
Aku menantikan kepulangan Louis dengan harap-harap cemas, kuharap dia dan kakakku cocok, dan kami memperoleh dukungan Adam. Bagaimanapun dukungan Adam penting bagiku.
Saat pintu rumah terdengar terbuka aku langsung keluar kamar. Langsung berdiri di depannya dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa kau?"
"Apa semua baik-baik saja?" Dengan memegang tangannya aku bertanya.
"Iya semua baik-baik saja apa yang kau takutkan." Aku menghela napas lega.
"Apa kakakku bertanya hal yang aneh-aneh. Menyudutkanmu atau semacamnya. Bagaimana kau menjawab pertanyaan pernikahanmu sebelumnya." Aku lupa bertanya tentang itu sebelumnya.
"Aku menjawab Chelsea meninggal oleh kecelakaan, karena semua dokumen memang dituliskan begitu untuk menutupi bahwa kami agen."
"Ohh begitu." Aku menghela napas lega.
"Apa kau keberatan aku tak mengatakan sebenarnya? Jika aku mengatakan sebenarnya kemungkinan besar kita tak disetujui."
"Tidak, aku kemarin malah lupa mengingatkanmu agar jangan mengatakan hal yang sebenarnya. Tentu saja jika itu terbongkar kita tak akan disetujui. Jadi apa yang kalian bicarakan?"
__ADS_1
"Kebanyakan masalah bisnis. Bukan hal pribadi, hanya awal-awal saja, kakakmu bertanya mengenai latar belakang keluarga dan pendidikan." Ohh ya dia alumni Harvard, dia punya nilai plus di banding siapapun.
"Ahh baguslah jika begitu, berarti semuanya lancar?"
"Iya semuanya lancar, tak ada yang perlu kau takutkan. Teleponkah Kakakmu jika kau tak percaya. Aku tak tahu apa yang dia akan katakan padamu, tapi aku merasa pertemuan kami baik-baik saja tadi."
"Benarkah, jadi harusnya kita tak ada yang perlu di khawatirkan."
"Kurasa tidak sayang ... Rasanya aku melewati ujian pertamaku dengan lancar." Aku tersenyum senang sekarang. Melegakan sekali mendengarnya.
"Aku akan menelepon Adam jika begitu." Dengan tak sabar aku mengangkat telepon.
"Kau khawatir sekali kedengarannya. Kakakku tertawa sekarang.
"Jelas aku khawatir karena pendapatmu penting bagiku."
"Dia orang yang yang cerdas tak usah diragukan lagi. Profesional di bidangnya. Dan nampaknya juga orang yang baik keluarganya. Aku tidak punya keberatan apapun, aku mendukung kalian. Nanti akan kubicarakan dengan Ayah dan Ibu, dan Neil. Kau tak usah khawatir. Semua akan baik-baik saja."
Aku benar-benar lega sekarang mendengar semua penilaiannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar senang kau berkata begitu. Aku lega sekali sebenarnya." Adam tertawa.
"Kau sudah pernah bertemu dengan keluarganya," Adam bertanya lagi.
"Sudah, Ibu dan Ayahnya nya sangat baik. Dulu sebelum kami akhirnya bersama. Mereka keluarga yang harmonis. Ibunya tinggal di Minnesota, mereka menjalamkan perkebunan." Aku menceritakan latar belakang keluarganya yang kutahu sampai sekarang.
"Ya sudah, jika bulan depan kau bisa kembali ke London, mungkin kau bisa mengenalkannya ke Ibu dan Ayah. Kakak akan mengatakannya untukmu."
"Terima kasih, kau yang terbaik."
"Aku juga bahagia kau menemukan seseorang lagi Julie, kali ini nampakya dia sangat baik. Aku mendukung kalian."
Louis melihat ekspresi dan senyumku.
"Bagaimana, aku melewati ujian dengan baik bukan." Aku memeluknya dengan segera dan mencium pipinya.
"Kau lulus ujian, Adam bilang dia menyetujuimu." Dia meringis lebar. "Adam bilang dia akan membicarakannya pada Mom dan Dad. Jika bulan depan kau dapat undangan ke London, usahakan oke." Pasti Papa dan Mama ingin segera bertemu dengannya.
"Iya baiklah." Dan nampaknya babak baru dalam kehidupan ku akan segera datang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=