
POV Louis
Aku terbangun dengan seseorang di sampingku. Bukan sesuatu yang lazim lima tahun belakangan. Terlalu senang menikmati kesendirian. Tidak membiarkan siapapun mendeka
"Putri tidur, kau sudah bangun." Matanya berkedip melihatku dan menutup kembali, nampaknya masih ingin tidur. Dia bekerja keras untuk fashion shownya.
"Jam berapa ini."
"Tujuh. Kau harus pergi jam berapa?"
"Jam 9."
"Tidurlah lagi. Masih ada waktu tidurlah lagi." Dia bergelung di dekatku. Kurapikan rambutnya yang berantakan. Rambutnya halus sekali, aku suka menyentuhnya. Tapi malah membuka matanya.
"Kenapa kau senang sekali memainkan rambutku."
"Halus, menyenangkan menyentuhnya.." Aku tersenyum dan merengkuhnya. Mencium matanya agar terpejam lagi. Aku suka melihatnya tertidur. "Tidurlah lagi." Dia memelukku.
"Louis, kau tak mengunjungiku ke LA akhir pekan minggu depan."
"Jadwalku padat dalam 2 minggu ke depan. Sabtu juga ada jadwal pertemuan bisnis, akan kulihat apa bisa..Kau hanya pergi dua minggu bukan."
"Iya. Tapi aku sudah merindukanmu sekarang. Kenapa LA dan NY bergitu jauh." Aku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Jika kau di NYC, kita bisa bersama hingga kau bosan. Jadikan apartmentku rumahmu saja." Sekarang ganti dia yang tersenyum.
"Ehm... kita baru menjadi kekasih satu hari. Aku masih merindukanmu."
"Nanti sore pulanglah ke apartmentku jika begitu, bawalah bajumu. Tinggallah bersamaku sampai kau berangkat ke LA nanti."
"Hmm ... baiklah." Dia tersenyum.
"Sayang kau yakin orang tuamu menyetujui hubungan kita." Sebuah pertanyaan yang mengganguku sejak lama.
"Aku sudah 35 tahun, orang tuaku tidak menganggapku anak kecil lagi. Kenapa kau khawatir pada hal semacam itu. Begini saja nanti kukenalkan kepada kakakku oke. Kakak yang paling peduli padaku. Aku tak tahu kapan dia ke NYC, tapi dia sering ke sini. Aku senang kau sudah memikirkan orang tuaku. Kita baru 24 jam menjadi kekasih, kau sudah memikirkan persetujuan keluarga."
"Kau putri seseorang, bagaimana aku tak kuatir. Seperti yang kubilang dari awal aku bukan pemilik sepertimu. Lagipula Ibuku sendiri ingin aku menikah lagi sebenarnya. Tapi kau tahu apa ceritaku..."
"Kau mau kita menikah secepatnya?" Dia yang bertanya dengan antusias sekarang.
"Kau benar. Buat apa buru-buru nikmati saja kebersamaan kita dulu."
"Kapan kau ke LA honey?"
"Selasa. NYC dan LA memang jauh. Lagipula jadwalku padat, tak udah paksakan. Aku hanya senang menjadi manja padamu. Nanti aku akan ke NYC lagi."
"Kau yakin, biasanya wanita mengatakan sesuatu yang berbeda antara hati dan kemauannya."
__ADS_1
"Itu terjadi ketika aku berusia 20 tahun sayang, sekarang aku sudah tahu lebih baik meminta terang-terangan tanpa drama." Dia tertawa.
"Baiklah, jika kau kembali aku akan menjemputmu di Bandara oke."
"Iya baiklah." Senyumnya mengingatkanku pada Chelsea kadang. Tapi dia bukan Chelsea, dia mata-mata MI6 yang jatuh cinta padaku.
\=\=\=\=\=####\=\=\=\=\=
"Jadi kau punya kekasih sekarang?" Katya alias Nathalie yang sedang berada di NYC menginterogasiku. "Kenalkan pada kami Louis."
"Julie Harris." Nathan menyambarnya.
"Julie Harris, maksudmu pemain film dan model itu?!" Nathalie langsung membelalak menatapku.
"Tepat." Nathan meringis. "Bangs*at ini punya keberuntungan bagus." Mereka sudah punya seorang putra berusia tiga tahun sekarang.
"Astaga, bagaimana kau bisa mendapatkan anak orang kaya plus artis seperti itu?" Aku mengangkat bahu.
"Entahlah itu terjadi begitu saja. Kami baru jadian."
"Kau tahu gadis itu terbang dari London pagi-pagi sekali saat Louis tertembak. Padahal Louis tadinya membuatnya patah hati dengan berpura-pura punya pacar. Akhirnya itu menggerakkannya juga." Nathan tertawa.
"Dia memang tukang jual mahal dari dulu." Aku meringis lebar disindie begitu. Nathalie tak tahu ceritaku bersama Chelsea. Hanya Nathan yang tahu.
__ADS_1
"Dia bilang dia ada dekat sini. Kalian mau berkenalan dengannya, kuajak dia makan malam bersama kita."
"Tentu saja boleh." Nathalie yang menjawabku sekarang.