
POV Author
Derrick menutup pintu kamar, lalu memuju kamarnya sendiri. Mengetuk pintunya dimana Ryohei menunggunya. Tak menunggu lama pintu dibuka.
"Ryohei-san, bisa ikut aku sebentar."
"Kemana? Dimana Shiori? Bukankah dia harus bilang apa yang terjadi."
"Ada cara lebih sederhana untuk itu. Ikut sebentar denganku, kau akan melihatnya segera." Derrick mempunyai cara memperlihatkan apa yang Shiori lihat kepada Ryohei, dia sudah melihat kamera keamanan tak jauh dari kamar Ryohei. Dia bisa mengakses kamera keamanan dengan bicara ke manager hotel.
"Derrick-san, kau mengajakku kemana."
"Ke lobby kita akan bertemu manager hotel, yang dilihat Shiori terekam di kamera keamanan. Mengakulah kau kehilangan laptop, ada teman yang melihat seseorang nampaknya keluar dari kamarmu jam 12 siang. Aku yang akan bicara, iyakan saya kata-kataku."
Ryohei tak punya tebakan apa yang dilihat Shiori di depan kamarnya. Menyangkut ke Yuna? Dia bertanya apa yang akan dilihatnya.
"Selamat malam, saya boleh bertemu dengan manager hotel, teman saya ini kehilangan lpadnya di kamar, ini sangat penting, seorang teman kami mengatakan bahwa dia melihat seseorang yang mencurigakan berjalan di sekitar kamar jam 12 siang ini, bisakah kami melihat siapa yang masuk kamar 1415 sekitar jam 12 siang? Ini sangat penting, bisa Anda menolong saya."
"Saya akan panggilkan Manager kami Tuan, Tolong tunggu sebentar ." Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan akses kamera keamanan setelah Ryohei memverifikasi mereka adalah pemilik kamar tersebut.
__ADS_1
"Anda mengatakan sekitar jam 12 tuan. Kamera yang mengarah ke 1415 adalah kamera ini. Kita akan lihat." Mereka sudah berada di depan layar ruang kontrol keamanan.
Dalam sepuluh detik kemudian, dari dua pintu di sebelahnya terlihat seorang gadis berjalan.
"Itu Shiori... Dia mau ke restoran untuk makan." Derrick menunjuk, Shiori yang berjalan agak pelan karena lemas, sebelum Shiori-san tiba-tiba berhenti ketika pintu kamar 1415 terbuka. Tidak ada audio memang, tapi terlihat jelas mesranya Yuna ke pria itu dan Shiori yang mematung melihat mereka.
Mereka terlihat terlibat pembicaraan, dan Yuna mendorong pria itu menjauh dan Shiori pergi.
"Tuan, saya rasa cukup. Kami sudah bisa menyimpulkan. Terima kasih atas bantuannya." Derrick yang berterima kasih sementara Ryohei terdiam memproses semua yang dilihatnya.
"Ryohei-san, ikut saya." Derrick harus memberinya perintah dan menepuk bahunya karena Ryohei masih terpaku pada layar.
"Iya." Dia akhirnya berjalan mengikuti Derrick. Derrick mulai bicara setelah tidak ada orang lagi di sekitar mereka.
"Itu yang dilihat Shiori, yang dia dengar, mungkin percakapan sedikit percakapan mesra, dia mengatakan Yuna mengatakan pada laki-laki itu kau dua jam lagi baru kembali, setelahnya dia sadar di pergoki Shiori, dia tak tahu bagaimana harus mengatakan padamu atau tidak, apalagi setelah diancam. Tapi saya percaya Anda tidak akan memperlebar masalah ini lagi."
"Ryohei-san tidak perlu begitu formal, anggap saja ini bantuan teman. Shiori sudah beristirahat, dia masih agak tak baik, Anda tak perlu khawatir."
"Ini memang memalukan."
"Wanita kadang sulit ditebak. Kau harus menenangkan dirimu. Kamar direkturmu juga berada di lantai yang sama, tak perlu kehilangan muka karena wanita pengkhianat."
"Saya tahu. Saya akan pindah kamar saja. Saya malam-malam begini membuat masalah untuk Derrick-san. Saya akan mengurusnya sendiri. Terima kasih atas bantuan Derrick-san." Dia membungkuk singkat pada Derrick yang kemudian kembali ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
Sementara dia kembali ke reception untuk membook kamar baru sendiri, kali ini berbeda lantai dengan yang di tempatinya.
Setelah mendapatkan kartu akses kamarnya, dia kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah tenang.
"Sayang, kau sudah kembali." Ryohei menatap wanita itu. Wanita yang dia sangka adalah wanita terhormat dan dicintainya, tapi ternyata hanyalah wanita gila yang tak punya logika dan pel*a*cur.
"Besok pergilah dari sini. Jangan berani muncul di depanku lagi."
"Apa maksudmu? Kenapa kau bicara aneh?" Yuna meraih Ryohei. Dia menduga mungkin dia bisa membelokkan cerita. Ryohei menepis tangannya dengan kasar.
"Ryohei san?!"
"Pe*lac*ur! Kau pikir aku tak tahu kau meniduri pria lain hari. Aku melihatnya sendiri di kamera keamanan." Dia membereskan bajunya dengan cepat. Merasa dirinya memang tak layak marah dengan wanita murahan itu. Walaupun hubungan mereka baru beberapa bulan ini dia merasa sangat menyia-nyiakan waktunya.
"Ryohei, kau salah paham." Wanita itu menempel memegang tangannya lagi. Ryohei melepaskan dirinya dengan cepat dan menarik kopernya segera. Merasa jijik ketika wanita itu menyentuhnya.
"Salah paham?! Yuna, jangan terlalu meninggikan dirimu. Tutup mulutmu. Jika kau berani muncul di hadapanku lagi, kau akan tahu apa yang bisa kulakukan untuk mempermalukanmu."
"Ryohei, dengarkan aku dulu..." Yuna masih mencoba mengiba.
"Lepas!" Disentakkan tangannya dari pegangan wanita itu.
Tak mau berurusan dengannya lagi.
__ADS_1
Dia tidak mau mendengarkan apapun lagi. Dia menarik kopernya keluar dan pergi. Sudah cukup baginya berurusan dengan wanita gila.
\=\=\=\=\=\=