
‘Tata, Koko punya makanan banyak dirumah. Kalau makan kerumah ya, makan sama-sama aja.’ Kukirimkan itu padanya, sialnya dia tidak menjawabku! Padahal dia online! Gadis ini sengaja! Dia pasti datang, dia hanya ingin membalasku.
“Bi, mana Tina. Suruh dia beli mawar di tukang kembang di pasar, 5 mawar, warnanya terserah, asal jangan putih.” Aku memberikan padanya lima puluh ribuan.
“Mawar Tuan, maksudnya di tukang bunga tabur di pasar? Bapak mau nyekar sore-sore begini? Sama kembang taburnya?” Dia heran, aku tahu ini perintah tak lazim.
"Engga, cuma mawarnya aja. Suruh cepetan ini, habis itu Bibi ke dapur. Bantu saya masak...”
“Ohh iya-iya Tuan.” Bibi pergi mencari Tina. Aku memikirkan aku masak apa, Bibi membantuku menyiapkan masakan sementara aku memastikan persiapan masakan. Tina yang datang kemudian memberiku mawar yang dibelinya. Yah bentuk mawar begitu-begitu saja tidak ada yang istimewa.
"Tuan mawarnya mau diapain?" Tina sekarang yang bertanya padaku.
"Airin di bak belakang. Cari vas satu yang muat buat itu." Bibi melihatku dengan heran, kemudian mungkin dia mendapat ilham kenapa aku membeli mawar itu, meringis tersenyum. Sekarang pikirannya yang gelap bohlamnya sudah menyala.
__ADS_1
Jam 4 Tata membalasku dengan kalimat singkat.
‘Iya,nanti aku mampir.’ Ada rasa lega setidaknya dia masih mau mampir. Aku mempersiapkan masakan bersama Bibi, membuat persiapannya hingga nanti saat jam 6 tinggal bagian mudah penyajiannya. Jam lima
“Ini uang lima ratus, buat ke mall ajak Tina buat jalan-jalan. Pulang jam 10 lewat.”
“Ohh, mau makan malam sama Non ya Tuan.” Sekarang Bibi yang cekikikan. Tentu saja dia mengerti.
“Pinter Bi.”
Makanan tinggal finishing, aku mandi dan menunggunya datang.Rasanya lama sekali, padahal sebenarnya aku cuma menunggu setengah jam.
“Hei, masuk...” Lega melihatnya, mobilnya parkir didepan. Adikku yang cantik ini baru dari mall, entah apa yang dilakukannya disana. Aku tak ingin memikirkannya, hanya ingin fokus mengatakan perasaanku padanya, mungkin minta maaf membuatnya menunggu begitu lama.
__ADS_1
Dia terlihat terkejut melihat aku memasak untuknya. Memasak untuk seorang wanita tak pernah gagal membuat impresi kagum, tapi dia menertawakan habis-habisan bunga yang kubeli di tukang kembang tabur itu.
“Baiklah-baiklah, aku mengerti.” Aku duduk didepannya di bangku tinggi itu menunggu dia selesai tertawa, aku memang tak suka membelikannya bunga, bukankah kue yang kubelikan semalam lebih bisa dimakan, bunga hanya layu dan dibuang.
“Apa yang kamu mengerti?” Dia tertawa sampai menangis. Kelihatan gembira, aku senang dia begitu gembira.
“Bunganya bagus...” Dia memuji bungaku. Padahal harganya cuma 25.000, tak sebanding dengan bouquet besar mawar impor dirumahnya.
“Kata Cecil, ini candle light dinner.”
“Gak ada lilinnya.” Sekarang dia tertawa lagi. Mungkin dia sangat senang mengerjaiku seharian ini.“Sorry ko, ini bagus. Sorry aku ketawa kaya gini...” Aku menghela napas panjang. Mengumpulkan keberanian, ternyata mengatakan hal simple bahwa aku menyukainya juga membuat jantungku berdebar.
“Saya tahu saya harus mengatakan sesuatu,...Saya setengahnya merasa saya terlalu tua untuk ini.” Aku tertawa kecil sendiri,kupegang tangannya yang halus, mulai sekarang aku ingin bisa memegang tangannya selalu, aku tak tahu kenapa menyentuh tangannya terasa begini membahagiakan, perasaan ini rasanya aku terlempar kembali ke masa-masa aku bertemu dengan Mamanya Cecil, dan aku tak ingin dia keluar makan malam dengan penggemarnya itu. Aku tak bisa menanggung rasa cemburu dan memikirkannya sendirian seperti orang bodoh. “Tata,... bisa kamu katakan pada pengirim bunga sialan itu, kamu sudah punya kekasih, yang suka memasakkanmu makan malam, dan tempatmu cash batere.” Dia tersenyum padaku,tapi tidak mengatakan apapun.Walaupun aku cukup yakin dia akan menerimanya, ada sebersit rasa takut dia mengatakan sesuatu diluar dugaanku. Bagaimanapun usia kami terpaut 13 tahun.
__ADS_1
“Bunganya cuma lima,...” Dia masih membahas bunga itu.
“Buat apa banyak-banyak, gak bisa dimakan.” Aku tetap pada prinsip bunga itu adalah sia-sia.