TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 67. Aku Hanya Senang Mengintip Sedikit.


__ADS_3

“Bi Koko mana?” Bibi sekarang heran melihatku pagi-pagi sudah muncul disini.


“Dikamarnya Non di lantai 2. Lagi siap-siap jam segini...” Aku ingin tahu apa yang dia bicarakan dengan Papa semalam , apa kami dapat izin Papa atau tidak.


“Ohh  ya sudah aku   ke atas.” Kunaiki tangga demi tangga ke lantai dua, aku tahu dimana kamarnya, tapi belum pernah masuk. Boleh bukan aku masuk? Aku kan pacarnya sekarang.


“Koko!” Aku memang berniat mengagetkannya dengan membuka pintu tiba-tiba, sebuah pemandangan pagi hari memanjakan mataku, dia baru akan memakai singletnya, sehingga aku bisa melihat keseluruhan pahatan tubuhnya untukku sendiri.


“Shit!Tata! Ngapain kamu tiba-tiba masuk sini?! Ketuk pintu bisa?” Aku mengagetkannya jelas. Tapi aku tak menyesal naik kesini karena dapat pemandangan bagus.


“Ihh memang gak boleh? Bibi bilang Koko di sini.” Aku duduk di bednya, ahh sayang sekali six-packnya sekarang  sudah tertutup singlet. Hanya sebentar aku melihat pemandangan bagus itu.


“Ketuk pintu Ibu Tata, kalo saya lagi gak pake apa -apa kamu mau liat.” Aku sekarang meringis senyum-senyum. Itu pasti seru, selama ini aku punya banyak bayangan panas di otak perawa*nku tentang melihatnya utuh...


“Emang gak boleh liat.” Aku  ngakak sendiri. Yang pertama kulakukan adalah menutup mataku pastinya.


“Ngapain ke sini?” Dia mengambil kemejanya yang dia hamparkan di bed di sampingku, sementara aku masih senang melihatnya memakai kemeja tanpa bicara  apapun, aku mendekatinya sekarang, dia jadi melihatku.


“Kubantu...” Jari-jariku bergerak mengancingkan kemejanya. Dia melihatku tapi membiarkanku... ini romantis, mengancingkan baju pacarmu seakan ... otakku membuat bayangan yang terlalu panas untuk diceritakan.


“Kenapa kamu kesini?” Dia bertanya lagi. Kali ini tangannya merangkul pinggangku, membuat konsentrasiku mengancingkan kemejanya menjadi buyar.


“Papa setuju kan?” Karena dia berani merangkulku sedekat ini, aku menduga pasti Papa setuju.

__ADS_1


“Hmm... ya dengan mengancam tentu saja. Jangan macam-macam dengan putriku,  jika aku melihatnya menangis karenamu, aku akan membuat perhitungan denganmu.” Ko Derrick tertawa kecil menceritakannya. Aku tersenyum lega...


“Berarti Papa setuju.” Aku menaruh tanganku di dadanya.


“Ya  bisa dibilang begitu.” Sekarang tanganku naik ke tengkuknya.


“Lalu...”


“Lalu?” Dia mengangkat alisnya. Apa dia tak mengerti, aku ingin dia menciumku, ini terlalu  memalukan, masa aku harus memintannya menciumku lagi. Masa dia sebegitu tak pekanya, dasar gak ada romantis-romantisnya.


“Sudahlah,gak jadi lalunya...” Aku ngambek, merasa bisa ngambek dengannya. Kesal karena aku harus meminta. Melepaskan diri dan berjalan ke pintu keluar.


“Hei...hei, apa yang sudahlah.” Tapi kali ini dia menarik tanganku dan menghalangi pintu keluarnya.


“Siapa suruh kamu kesini. Berani-berani masuk ke sini. Tadi itu ngambek apa yang sudahlah?” Aku melihatnya, tersenyum, tapi aku jadi tak mau ini terjadi sekarang, rasanya salah, aku tak mau memintanya aku mau terjadi begitu saja, lagipula aku tak akan bisa bekerja hari ini dengan seharian memikirkan ciuman pertama kami.


“Sorry, abis kepikiran dari semalem. Enggak ngambek, sorry  aku pergi aja ya Ko, serius, kita bisa  ketemu makan siang nanti.” Aku dengan cepat mencoba mengalihkan perhatian. Dia menakar perkataanku nampaknya.


“Peluk aja oke. Kenapa kamu sampai penasaran sampai begitunya,bilang aja kalo mau ngintip.” Aku tertawa dalam pelukannya. Dulu aku hanya bisa bersendar di lengannya, sekarang bersandar di dadanya, dia kekasihku sekarang. Aki ganteng ini kekasihku... masih belum terbiasa, masih berdebar dengan sentuhan kecilnya.


“Iya mau ngintip dikit. Ga papa kan.” Aku suka pelukannya, cara  dia mengelus rambutku dan terakhir mencium keningku.


“Ga pa-pa. Asal siap nanggung akibatnya aja. Gak ada yang larang.” Aku balas memeluknya dengan erat , ini rasanya manis sekali, menyembunyikan wajahku di pundaknya, mencium wangi pakaian barunya.

__ADS_1


“Koko sudah punyaku, iya kan.” Hanya punyaku.


“Bagi sama Cecil.” Aku tersenyum.


“Ya jelaslah kalo itu, maksudku gak bagi sama Cherrie dan Lisa.”


“Engga.” Wajahnya  sungguh-sungguh mengatakan itu.


“Ya sudah, udah gak penasaran lagi.”


“Jadi gak penasaran lagi? Lalunya yang tadi sudah?”


“Sudah...” Dia ketawa kecil dan sekarang bersedia melepasku.


“Kamu itu. Ya sudah pergilah kerja. Mau dianter?”


“Engga, saya bukan anak sekolahan minta anter.” Dia ngakak sekarang.


“Ya sudah. Oh ya, Papa kamu akan coba  menengahi perselisihan Koko dengan Cherrie. Biar gak kena ke kamu juga, kalo bisa damai ya kita gak usah ambil pusing.


“Emang bisa damai ama stoberi itu.”


“Entahlah, kukira kemungkinannya kecil, tapi dicoba saja. Mungkin dia  masih mau mendengar Papamu yang pernah jadi Papanya. Dicoba aja untuk keamanan kamu.”

__ADS_1


Pikiranku satu. Dia bukan anak Papa, dia tak akan mau mendengarkan  Papa. Mustahil dia mau berdamai.


__ADS_2