TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 3. Nathan Chow 2


__ADS_3

Ya-ya baiklah pertemuan bisnis. Aku memakai baju gaun semi formal berwarna putih dengan dandanan sedikit glamor, sebenarnya aku memakai yang aku suka saja tidak akan memikirkan apa orang suka melihatnya.



Toh aku hanya harus berada tiga jam disana. Mungkin ada Nathan yang kuajak bicara. Aku tak perduli kami akan di dijodohkan atau tidak, karena dalam rencanaku tidak akan ada apapun terjadi.


"Bicaralah yang sopan pada keluarga Chow." Papa menjemputku jam 6.30 dengan sopirnya. Dia punya kantor di Shanghai tentu saja.


"Ya-ya, kapan aku bersikap tidak sopan."


"Kau kenal anaknya keluarga Chow."


"Entah, kurasa aku kenal Nathan."


"Ohh si bungsu."


"Papa sampai hafal dia adalah anak bungsu?" Aku menyindirnya sekarang.


"Papa bersekolah di tempat yang sama dengan kepala keluarga Chow yang sekarang. Kami sering mengobrol."


"Ohh,..." aku akan pura-pura tak mengetahui apa maksud pertemuan ini saja.


Sampai di hotel aku berjalan di samping Ayah seperti biasa, mengandeng lengan Ayah seperti yang biasa kulakukan dalam acara resmi lainnya jika aku di suruh ikut.


"Brother Wong, ..." Seorang Paman seumur Ayah menyapanya. Ayah mengangkat tangannya melambai. Ini mungkin yang Ayah bilang teman sekolahnya.


"Brother Chow." Mereka saling memberikan salam, kemudian dengan seorang Nyonya yang kukira adalah istri kepala keluarga Chow.


"Oh ini putri pertamamu, cantik sekali, sekarang di Shanghai?"


"Iya ini Cherrie, beli salam ke Nyonya Chow."


"Bibi, Paman, ..." Aku menyalami mereka sambil sedikit membungkuk.


"Kau bisnis apa di Shanghai?" Bibi Chow menanyaiku.


"Aku membuka butik, namanya LUXE."


"Ohhh kau pemilik LUXE? Itu butik sangat terkenal disini. Aku tak menyangka kau pemiliknya?"


"Iya, sebelumnya kolega saya yang menjalankan operasionalnya, sekarang saya mulai incharge disini."


"Memang putri Tuan Wong ini pintar berbisnis pantas sebagai Putri Pertama." Aku tersenyum dengan pujian manis sang Paman, sayang sekali pujian manis ini akan terbuang percuma.


"Terima kasih Paman, terima kasih Bibi, bukan depan kita juga sudah membuka LUXE di Beijing, jika Bibi mencari busana atau tas tertentu di Beijing bisa menghubungi kami." Aku jadi marketing saja sekarang, siapa tahu dia bersedia memborong di sana untuk mendapatkan perhatianku.


"Ahh tentu-tentu... Nanti Bibi pasti berkunjung." Dia celingukan, "Mana Nathan, dia bisa menemanimu. Apa kau mengenal Nathan?"


"Iya kami pernah bertemu beberapa kali Bibi."


Nathan datang kemudian. Aku bertanya apa dia tahu ada sesuatu di belakang ini atau tidak, atau dia hanya tahu disuruh berkenalan saja sekarang.



"Nathan! Kesini..." Ibunya sekarang memanggilnya di meja yang lain.


"Ini Cherrie, kau temani dia malam ini. Ini Paman Wong, Ayah Cherrie, beri salam ke Paman. Kalian sudah kenal bukan?"


"Ohh Cherrie yang cantik, iya kami kenal. Paman Wong..." Dia memberi salam ke Papa.

__ADS_1


"Anakmu ini memang tampan. Kurasa banyak gadis yang patah hati karena dia." Semua orang tertawa. Aku meringis saja, bukan banyak lagi kurasa bertebaran dengan gaya pop starnya yang baik ke semua wanita itu.


"Sana kalian berdua, cari tempat sendiri, tugasmu menemani Cherrie malam ini Nathan."


"Baik Mama." Dia tersenyum padaku dan menawarkan mengandeng lengannya. "Miss Wong." Aku menyisipkan tanganku padanya sekarang.


"Cantik, tak kusangka kau muncul malam ini. Kau sudah menerima penawaran dari perusahaanku?" Nampaknya dia tak tahu agenda orang tuanya.


"Sudah, sedang di urus oleh bagian yang memintanya, jika mereka setuju mereka akan menghubungi kantormu."


"Baiklah." Dia melihatku. "Papa dan Mamamu sedang terlibat masalah pelik di Hongkong nampaknya. Semua orang membicarakannya..." Tunggu dulu, ada kemungkinan dia tahu. Tapi lebih baik aku berpura-pura tak tahu apapun.


"Iya begitulah, aku ke Shanghai karena tak mau terlibat masalah mereka." Dia mengajakku duduk di mejanya. Menawariku minum dan memperkenalkanku kepada beberapa kolega dan keluarganya dengan sopan.


"Sebelumnya kau berkantor di mana?"


"Di Hongkong, tapi sebelumnya aku di Jakarta."


"Ohh, ternyata begitu. Dan sekarang kau lebih banyak di Shanghai atau kau bolak balik Hongkong?"


"Aku lebih banyak disini kurasa, sangat jarang aku kembali ke Hongkong belakangan."


"Kau berkantor dimana sekarang?" Kuberikan kartu namaku padanya.


"LUXE? Ini menjual koleksi barang-barang bermerk bukan? Semacam toko eksklusif dengan personal fashion advisor?"


"Iya kau benar."


"Di Shanghai banyak orang berburu tas mahal. Pasti sangat menguntungkan bisnis seperti ini di sini."


"Itu hanya tas, tidak sebanding dengan pesawat." Dia tertawa dengan perbandinganku.


"Benarkah, aku tak tahu. Kau benar bisnisnya tak sebanding. Kau mengelola ratusan juta dollar." Dia tersenyum, jika dia bukan musuh Mama aku akan balik menggodanya. Sayangnya dia musuhku.


"Kau punya pacar disini?" Tiba-tiba pertanyaannya beralih ke hal pribadi. Matanya menatapku dengan serius, dia sedang menebarkan pesonanya nampaknya.


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Mungkin aku bisa mengajakmu makan malam." Aku tersenyum kecil. Sekarang pendapatku berubah dia tahu rencana perjodohan ini.


"Makan malam, bisa diatur, tapi dalam waktu dekat aku harus ke Paris." Kita beri jawaban diplomatis saja.


"Aku bisa menemanimu ke Paris..." Aku meringis menatapnya.


"Kenapa kau tiba-tiba jadi ingin menemaniku ke Paris?" Dia menghela napas sekarang dan menatapku.


"Kau benar-benar tak tahu kenapa? Kukira kau malah sudah tahu duluan?" Sekarang rupanya dia bicara terus terang. Aku cukup jengah dengan tatapannya.


"Kau anak baik yang menerima pengaturan keluarga tanpa bertanya apapun?" Pertanyaanku membuatnya tersenyum kecil.


"Sebenarnya aku baru tahu kemarin, kupikir kau sudah tahu karena kau duluan yang meneleponku beberapa hari yang lalu?"


"Oh itu benar-benar untuk permintaan penawaran bisnis, kau jangan salah paham. Aku tak punya maksud lain selain meminta penawaran, bukan hanya kau yang kuminta penawaran. Sorry kau jangan tersinggung." Dia hanya tersenyum kecil, sekarang dia tahu pesonanya tak mempan padaku.


"Aku sudah diberitahu oleh Ayahmu?"


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun, aku hanya menilai berdasarkan pengalaman. Aku mungkin sudah terlalu mengenalnya." Aku menatapnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku, kau menerima ini tanpa pertanyaan..."


"Kau pikir aturan keluarga itu sesuatu yang bisa kau belokkan begitu saja?"

__ADS_1


"Kau tak punya gadis yang kau cintai?"


"Ohh kau percaya dongeng cinta? Karena aku hanya percaya saling menguntungkan dan kerjasama. Cinta, hanya reaksi psikologis yang membuat pikiran logis hilang kurasa. Bukan tak ada, cuma itu tidak bisa diagung-agungkan tanpa kau tahu kompromi bukan?"


"Aku tak menyangka mendengar ini dari seorang Nathan Chow." Aku meringis lebar, sementara dia tersenyum kecil.


"Kenapa? Menurutmu aku tak menarik?" Dia bertanya terang-terangan.


"Kau sempurna Nathan. 100 gadis melihatmu, 100 nya akan bilang kau tampan dan punya segalanya. Kau impian semua gadis."


"Tapi rupanya skor sempurna belum cukup untukmu bukan?"


"Aku tak bilang begitu." Dia menatapku dan memikirkan kata-kataku sekarang.


"Jadi ini bukan soal aku? Kau punya pacar ternyata?" Aku tak akan menjawabnya di pertemuan pertama kami, belum ada cara menjawabnya di kepalaku. Faktanya aku tak menyangka dia akan langsung mengatakan ini di pertemuan pertama. Tanpa tedeng aling-aling.


Dia tak boleh tahu sekarang juga bahwa aku akan langsung menolaknya karena aku berada di pihak Mama. Bukan karena dia...


"Aku mau ke toilet..." Aku harus memikirkan bagaimana menghindari tekanan ini. Kurasa malam ini lebih baik aku menghindar tidak bicara terlalu banyak.


Tanpa permisi lagi aku beranjak dari kursiku, melarikan diri dari Nathan Chow yang mengejarku dengan pertanyaan apa aku punya pacar. Well, anggap saja aku punya...


Aku menghabiskan waktu lama di toilet, menyusun apa yang harus kukatakan. Dia menyangkaku punya pacar, itu bisa dijadikan tameng walau aku tak menjawabnya.


Lain kali aku akan menghindarinya saja.


Aku keluar dari toilet, pandanganku membentur ke seseorang yang kukenal. Itu Anthony Cheng, aku tak akan salah, aku mundur karena hanya sekali bertemu dengannya mengingat lagi. Tak salah, itu dia...ingatanku cukup bagus.


Aku bisa menghabiskan waktu mengobrol ke yang lain, menghindar dari Nathan yang terlalu serius dalam pertemuan pertama kami ini.


"Tuan Anthony, ..." Dia menoleh ketika kupanggil namanya. Melihatku tapi dia berusaha keras mengingat dimana dia pernah melihatku. "Aku Cherrie Wong, yang meneleponmu beberapa hari yang lalu..." Sekarang dia tersenyum.


"Ahhh Nona Wong, ingatanku benar-benar payah. Maafkan aku. Ternyata kau berada di acara ini juga, ..." Dia tersenyum, senyumnya manis juga, dia tak terlalu seram seperti yang kuingat sebelumnya. Walau muka dewasanya seperti melihat orang yang sudah di usia mendekati kepala empat.



"Semuanya ini Cherry Wong, putri Tuan Wong Lee Man, ..." Semua orang mengenal nama Ayahku, aku jadi bisa bergabung disini. Bertukar kartu nama menghabiskan waktu setidaknya.


"Ayo duduklah, kursi ini kosong." Anthony dengan baik hati memberikan kursi padaku, aku jadi bisa duduk dan mengobrol berkenalan dengan yang lain, beberapa membawa wanita yang ternyata mengenal LUXE-ku.


"Oh kau sudah menerima penawaran kami?" Dia langsung bertanya soal bisnis kami.


"Sudah, kurasa harganya menarik, apalagi kau berjanji memberikan diskon setelah repeat order ketiga. Nanti ada orang yang akan menelepon ke sales representativemu."


"Ohh baguslah, kami biasanya pasti punya pesawat menganggur di parkir Bandara Shanghai, orangku bisa mengaturnya untukmu."


"Kau datang ke sini bersama Ayahmu?"


"Iya, dia ada di meja depan sana bersama dengan keluarga Chow."


"Ohh, kau disini tak apa?"


"Kursinya mau dipakai? Tak apa aku pergi..." Aku melihat sekeliling, mungkin tadinya dia mau menunggu kolega yang lain.


"Bukan-bukan, Ayahmu ada di meja Tuan rumah, aku takut jadi menahanmu di sini...."


"Ah tak apa...Aku..." Belum sempat aku bicara lebih panjang.


"Cherrie sayang, kau disini rupanya..." Sial, Nathan menemukanku.

__ADS_1


__ADS_2