TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 29. Awkward Start 3


__ADS_3

"Baiklah. Kita teman dulu, jika kau atau aku tidak ingin melanjutkan kita bisa mengatakannya terus terang, tapi tidak ada yang punya hubungan dengan yang lain sebelum itu. Itu saja kurasa."


"Baiklah, aku setuju." Ya itu persyaratan yang masuk akal.


Sekarang dia mulai bisa tersenyum. Mungkin ini seperti keberhasilan baginya. Tapi ini bagiku entah kenapa terasa seperti perjanjian kerjasama bisnis. Walaupun selama ini dia memang punya sikap yang baik. Aku tak tahu, mungkin ini akan berjalan baik, mungkin kami akan benar-benar menyukai satu sama lain.



Kami sampai di sebuah restoran kemudian. Dia menungguku turun dari mobil dan menjejerinya.


"Boleh kugandeng." Permintaannya yang diajukan dengan mengulurkan tangannya itu berhasil membuatku tersenyum kecil. Hal manis pertama yang dilakukannya. Jauh lebih baik daripada 'mungkin kita bisa mencoba'.


Aku mengamit tangannya. Pertama kali kami berpegangan tangan.


"Terima kasih." Aku meringis ketika dia berterima kasih. Dia sopan sekali, kenapa dia harus mengatakan terima kasih.


Tak lama kami sampai ke meja kami, restoran Italian itu tidak begitu ramai sehingga kami bisa memilih meja yang nyaman.

__ADS_1


"Sebaiknya Sayuri tidak tahu soal ini, nanti dia mengharapkan banyak hal. Aku takut kita mungkin akan mengecewakannya jika ini tidak berhasil. Jadi kita beritahu dia jika kita benar-benar yakin." Aku memikirkan tanggapan Sayuri.


"Aku mengerti, kadang dia memang terlalu menuntut. Maafkan dia."


"Tak apa, mari kita berteman saja di depannya. Dia sudah pernah kehilangan Ibunya, dan tak punya Kakak, dia hanya ingin teman bicara yang memahami dirinya kukira. Bagaimanapun gadis remaja punya hal-hal yang lebih mudah dibicarakan sesama wanita."


"Aku terlalu sibuk belakangan, dia pasti agak kesepian. Tapi dia juga pulang malam dengan begitu banyak les yang diikutinya. Terima kasih sudah bersedia menjadi teman bicaranya."


"Dia menyayangimu, dia bilang kau Ayah terbaik. Dia tak segan memujimu."


"Ini lucu. Bukan dijodohkan oleh orang tua, kita seperti di jodohkan oleh anakmu." Dia diam. "Bagaimana kau bertemu dengan Yuna."


"Ada sebuah acara kolega yang mengundang dia, aku dikenalkan oleh temanku. Kami bertukar nomor telepon, kurasa dia lebih banyak yang mengambil inisiatif setelahnya, mengajak bertemu dan sebagainya." Sudah kupikir begitu, Yuna mengejarnya.


"Hmm... Selama ini kau tidak pernah punya pacar sebelumnya."


"Tidak, kurasa aku menjaga perasaan Sayuri, baru empat tahun yang lalu Ibunya pergi. Aku tak mau melukai kenangannya tentang Ibunya."

__ADS_1


"Kau memang Ayah yang baik."


"Aku tahu ini canggung, tapi aku sudah lupa caranya merayu. Kurasa dalam hidupku aku tak pernah merayu kurasa, istriku pacar pertamaku, kami sudah jadi sahabat, semuanya tanpa usaha terlalu keras.


"Dasar kaku. Mungkin kita bisa mencoba, ...Itu pertanyaan paling aneh yang pernah kudengar, paling tidak meyakinkan." Aku meringis, aku bicara apa adanya, dan tak akan bermanis-manis padanya.


Dia tersenyum.


"Iya, aku minta maaf. Aku tak yakin kau menyukaiku. Tapi memang aku tidak diterima akhirnya." Dia malah minta maaf, aku antara mau menertawainya dan kasihan.


Makanan kami datang kemudian. Kupikir setidaknya dia menerima aku hanya memasang kami berteman sampai sekarang. Jika itu terjadi, jika kami memang ingin bersama, bukan melalui pembicaraan seperti ini.


Aku ingin itu terjadi begitu saja. Saat kami benar-benar nyaman dan cocok satu sama lain. Aku tak punya keyakinan dia juga nampaknya tidak.


Makan malam berjalan biasa. Kami bukan sekali ini mengobrol, walaupun sekarang ada kata "teman dekat" , anggap saja ini salah satu Omiai (acara perjodohan) lainnya.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2