
Aku lelah menangis. Mengharapkan sesuatu yang tak bisa diharapkan itu menyakitkan.
Terdampar di Golden Beach sendiri, melihat orang-orang yang bermain di pantai, dulu Papa Lam sering mengajakku kesini. Kami sering tamasya, masa kecil yang bahagia, sama seperti anak-anak itu.
Sementara Papaku, yang aku ingat adalah dia memberikan uang jajan besar dan sangat sibuk. Jarang dia menghabiskan waktu bersama kami. Jika kupikir-pikir mungkin dia sibuk dengan banyak selingkuhannya.
Sedang memikirkannya tiba-tiba Papa Lam meneleponku.
"Papa, bagaimana kabarmu." Aku senang mendapatkan teleponnya.
"Kau kenapa Cece? Bibi Yun Lan bilang kau bertengkar dengan Papamu di restoran?" Papa Lam meneleponku karena aku bertemu dengan istrinya tak sengaja.
"Dia marah padaku karena tahu aku yang membawa musuh bebuyutannya, aku sebenarnya tahu ini akan terjadi. Dia mengatakan tak akan mengakui kami sebagai anaknya lagi. Hanya aku tak menyangka dia membawa semua adikku juga terlibat."
"Wong Lee Man itu, entah apa yang di pikirkannya." Papa Lam ikut menghela napas bersamaku.
"Dia takut kalah tentu saja. Takut mama benar-benar menendangnya dari jabatannya sekarang."
"Kau mau ke rumah? Ada adikmu mau ke disini datang makan malam, dia mengenalkan pacarnya ke Papa. Bibimu punya banyak makanan disini, kenapa kau tak kesini saja." Papa ingin mengalihkan pikiranku nampaknya, memang tak ada gunanya juga memikirkannya.
"Ohhh sekarang dia sudah punya kekasih serius."
"Dia tak tahu kau di Hongkong, jika dia tahu pasti dia mengajakmu juga. Baru tadi pagi dia bilang, Bibi Yun Lan sekarang sibuk memesan banyak makanan."
Aku tertawa, rumah Papa Lam yang selalu ramai, Bibi Yun Lan yang baik hati, adikku yang beda Ayah itu mungkin bisa dikatakan lebih beruntung dariku. Hidupnya tidak turun naik sepertiku. Lagipula Bibi Yun Lan baik padanya dari dia kecil.
"Iya baiklah, nanti aku kesana. Makan malam bukan?" Aku seperti menemukan tempat untuk mengungsi sejenak sekarang.
"Iya, makan malam. Baiklah, Papa dan Bibi menunggu kalian semua di rumah."
Aku masih senang melihat orang-orang bermain dipantai tapi tak lama seseorang meneleponku juga.
"Koko, ada apa?"
"Mamamu bilang kau bertengkar dengan Ayahmu dan kau pergi entah kemana? Dia mengkhawatirkanmu." Ternyata Mama sampai meneleponnya sudah kubilang aku hanya ingin jalan-jalan.
"Tidak, aku hanya ke Golden Beach. Hanya cari pemandangan disini daripada di rumah sendiri. Mama terlalu mengkhawatirkanku, sudah kubilang aku hanya jalan-jalan padanya. Jangan mengkhawatirkanku. Nanti kutelepon lagi Mama."
"Golden Beach? Aku di dekat kesana, tunggu aku." Dia memutuskan sambungan telepon. Dia mau kesini nampaknya. Perhatian sekali, aku meringis geli...
Tak sampai 20 menit dia sudah terlihat berjalan ke sampingku.
"Kenapa kau di sini?" Aku mendongak padanya, melihatnya memakai kaus polo dengan celana jeans dan kacamata hitam, Koko yang ganteng, sementara dia meneliti aku yang duduk di bawah payung pantai.
"Kenapa kau disini?" Dia ikut duduk bersamaku.
__ADS_1
"Pertanyaan yang sama apa yang kau lakukan di sini?" Dia meneliti wajahku melihat tanda-tanda aku sedang bersedih dan terpuruk mungkin.
"Melihat orang-orang berenang. Aku sering kesini. Kau disuruh Mama kesini? Aku sudah bilang aku baik-baik saja."
"Tidak ada yang menyuruhku. Aku hanya khawatir padamu."
"Manis sekali." Aku tertawa, senang Koko ganteng ini bersikap perduli padaku. "Aku tak apa, kau bisa mengurus urusanmu sendiri, tak usah ditemani. Kau menghabiskan waktumu sia-sia di sini. Aku baik-baik saja. Kecuali kau mau kena angin pantai di sini."
"Kau mau berenang?"
"Tidak."
"Mau nonton? Ayo kita nonton berdua." Aku langsung menoleh, dia mengajakku menonton? Baru kali ini kami melakukan hal lain selain harus menghadiri pertemuan bisnis.
"Kau mau mengajakku menonton? Kau baik sekali, baru sekarang kau mengajakku menonton? Aku tidak sedang di tahap putus asa, kau tak perlu menghiburku."
"Ayo. Daripada kau berpanas-panas di sini dibawah matahari." Dia menarikku berdiri, ini baru jam tiga, aku masih senang melihat orang-orang ramai bermain di pantai sebenarnya.
"Aku membawa mobil sendiri. Kau mau nonton dimana? Golden Scene saja?" Baiklah kuiyakan saja, masih ada waktu sebelum jam 7 malam masih lama. Lagipula tak jauh dari apartment Papa.
"Oke Golden Scene." Dia sekarang memegang tanganku. Apa dia benar khawatir padaku.
"Kau dari mana?"
"Tadi selesai makan siang dengan teman, Mamamu lalu menelepon. Aku pas sedang di dekat sini."
"Aku tak punya urusan, ayo nonton bersamaku." Dia memastikan aku ikut bersamanya, tak keberatan meluangkan waktu untukku. Baiklah terserah padanya.
Hari yang aneh, tiba-tiba banyak yang bersedia menghiburku. Kami berjalan beriringan ke bioskop yang hanya setengah jam perjalanan itu.
"Mau nonton apa pilihlah." Aku memilih sebuah film action yang nampaknya seru. "Oke bukan?"
"Iya tentu saja. Itu bagus. Aku tadi berharap kau memilih itu sebenarnya."
Dan jam-jam berikutnya kami habiskan untuk menonton berdua.
"Ayo makan malam. Kau mau makan apa?"
"Kau mau ikut aku ke rumah Papa, Papa bilang aku harus ke rumah Papa sore ini." Dia manis, takut aku sendiri dan mengajakku nonton, lalu mengajak makan malam, dia pikir aku akan menyulitkan diriku sendiri atau bagaimana.
"Ke rumah Papa? Bukankah kalian tadi bertengkar kata Mamamu?"
"Papa Lam, adik laki-laki ku mau memperkenalkan kekasihnya pada keluarga, tadi Papa meneleponku dan mengajakku ke rumah. Kau mau ikut katanya ada banyak makanan disana..." Aku tertawa, Bibi Yun Lan selalu menyuruh semua orang menghabiskan semua makanan, dia tersenyum lebar ketika piringnya bersih.
"Kau lebih dekat dengan Papa Lam nampaknya."
"Hmm, aku mendapatkan keluargaku disana. Ironis bukan, Ayah kandungku mengusirku dan beberapa tahun ini aku kebanyakan bertengkar dengannya, tapi malah aku di terima oleh Ayah masa kecilku. Bahkan Bibi Yun Lan juga mengangapku keluarga. Mereka baik sekali padaku..."
"Itu bagus, yang satu gagal yang satu tampaknya berhasil."
__ADS_1
"Iya."
"Terima kasih sudah mengajakku makan malam kesini. Kau mau pergi bersamaku?"
"Aku tak diundang. Itu keluargamu mana berani aku pergi."
"Kutelepon Bibi Yun Lan sekarang, dia tak akan keberatan, ayo temani aku Koko. Bantu aku menghabiskan makanan, jika kesana aku harus selalu menghabiskan makanan. Papa juga pasti tidak akan keberatan. " Apa dia bersedia jika harus bertemu keluargaku, jika dia bersedia mungkin dia ingin mencoba punya hubungan denganku. Aku berdebar menunggu jawabannya.
"Dengan baju ini?" Dia mau! Dia mau ikut?!
"Ini hanya makan malam keluarga. Tak ada yang pakai jas, mereka juga datang dengan kaus oblong. Oke?" Aku sudah memasang puppy eyes, hampir memelas padanya.
"Baiklah."
Aku hampir tak percaya dia setuju. dan hampir tak dapat menahan diri untuk bersorak. Tapi aku mengalihkannya dengan mengirimkan pesan untuk Bibi Yun Lan bahwa ada teman laki-laki yang akan ikut.
"Ayo, kita naik mobilmu saja. Apartment Papa dekat, kau nanti bisa mengantarku lagi ke sini."
Dia setuju mengenal keluargaku. Bolehkan aku berharap padanya walau dia belum mengatakan apapun.
"Apa yang terjadi tadi siang sehingga Ibumu khawatir."
"Ayah menamparku dan mengusirku karena aku menjawab perkataan saat dia bilang aku tak pantas jadi anaknya..." Kuceritakan semuanya, tentang dia mengatakan akan mengeluarkan nama adik-adikku.
"Hmm...nampaknya wanita Ayahmu itu sudah benar-benar menancapkan pengaruhnya ke Ayahmu."
"Tak disangsikan lagi, makanya dia tak keberatan wanita itu membuat kekacauan."
"Kau kelihatan baik-baik saja, kenapa Ibumu kelihatannya sangat khawatir."
"Mungkin dia tahu dalam hidupku aku sudah dua kali dibuang oleh Ayahku. Ceritanya sangat panjang. Yang Mamaku tak tahu aku sudah berbaikan dengan Papa Lam. Aku tahu dia tak pernah membuangku."
"Jadi bagaimana kau menghadapi kemarahan Ayahmu sekarang."
"Yang kubutuhkan bukan uang. Tampaknya dia menyangka aku membutuhkan semua itu. Jadi biarlah dia memikirkan apa yang dia inginkan sekarang. Aku tak apa, percayalah, jangan khawatirkan aku... Tapi terima kasih sudah bersedia menemaniku hari ini."
Dia tersenyum kecil.
"Kau sudah melakukan hal benar untuk membela Ibumu. Anak manapun akan melakukan hal yang sama."
"Iya, aku membela Ibu. Dia tak pantas diperlalukan seperti itu."
Hari ini adalah hari yang cukup aneh, pagi dan siangku di mulai dengan hal yang penuh kekacauan, air mata, drama yang menyesakkan. Tapi kemudian sore ke malam berganti, hal-hal yang baik terjadi. Keluarga yang mendukung dan merangkul, teman baik yang datang berkunjung.
Sedih dan gembira berganti begitu cepat.
Kegembiraan adalah ibarat pohon yang mengapai matahari. Dan kesedihan ibarat akar yang terus menghunjam ke bumi.
Semangkin kau tumbuh tinggi, akarmu juga harus semangkin kuat. Sedih dan gembira, bagian dari hidup yang membuatmu tetap tumbuh menjadi lebih baik.
__ADS_1