
POV Author
Yumi masih di ruang tengah menunggu kepulangan Ryohei. Walaupun dia dimarahi Ibunya semalam, dia tetap percaya dia sudah melakukan hal yang benar.
"Kenapa kau tidak menemani mereka makan yang benar?! Itu mungkin makanan favorit mereka dan kau sengaja menunjukkan kau tidak makan itu. Kau tidak ingat Sayuri bilang makananmu hambar kemarin. Lihat bagaimana Masumi memasak untuk mereka, mereka terbiasa dengan berbagai jenis makanan bukan makanan Jepang saja, sekali kau menunjukkan makanan sehat mereka tidak suka, seharusnya kau tak boleh memaksakan seleramu."
"Ibu, aku dokter, aku tak menuruti selera orang. Lagipula itu untuk kebaikan mereka."
"Kau tetap tak mengerti Yumi. Ini bukan masalah kau dokter. Ini masalah kau yang sekarang mendekati mereka. Jika kau tidak sehati dengan mereka bagaimana kau bisa mengambil hati mereka."
Yumi diam. Dia berpikir dia masih bisa memperbaiki semuanya dengan piknik besok. Dia sudah membuat makanan enak, yang menurutnya enak tentu saja. Kasumi yang membantunya hanya menurutinya saja, karena dia tahu dan mengiyakannya saja karena dia tahu Tuan dan Nonanya akan pergi dan tak akan makan makanan yang dibuat Yumi.
Tapi sudah lewat dari jam 10 belum satupun dari mereka kembali ke rumah.
"Bibi, apa mereka belum pulang. Tak biasanya Sayuri semalam ini."
"Ohh tadi Sayuri menelepon, katanya dia ada tugas yang harus di kerjakan dengan temannya. Dia menginap di rumah temannya. Ryohei sedang di Osaka, dia punya masalah mendesak harus dibereskan disana, dia sedang menggarap proyek besar di Vietnam, mereka sedang sibuk sekali. Jadi mungkin hanya kita bertiga piknik besok."
Dan tiba-tiba semua rencanannya berantakan. Semua makanan yang dia siapkan hanya mereka yang memakan. Setelah ini bagaimana dia bertemu dengan Ryohei lagi. Nampaknya kali ini dia sengaja dihindari.
"Ohh mereka pulang kapan Bibi."
"Ryohei bilang mungkin Selasa dia baru kembali. Sayuri mungkin sama. Tak apa jika kau ke Tokyo lagi kau bisa bertemu mereka. Lagipula kau familiar di lingkungan rumah ini."
Sebenarnya Ibu Ryohei hanya memaniskan perkataannya, karena sebenarnya dia tahu baik Ryohei maupun Sayuri tidak akan pernah memberi kesempatan itu kepada wanita ini. Mereka sama sekali tidak menyukainya dan perkenalan ini hanya akan berhenti sampai di sini. Tapi dia juga tahu bahwa pantas saja sampai Sayuri tidak menyukai gadis itu sama sekali.
__ADS_1
Berada di restoran Italia, tapi tidak mau makan apapun selain pizza tanpa keju dan salad. Malah sibuk menguliahi orang tentang makanan tidak sehat. Itu tentu saja menyinggung orang lain.
"Sayang sekali." Dia melihat gadis itu kecewa, tapi itu hasil perbuatannya sendiri. Sebenarnya Mama Ryohei sendiri tidak yakin Ryohei berada di Osaka, tapi dia membiarkannya pergi karena sudah tahu ini tidak akan berhasil.
"Apa yang sayang sekali Yumi." Ibunya datang sekarang.
"Ryohei-san ternyata ada di Osaka Ibu. Katanya ada perkerjaan penting di sana. Sayuri juga tidak bisa ikut karena mengerjakan tugas dari sekolahnya."
"Ohh benarkah. Memang sayang sekali..." Ibunya Yumi sudah menduga ini tak akan berhasil.
"Tak apa mungkin lain kali mereka bisa bertemu. Lagipula mereka sudah banyak waktu berkenalan selama di sini. Aku naik ke atas dulu untuk istirahat oke, kita akan melihat Sakura besok. Sangat menyenangkan."
Ibu Ryohei naik, dan sekarang sang Ibu memarahi anaknya.
"Sudah kubilang apa padamu. Jangan memaksakan seleramu sendiri. Kau lihat bukan. Bahkan Sayuri pun menghindarimu. Ibu sudah susah payah mengenalkammu tapi yang kau lakukan mengacaukannya."
"Mendukungmu, aku meragukan itu. Sudahlah anggap saja kau sudah gagal. Kenapa kau begitu tak bisa melihat situasi."
Ibunya pergi dan menyalahkannya atas semua ini. Tapi Yumi masih tak percaya dia sudah kalah, dia masih ingin mencoba. Toh dia akan sering ke Tokyo nanti.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara Miyano-san, sudah mengatur menganggu bisnis keluarga Yuna Aize selama beberapa hari ini, sehingga mereka mau tak mau kewalahan. Belum lagi beberapa anggota geng mereka berpindah karena ketakutan. Sebelumnya insiden dengan sang putri oyabun yang diculik dan katanya di siksa juga sudah sampai ke telinga mereka.
"Ini pasti pekerjaaan Ryohei, hanya dia yang punya kemampuan meminta bantuan ke keluarga Yamada sehingga yang lain meninggalkan kita."
__ADS_1
"Jadi bagaimana kita akan menghadapinya, apa kita balas lagi mereka." Yuna bertanya pada Ayahnya.
"Anak bodoh! Kau pikir mereka tidak punya persiapan sekarang, dia orang kaya kau bisa melawan kekuatan uangnya! Ini karena kebodohanmu sendiri." Dia memarahi anaknya itu, dari pacar sekarang jadi musuh, ini karena Yuna terlalu sibuk bermain api. Tadinya dia sangat gembira anaknya bisa mendapatkan pria kaya tapi malah dia mengacaukan hidupnya sedemikian rupa.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Ayah?"
"Ayah yang akan menemui dia minta berdamai."
"Minta berdamai?"
"Jalan apa lagi yang kita punya, mereka punya uang tak terbatas, sebelum bisnis dan organisasi kita hancur lebih dalam lagi. Kita harus menghentikan kehancuran ini. Kau tahu dalam beberapa hari ini banyak orang kita yang sudah berpindah geng."
"Papa akan mengakuinya? Dia akan menjebloskan Papa ke penjara."
"Damai ya damai, bukan penjara jalannya. Sudahlah Papa yang bicara. Kemarikan nomor teleponnya." Dia yang akan menelepon sendiri dan menyelesaikan kesepakatan ini.
Yuna menyerahkan nomor telepon Ryohei. Ayahnya yang akan meneleponnya.
Sementara Ryohei yang berada di kantor siang itu melihat nomor asing yang masuk ke ponselnya. Dia punya tebakan akhirnya setelah hari ke 6 ini seseorang akhirnya memutuskan berdamai.
"Selamat siang, Ryohei-san. Saya Wakai Gashira. Maaf jika menggangu Anda."
"Ohh Anda memang sudah menggangu saya dari lama, tapi nampaknya hari ini Anda memutuskan menggangu saya langsung. Kenapa? Sudah lelah bermain pukul dan lari pergi?" Ryohei tidak akan bersikap merendah sekarang.
"Saya memang bersalah. Saya minta kita bisa berunding saja menyelesaikan masalah ini. Anak saya membuat saya tidak bisa berpikir logis, kejadian pertama dengan Sayuri Takada, saya baru menerima laporannya setelah itu terjado, setelah Anda menyebarkan berita perselingkuhan itu. Saya saat itu emosi Anda begitu tega menyebarkannya ke media sehingga kariernya habis. Walaupun Yuna yang awalnya memulai saya hanya seorang Ayah yang terpancing emosinya. Saya mohon maafkan saya, dalam semua hal saya yang gagal karena terlalu menuruti anak saya. Jika Ryohei-san bersedia, mari kita bicarakan ini baik-baik, tak ada gunanya menghabiskan uang untuk berkelahi. Jika Anda mau saya bersedia membuat perjanjian perdamaian."
__ADS_1
Panjang lebar sang oyabun bicara untuk memperbaiki apa yang dia bisa perbaiki sekarang. Daripada kehilangan seluruh bisnisnya, lebih baik mengorbankan sebagian harga dirinya.