
POV Author
"Tugasmu selesai. Setelah validasi ini, anggap saja kau bisa menghindarinya." Thomas yang akan mengurusnya dengan tim lain setelah ini.
"Aku sudah mengatakan padanya untuk mengirim konsultannya, jika aku menghindar aku akan di curigai."
"Kau bisa melanjutkan dengan konsultannya jika begitu. Kau akan di LA sementara?"
"Iya aku akan mengambil tawaran sebuah film. Aku urus tandatangan dulu, setelah itu mungkin aku baru kembali ke London untuk sementara menunggu syuting."
"Baiklah. Kelly dan timnya akan kutarik sementara oke. Tapi jika kau butuh bantuan langsung saja hubungi aku atau Kelly."
"Iya baiklah."
Thomas Jefferson mempersiapkan file yang akan dibawanya ke NY. Dia yakin mereka akan bisa menekan Louis Allen dan Nathan Garcia. Dalam dua hari kemudian dia sudah di NY dan menelepon Louis Allen, target yang sudah di validasi oleh Julie.
"Siapa ini?" Louis menerima telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Saya Thomas Jefferson. Atase keamanan dari kedutaan Inggris. Saya ingin bicara empat mata dengan Anda."
Saat dia memperkenalkan dirinya Louis langsung berpikir siapa orang UK yang ditemuinya belakangan. Satu-satunya yang dipikirkannya adalah Julie. Tapi jika ada yang mencurigakan dari Julie hanya dia mengeluh soal taxnya besar dan bahkan dia belum mengirim nomor konsultannya sama sekali. Itu tidak bisa dijadikan bukti apapun.
"Atase keamanan? Masalah apa? Saya tidak punya bisnis di sana."
"Lebih baik kita bicara di tempat khusus untuk keamanan Anda sendiri."
"Untuk keamanan saya sendiri? Apa yang bisa membuat Anda menilai saya butuh keamanan?"
"Tuan Louis, kita tak usah panjang lebar disini. Saya hanya minta waktu Anda setengah jam. Setelah itu Anda bisa putuskan sendiri."
"Besok sore jam 3, di kantor saya."
"Mengerti. Besok sore jam 3."
Louis menutup telepon. Dia menelepon assistennya.
"Raymond, periksa latar belakang Julie Harris. Apa ada kemungkinan dia semacam agen pemerintah atau dia bekerja dengan seseorang?"
"Julie Harris yang artis film dan model itu?"
__ADS_1
"Iya."
"Baik."
Louis tak pernah berpikir gadis itu punya agenda tersembunyi, semua pertemuan mereka tampaknya sebuah ketidaksengajaan. Gadis itu tak pernah berusaha mendekatinya, kalau di bilang malah mungkin menghindarinya. Benarkah? Dia berpikir ulang. Tapi hanya dia citizen UK belakangan, kenapa dia harus bertemu atase keamanan UK.
Tak ada yang melintas di pikirannya, baiklah kita Louis akan melihat saja apa yang di inginkan oleh atase keamanan bernama Thomas Jefferson itu.
Sementara Raymond datang dengan laporan bahwa latar belakang gadis itu semulus karier menterengnya, kekayaan berlimpah, pewaris bisnis besar, dia sendiri pemilik bisnisnya sendiri , bahkan jaringan restorannya juga ada di kota besar Amerika. Dia kaya raya dan ingin menggelapkan pajak, itu bukan hal yang mencurigakan.
"Kau tahu dimana dia sekarang?"
"Beberapa hari ini dia tandatangan kontrak di Hollywood, ada proyek film yang diambilnya." Semua yang diceritakannya sesuai. Dia mengesampingkan data soal Julie, apa urusan atase keamanan Inggris ini dengan dirinya sekarang.
Jam tiga tepat, pria itu sudah duduk di depannya.
"Tuan Louis, terima kasih sudah meluangkan waktu." Kedua pria itu saling menilai di pertemuan awal mereka. Sama-sama punya tampilan alpha, kedua orang akan nampaknya bersiap memulai perundingan pelik sekarang. Tapi Thomas optimis dia akan menang dalam negosiasi kali ini.
"Langsung saja, kenapa aku bisa mendapatkan atase keamanan Inggris di kantorku? Ini jelas masalah atau entah kau ingin bantuan apa?"
Thomas tersenyum, dia mengeluarkan sebuah foto dan menaruh foto yang mereka dapat seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami itu. Itu adalah foto kamera yang cukup jauh, bahkan bukan dari restoran tempat pertemuan itu karena jarak mereka mendapatkan dan menginvestigasi catatan sekertaris Daniella itu cukup jauh.
"Kau tak mengenalnya. Ini fotomu bersama Daniella Ignatova, sudah hampir 6 tahun yang lalu?" Thomas tak akan mencoba berdebat apa foto yang tidak begitu jelas itu adalah benar Louis atau bukan.
"Lalu?"
"Anda pasti tahu siapa Daniella Ignatova."
"Ya saya tahu, tapi pertemuan itu tidak berarti apapun saya rasa. Saya menawarkan investasi, tapi dia kemudian tidak menyetujuinya. Dia juga bertemu dengan banyak orang kenapa Anda tidak mendatangi mereka." Dia mengakuinya, tapi memang foto itu tak berarti apapun.
"Saya punya hipotesa..."
"Hipotesa?"
"Anda dan Boss Anda, adalah orang yang sangat eksklusif, Anda berdua bahkan punya pengawalan. Dua kali saya meminta data Anda, padahal jaraknya berjauhan, tidak bisa sama sekali. Saya meminta data Anda terang-terangan ke pemerintah Anda karena dikaitkan wanita ini dengan 4 milliar dollar, tapi mereka tidak memberikannya. Memang ada kerugian di US citizen, tapi hanya kecil, tidak sampai 5%, saya bertanya-tanya kenapa Anda malah melindungi Anda dan saya langsung membayangkan berapa besar biaya yang Anda minta untuk menghilangkan 4 milliar dollar?"
"Itu tuduhan yang sangat serius, Anda bisa membuktikan apa dengan hanya punya foto ini dan hipotesa? Jangan membuat saya menertawakan Anda." Louis langsung tertawa, tapi Thomas tetap tenang.
"Untuk membuktikan hipotesa saya benar, saya memang perlu pembuktian, saya akan memberitahu Anda bagaimana saya bisa membuktikannya." Thomas maju ke depan, menatap mata lawan bicaranya.
__ADS_1
"Hipotesa saya begini, kita anggap biaya menghilangkannya 20%, 800 juta, sangat besar, yang sangat menarik bagi saya adalah data Anda di lindungi pemerintah? Pertanyaannya adalah pemerintah yang mana? Saya tinggal bertanya, dengan kata lain saya akan bercerita tentang cerita Anda kepada dua kubu di pemerintah Anda, Anda tahu selanjutnya apa yang akan terjadi..." Thomas sedikit tersenyum melihat Louis tak bisa menjawabnya. "Saya tidak tahu, Anda yang tahu."
Louis sekarang diam, orang di depannya ini membuatnya berpikir keras. Kasus itu sudah sangat lama 6 tahun. Memang mereka yang mengatur semuanya, tapi bukan lagi feenya 20, itu 25%. Sangat besar.
"Pilihan kedua, Anda bisa tutup mata, cuci tangan, berikan saya petunjuk, data Anda aman, saya tutup mulut, saya mendapat penghargaan dari mereka yang kehilangan uangnya, Anda tak terdampak apapun. Urusan kita selesai. Sesederhana itu."
"Dan jika terjadi deal dengan Anda dan kubu Anda sendiri, saya akan mempublikasikan foto itu secara umum. Dan membiarkan pemerintah Anda menjelaskannya kepada tujuh negara yang menjadikannya buronan."
"Pilihan Anda." Thomas menyelesaikan urusannya setelah kalimat penutup itu. Dia berdiri dari kursinya.
"Saya akan menunggu kabar dari Anda, 7 hari sekarang. Anda bisa menghubungi saya di sini. Selamat sore." Kartu nama polos itu hanya berisi nama, nomor telepon dan email. Dan Thomas langsung pergi dari ruangan itu.
Dia percaya dalam 7 hari dia akan mendapatkan deal dan informasi yang dia butuhkan sekarang. Sementara itu Louis menghela napas panjang. Dia mengambil ponselnya.
"Nathan kita punya masalah sekarang."
"Masalah apa?" Louis menjelaskan kedatangan pria yang mengaku atase keamanan kedautaan itu. Tapi pastinya bukan.
"Dia bisa menghubungkan itu atas dasar data kita tak bisa diakses? Kau tak menyangkalnya?"
"Jelas saja aku mementahkannya, tapi dia langsung masuk ke bagian bagaimana membuktikannya. Dan jika kita berusaha membuat deal ke pihak sana, dia akan menjadikannya insiden internasional yang mengharuskan kita menjelaskannya kepada 7 negara dan tanpa meminta perdebatan lagi dia pergi, dia yakin aku mati langkah."
"Aku harus melapor pada boss. Jika dia bisa memastikan tak akan menyangkut pautkan kita, lebih baik kita memang cuci tangan. Apa dia bilang kita harus mengembalikan uangnya?"
"Tidak."
"Hmm...bagus. Setidaknya dia tidak menyusahkan kita. Kita tinggal mengancam wanita itu. Tapi baiklah, aku akan melapor dulu."
Dalam tujuh hari kemudian. Louis membuat informasi jejak terakhir wanita itu. Yang hidup berpindah di kawasan mediteranian dengan yatch pribadi mewah atas nama samaran, nama dan indentitas terakhirnya diketahui, nama kapalnya, dalam kurang dari setengah bulan kemudian dia tertangkap.
Tapi soal Julie, itu hal yang perlu dibahas ulang. Louis masih punya kecurigaan walaupun nampaknya semua kondisi menempatkannya dalam posisi yang tak usah di curigai.
"Nathan, kau pernah bertemu wanita ini." Louis memberikan fotonya.
"Hmm dia artis bukan. Aku pernah bertemu dan mengobrol sekali, entah di acara apa aku sudah lupa. Kalau tak salah gadis itu keluarganya pemilik jaringan hotel juga bukan."
"Iya. Kau pernah bertemu dengannya...." Dia dan Nathan pernah bertemu gadis ini, walau cuma sekali, jelas mencurigakan, kenapa dua dari mereka sama-sama pernah menemuinya.
Gadis itu tak menghubunginya lagi anehnya. Dia tak menghubunginya juga, jika benar gadis itu seorang yang ditugaskan. Akan terlalu bahaya jika melanjutkan memberinya konsultan.
Louis menyimpan kecurigaannya. Untuk saat ini dia tidak ingin berurusan dengan Inggris.
__ADS_1