TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 17. Day 2 ︎ Kowloon Land of Memory and Misery


__ADS_3

Aku ingin jalan-jalan di Kowloon, menyusuri Mong Kok Market, makan street Food, menghabiskan waktu berbelanja di ladies market dan menawar seperti yang sering kukunjungi dulu, tapi terlalu takut bertemu dengan seseorang yang mengenalku di sana.


Terlalu takut salah seorang yang mengenalku akan menyampaikannya ke Kent.


Kurasa awalnya aku tak tahu Kent adalah seseorang yang sangat dominan dalam hubungan. Saat Derrick pergi ke negara lain, setengah hatiku ikut pergi, aku ingin mengikuti orang yang kuanggap kakak itu. Tapi aku tahu tak bisa, ...


Awalnya dia terlihat baik, dia supportive dan aku mulai berpikir Kent adalah orang yang bisa mengantikan posisi Derrick di hatiku. Lagipula nampaknya kariernya cerah. Dia adalah pengawal khusus Philip Leung yang sudah naik ke tingkat yang lebih tinggi, bisa dikatakan Boss Besar Philip percaya padanya.


Sampai satu saat aku tahu siapa sebenarnya dia. Dia menyimpang, penganut B*DS*M, dan aku dibuat shock dengan kenc*an inti*m pertama kami. Tapi dia minta maaf padaku, mengatakan dia tak sengaja, aku yang saat itu lemah hati memaafkannya.


"Aku minta maaf, aku tak sadar menyakitimu. Aku minta maaf sayang." Aku menangis saat ditampar, dicekik dan dijambak begitu rupa olehnya. Perlawananku membuatnya semangkin menjadi bukannya berhenti.


"Kau gila!" Aku meringkuk ketakutan dengan kulit perih dan tubuh luluh lantak.


"Aku mencintaimu. Maaf, aku kelewatan, maaf." Dia mencoba memelukku menenangkanku yang menangis histeris dan gemetar.


Tapi apa yang sudah menjadi perilaku tidak bisa dirubah, aku berusaha putus dengannya, tapi tak bisa, ketika dia tidak bisa membujukku dia menggunakan segala cara untuk menjaga aku tetap di sisinya.


Pergulatan demi pergulatan, siksaan fisik dan mental yang dibuatnya membuatku merasa hidupmu benar-benar tak ada harapan, tinggal bersamanya membuat hidupku bagai neraka selama setahun lebih. Bahkan dia mengendalikan keuanganku untuk mencegahku kabur. Saat itu aku bukan apa-apa dibanding dengannya yang punya kekuasaan penuh mengendalikan kekuatan keamanan group Philip di Hongkong.


"Sandra sayang, aku mencintaimu. Tak tahukah kau, tak ada yang bisa tinggal bersamaku selain kau, wanita-wanita yang lain hanya hiasan. Tapi yang bisa duduk disampingku hanya kau." Aku begitu benci kalimatnya.


Sampai kupikir aku bersedia menikamnya di jantungnya, bukan aku tak pernah mencoba melukainya, tapi dia membalasku sampai aku tak sanggup bangun lagi untuk mengajariku agar tak pernah mencoba.


Tapi setelah menghajarku dia merawatku dengan penuh cinta, seakan aku permata berharganya. Merawatku lalu mengancamku agar tak mencoba mengulangi itu lagi.


Kadang dia bersikap manis sebagai cara minta maaf, memberiku harapan semuanya akan berubah, tapi tentu saja tak ada yang berubah.


Tak cukup mengancamku, dia juga berjanji akan menyiksa teman wanitaku. Segala cara untuk membuatku patuh. Aku kadang binggung membedakan apa dia sedang tersenyum sayang atau tersenyum tapi akhirnya aku akan dihajarnya karena bagiku sama saja.


Aku memang tak pernah berani lagi melawannya. Aku hanya bertahan hidup demi bulan akhirnya, berharap ada keajaiban untukku di ujung lorong gelap, berharap ini hanya chapter singkat yang akan berlalu, bertanya karma apa yang aku lakukan sehingga punya hubungan merusak yang membuatku tercekik dan hampir mati seperti ini.


Saat kesempatan itu datang padaku, bekerja di luar Hongkong aku begitu hati-hati berperilaku hari demi hari untuk tidak menimbulkan kecurigaannya. Bahkan aku meninggalkan semuanya di Hongkong hanya membawa satu ransel baju, aku hanya punya cash HKD 10,000 yang kusimpan dengan hati-hati secara sembunyi-sembunyi berbulan-bulan, karena aku sama sekali tak punya rekening, kartu kredit, atau tabungan. Semuanya dipegang olehnya. Untungnya dia tidak memegang paspor, karena di saat yang sama aku kadang masih mengawal VIP ke luar Hongkong.

__ADS_1


Aku begitu lega hingga menangis saat pesawatku tak lagi menyentuh bumi, merasa begitu lega saat pesawat mengudara ke Singapore dan bersumpah tak keberatan tak menginjak Hongkong lagi selamanya.


Mungkin dia tahu aku ke Singapore tapi dia tak bisa menjangkauku lagi, karena aku bahkan bekerja di lawan bisnis Hong Lung. Aku mendapatkan pagar lawan yang seimbang.


Tak keberatan hidup sangat berhemat selama satu bulan pertama saat aku hanya punya HKD 10,000 itu sambil menunggu gaji pertamaku.


Aku punya saat baik di Hongkong saat bersama Ko Derrick, tapi aku tak bisa meminta bantuannya saat itu. Aku tahu Kent punya banyak cara memutar balik fakta dengan kenyataan aku bahkan bekerja sebagai manager dengan baik di salah satu club, dan ini termasuk urusan pribadi pasangan, mengatakannya ke Ko Derrick akan membuat perang internal.


Saat itu posisi Ko Derrick juga baru saja naik, dan Philip sedang akan mengambil alih keseluruhan bisnis. Kent adalah orang kepercayaan Philip dan Derrick adalah orang yang bekerja dari Ayah Philip, membenturkan mereka berdua akan menyebabkan banyak hal yang tidak menguntungkan buat Ko Derrick.


Aku cukup beruntung lima tahun kemudian, berusaha memulihkan diriku atas trauma hubungan begitu dalam. Merasa damai hanya dengan diriku sendiri.


Tapi tak dianya, bertemu Kent kemarin masih membuatku gemetar. Seakan semua kepingan kekuatan yang sudah ku kumpulkan lima tahun ini hanya tembok rapuh.


"Kau tak kemana-mana hari ini?"


Aku menghabiskan siang di gym di dekat komplek apartmentnya, melakukan sedikit pijat, menonton series Netflix di kamarku dengan nyaman.


"Tidak, hanya ke gym, pijat. Dan menonton Netflix." Oliver melihatku seakan aku orang aneh saat aku mengatakan itu.


"Kau tidak ke Kowloon, bukankah itu tempatmu bekerja dulu."


"Tidak."


"Apa kau buronan di Kowloon? Kau mungkin pernah membunuh seorang bos geng?" Aku tertawa. Aku memang buronan tapi membunuh ketua geng belum termasuk yang pernah kulakukan, sekadar memecahkan botol atau mematahkan hidung mungkin sudah berkali-kali.


"Aku tidak sehebat itu Oliver. Aku belum pernah mengambil nyawa orang, kalau menghajar orang sudah sering." Aku tertawa saja. "Ini caraku menikmati liburan, memangnya harus ke sana. Aku sudah ada disana sepanjang hidupku."


"Kau belum menjawab apa kau buronan?"


"Tidak. Buronan siapa? Coba cek ke polisi apa aku buronan. Jika aku buronan aku sudah ditangkap saat memasuki Hongkong."


"Jika kau punya masalah disini yang kau hindari kau harus cerita, mungkin aku tak pandai berkelahi sepertimu, tapi membantumu menyelesaikan masalah mungkin bisa." Species XXXL ini dapat pencerahan apa sehingga begini baik padaku, apa ciuman di pipi itu punya mantra khusus yang tak kusadari.

__ADS_1


"Kenapa kau baik sekali padaku?" Aku terpaksa memandang padanya yang melihatku begitu serius.


"Aku bicara serius Sandra. Kau pasti ada masalah bukan, ada yang kau hindari disini, apa itu..." Kupikir dia akan menjawab, 'aku memang baik kepada orang yang kusuka.' Lalu aku akan menertawakannya. Ternyata ilmu playboynya tak dikeluarkannya.


"Dan kau menanggapi ini terlalu serius Tuan Oliver. Kau mau membeli makanan, apa kau sudah makan. Tadi harusnya jika kau ingin membeli makanan aku bisa membelinya dulu baru menjemputmu.


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan kemudian. 4 hari lagi kami akan ke Vietnam, tak akan ada masalah apapun- tinggal empat hari.


"Baiklah, kalau begitu Minggu kita jalan-jalan ke Kowloon."


"Kenapa harus begitu, aku tak suka Kowloon. Wan Chai begitu banyak restoran enak, kenapa harus pergi ke seberang yang crowded."


"Sekarang aku yakin 100% kau buronan di Kowloon." Kenapa dia sangat ingin tahu urusanku.


"Ya-ya baiklah, aku memang pernah menyinggung seseorang di Kowloon. Aku pernah memukul orang seperti yang kubilang, mungkin sekali dia masih dendam padaku."


"Cuma memukul? Kenapa kau sampai tak berani kembali kesana." Pertanyaan ini sekarang terlalu menyudutkanku. Dia mengejarku begitu rupa.


"Oliver, pokoknya aku tak mau ke Kowloon oke. Jangan menanyaiku seakan kau punya tanggung jawab menyelesaikan masalahku. Aku punya masalahku sendiri, dan kau tak berhutang apapun padaku. Aku sudah bilang padamu jika bisa aku tak ke Hongkong. Apa dan kenapa itu urusanku secara pribadi."


Sekarang dia diam.


"Sorry Oliver, itu urusan pribadi. Aku tak terlibat dengan urusan hukum, hanya tak suka berada disana. Kau tak punya kewajiban menyelesaikan masalahku atau membantu apapun."


Dia duduk lagi ke kursinya dengan punggung lurus.


"Baiklah, ... Aku hanya bilang padamu. Jika kau ingin aku membantu akan kuusahakan untukmu. Itu saja."


"Thanks Oliver, aku menghargainya..."


Pembicaraan itu berakhir.


Jika Kent berusaha mengganguku kali ini, terpaksa aku meminta bantuan Ko Derrick. Kali ini aku sudah punya benteng kuat. Posisi Ko Derrick sekarang sudah terlalu tinggi untuk dilampaui Kent, apalagi dia akan menikah dengan putri Arnold Lam. Dia bukan hanya profesional biasa, menantu Arnold Lam, dia membawa nama keluarga kuat di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2