
"Seseorang datang menjengukmu. Ibu tak tahu siapa. Tapi Papamu memarahinya dan menyuruhnya pergi." Mama membawa berita tak mengenakkan di hari ke tiga aku harus bedrest
"Papa memarahinya? Kenapa sampai begitu? Kenapa memarahi orang yang ingin menjenguk, asal dia tahu aturan tak bisa lama."
"Ibu tak tahu, tunggu Papamu datang saja."
"Jangan-jangan Papa memarahi Ryohei?"
"Maksudmu orang yang pacarnya memukulimu itu, dia memang harus dimarahi. Gara-gara dia kau begini. Kau tak tahu jika tak ada yang menolongmu segera apa yang terjadi."
"Mama itu bukan kesalahannya tapi wanita gila itu."
"Tetap saja dia juga salah." Aku menghela napas. Semoga Ryohei-san tidak tersinggung dimarahi seperti itu. Aku harus minta maaf jika benar Papa memarahinya.
Papa masuk tak lama kemudian.
"Papa, siapa yang Papa marahi?"
"Tentu saja pacar wanita itu."
"Papa dia klienku. Dia tidak bersalah."
__ADS_1
"Dia bersalah jika dia tidak bisa menyeret wanita itu ke penjara. Kau tak usah membelanya."
"Suamiku, kau juga jangan marah-marah di depan Shiori." Papa diam sekarang. "Sudahlah, Shiori dia juga harus ditekan agar menekan kerja polisi." Mama mendamaikan perdebatan kami. Aku merasa tak enak, aku akan mencari cara meneleponnya dan minta maaf.
"Mama, kapan aku bisa pulang, ini sudah lewat empat hari. Bukankah sudah tak apa." Walaupun masih sakit lebih baik di rumah sendiri.
"Dokter bilang observasi ditambah dua hari lagi." Aku menghela napas panjang.
"Dua hari..." Rasanya itu lama sekali.
"Kau sudah boleh menerima kunjungan dalam dua hari ini tapi kau hanya boleh bekerja dengan jumlah waktu terbatas. Jika kau sudah sakit kepala kau harus segera berhenti. Dalam seminggu ke depan belum bisa masuk ke kantor." Papanya mulai mengatakan apa perkataan dokter.
"Sampai sekarang mereka belum berhasil, dan mereka bilang mereka tak punya cukup bukti untuk menahan wanita gila itu." Ayah menjawabku. Kurasa Yuna memang tak akan sebodoh itu untuk mengakui apapun.
"Nampaknya wanita itu memang benar-benar licin. Aku penasaran siapa Ayahnya sekarang."
"Kau sementara jangan cari masalah Shiori. Biarkan saja polisi yang bekerja." Tapi tampaknya Derrick-san dan bossku tak akan membiarkan ini berjalan dengan lambat, mereka pasti akan mencari cara lain.
Papa kembali, dia ada jadwal mengajar. Aku memanfaatkannya untuk menelepon Tuan Ryohei. Papaku terlalu jauh menanggapi ini. Harusnya dia tak memarahi Tuan Ryohei.
"Ryohei-san..." Tak lama untuk mendapatkannya mengangkat teleponku.
__ADS_1
"Saya minta maaf, tadi Ayah saya bersikap tidak sopan, harusnya dia tidak mengatakan sesuatu seperti itu ke Ryohei-san."
"Saya paham kenapa Ayah Anda marah. Tak usah minta maaf. Yang harus minta maaf adalah saya. Jika Anda ingin bekerja nanti sopir saya akan membawa Anda ke kantor, jangan naik kendaraan umum."
"Tidak apa, saya bisa memesan taxi."
"Izinkan saya membayar kesalahan saya setidaknya, jika Anda izinkan saya akan membayar biaya rumah sakit. Anda terluka memang karena saya."
"Saya tidak berani menyalahkan Anda, biaya rumah sakit di tanggung oleh asuransi, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Aku tetap menolaknya.
"Saya memaksa, asuransi pastinya tidak membayar penuh. Saya akan menyuruh orang mengurusnya."
"Saya tidak..."
"Anda tidak bisa menolaknya... Kita akhiri diskusi sampai disini. Saya akan mencari cara lain untuk menemukan orang yang memukul Anda. Kata Derrick-san Anda bahkan hanya diberikan waktu sepuluh menit menerima tamu. Jadi sekarang harusnya kita tidak bicara terlalu panjang. Cepatlah sembuh Shiori-san, istirahat yang cukup. Saya tutup teleponnya. Nanti 3 hari lagi saya akan menelepon Anda lagi." Dia menutup telepon tanpa basa-basi lagi. Aku hanya bisa mendengar nada sambungan diputus kemudian.
Nampaknya percuma saya menolak bantuannya.
\=\=\=\=\=
Maap mak ngabsen dikit biar gak bolong doang ya hari ini.
__ADS_1