TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 28. Awkward Start 2


__ADS_3

"Maksudku, dia punya harapan, tapi kau adalah kau. Bukan Sayuri. Tapi terima kasih sudah bersikap baik padaku. Aku menghargainya..."


"Mungkin kita bisa mencoba." Perkataannya seperti tak yakin. "Maksudku mencoba berjalan bersama, mengenal satu sama lain."


"Aku bukan Yuna yang cantik mempesona."


"Aku juga bukan gaijin yang tampan seperti kekasih masa lalumu." Kami saling melihat satu sama lain.


Aku tersenyum, ini lucu. Penawaran kencan yang tidak biasa. Apa orang berkencan di Jepang saling tawar menawar seperti ini.


"Ini terdengar seperti perjanjian bisnis." Aku menatapnya. Dia berhenti di sebuah sisi jalan sehingga kami bisa bicara.


"Aku serius. Aku mungkin tak terbiasa mengatakan hal-hal yang terlalu manis, tapi aku bersedia menjadi teman yang bisa kau andalkan, aku tak tahu pendapatmu terhadapku. Tapi bagaimana jika kita berjalan saja." Dia berhenti di


"Dan apa pendapatmu terhadapku."

__ADS_1


"Kurasa kau tak menyukaiku. Jika Gaijin kemarin mengajakmu jalan kau akan lebih memilih dia daripada aku." Dia lucu juga, masih membawa gaijin yang hanya kujelaskan bagaimana cara mengaduk bubur.


"Demi apapun, aku hanya menjelaskan bagaimana caranya mengaduk bubur." Aku tertawa sekarang.


"Entahlah. Mungkin aku berlebihan. Tapi aku tak suka bagaimana kau tersenyum padanya." Aku menyukai perasaan di cemburui. Debaran ini menyenangkan. Dia bicara terus terang dan membuat segalanya tak perlu meraba-raba lagi. Tapi caranya mengatakannya membuatku berpikir dia sendiri tak yakin.


"Kenapa kau mengatakan semua ini, menurutmu aku tipemu, jika kau mau mendapatkan bintang manapun kau bisa melakukannya, wanita secantik Yuna? Apa kau menyukaimu, atau kau hanya ingin menyenangkan Sayuri?"


"Shiori, jika aku tak menyukaimu aku tak maju sampai kesini." Dia menjawab cepat. "Tapi masalah apakah kita merasa cocok satu sama lain, kita bisa lihat nanti."


"Baiklah, aku tahu kau tak pernah menyukaiku?" Dia membuat ekspresi hopeless yang kusuka.


"Bukan, aku hanya berpikir aku bukan tipemu. Dengan mempertimbangkan pacarmu sebelumnya."


Dia menghela napas, mencari sesuatu di ponselnya dan memberikan padaku sebuah foto.

__ADS_1


"Ini istriku yang meninggal namanya Sayako, apa dia terlihat seperti bintang film." Dia memperlihatkan seorang wanita manis yang berdiri bersamanya dan Sayuri kecil. "Dia wanita sederhana, tapi sangat mencintai keluarganya. Cuma itu. Dia bukan penyanyi, model, bintang film atau profesi glamor lainnya. Kami dulu satu kampus, bersahabat, sempat berpisah beberapa tahun bertemu lagi dan kemudian menikah. Sesederhana itu."


"Begitukah. Itu nampaknya kisah yang tenang, bersahabat dari kuliah."


"Jika kau tanya apa Sayuri mempengaruhiku. Sebenarnya dia yang pertama bertanya, apa aku menyukaimu, kenapa aku tak mencoba, kupikir kau wanita yang sulit, mendekatimu akan langsung dihadapkan pada ujian macam-macam, kupikir kau tidak menyukai pria Jepang, mungkin satu saat kau akan bertemu dengan gaijin tampan, bahkan aku yakin kau punya banyak pikiran jelek tentangku."


"Apa aku begitu menakutkan." Aku tertawa.


"Aku pernah mendengarmu membantai teman kencan butamu. Padahal dia sudah di posisi mapan. Apa kau lupa... Kau mengangkatnya setinggi langit lalu kau melemparnya ke bawah sampai dia lari ketakutan." Aku diam dan tersenyum kecil.


"Jika kau tak punya masalah dengan wanita yang sedikit lebih pintar darimu, kadang keras kepala punya pendapatnya sendiri, itu tak masalah, aku juga ingin tetap bekerja."


"Aku tak punya masalah. Asal kau harus tahu semua harus dikompromikan jika ada masalah di depan."


Mungkin aku bisa mencoba berjalan dengannya. Anggap saja ini perkenalan setelah kencan buta.

__ADS_1


"Hmm baiklah. Aku akan menganggap ini kencan buta pertama kita. Tapi aku tak mau langsung menerimamu sebagai kekasih, bagaimana kalau kita teman dekat dulu. Aku bermasalah dengan ide menerima seseorang sebagai pacar di kencan buta pertama. Itu tidak akan terjadi, lagipula kau tidak meyakinkan." Gantian dia yang tertawa.


__ADS_2