TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 74. Mencoba Berdamai 2


__ADS_3

Hari ini ulang tahun Papa, baru kali ini aku punya kesempatan merayakannya, dan pas di akhir pekan, Papa membaik, mukanya terlihat lebih cerah, syukurlah. Ko Derrick menyempatkan membuat sesuatu untuk Papa. Sementara aku memesan tumpeng dan kue ulang tahun untuk Papa, cara ulang tahun ala Indonesia. Tante Yun Lan pasti terpesona dengan tumpengnya nanti, tak disangsikan lagi.


“Calon menantu yang baik,...” Tante Yun Lan menepuk pundak  Ko Derrick, sementara Tante Yun membuat cah kailan daging sapi, dan mie panjang umur, kami makan dirumah saja karena papa belum terlalu sehat siang itu, melihat dia bekerja di dapur membuat ikan karapu asam manis dan ayam kungpao, aku tertawa bersama Papa.


“Aku tak bisa masak Tante, dia yang bisa. Aku pesan nasi tumpeng saja,...”


“Apa itu nasi tumpeng.”


“Ohhh itu enak. Kau harus lihat nanti.” Papa langsung suka, dan memberikan gambarnya ke Tante Yun.


“Astaga itu gunungan nasi, kuning,  apa itu? Semacam nasi kari? Kelihatannya enak sekali.”


Telepon Koko berbunyi, dia melihatnya dan mengankatnya. Kali ini dia bicara Canton.


“Aku kirim lokasiku.” Mengirim  lokasi? Jangan-jangan Cherrie bersedia datang.

__ADS_1


“Ko Cherriekah?” Aku bertanya pada Ko Derrick karena penasaran.


“Iya, kayanya dia mau  datang.” Tak kusangka, dengan perkataannya kepada kami seketus itu dia mau datang, rupanya dia masih melihat Papa. Syukurlah. Aku akan bersikap baik padanya, asal dia baik pada Papa.


“Cherrie?” Tante Yun Lan langsung bertanya dengan heran.


“Cherrie? Kenapa dengan Cherrie?” Papa ikut-ikutan langsung bertanya.


“Dia mau datang kesini,...”


“Ehm, kami datang dan  minta maaf mencoba bicara padanya kemarin. Papa sedang sakit, jadi kupikir Papa akan sangat senang jika dia bisa datang kesini di ulang tahunnya.” Papa dan Tante Lan melihatku dan berpandang-pandangan.


“Dia tahu kau siapa?” Papa langsung bertanya.


“Aku memberitahunya, nampaknya dia bisa menerimanya, tapi kemarin dia bersikap ketus, aku dan Ko Derrick juga tak menyangka dia bersedia datang.”

__ADS_1


“Tata, kau sangat baik, Papamu pasti sangat bangga punya putri tertua sepertimu. Tante juga sangat bangga padamu, kau punya pikiran begitu.” Tante Yun merangkulku sementara Papa masih sedikit terkejut.


“Terima kasih Tata. Papa tak menyangka kau bisa mengundangnya kesini.”


“Kurasa karena Papa sendiri yang menemuinya Pa, dia sudah memaafkan Papa. Ini hari ulang Tahun Papa,  anak perempuan Papa yang sudah hilang- kembali lagi bukankan itu kado yang bagus.” Aku tersenyum padanya. Dia tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca mendengarku.


“Terima kasih. Benar katamu, Papa beruntung memilikimu yang berani merangkul adikmu itu, kalian berkumpul adalah kado terbaik.” Semua orang tersenyum  sekarang, aku ikut senang Papa terlihat bahagia. Kami bisa berkumpul disini, sederhana, masak makan bersama, ini adalah saat terbaik.


“Tahun depan kita ajak semuanya kumpul dimana merayakan ultah Papa, di Bali mungkin. Tadinya Tata ngajak kebali, nanti Liam, dan anak-anak  kita ikutkan ke Bali kalo mereka mau. Biar Derrick dan Tata yang atur ya, siapa tahu Cherrie masih disini juga.” Tante Yun Lan kalau mikirin bikin acara paling cepat. Dia adalah  hati keluarga ini, tanpa  dia rasanya ada yang kurang.


“Ahh boleh Tante, nanti New Year aku pasti ke HK, tapi pas ultah Papa kita ke Bali saja sama adik-adik.”


“Aduh yang merasa paling tua.” Ko Derrick meledekku. Bagaimana lagi aku harus menyebut mereka, mereka adikku bukan?


“Kamu masak aja yang benar Koko, saya lapar,jangan komen melulu....”

__ADS_1


"Awas kamu ya." Sekali-kali aku membullynya.  Tante dan Papa meledak tawanya sekarang.


__ADS_2