
Aku diam saja sepanjang makan, hanya menjawab pendek-pendek setiap perkataannya. Merasa di bohongi, dia sendiri yang bilang harus tanya aku. Tapi sekarang akupun tak tahu apa-apa jika tak ada pop-up notification itu.
"Kamu kenapa sebenarnya?" Dia merasa tentu lebih banyak kuacuhkan.
"Ga pa pa, aku cape. Mau naik dulu." Jika dia memeriksa ponselnya dia akan tahu pop-up yang membuat masalah. Aku ke kamar tanpa melihat ke Koko lagi.
Dia akan mengajakku bicara cepat atau lambat. Tak akan lama dia menyadarinya. Benar dugaanku 15 menit kemudian ada ketukan di pintuku. Kita lihat sekarang bagaimana dia menjelaskannya.
"Tata, Koko boleh masuk?"
"Iya." Aku menjawabnya singkat, tidak melihatnya sama sekali. Aku duduk bersandar di sofa dan melihat ke ponselku.
"Oke, kau melihat notifikasi soal Lisa, itu masalahnya kan." Aku diam saja.
"Ya mungkin kemanusiaan. Mungkin biaya hidupnya sekalian juga Koko yang tanggung." Aku kesal, omonganku jadi ketus. Harus aku dulu yang menemukannya baru dia mengakui.
"Bukan begitu..."
"Apa yang bukan begitu?" Aku melihatnya dengan sebal.
"Oke, itu salah harusnya Koko ngomong. Tapi diapun tak tahu Koko bantu. Kemarin dia nelepon dia perlu bantuan pengacara, minta referensi, Koko kasih pengacara Koko, biaya konsul itu cukup mahal jadi Koko putuskan membantu dia tanggung setengahnya, ini dia gak tahu, Koko cuma titip pesan ke pengacara Koko, dia masih harus membayar tapi dikurangi. Koko kasihan saja, dia masih harus menanggung biaya rumah sakit anaknya, anaknya ada sakit, ada masalah belum selesai dengan suaminya,..."
"Ohh kasihan sama dia... Oke, fine. Sihlakan lanjutkan." Koko diam, akupun kesal.
"Sorry Koko salah belum cerita, tapi demi apapun itu bukan karena Koko masih ingin punya hubungan dengan dia. Jika Koko masih ingin punya hubungan dengan dia, Koko akan bilang ke dia bahwa Koko bantu dia, kamu bisa telepon pengacara Koko Pak Erwin apa Lisa tahu Koko yang bantu, kamu mau telepon Lisapun boleh tanya apa dia tahu Koko yang bantu... Sekarang juga boleh. Kamu tanya sama mereka. Mau ngomong sekarang, kalau kamu gak kasih ya udah. Koko bilang ke Pak Erwin gak jadi nanggung biayanya."
__ADS_1
"Bukan masalah uangnya ngerti ngak sih Ko! Siapa yang bilang itu harus persetujuan aku dulu?! Terus kalo aku yang nemu sendiri dan mikir macem-macem, apa aku gak kesel."
"Iya, yang itu salah. Sorry, koko yang salah. Ya sudah Koko batalin saja, Koko telepon Erwin depan kamu." Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor pengacaranya.
Aku mengambil ponselnya. Dia melihatku.
"Kamu tuh memang paling bisa ya Ko."
"Ya terus mau-nya gimana? Koko salah ngaku, mengingkari kata sendiri, ... terserah kamu deh maunya gimana sekarang, Koko mau bantu doang, bukan niat mau minta perhatian, bikin dia ngerasa berhutang sama Koko. Gak ada sama sekali nyari masalah begitu. Salah gak ngomong dulu langsung putuskan. Jika kamu gak rela, Koko telepon Erwin sekarang, kita clearkan ..."
Aku diam saja. Tak tahu mau bicara padanya, rasanya kesal, dia menanggungnya begitu saja tanpa bicara, walaupun dia bilang dia tujuannya hanya mau menolong.
"Tata,... Belakangan kita banyak masalah. Sorry Koko nambah masalah lagi. Kamu mau Koko gimana bilang asal kamu gak marah lagi..." Dia meraih tanganku.
"Push up 200x..." Dia bengong, terus ketawa.
"Sebel..." Aku asal sebut sebenarnya.
Dia merangkulku. Tapi aku masih mencebik padanya. Walaupun aku mungkin memaafkannya kali ini.
"Saya sebenarnya agak lega tadi pas telepon Papa kamu, dia bilang Wong Lee Man sedang banyak masalah di HK jadi dia tak akan mungkin lama di Jakarta, takut dia mencari masalah ke kita... Semalam susah tidur mikir gimana hadapin Papa Cherrie. Beberapa hari ini Koko takut kita terlibat terlalu jauh masalah Cherrie, sampai akhirnya kejadian semalem, tapi nampaknya penegasan Koko yang tahu dimana anaknya adalah istrinya akan berhasil."
"Hmm... Kasihan Cherrie. Bagaimana rasanya Mama dan Papanya cerai padahal dia sudah besar, dulu kecil Mamanya cerai sekarang lagi." Aku melihatnya. "Bagaimana kita nanti, ..."
"Sorry, Koko bikin kamu gak percaya sama Koko." Aku menghela napas, melihatnya. "Demi apapun Koko tidak punya maksud membuat dia berhutang sama Koko. Telepon dia tanya masalahnya pun gak pernah, dia juga tahu diri cuma minta direkomendasikan pengacara, that's all... Mau lihat history chat sihlakan Koko buka, mau passnya Koko kasih tahu...Nih, periksa yang kamu mau periksa.
__ADS_1
"Hmm... gak usah." Aku tak ingin harus memeriksa ponsel begitu.
"Damai ya."
"Gak..." Dia tersenyum. Gak damai tapi udah nyender.
"I love you..." Aku tak membalasnya. Hanya melihatnya yang tersenyum padaku. "Jangan cemberut...tambah gemesin." Dia mencium bibirku dengan cepat. Aku mencubit perutnya.
"Sakit, jangan cubit itu memar kemarin..." Aku langsung menarik tanganku.
"Sorry."
"Say you love me..." Dia meminta damai malam ini juga, padahal aku masih ingin mendiamkannya sampai besok. Tapi kasihan dia banyak pikiran belakangan plus cedera semalam. Harusnya dia beristirahat dengan baik malam ini.
"Love you Koko. Sorry juga aku jealous."
"Iya, bukan salah kamu, harusnya Koko memang bilang. Sorry juga Koko salah." Aku menghela napas.
"Ya udah." Aku memaafkannya kali ini karena dia berani memberikan bukti-buktinya. Dia memberiku pelukan dan ciumannya, aku membalasnya.
"Kamu sibuk jadi Cece yang baik benerapa hari ini, tak punya waktu untuk Koko, ..." Sekarang aku tertawa. "Katanya sakit, tapi ini kenapa nempel-nempel semangat sekali.
"Kangen..." Ciumannya memburuku, membuatku tak bisa menolaknya.
"Katanya kemarin gak bisa tidur, kenapa ini,..." Tangannya bergerilya memelukku, mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan. Pinggulnya menekan membuat aku merasakan sesuatu diantara kedia kakiku.
__ADS_1
"Lebih gak bisa tidur lagi kalo gak meluk kamu. Sakit kalo ngak ... " Aku membuaţ tanganku bekerja memijat sesuatu dibawah sana, membuatnya berhenti bicara, dan dia menciumku dengan kuat sebagai balasannya.
Ini akan selesai dengan cepat karena dia perlu istirahat seperti yang dia bilang.