
Kami sampai di bandara, dua koper besar dan satu ransel. Menyeret itu bersisian dalam antrian untuk check in.
"Ohh kau punya VVIP rupanya di Hongkong?" Sebuah suara yang nadanya adalah sebuah mimpi buruk. Kenapa aku harus melihatnya lagi sekarang.
Dia bersama dua orang lainnya yang berdiri di belakangnya. Nampaknya ini adalah pengawalnya.
"Temanmu?" Oliver menjadi waspada karena aku tak bisa bersuara.
"Pacarmu?" Dia menyadari itu bukan tamu VVIP, tak mungkin tamu VVIP bertanya begitu. Mereka berdua bertatapan satu sama lain.
"Iya saya temannya, ... sudah lama saya tak bertemu Sandra. Nama saya Kent Chai."
"Menjauhlah darinya. Laki-laki pengecut." Oliver yang fisiknya lebih tinggi dari Kent langsung maju. Aku memegang tangan Oliver, takut terjadi sesuatu padanya.
"Kau benar pacarnya rupanya."
"Laki-laki ba*nci, kau bisanya hanya memukul wanita? Menyingkirlah darinya!"
"Gwailou**, kau hanya pamer badan besar didepanku, enyahlah."
*Gwailou \= bule (kata slang offensive).
Aku sekarang menarik Oliver, takut terjadi sesuatu padanya. Bagaimanapun dia tak punya kesempatan untuk melawan Kent.
"Oliver... sudahlah. Kita pergi saja. Dia sedang memancingmu tak ada yang bisa dia lakukan."
"Bagus bawa pacarmu pergi. Banci, berlindung di ketiak wanita." Sekarang Oliver terpancing, dia melepas tanganku, mendatangi Kent dan sebuah pukulan melayang. Tapi Kent menangkap pukulannya dengan mudah. Orang-orang mulai melihat ke arah kami.
__ADS_1
"Gwailou, sudah kubilang kau terlalu lemah." Kent memang sengaja memancing emosi Oliver.
"Menjauhlah bangsat pemukul wanita kau lebih rendah dariku." Oliver membalasnya.
Sebuah pukulan cepat menghajar Oliver, dia terbungkuk ke depan. Aku tahu bangsat Kent itu sengaja.
"Kukembalikan satu pukulanmu." Dia pergi setelah mengatakan itu untungnya. Tapi pandangannya ke arahku mengatakan ini belum selesai.
"Oliver."
"Fu*c*k." Pasti itu sakit, pukulan petarung terlatih seperti Kent itu sudah terukur
"Kau kesakitan, kau tak perlu melakukan ini. Sudah kukatakan padamu dia hanya memancingmu. Kau baik, apa perlu kita ke klinik."
"Tak usah. Ini hanya satu pukulan. Sudahlah aku akan mengurusnya setelah kita pulang dari Vietnam." Dia mengurusnya sepulang dari Vietnam, dan aku juga harus segera meminta tolong.
Aku akan melaporkan ini ke Ko Derrick segera. Aku taku dia bisa melakukan yang lebih lagi dari hanya memukul sekali, aku takut entah bagaimana dia berusaha mencari tahu dengan siapa aku bersama sekarang dan menyusulku ke Vietnam.
"Kau yakin tak apa? Bagaimana kita nanti berhenti di sebuah rumah sakit untuk check. Apa kau merasa kesulitan bernapas? Masih sakit? Jika terjadi sesuatu di pesawat resikonya lebih besar, takutnya ada yang ..." Dia memotongku.
"Ini tak apa Sandra, aku tahu kondisiku, ini hanya akan jadi memar. Kau tak usah khawatir." Aku melihat padanya, merasa bersalah dia harus menerima pukulan itu karena aku.
"Kau harus bilang padaku jika rasa sakitnya tak hilang, kita harus menunda penerbangan..." Aku duduk bersamanya masih khawatir di ruang tunggu.
"Iya, tak apa."
"Aku bawa balsem untuk memar, kau bisa periksa dulu, jika kau menekan area rusuk dan terasa sakit menyengat, kita harus ke dokter. Jika kau merasa sesak itu lebih buruk lagi." Kuambil kotak obat lengkap yang selalu kubawa. Mencari balsem dan obat pereda nyeri. "Aku bawa pereda nyeri, apa kau per..."
__ADS_1
"Sandra berhentilah merasa khawatir padaku, jika aku bilang aku baik, maka aku baik."
"Setidaknya kau periksa dulu. Apa perlu aku yang melihat?"
"Astaga kau ternyata cerewet juga. Nanti kau periksa sendiri jika tak percaya. Puas, atau kau tak sabar lagi? ayo sekarang kita cari tempat tersembunyi dan kau boleh mulai memeriksa apapun yang kau ingin periksa." Aku mengkhawatirkan tapi sekarang kelakuan tengilnya di mulai. Dia tersenyum lebar sekarang dan aku batal merasa kasihan padanya.
"Jika kau begini perhatian padaku setelah dipukul, tak apa aku dipukul lagi nanti." Sekarang lengannya yang kupukul. Dia tidak boleh dikasihani, si mesu*m ini akan dengan senang hati segera memanfaatkan keuntungan yang dia dapatkan.
"Kau memang kejam. Itu sakit sweetheart..." Dia memang tak apa, tak usah merasa kasihan padanya, percuma. Otaknya masih bisa mencari celah menggodaku.
"Kau memang pantas dipukul."
"Ahhh itu mereka, sekarang kita mode teman oke, mode penyamaran, mode pukul'memukul sayang ini nanti saja dilanjutkan."
"Fine. Urus saja dirimu sendiri." Aku menjauhkan dudukku darinya, dia masih bisa terkekeh.
Tak lama aku berkenalan dengan timnya. Kami di mode menjauh, aku juga tak ingin mengekspos bahwa dia menyewaku untuk kepentingan pribadi.
Tapi aku memperhatikan bahasa tubuhnya dia pasti sedikit tak nyaman sekarang terkena pukulan Kent. Dia mungkin berpura-pura baik-baik saja karena tak mau terlihat lemah. Padahal Kent memamg bukan tandingannya, semua orang punya keunggulan di bidangnya masing-masing. Kent mungkin ahli seni beladiri, tapi tentu dia tak bisa membuat design gedung bukan.
Kusisipkan obat pereda nyeri ditangannya kerika kami berjalan melalui gate boarding, dia akan duduk bersama pimpinan proyeknya untuk membicarakan sesuatu. Sementara aku akan berada satu bangku dengan staff yang lain.
"Minum itu, jangan mendebatku."
"Baiklah sweetheart, terima kasih atas perhatianmu. Aku akan minum. Jangan kuatir."
Aku meninggalkannya, nanti akan ku cek dia kalau ada kesempatan. Aku tak akan tergoda begitu mudah padanya, aku sudah sering melihat pria kekar dan yahhh dia masih rata-rata.
__ADS_1
Sekarang aku membayangkan lagi seperti apa tampilannya yang kuingat terakhir kali. Yahhh XXXL, cukup mengesankan.
\=\=\=\=\=\=\=\=