TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3. Part 19. Kick Out The Enemy 6


__ADS_3

"Dia teman atau calon teman hidup?" Bibi Yun Lan menyenggolku, sambil berbisik sambil meringis lebar. Aku sekarang tertawa kecil. Kami berbisik-bisik di belakang area ruang makan sementara Papa dan Kak Cheng mengobrol di ruang tengah.


"Tadi dia datang menghiburku, sebenarnya kami dijodohkan oleh orang tua kami, tapi dia bilang dia tak bisa memutuskan apapun dalam waktu yang terlalu singkat, jadi dia tak pernah mengatakan apapun selain kami bekerjasama untuk bisnis. Walau ya kami juga teman ngobrol yang baik. Tapi tadi aku mengajaknya ke sini dia mau... Bukankah itu bagus Bibi."


"Bagus sekali, sekarang kita perlu segera menentukan tanggal saja, apa yang harus di tunggu lagi. Dia terlalu lambat." Aku tahu Bibi Yun Lan bercanda untuk membuatku senang, tapi aku jadi memikirkan terlalu jauh sekarang.


"Entahlah, ...masih kurasa. Pacaranpun belum, dia orang yang sangat hati-hati. Tapi entah kenapa dia bersedia datang kesini."


"Untuk membuatmu bahagia sayang..." Kata-kata Bibi Yun Lan membuatku melayang. "Bukankah dia manis, dia tahu kau sedih jadi dia menuruti permintaanmu."


"Bibi, jangan membuatku terlalu melayang." Dia tertawa.


"Bilang saja kau sudah berbunga-bunga dari tadi." Bibi Yun Lan tambah menggodaku.


"Tapi ya jika dia mau berusaha begitu jauh untuk menemanimu ke sini. Pasti itu hal yang bagus. Artinya paling tidak dia mau berusaha untukmu. Tenang saja, kalian akan bersama."


"Dia orang yang paling tenang yang pernah kutemui. Aku selalu kesulitan menebak apa isi hatinya tapi kau benar, dia bersedia kesini itu adalah pertanda baik."


Aku melirik Papa yang sedang mengobrol dengan Kak Cheng. Aku mengatakan dia sebagai teman. Adikku malah belum datang, jadilah aku malah mengobrol dengan Bibi, sementara Kak Cheng dengan Papa akhirnya.


Papa mengenal Kak Cheng, dan tahu posisinya sebagai partner utama keluarga Chan, juga sedikit tahu soal cerita perjodohan ini, walaupun karena aku memperkenalkannya sebagai teman Papa tak meyinggungnya, mereka nampak tak punya kesulitan mengobrol.


"Nah itu adikmu baru datang,..." Bibi membuka akses setelah intercom berbunyi. Aku terakhir bertemu dengan adikku saat New Year, sekarang dia membawa pacarnya, nampaknya mereka akan segera menikah, aku turut bahagia untuknya


Makan malam berjalan penuh tawa, kami berkenalan dengan calon istri adikku yang nampaknya seorang gadis dengan pembawaan tenang dan lembut seperti Tante Yun Lan. Mereka kelihatan cocok satu sama lain.


Adikku menanyakan siapa yang kubawa tentu saja, karena aku menyebutnya teman baik. Kuceritakan saja apa adanya padanya.


"Hmm, Papamu itu jahat sekali Kak, kenapa dia memperlalukan Mama seperti itu dan sekarang kau dan adik-adik."


"Entahlah, mungkin sudah kena cuci otak oleh selingkuhannya. Aku sudah menyerah membicarakannya."


"Baiklah lupakan orang seperti itu. Kau tak salah melawan Ayah seperti itu, dan aku harap temanmu itu segera menjadi teman hidup." Aku tertawa mendengar kata-katanya.


"Kau juga. Semoga rencana pernikahan kalian nanti berjalan lancar." Adikku akan menikah lebih dulu dariku ternyata.


Aku pulang dengan gembira dari rumah Papa malam itu. Melambai ke pada mereka dan berjanji mengunjungi mereka lagi jika kami punya kesempatan.


"Kau senang." Kami sudah dalam perjalanan pulang. Dengan Koko ganteng ini di sampingku malam ini rasanya bintang bersinar lebih cerah.


"Tentu saja."


"Mau jalan-jalan lagi?"


"Tidak aku lelah. Tapi besok aku bekerja di rumah mengecek laporan dari Shanghai. Tidak ada pertemuan.


"Istirahatlah besok jika begitu." Aku menatapnya, kenapa dia tidak mengatakan sesuatu tentang kami, apa saja. Haruskah aku bertanya. Apa dia terlalu kaku untuk bicara.


"Kau bersedia ikut ke rumah Papa? Apa artinya, boleh aku bertanya?"


"Aku hanya ingin kau melupakan kesedihanmu. Aku mengabulkan keinginanmu."


Itu tidak mengatakan apapun. Dia hanya ingin aku melupakan kesedihanku. Pandanganku kembali ke jalan. "Terima kasih. Ini sangat berarti."


Dia baru akan bertugas di Hongkong lagi, mungkin belum saatnya baginya. Kami masih punya banyak waktu. Kami jadi bisa banyak bertemu sekarang.


Kami sampai ke tempat aku memarkirkan mobil.


"Baiklah, terima kasih sudah menemaniku. Aku pulang dulu."


"Aku akan meneleponmu besok. Istirahatlah." Dia memang selalu sopan.


"Bye, kau juga istirahatlah..." Aku menepuk lembut lengannya sebagai tanda terima kasih dan menarik diriku sendiri. Masih banyak hari-hari berikutnya untuk di jalani.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari berikutnya aku mulai rolling dengan fokus 40 orang dalam targetku dengan Paman. Menjadi penghubung dengan Philip, singkat kata aku jadi Business Representativenya Paman sebagai calon CEO mengantikan Ayah.


Ayah, aku tak memikirkannya lagi, terserah apa yang ingin dia lakukan


Kali ini aku bertemu seorang bernama Tuan Hong Qiao. Aku menunggunya di sebuah restoran untuk makan siang.


"Cherrie, senang bertemu denganmu lagi." Seseorang menyapaku, aku mendongak, seharusnya paman usia 60, kenapa yang muncul anak muda seumurku?


"Hallo ..." Aku binggung tak mengenalnya.


"Kau tak ingat aku lagi bukan."


"Sorry, ini salahku. Apa kita pernah bertemu?"


"Stephen Qiao, teman SD mu."


"Stephen Qiao, astaga, kau yang dulu selalu juara kelas." Dia tertawa.


"Benar, kutu buku sepertiku tak pernah kau ingat bukan." Aku tertawa.


"Maafkan aku ingatanku tak sebagus kau. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu."


"Kau benar, sejak kau pindah sekolah di tingkat 5 kita sudah tak bertemu lagi."


Pembicaaan beralih ke menanyakan ke bisnis kemudian, dia mewakili Ayahnya bertanya cara mendapatkan faselitas "preffered stock" yang ditawarkan Philip, dia punya saham cukup besar sekitar 1,5% akan sangat baik untuk tambahan dukungan.


"Aku akan menyampaikannya pada Ayahku. Kita masih punya waktu cukup panjang sampai akhir Juli."


"Iya masih akhir Juli. Kuharap kalian bisa bergabung dengan kami."


"Aku akan merundingkan dengan Ayah. Dia tertarik jadi seharusnya dia akan segera menyetujuinya. Oh ya, sekalian kita sudah bertemu. Aku dan teman-teman punya acara di nanti malam. Kau mau ikut, ada beberapa orang juga investor di Shin Heng , aku bisa kenalkan, tapi nampaknya mereka timpang ke Ayahmu." Stephen meringis sendiri. "Jika dipikir-pikir kai melawan Ayahmu sendiri bukan, kalian memang kacau, maafkan aku berkomentar begini." Aku mau tak mau meringis.


Dia menyebutkan sebuah klub executive, well, sudah lama aku tak pernah bergabung ke acara seperti ini, bisa dibilang 3 tahun ini sejak lebih banyak di Jakarta dan Shanghai aku jarang sekali minum, karaoke, party, acara hura-hura seperti ini lagi. Tapi ini demi kemenangan kami. Ya baiklah.


"Aku akan ikut, nanti malam oke."


Kami berpisah, dan aku berpikir apa aku harus mengajak teman. Tapi siapa yang kuajak di wakti yang sesingkat ini. Kak Cheng? Apa dia mau, belakangan malam dia selalu menelepon, kadang jika dia bisa dia mengajakku mqkan malam, mungkin aku bisa mengajaknya.


'Koko, aku harus menghadiri sebuah party dengan seorang teman sekolah yang juga adalah investor, katanya ada beberapa temannya juga investor tapi kemungkinan dari sisi Papaku yang akan bergabung.'


'Dimana.' Kusebutkan sebuah tempat di Kowloon.


'Itu klub malam. Kau sendirian, dia teman yang bisa kau percaya?'


'Teman sekolah, tingkat 5, sudah puluhan tahun tak bertemu sebenarnya. Acaranya jam delapan.'


'Aku punya makan malam dengan kolega bisnis. Kau disana pasti harus minum, biar aku menjemputmu segera setelah aku selesai, lihat saja apa aku bisa bergabung cepat atau tidak. Tapi aku usahakan bisa menyusul segera.'


Dia ternyata bersedia, bersedia menjagaku. Dia memang bisa selalu diharapkan. Walaupun dia tidak mengatakan sesuatu yang pasti tentang hubungan kami, tapi dia bertindak seakan dia menganggapku sebagai seseorang yang harus dia jaga.


Aku berangkat dengan tenang kemudian. Bertemu dengan Stephen sesuai dengan kesepakatan kami.


"Ahh kau bisa datang ternyata." Stephen yang menyambutku sendiri. Ruangan ternyata sudah ramai, aku tak mengenal siapa saja yang ada di sana. Tapi ada 5orang pria, aku dikenalkan dengan mereka plus ini klub malam, yang menemani mereka malah adalah gadis-gadis yang ada di sana.


Kurasa tempat ini tidak cocok untuk pembicaraan bisnis sama sekali, dari awal aku masuk sudah sangat berisik disini, bagaimana mungkin aku bisa melakukan pembicaraan bisnis, tadinya kupikir mereka semacam makan malam dulu tapi ternyata tidak, malah wanita-wanita ini sudah sibuk menuang minuman dan bernyanyi sepagi ini.


Sia-sia saja rasanya aku kesini. Tapi baiklah, aku tak bisa langsung pergi karena sudah disini.


"Ahh kenalkan teman-temanku,..." Stephen sekarang memperkenalkanku ke lima orang pria yang ada disana, untungnya dia kemudian memberi tanda kepada kepada para gadis-gadis itu untuk berhenti bernyanyi sehingga kami lebih leluasa berkenalan sebentar.


"Kau anaknya Wong Lee Man, tapi kau bersebrangan dengan Ayahmu bukan." Salah seorang temannya mengajakku mengobrol.

__ADS_1


"Aku membela sisi Ibuku."


"Ya, kurasa anak manapun pasti akan melakukan hal yang sama denganmu. Aku dengar ada penawaran menarik di sisimu." Akhirnya aku dapat kesempatan bicara juga di sini.


"Iya, jika kalian masuk kalian bisa..." Aku menjelaskan semuanya dengan bersemangat. Mereka tampak mendengar.


"Hmm, menarik akan kami pikirkan."


"Mumpung kau sudah disini, ayo kami traktir minum saja. Kapan lagi kami bisa mentraktir putri Wong Lee Man." Aku harus tinggal sebentar dan berbaur setidaknya, setengah sepuluh kurasa aku cabut saja.


Baiklah, aku ikut minum dan bernyanyi beberapa lagu bersama mereka, mereka cukup ramah sebenarnya. Plus mereka berkata meraka yang membayar bill, aku tak punya masalah dengan mereka.


Masalah datang saat aku sadari nampaknya aku mabuk, ini aneh tadi aku tahu seberapa banyak aku minum. Aku punya toleransi cukup baik.


Seketika alarm bahaya berdentang di kepalaku.


"Aku mau ke toilet dulu."


"Hei...hei, Cherrie, bantu aku selesaikan lagu ini dulu. Jangan pergi dulu."


Sial, aku belum sempat mengatakan pada Kak Cheng nomor roomku. Kugapai ponselku, kuketikkan


'Help. Lantai 4, ruangan 2."


"Tidak, aku mau ke toilet dulu." Kepalaku berat, aku harus segera keluar dari sini. Keparat ini memasukkan sesuatu dalam minumanku, aku datang ke kandang singa. Aku mencoba berdiri, tapi pandanganku goyah, aku langsung duduk lagi.


"Kau mabuk? Kau punya toleransi alkohol rendah?"


"Stephen, ..." Salah seorang pria itu tampak memberi tanda. Apa yang mau mereka lakukan.


"Aku mau ke toilet!" Aku harus berusaha keluar dan meminta seseorang menolongku.


"Cherrie duduk dulu, kami akan mengantarmu nanti. Ada seseorang mau bertemu denganmu, jangan pergi dulu."


"Siapa?" Jangan-jangan Nathan Chow yang sengaja memasang perangkap ini. Pintu terbuka.


"Ahhh Cherrie kekasih cantikku, ternyata kau ada disini, senang sekali bisa bertemu dengammu lagi." Bang*sat itu Nathan Chow! Berani dia menggunakan cara kotor seperti ini. Aku akan membunuhnya jika dia berani menyentuhku.


"Kau memang bang*sat." Kepalaku tambah berputar. Dia duduk di sampingku dan merangkul pinggangku.


"Kau yang memilih jadi musuhku Cherrie sayang. Jika kau bekerja sama tak akan ada cerita seperti ini. Cantik, kenapa kau harus bersama dengan Anthony Cheng itu, apa bagusnya dia, kau sangat membuatku kecewa."


"Lepaskan aku!"


"Akan kulepaskan sayang, banyak yang harus di lepas malam ini."


"Lepas!" Kucakar mukanya dengan sisa tenaga dan kesadaran yang kumiliki.


"Gadis si*alan! Berani kau mencakarku!" Sebuah tamparan membuatku terhuyung ke belakang. Pandanganku nanar, aku ingin mengapainya, tapi fokusku sudah buyar.


"Dia tidak bisa berdiri lagi. Sabar saja dalam kurang dari lima menit dia tertidur, kau bebas melakukan apapun padanya."


"Kau benar! Gadis sombong ini memang perlu di service dengan benar. Biar dia tidak bisa lagi berpikir melawan kita."


"Bangsat! Aku akan membunuh kalian!"


"Cherrie sayang, kau kejam sekali. Kita menikah saja bagaimana, kujamin kau akan bahagia denganku."


"Manusia rendahan! Kau memang tak punya malu!"


Itu kalimat yang terakhir ku ingat karena setelah itu mataku sudah menggelap.


\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2