TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 5. Cinta itu Penyakit


__ADS_3

Aku kembali kerumah dengan perasaan senang hari ini, kubuka pintu apartment kami. Mama sedang senang nampaknya, bibirnya tersenyum melihat layar ponselnya. Mama sudah berusia 60 tahun dia sudah dirumah saja, dulunya  dia adalah entertainer, penyanyi dari bar ke bar, hanya penyanyi biasa tapi sudah bertindak sebagai tulang punggung keluarganya di Kalimantan sana. Dan aku lahir dari hubungannya dengan seorang yang  dikenalnya di tempat bekerjanya.


Singkat  cerita hubungan Papa dan Mama tidak disetujui keluarga Papa, dan jadilah nenek yang merawatku sementara Ibu kembali bekerja. Ibu berkata dia mencintai Ayahku, mereka saling mencintai, dia mengambil keputusan tidak menikah kemudian, padahal dia cantik dari foto-foto masa mudanya, aku mewarisi kecantikannya.


Aku pernah melihat Ayah kurasa  beberapa kali saat aku kecil dan remaja, tapi Ibu bilang dia tinggal  di Hongkong, dulunya dia bekerja disini selama beberapa tahun dari sanalah mereka bertemu, aku membencinya walaupun Mama bilang dia baik, tapi aku tak mengerti kenapa Mama mencintainya sampai begitu dalam, mengorbankan dirinya buat laki-laki yang tak pernah ada, sekarang aku tak perduli. Kurasa dia tidak ada pun  hidupku akan baik-baik saja, ada Mama yang disampingku.


“Ma? Seneng banget?” Kusapa dia yang sedang duduk di sofa.


“Udah pulang? Kamu kayanya juga seneng senyumnya cerah.” Aku meringis lebar. Aku duduk dan kupeluk dia.

__ADS_1


“Ma, aku  dapet dua proyek gede Ma. Bonusnya gede ini.” Mama ketawa. Dia satu-satunya orang dekatku, tapi aku bahagia bisa berbagi hidup dengan dia. Dia yang merawatku, satu-satunya orang tua yang hadir di sisiku, sehingga aku percaya wanita tanpa pria akan baik-baik saja.


Mama berkali-kali mengatakan aku tak boleh berpikir seperti itu, tapi contohnya sudah ada, kami melewati semua bagian dari hidup kami berdua. Ayah biologisku? Entahlah kupikir dia mengirimkan uang saja, Mama bisa mencari uang, aku bisa mencari uang. Jika dia tidak mengirim pun kami akan  baik-baik saja kukira.


“Wih, yang dapet proyek gede. Jangan lupa bonus jangan foya-foya semua ya, ditabung juga.”


“Iya Mama sayang. Nah sekarang kenapa Mama senyum-senyum?”


“Tata  gak peduli Ma, Tata sibuk banyak kerjaan. Mama aja kaya biasa...” Dulu Mama bisa membuatku menemuinya, sekarang aku sudah besar, aku yang tidak mau lagi. Buat apa, apa yang bisa kuharapkan dari kemunculannya yang kadang tidak setahun sekali itu.

__ADS_1


“Ta...”


“Tata capek Ma, mau mandi dulu.”


“Ta,  dengerin Mama dulu...” Kutinggalkan Mama yang menghela napas panjang. Tak akan kudengarkan dia. Dia meminta bagaimanapun aku  tak akan mau bertemu. Buat apa?!


Masa bodohlah dia mau datang, aku malas  bertemu orang yang harus kusebut Papa itu. Dia tak pernah ada buatku, kenapa aku harus bersedia bertemu dengannya setiap saat. Lebih baik kami tidak menggangu hidup masing-masing. Nanti keluarganya yang kaya itu menyangkaku akan merebut warisannya lagi. Biarpun aku suka diskonan, aku gak akan ngemis harta warisan dia.


Gak akan minta jadi keluarga dia. Cukup dengan diriku sendiri. Aku heran kenapa Mama sangat membela Papa.

__ADS_1


Mungkin karena cinta? Aku  gak percaya cinta, cinta hanya bikin orang ngelakuin hal yang gak logis.


Cinta itu penyakit.


__ADS_2