TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 24. The Real Revenge 5


__ADS_3

"Saya menawarkan Anda sepertiga bahkan lebih uang saya!? Apa itu belum cukup?!" Ternyata dia tak selamanya bisa merendah juga.


"Terlambat Tuan Alberto, uang Anda sudah tak berharga lagi. Berita Anda sudah diketahui di seluruh USA dan Europe. Tidak ada lagi yang bersedia menolong Anda. Walaupun Anda bisa memberikan saya 300 juta dollar saya lebih suka menganggap uang Anda sampah. Bagaimana rasanya sekarang, uang Anda hanya sampah. Lebih baik kau bakar saja untuk mencuci dosa."


"Bangsat rendahan!? Kau berani mempermalukanku seperti ini." Dia merangsek ke Louis, ingin mencengkram kemejanya. Tiga pengawalnya bergerak, tapi Louis memberi tanda bahwa dia akan menghadapinya. Dia sudah menunggu kesempatan ini sejak lama.


"Kau memang pantas dipermalukan!" Sambil mengatakan itu Louis melayangkan pukulannya sekuat tenaga.


Pukulan keras Louis mendarat di rahang pria 55 tahun itu membuatnya terpelanting ke lantai dingin di kantor Louis. Dua orang yang ikut bersamanya ingin membantunya. Tapi pengawal Louis menahan mereka tetap di depannya. Kali ini mereka membiarkan boss mereka menghajar pembunuh istrinya sendiri. Dendam yang sudah terpendam memang perlu di balaskan.


"Bangun bangsat, mana cambuk besimu yang kau banggakan heh." Louis mengangkat pria yang bahkan belum bisa berdiri karena kepalanya masih pusing itu. "Katakan apa yang kau katakan padaku kemarin, pemakan bangkai?! Bukannya kau pemakan nyawa! Kau tidak ingat apa yang kau lakukan. Sekarang kita lihat apa uangmu bisa menyelamatkan nyawamu! Kau tidak ada harganya di mataku. Uangmu yang banyak itu hanya sampah di depan mataku! Bahkan tak bisa membeli sedetikpun kebebasanmu!" Dua pukulan jab sekuat tenaga ke perutnya membuat Alberto terbungkuk dan jatuh terbatuk-batuk.


"Menjijikkan! Kau manusia menjiji*kan! Bangs*at!" Sekarang Louis menendangnya berkali bagai sampah.


"Boss, cukup! Itu sudah cukup!" Tommy menahan Louis membawanya menjauh, jika ini dibiarkan Louis akan membunuhnya. Dia tahu kerasnya pukulannya Louis. Orang yang tak lagi dalam kondisi mudanya itu bisa patah tulang rusuknya jika dilanjutkan, atau mungkin sudah sekarang.


"John, Henry bawa mereka keluar! Mereka membuatku muak!" Akhirnya Louis menendang mereka keluar.


"Kau punya dendam apa pada Pamanku hah! Kami datang baik-baik kesini.Bangsat, aku akan membunu*hmu!" Rupanya orang yang ada di sampingnya itu keponakannya.


"Oh kau punya kemampuan membu*nuh Bossku, langkahi aku dulu jika kau bisa." John mendorongnya keluar, pemuda yang mungkin baru berumur 30 tahun itu langsung terpancing melayaninya. Tapi dalam sekejab dia tahu dia bukan lawannya. Orang kedua yang mencium lantai dingin ruangan Louis. Setelah bogem mentah pasukan elit itu menemukan sasarannya.


"Mana? Kau sudah punya kemampuan? Begitu saja? Membu*nuh orang? Menjaga nyawamu tetap dibadan saja tidak bisa!"


"Keluarkan mereka sekarang, cukup main-mainnya." Tommy turun tangan sekarang. Baru kali ini mereka menghadapi pengacau di sisi Louis. Tapi memang bukan hal yang mengherankan karena Louis juga sudah menahan diri untuk bersikap tenang sekian lama. Bersama keamanan di lantai itu mereka membawa orang-orang itu pergi. Para pegawai di lantai itu baru sekarang melihat ada kerusuhan, sebagaian dari mereka tak mengerti kenapa boss mereka seperti 'heavy armored (dipersenjatai dengan berat) baru sekarang mereka melihat kegunaan heavy armored itu.


"Kau tak apa boss?" Tommy mengecek Louis kembali, memastikan dia baik-baik saja.

__ADS_1


"Tak apa Tommy, tinggalkan saja aku sendiri."


"Baik." Tommy meninggalkannya sementara dia berdiskusi dengan yang lainnya. Sekarang dia harus melapor ke Nathan.


"Boss tadi Boss Louis menghajar Alberto. Kurasa dia menghajarnya cukup parah."


"Sudah kuduga dia akan melakukannya, biarkan saja. Bajingan itu tak sampai tewas bukan."


"Tidak mungkin rahangnya geser ditambah tulang rusuknya mungkin retak saja. Saya hanya harus menghentikannya, jika tidak dia mungkin benar akan membu*nuhnya."


"Itu bagus, dia berlatih untuk itu. Jika tidak tidak ada gunanya. Perketat keamanan, sekarang Alberto belum sepenuhnya di tinggalkan oleh pengikutnya, dia masih punya orang yang setia mengikutinya. Akan ada resiko keamanan setelah dia menghajar orang yang tidak pernah diremehkan seperti itu."


"Saya mengerti. Kami akan lebih waspada."


Sementara Louis akhirnya merasa bisa melakukan apa yang harus dilakukannya, menghajar bajingan itu dengan tangannya sendiri.


Rasanya tidak juga melegakan. Tapi dia sudah sampai di titik ini. Akhirnya semua latihan yang dia lakukan berguna untuk menghajar sampah itu. Hari ini, detik ini dia seperti membayar hutang kepada dirinya sendiri walaupun tidak juga membuat perasaan sedihnya hilang.


'Sir, beritanya akan positif tayang lusa. Saya sudah mengkonfirmasi ke Kimberly, dia bilang mereka akan menangkapnya besok siang.' Assisten mengirimkan pesan.


'Bilang ke Kimberly, aku baru saja menghajarnya, kurasa tulang rusuknya retak." Di seberang sana assistennya mengangga.


"Mengerti Sir." Tapi dia tetap membalasnya dengan biasa.


Tentu saja Kimberly yang sedang bersemangat tak mau ketinggalan berita.


"Kau menghajarnya? Dengan tanganmu sendiri?! Astaga aku ingin melihatnya." Dia tertawa untuk menawarkan perasaannya sendiri yang kacau.

__ADS_1


"Kukirimkan rekamannya padamu. Itu pantas dilihat."


"Kau terdengar sedih walau tertawa. Kenapa?" Kimberly bisa menangkapnya entah mengapa, mungkin karena rasanya juga sama baginya. Dia mungkin tertawa tapi ada bagian dirinya yang tetap terasa sedih, perasaan ini dia sendiri tidak mengerti.


"Kenapa rasanya membalas dendam tidak membuatmu puas? Seorang mengatakannya padaku sekarang aku tahu rasanya." Kimberly diam mendengarkannya, dia tahu kebenarannya.


"Iya aku tahu, mungkin ini hanya menyelesaikan rasa bersalah kita sendiri, selama kita belum belajar melepaskan rasa itu tetap tinggal bersama kita. Mungkin itu jawabannya. Aku juga sama, rasanya masih tetap sedih. Tapi setidaknya aku sudah menunaikan janjiku pada diriku sendiri. Mungkin setelah ini aku bisa mengatakan pada diriku. Chelsea sudah tenang, dan mendoakannya lebih tulus." Kimberly sejak kemarin sudah memikirkan kenapa dia merasa begitu.


"Iya mungkin kau benar. Kita menyelesaikan hutang ke diri kita. Tapi perasaan kita tetap sama, karena kita tak pernah belajar melepaskan." Rasa sakit dan sedih yang ada bersama mereka bertahun-tahun tetap ada disana.


"Tapi ini belum selesai Louis, sampai palu diketuk ini belum selesai."


"Iya aku tahu. Kita memang belum selesai. Baiklah kau benar, kita melakukan ini untuk menyelesaikan hutang ke diri sendiri. Kita akan terus jalan sampai akhir."


"Setuju, kita jalan sampai akhir." Bertahun-tahun mereka memperjuangkan ini. Tidak akan ada kata menyerah sebelum palu diketuk.


Louis menghubungi beberapa broker saham untuk menyebarkan berita akan di tangkapnya Alberto Tosar besok siang. Mereka akan memberi tahu beberapa pemain besar mereka untuk melarikan dananya segera. Impactnya adalah yang lainpun akan ikut melarikan dana. Dalam waktu 2-3 hari kemudian apalagi nanti setelah berita tentang penjahat itu keluar rinciannya di koran, maka sahamnya akan terpangkas besar-besaran.


"Boss setuju untuk mengambil alih, dia sudah berunding dengan orangnya sendiri. Kau ingin namamu di taruh di sana?" Nathan menawarkannya jabatan di perusahaan musuh bebuyutannya. "Tapi jika kau terlibat kurasa kau akan sulit melepaskannya."


"Aku tak tahu, boleh aku putuskan nanti Nathan."


"Tentu. Lagipula itu masih harus menunggu proses. Prosesnya tak akan melibatkanmu, akan kusuruh Alan melihat penurunan terendahnya. Kudengar kau menghajarnya?" Louis tertawa.


"Iya aku menghajarnya tapi sepertinya yang kau bilang, rasanya sama saja."


"Ya, itu hanya memuaskan sesaat. Tapi setelah itu , akan tetap sama. Tapi setidaknya untuk ini tujuanmu. Setelah menyelesaikannya kau akan mampu melihat tujuan baru."

__ADS_1


"Kau benar. Melihat tujuan baru."


Bagaimanapun chapter ini harus berakhir di depan sana harus ada tujuan baru.


__ADS_2