
Pergelaran Musim Semi, aku punya dua show hari ini. Dua show masih bisa kutangani. Walau melelahkan tapi tak
Dulu waktu masih baru memulai dari casting ke casting, rasanya sangat melelahkan. Tapi sekarang setelah aku bisa di bilang punya nama, para show director sudah mengetahui namaku, perancang sudah mengetahui namaku, semuanya jadi jauh lebih mudah.
"Bagaimana kabarmu Angela, Zola, kau terlihat tambah cantik. Aku membawa pizza kalian mau." Aku sudah berkeliling membagikan pizza yang kubawa ke teman-teman model dan kru.
Mereka sebagian sudah duduk memulai tata rambut, sementara timer sudah mulai membawa mic pengeras suara, memastikan yang sudah datang langsung duduk di kursi make up.
"Julie, duduk, kau sudah selesai dengan pizzamu? Marco, nona ini perlu dibereskan." Juan salah seorang assiten yang membawahi make-up mulai dengan teriakannya.
"Oke..oke...aku duduk." Sekumpulan orang langsung mengerubungiku. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, aku sudah punya look yang sudah difoto dan disetujui.
"Yang sudah selesai langsung ambil sepatu kalian. Bersiap untuk antrian rehearsal! Dalam 25 menit anak-anak!" Rehearsal harus dilakukan sebelum acara dan sebelum baju dipakai. Tapi sudah memakai sepatu show untuk membiasakan kami menapak di panggung yang kadang-kadang desainnya cukup menyulitkan.
Mereka mengurusi rambut dan make-up ku, aku duduk mengecek handphoneku. Ternyata ada pesan dari Louis, kali ini dia yang mengirim pesan duluan. Ini kejutan.
'Berapa show hari ini?'
'2 show, besok juga 2, tapi lusa aku kosong hanya ada pemotretan.' Apa dia mau mengajakku makan malam. Aku tersenyum senang sekarang.
'Mau makan malam?'
'Ok. Besok malam jam 7 oke, jemput aku di apartmentku. Jangan lupa bawa mawarku.'
Dia tak menjawab. Aku yakin dia tersenyum sendiri di seberang sana.
Kelly meneleponku kemudian. Apa aku ada pekerjaan lagi sekarang.
"Kelly."
"Aku memeriksa jadwalmu. Kau bekerja sampai jam dua atau tiga lusa kukira."
"Iya, kau butuh bantuan?"
__ADS_1
"Ada sebuah pertemuan di NY. Mungkin ini ada orang yang kau kenal. Kau ingat pertemuan terakhir dimana kau di usir pengawal. Kami tidak mendapatkan orang yang kami cari, tapi nampaknya kali ini orang itu akan muncul. Dia menamakan dirinya Mr. Scott, indentitas penghubung yang kami cari, kami tak tahu dia siapa. Tapi dia kemungkinan menyamar low profile. Kami perlu kau untuk mengawasi siapa yang masuk ke ruangan tersebut, kabar baiknya pintu masuknya hanya satu, pintu masuk yang lain bisa kami monitor, kami akan memberimu tas berkamera, dan kamera jam seperti biasa. Dia harus masuk ke ruangan tempat orang-orang yang kau lihat sebelumnya, restoran mewah di Manhattan. Sayangnya kami belum tahu meja atau ruangannya."
"Ohh begitu, kau sudah punya denahnya bukan. Aku mengikuti panduanmu, tidak buta sama sekali."
"Sudah ada, tapi restoran ini cukup besar, kami baru tahu hari ini, tidak ada cara untuk menyusupkan pelayan baru dalam dua hari. Tapi kali ini mungkin kau harus memakai samaran, takutnya pengawal yang sama mengenalimu, mungkin semacam memakai wing, atau kacamata, merubah dandananmu." Kelly juga tahu pengintaian yang kemarin aku harus berjibaku dengan mereka.
"Aku mengerti, merubah gaya dandanan, kau bisa bawakan wig rambut coklat gelap? Aku tak bawa wig sama sekali, kacamata dan dandanan aku busa mengakalinya. Bisa aku melihat orang-orang yang pasti datang lagi untuk mengenali ruangannya."
"Baiklah, akan kukirimkan lusa pagi ke apartemenmu."
"Jangan lupa kirimkan gambar orang-orang nya padaku dan denah ruangan biar aku bisa mempelajarinya. Jam berapa kira-kira."
"Segera. Jam makan malam, kau harus tiba disana jam 7 kurang kurasa." Kelly mengakhiri telepon kami.
Ini berarti aku tak bisa makan malam dengan Louis. Sayang sekali. Aku jadi lemas.
"Gadis-gadis! Waktu kalian lima menit! Sepatu segera!" Koodinator berteriak lagi dengan toa di tangannya.
"Kau selesai." Marco dan timnya yang membantuku, melepasku ke bagian wardrobe.
Pagi-pagi aku menelepon Louis.
"Louis, aku harus bekerja besok malam. Tak bisa makan malam bersamamu."
"Pekerjaan? Kenapa mendadak? Bukankah pekerjaanmu biasanya terjadwal?"
"Ehm..." Aku agak binggung menjawabnya sekarang. "Yang ini agak tiba-tiba."
"Ini pekerjaan khusus bukan?" Dia tahu aku tak bisa memberitahunya detail operasi. "Kau disuruh apa?" Dia masih mendesakku.
"Louis, kau tahu aku tak bisa memberitahu detail seperti itu. Ini hanya pekerjaan pengintaian biasa. Aku tak pernah terlibat infiltrasi. Jangan khawatirkan aku." Sebenarnya aku tahu kali ini lebih berbahaya karena dua kali mengawasi subjek yang sama.
"Katakan padaku detailnya, Thomasmu itu tak akan keberatan aku ikut operasi, kau disuruh mengawasi orang atau mencari indentitas?"
__ADS_1
"Aku tak bisa mengatakannya Louis." Dia tak akan mendapatkan apa yang dia inginkan, bagaimana mungkin aku bisa memberitahunya perkara seperti detail operasi.
"Aku akan menelepon Thomas kalau begitu, dia menggangu acara makan malamku." Masih berkeras.
"Louis! Kau tak bisa meneleponnya!"
"Aku tak akan menggangu operasimu, hanya menemanimu agar tak diganggu, latar belakangku lebih meyakinkan darimu. Tak ada diskusi lagi. Nanti aku telepon lagi..." Dia memutuskan teleponku sepihak, setelah ini aku pasti diomeli habis-habisan oleh Thomas, aku menghela napas putus asa sekarang, tapi di sudut pandang yang lain itu artinya dia memperhatikanku.
Tak lama Thomas meneleponku.
"Kau memberitahu penggangu memusingkan itu?" Pasti aku akan dibantai olehnya.
"Aku tak memberitahunya dia menebak sendiri, tadinya aku ada janji makan malam dengannya. Tiba-tiba tadi aku bilang aku tak bisa karena ada pekerjaan, dia langsung menyimpulkan kalau aku ada operasi. Aku tidak memberitahunya apa operasiku, tapi dia berkeras meneleponmu."
"Astaga dia membuatku sakit kepala dan kalian berkencan, kau pintar sekali memilih teman kencan." Aku meringis, apa daya hatiku memilihnya.
"Baiklah, dia boleh menemanimu. Tapi berceritalah hanya kau harus melihat siapa yang masuk ke pintu itu jangan yang lain. Jangan sebutkan nama orangnya."
"Iya baiklah, terima kasih Thomas, maaf membuatmu gusar."
"Aku akan memberi tahu Kelly." Akhirnya Thomas mau tak mau menyetujuinya. Jika tak disetujuipun kurasa dia akan tetap datang mengikutiku sana dan duduk didepanku. Thomas dipaksa tak punya pilihan lain.
Jadi sore itu dia datang ke apartmentku. Dan menerima penjelasan singkatku.
"Kau tak membawa mawarku." Aku masih sempat menggodanya saat membuka pintu. Dia meluangkan waktunya untukku, itu lebih berharga dari sebuket mawar manapun. Walaupun wajahnya mengatakan aku menyebalkan tapi dia di sini.
"Kau masih memikirkan mawar?" Dia mendorong keningku seperti Kakakku memarahiku. Dia masuk ke dalam dan melewatiku. Aku tersenyum lebar. Belakangan ini setelah terbiasa melakukan tugas pengintaian, rasanya memang biasa saja.
"Aku hanya ingin mawar, apa salahnya." Aku kembali berdiri di depannya, aku tahu ini bukan kencan, tapi aku ingin mawar dari seorang yang kusukai itu saja. Dia terlalu khawatir padahal ini hanya pengintaian.
Dia mengelengkan kepalanya sekarang. Aku mendekatinya, berdiri di depannya. Merapikan kemejanya, berniat menggodanya sedikit. Dia terlihat tampan dengan kemeja dan jas gelap ini.
__ADS_1
"Kau terlalu khawatir padaku. Ini hanya tugas pengintaian bukan infiltrasi. Tak ada yang salah bisa terjadi. Tapi baiklah terima kasih. Aku masih mau bunganya." Jariku berlari di dada bidangnya. Aku menatap matanya, dan jantungku mulai membuat debarannya sendiri.
"Kau tak takut apapun... Itu berbahaya." Dia menangkap tanganku. Kenapa, mungkin dia tidak bisa menahan sedikit godaan? Pria ini masih tertarik pada wanita rupanya walaupun sikapnya terlalu tenang di depanku.