir pembacaan penutup tuntutannya, jaksa mulai berbicara.
"Lebih dari enam tahun yang lalu, penyidik IRS memulai penyelidikan atas kasus ini. " Aku tercekat mendengar kalimat pembukanya. "Lima tahun lalu seorang penyidik IRS bernama Chelsea Ashlee harus mengorbankan nyawanya tertembak oleh orang tak dikenal yang meminta nyawanya setelah menyelidiki perusahaan pertama yang terkait dengan terdakwa tapi tidak bisa dibuktikan, persidangan ini untuknya, Chelsea Ashlee yang meninggal secara tragis demi menyelidiki kasus terdakwa..." Dan mataku memanas mendengar nama Chelsea disebut. Jadi ini tujuan Kimberly memintaku datang, persidangan ini memang untuknya.
"Ini untuk Chelsea..." Kimberly tersenyum padaku. Dia menangis, air matanya mengalir begitu saja di sampingku. Aku merangkul bahunya dengan erat. Saat itu rasanya semua tangisan, keputusan asaan kami selama bertahun-tahun terbayarkan.
"Kau yang menemukan caranya. Dia punya kau yang selalu membelanya sampai akhir. Kau selalu punya cara."
Kimberly ganti memberi semangat padaku Semua tuntutan dibacakan, aku mendengarkan semuanya dengan cermat.
Semoga kau tenang sekarang, aku dan Kim menyelesaikan ini untukmu dengan sempurna. Sekarang pergilah ke tempatmu yang indah. Maafkan aku terlalu lama mengambil waktumu. Kau harus kembali jangan biarkan kami menahanmu. Maafkan aku Chelsea... Maafkan aku terlalu lama menbuatmu menunggu.
Mataku terus panas selama pembacaan tuntutan, rasanya seperti akan melepas seorang pergi.
Mengatakan itu padanya dalam hatiku entah kenapa terasa melegakan. Mungkin di saat yang sama aku juga memaafkan diri sendiri.
Di akhir tuntutan, aku tahu dia mungkin tak bisa hidup lagi untuk menyelesaikan jumlah tahun hukuman yang di minta dibayarkan oleh jaksa.
__ADS_1
"Baru kali ini rasanya begini. Seperti bebanku sudah terangkat begitu saja." Aku melihat ke arah Kimberly yang sudah bisa tersenyum.
"Kita merelakannya pergi." Kimberly tertawa kecil.
"Ternyata kita jahat menahannya disini. Dia harusnya sudah berada di tempat yang indah." Aku dan Kimberly ternyata punya pikiran yang sama.
Kami keluar gedung pengadilan. Entah kenapa langit terlihat lebih cerah sekarang. Mungkin hanya perasaaanku. Tapi ini membuat perasaanku menjadi hangat.
"Apa kau akan kembali ke kantor."
"Iya aku akan ke kantor."
Tiba-tiba aku mendengar suara tembakan, dan sepersekian detik kemudian, sebuah rasa sakit mendera, membuatku terjatuh seketika. Ketika aku meraba di dada kiriku, tanganku penuh dengan darah.
"Louis!" Aku melihat Kimberly berteriak ketakutan meminta bantuan, suara teriakan terdengar di sekelilingku dan aku sadar telah ditembak di dada kiri. Mungkin sudah saatnya aku juga pergi.
"Mungkin aku akan bertemu Chelsea, Kim." Aku melihat padanya, aku tidak akan menolak jika aku mati sekarang. Kimberly yang panik masih berteriak meminta bantuan.
"Jangan kau berani mati! Tetap sadar, siapa yang menyuruhmu mati, Chelsea akan membunuhku kalau kau mati!" Entah kenapa perintah panik itu terdengar lucu sekarang.
"Aku tak apa Kim. Kurasa Chelsea akan senang kutemani." Ini kematian yang menyenangkan kupikir. Tak ada penyesalan lagi.
Aku melihat ke langit biru itu. Menyenangkan bisa melihat birunya langit, lagipula hutangku sudah selesai.
"Louis, liat aku!" Aku masih mendengar Chelsea berteriak dan menepuk pipiku dengan keras.
"Tuan kita ke rumah sakit sekarang. Bertahanlah." Nona tekan lukanya. Tubuhku dibawa oleh seseorang. Suaranya mungkin Tommy.
Pandangamku memudar. Aku kehilangan langit biruku. Mungkin aku bisa melihat Chelsea lagi setelah aku bangun.
__ADS_1
Mungkin ....