TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3. Part 17. Kick Out The Enemy 3


__ADS_3

"Koko, terima kasih. Selama beberapa bulan ini sudah jadi teman bicaraku. Selama ini aku anak terbesar sendiri, adik-adikku jauh umurnya dariku. Punya Koko selama beberapa bulan ini membuatku sedikit merasa ... punya punya kakak."


Dia melihat senyum terima kasihku, sementara rangkulannya membuatku aman. Ini sudah cukup, masih tiga bulan lagi, dan hari-hari di depan akan semangkin berat.


Aku tak berani berharap terlalu banyak, karena dia tak pernah menunjukkan apapun selama ini. Selama ini baru kali ini aku tak berani mengambil langkah pertama.


"Tak usah mengatakan terima kasih." Kenapa aku tak usah mengatakan terima kasih. Karena dia merasa itu kewajibannnya? Kewajiban dari sisi apa? Bisnis? Hati? Pikiranku bermain sendiri.


Entahlah...


"Kita sudah sampai. Ayo,..." Kami sampai ke hotel tempat kami menset pertemuan ini.



Kami bertemu Philip Leung kemudian, Paman, Ibu dan aku berharap pertemuan ini bisa menandingi pengaruh keluarga Chow.


"Brother Philip,..." Aku dan Kak Cheng bertugas menyambutnya di lobby sebagai perwakilan keluarga. Sementara Paman, dan Mama, keluarga Cheng dan Chan, bercengkrama dengan tamu.


"Kalian berdua, memang pasangan yang kompak." Philip Leung kali ini datang bersama istrinya, istrinya itu cantik dan wajahnya innocent sekali.


"Ohh mereka pasangan ya..." Suaranyanya pun halus, aksennya mengatakan dia orang asing. Akhiran ya itu aku sering sekali mendengarnya di Jakarta.


Tapi jangan salah, di balik wajah cantik itu aku pernah melihatnya berlatih beladiri, si cantik ini bahkan beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan dan penculikan. Aku mendengarnya sendiri dari Ko Derrick. Jelas menjadi istri seorang Philip Leung tak mudah.


** Yang belum pernah baca kisah Philip dan Franda itu ada LAW Firm Season 4.


"Kami bekerja sama untuk keluarga kami Kak Franda. Kak Cheng banyak membantuku, kami pasangan bisnis yang kompak." Aku menjelaskan ke Franda.


"Benarkah, sayang sekali, Kak Cheng, padanan nampaknya kalian berdua benar-benar cocok jadi pasangan sebenarnya. Kak Cheng kau ini berapa lama kau memutuskan ingin sendiri." Kak Cheng hanya tersenyum.


"Entahlah tak ada yang tahu masa depan kurasa."


"Ahhh sekarang kau menjadi diplomatis. Ini pertanda bagus Cherrie." Aku tersenyum saja. Yang penting tak membuat kekacauan.


Sementara Kak Cheng dan Philip berjalan di depan, aku bersama Franda. Belakangan setelah intensnya pertemuan aku jadi berkenalan dengan Franda istrinya. Jadi kami sedikit banyak bisa bercerita dan menjadi teman.


"Benarkah kalian tidak pacaran." Franda berbisik padaku.


"Tidak, kami hanya berteman."


"Kalian terlihat cocok, tapi dia tadi mengatakan tak akan ada yang tahu masa depan, kurasa kau hanya harus bersabar, orang seperti itu tak bisa dipaksa."



"Kau berpikir begitu?"


"Iya, jika tidak dia akan menjawab dengan tak pasti begitu. Dia hanya belum yakin kukira."


"Sebenarnya kami pun jarang bertemu, dia kebanyakan di Shanghai, tak salah memang dia mengatakan kami hanya berteman."


"Kau menyukainya bukan." Aku hanya tersenyum.


"Dia teman bicara yang baik." Franda tertawa mendengar jawabanku.


Memasuki ruangan, 40 orang investor kami menoleh ketika Philip Leung masuk. Tidak ada disini yang tidak mengenal pimpinan Hong Lung Group, keruman di ruang pertemuan itu berhenti berbicara dan melihat masuknya kami.


"Saudara-saudara, seperti yang saya katakan kita punya tamu istimewa malam ini." Sekarang Paman dan Ayah Kak Cheng mengambil alih pertemuan. Mereka berdiri di samping Boss Philip dan istrinya. Sementara kami berdiri di belakang orang tua kami. "Tuan Philip bersedia bergabung dengan kita dan sudah mengakuisisi 4% saham melalui jaringan investasi mereka."


Kerumunan menjadi ribut, apalagi saat Philip mengatakan bahwa seperti Keluarga Chow mereka bersedia melepas preferred stock, dan harua diakui Philip punya visi yang bagus dengan kerjasama Shing Wang dan Hong Lung dimasa depan.


"Nampaknya kita akan benar-benar berhasil, lihat betapa antusiasnya mereka mengajukan pertanyaan."


"Ini berkat kerja kerasmu juga membuat mereka semua mau datang kesini. Kau harus bangga pada dirimu sendiri." Kak Cheng memujiku.

__ADS_1


"Masih banyak pekerjaan di depan, membuat mereka berubah pikiran sepenuhnya, ini belum selesai sampai hari pemungutan suara."


Kami merasa berhasil, kerja keras dua bulan dan malam ini akan menjadi titik balik bagi kami. Melihat antusiasme para pemegang saham yang lain, walaupun setelah malam ini masih ada pertemuan-pertemuan lanjutan yang harus dilanjutkan. Tapi kami berharap bisa mengambil alih dari sini.


Acara selesai kemudian. Kami mengantar kepergian Philip Leung yang merupakan bintang utama acara kami dan mengucapkan terima kasih. Berita pasti akan tersebar dengan cepat l setelah ini.


"Mama, setelah ini pasti Papa akan meneleponku."


"Tutup saja teleponnya, dan bilang suruh bicara dengan Mama. Dia paling hanya bisa marah-marah, dia harus ingat sejak awal keluarga Mama membantunya habis-habisan di Shing Wang. Jika tidak ada Paman pertama dan Paman Kedua mendukung modalnya besar-besaran, tidak ada Shing Wang sebesar ini. Jika dia berani memarahimu, bilang ini keputusan Mama dan Paman."


Ternyata Mama langsung tahu apa kekhawatiranku.


"Ya sudah kalau Mama bilang begitu."


"Pulanglah kalian. Kau datang dengan Anthony bukan."


"Iya."


"Kau sudah bekerja keras untuk ini, soal Papamu hadapkan saja ke Mama."


Kami kembali dengan Kak Cheng mengantarku.


"Kau mau jalan-jalan sebentar."


"Jalan-jalan kemana."


"Keliling kota. Sudah lama tak melakukannya."


"Boleh." Baru kali ini dia mengajakku jalan-jalan selain untuk menghadiri acara bisnis. "Kapan kau kembali ke Shanghai?"


"Akhir bulan." Ini baru pertengahan bulan.


"Lama sekali kau disini?"


"Ohh.." Apakah itu artinya kami akan sering bertemu sekarang.


"Kau tak ke Shanghai?"


"Mungkin hanya sebulan sekali, semua laporan bisa dimonitor online. Direktur Operasionalku bisa dipercaya disana, aku tak usah khawatir Shanghai." Dalam enam bulan ini fokusku adalah untuk kemenangan Mama dan keluarga Chan, memastikan keluarga Mama mengambil alih semuanya. "Aku fokus membantu Paman dulu, walaupun aku tak berkantor setiap hari, tapi sekarang hampir setiap hari aku harus menjadi tangan kanan untuk negosiasi Paman, sementara Paman punya hal teknis yang harus diurusnya di kantor. Dia berkelahi di kantor aku di luar, kami tim yang kompak untuk keluarga."


Belum selesai aku bicara teleponku berbunyi, Papa menelepon, ternyata berita sudah langsung sampai padanya.


"Papa menelepon... Kurasa dia akan langsung memarahiku. Aku harus mendengarkan ocehannya sebentar."


"Jangan terpancing menjawabnya, Mamamu sudah bilang benturkan ke mereka."


"Iya, aku tahu." Aku menekan layar, bersiap-siap mendengarkan ledakan pertamanya.


"KALIAN SEMUA BAN*GSAT!" Aku sudah tahu Papa akan berteriak padaku tepat setelah tersambung, bahkan Kak Cheng bisa mendengar suara teriakannya, aku sudah menjauhkan speakernya. "Kalian membawa musuhku tepat di depan mukaku! Kalian semua memang bangsat!? Dan kau anak tak tahu diri yang menjadi penghubungnya! Kau sudah kuperingatkan!"


"Papa, yang melawanmu Mama bukan aku! Kau sengaja membawa wanita itu ke depannya, menghinanya, jadi sekarang sihlakan hadapi apa hasilnya, dia juga membawa musuhmu ke depanmu. Sihlakan telepon Mama dan Paman, oke, jangan memarahi aku. Aku tak ingin mendengarnya." Kuputuskan saja teleponnya.


"Dia marah besar." Kak Cheng menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja, aku sudah di coret dari ahli warisnya besok kurasa. Walaupun aku berkata itu ide Mama, tapi aku terlibat. Dia tahu pasti pencetus ide itu aku."


"Dia dan Philip musuh besar?"


"Iya, itu sama saja membiarkan musuhnya mengatur perusahaannya. Selama ini kami memang saingan Philip karena affiliansi kami memang dengan keluarga Chow. Jika Paman menang maka kepemimpinan akan berubah, jabatan Papa akan berubah secara drastis, kemungkinan kurasa Paman akan memindahkan Papa ke anak perusahaan tidak akan berada di kantor utama, kerjasama bisnis akan banyak berubah, keluarga Chow mungkin menarik 6% dukungannya secara tiba-tiba. Dan Papa tidak punya suara lagi selain dia hanya pemegang saham sebesar 9% Ya mungkin sekitar 12% jika digabung dengan keluarganya yang lain. Dan selanjutnya komposisi pendukung akan sangat timpang jika dia tidak memenangkan ini. Skema kekuasaan akan berbalik dipegang oleh keluarga Mama sepenuhnya."


"Dia mau melampiaskan kekesalannya padaku lagi." Aku menunjukkan Papa meneleponku lagi tapi aku mematikan sambungannya, aku tak mau jadi pelampiasan emosinya.


"Akhir karier bagi Papamu nampaknya jika dia kalah kali ini."

__ADS_1


"Bisa di bilang begitu, Papa tak akan punya kesempatan lagi apapun jika dia kalah kali ini. Apalagi keluarga Chow. Dia terlalu menganggap lemah kekuatan Mama karena dia memegang posisi CEO sudah 25 tahun di Shing Heng, dia memperbolehkan selingkuhannya itu mempermalukan Mama sampai Mama dikejar wartawan infotaiment dan harus pergi ke rumah Bibi di LA, dipermalukan di depan teman-temannya. Semua keluarga marah besar dan bersatu untuk menjungkalkannya. Papaku itu keluarganya tak sekuat Mama, saudaranya tak bisa membantunya dalam pertaruhan, berbeda dengan keluarga Mama yang empat Pamannya punya kekuatannya masing-masing. Hanya Paman Kedua yang aktif secara profesional sebagai penjaga keseimbangan karena investasi keluarga Chan cukup besar di sana."


"Hmm...wanita jika sudah marah hasilnya cukup menakutkan." Aku meringis kecil menanggapi kalimatnya.


"Jadi apa aku menakutkan bagimu sekarang?"


"Tidak, karena aku berlaku baik padamu. Kau juga akan baik padaku."


"Jawaban yang pintar." Kak Chen meringis lebar sementara aku tertawa sekarang. Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku apakah hubungan kami akan berlanjut lebih dekat setelah dia pindah ke Hongkong lagi.


Kami berputar di jalanan Hongkong yang penuh menyusuri Victoria Bay yang tenang, ke Kowloon yang penuh neon.


Penjual makanan biasanya buka sampai jam satu atau dua pagi di Kowloon, seperti bagian kota yang lampunya tak pernah padam, dulu SMA aku sering menjelajahi Kowloon dan berkenalan dengan dunia malam pertama kali disini. Tak ada yang berani menggangu kami karena Ayah menugaskan pengawal.



"Aku lama sekali tidak kesini kukira sejak fokus ke Shanghai. Tiba-tiba aku jadi merindukan gemerlap lampu disini."


"Iya, ini bagian hidup yang indah di masa remaja."


"Mau jalan-jalan disini?" Tiba-tiba dia menawariku turun ke jalan kembali.


"Aku harus beli sepatu yang nyaman, tak mau pakai high heels. Kakiku akan sakit besok dengan high heels setinggi ini.


"Akan kubelikan, kau tunggu di mobil dulu?"


"Kau serius? Kau tahu tempatnya."


"Aku serius. Aku tahu, tinggal katakan ukuranmu."


"Baiklah." Aku tertawa dan bersedia menunggunya membeli sepatu yang nyaman untukku. Dia tampaknya bahkan tahu dengan cepat dimana mencarinya. Sebentar kemudian dia kembali ke mobil dengan kantong belanja.


"Kau benar-benar hapal seluk beluk Kowloon nampaknya." Aku tertawa menerima sepatu nyaman itu, ganti memasukkan heels ku ke kantongnya.


"Pakai jaketku aku membawa jaket." Dia memakaikan jaket ke pundakku saat aku keluar.


Dan sekarang aku memakai jaket kebesaran itu menyusuri jalanan, sementara dia menyingsingkan lengan kemejanya seperti orang yang pulang bekerja di akhir pekan, kami berjalan berdua bergandeng tangan menyusuri warna-warni cahaya lampu Kowloon.



Malam itu kami habiskan dengan berjalan di sepanjang Kowloon, bercerita tempat apa yang menjadi favorit kami dimasa remaja di sini, saling traktir makan di penjual makanan favorit kami, berbaur dengan kerumunan banyak orang dan wisatawan yang seakan tak ada habisnya.


"Aku kenal Philip di sini, high school awal tepatnya, dia anak pembangkang, ketua geng, aku ingat sekali dia dikejar pengawalnya sendiri karena menghilang tanpa jejak. Dia meminta bantuan padaku meyembunyikan diri, dari situ kami berkenalan, sudah lama sekali sebenarnya. Dulu aku melihat Ketua Geng seperti dia keren sekali. Beberapa saat aku sering menghabiskan waktu dengannya. Sampai Ibuku tahu aku mengikuti kakak kelas tak benar itu bahkan bolos dari sekolah dan les dimarahi habis-habisan, dan dia pun akhirnya sadar setelah babak belur karena berkelahi dengan yang bukan tandingannya."



"Nampaknya itu hari-hari yang menyenangkan bukan." Aku tertawa dengan ceritanya.


"Iya merasa hari kita merasa menang dari semua orang. Tak ada yang sedih di masa itu." Aku menganguk, ternyata kenangan kami tentang Kowloon sama. Isinya kenakalan dan hura-hura dan waktu itu rasanya kami keren sekali.


Sekarang setelah bertahun-tahun kami perlahan melupakan saat-saat itu dan mengambil tanggung jawab lebih besar, menyusuri jalanan ini sekali lagi mengingatnya terasa menyenangkan. Seperti mimpi indah yang menyapu pikiran dan membuat lanskap pemandangan berembun dengan nostagia kebahagiaan masa lalu.


Kami kembali jam dua, tak terasa, saat para penjual sudah mulai pulang, mataku berat, lelah berjalan tapi bahagia melupakan segalanya sejenak malam itu, walau besok harus kembali ke kenyataan lagi.


Hidup tak pernah mudah dan sempurna, selalu ada hambatan yang kau harus hadapi untuk maju.


"Terima kasih sudah menemaniku berjalan sampai selarut ini." Kami sampai di apartmentku tak lama kemudian. Kali ini ganti dia yang mengatakan terima kasih.


"Tak perlu mengatakan terima kasih Koko." Aku membalasnya dengan senyum. "Aku turun dulu oke. Selamat istirahat."


Aku turun dan melambai padanya, malam ini aku merasa senang. Tapi mungkin perasaan ini tak akan lama karena Ayahku akan datang dengan badainya sendiri besok.


Apa yang akan dia lakukan, tiba-tiba aku harus menarik napas panjang lagi. Aku harus berperang melawan Ayahku sendiri.

__ADS_1


Keluargaku memang keluarga idaman yang sangat sempurna.


__ADS_2