TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 72. Putri Yang Berbakti 2


__ADS_3

“Kamu putri yang baik. Perlu dikasih hadiah ciuman...” Sebuah ciuman mampir ke pipiku, aku tertawa kecil karena kegelian. “Mau lagi?” Ciuman pipi, kening, mungkin dia pikir aku putrinya yang menggemaskan. Kucium saja balik pipinya dan tertawa sendiri, aku tak berani duluan mencium yang lain.


Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia memegang daguku, dan  wajahnya mendekat dan  terjadilah ciuman pertama kami. Aku tak bisa bernapas karena kaget, awalnya hanya  ciuman singkat tapi selanjutnya dia menarikku lebih mendekat padanya, memiringkan kepalanya dan menguasaiku sepenuhnya, membuatku bernapas dalam ciumannya.


Aku tak bisa bicara ketika itu selesai. Mukaku panas begitu saja melihatnya.


“Mukanya merah, gitu aja udah salah tingkah, tapi kemarin berani sengaja ngintip...” Dia tersenyum melihatku salah tingkah


“Koko...” Aku mendorongnya, sebal karena  dia menggodaku.


“Kenapa mau lagi?” Dia tersenyum lebar dan menggodaku.


“Aku kan cuma penasaran kemarin.”


“Penasaran apa? Coba jelaskan bagian  mana yang bikin penasaran...”


“Ihh mesum.”


“Lhoo, kamu yang mesum, cuma nanya bagian mana. Pikiran kamu yang sudah kemana-mana.” Mukaku tambah panas sekarang, bicara dengannya kau tak akan menang.


“Apaan coba.” Sekarang dia tertawa puas mendengarku tak bisa menjawabnya. Aku melihatnya, sekarang bersandar didalam dadanya begini membuatku terlalu berdebar, perasaan ini membuatku pusing, aku menyentuh rambutnya sementara dia membiarkanku dan duduk bersandar dengan santai di sofa.

__ADS_1


Sebuah dorongan membuatku ganti menciumnya singkat, aku menyukai rasanya, tapi tak berani terlalu lama.


“I love you.” Perkataanku membuatnya merengkuhku sekarang ganti menguasai bibirku tanpa ragu, sementara tangannya merengkuh tubuhku membawaku begitu dekat, membalas satu sama lain  begitu saja tanpa ada keraguan. Aku sekarang takut terhanyut dalam ciuman dalam itu. Berada di pelukannya terlalu melenakan.


“Koko, ntar Bibi  lewat. Malu...” Aku menghentikannya, dia memandangku dan tertawa kecil.


“Kamu pacaran terakhir kapan?” Aku sebenarnya tak ingat. Semester berapa, aku harus berpikir.”Lama sekali sepertinya...” Dia mengomentari aku yang berpikir terlalu lama.


“Gak inget. Terakhir juga cuma beberapa bulan. Ribet, gak bisa tidur,kangen  gak jelas, mesti nyenengin orang, mesti  bilang kemana sedikit-sedikit, masih model pacaran ABG yang gak jelas, kadang berantem. Complicated, itu yang  kuingat..”


“So sama saya gak complicated,...”


“Engga... bisa jadi diri sendiri, cuma duduk diem berdua aja  gak pa pa. Gak merasa harus ini-itu, gak ngerasa serba salah.”


“Iya, begitu. Salah?”


“Entahlah, engga kayanya.” Dia ketawa sendiri.


“Isshh yang seneng TTM doang.”


“Apa TTM.”

__ADS_1


“Temen-temen tapi mau...” Dia ngakak.


“Itu lebih aman, sama-sama senang. Gak usah laporan.Gak complicated kan, gak hurt feeling...”


"Itu kan pikiran koko doang, tapi Lisa pake feeling, mana ada perempuan gak pake feeling."


"Gitu." Dia menghela napas. "Ya sudah, saya sudah ngomong, gak pernah janji palsu, entah kenapa bisa pake feelingnya ke kamu saja." Sebuah ciuman kecil membuatku terlalu bahagia malam ini.


“Udah ah mau pulang"


“Gak nginep aja?”


“Gak...”


“Penakut, kamu memang berani ngintip doang.” Iya aku memang berani ngintip doang.


"Ya udah aku nginep aja. Bilang gih ke Papa dulu." Aku meringis lebar karena dia tidak bisa menjawabku. "Dah besok kita ke tempat Cherrie ya." Aku mencium pipinya, tapi dia membuatku menciumnya lagi.


"Iya besok."


Besok.

__ADS_1


Semoga Cherrie mau datang melihat Papa.


__ADS_2