TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 12. Back at Home 1


__ADS_3

Makan siang berjalan baik, semua orang di lingkaran kami mendapat kejutan bahwa keluarga Chow bergabung.


"Saya tidak menyangka Nona Wong bisa menarik keluarga Chow dalam lingkaran kita." Salah satu kolega dekat Paman berkomentar.


"Dalam tiga bulan ke depan Anda semua akan lihat bagaimana kami memenangkan semua ini, tenang saja, akan ada kejutan lain yang disiapkan."


"Sepertinya kami tak salah memilih kapal." Semua orang mengangguk setuju.


"Nona Cherrie sudah berkarier lama di Shing Wang, kami mengerti kau menyingkir dari Hongkong karena pemberitaan massive tentang keluargamu, tapi nampaknya kau juga tak tahan untuk terus berdiam diri sekarang. Di masa depan kurasa kau yang akan memegang kendali Shing Wang. Selamat datang kembali Nona, ..."


Aku senang mereka bisa menerimaku. Akan kuusahakan yang terbaik yang bisa. Shing Wang tak akan jatuh ke tangan keluarga lain selain Wong dan Chan, Nathan Chow bisa hanya bisa bermimpi dia bisa memotong jalanku.


"Kau melakukannya dengan sangat bagus." Kak Cheng memujiku saat kami kembali.


Kami kembali ke kamar seusai makan siang, jam 5 aku harus bersiap lagi. Aku bisa istirahat sekitar dua jam sekarang.


"Benarkah? Aku mengusahakan yang terbaik yang aku bisa."


"Mau hadiah?"


"Hadiah?" Apa yang dipikirkannya.


"Minta apapun yang ada di pikiranmu sekarang." Aku tertawa.


"Tak ada, aku hanya senang kau sudah di sini. Itu hadiah." Aku menatapnya dengan tenang, setidaknya aku tak dipermalukan oleh adik tiriku, dia mengandeng Nathan Chow, di sampingku juga ada seorang yang bisa menyainginya. Itu sudah hadiah.


Dia tak menjawabku kemudian. Aku akan berusaha tak memberatkannya, dia juga tak minta apapun dariku. Cukup dia ada di sampingku itu sudah cukup. Kami sampai ke pintu kamarku kemudian.


"Aku perlu istirahat sebentar, kau juga pasti lelah langsung menemaniku tadi. Kita bertemu jam 5.30 Ko?"


"Iya baiklah."


"Terima kasih."


"Tak usah selalu berterima kasih. Kutinggalkan kau sekarang." Dia tersenyum kecil.


"Iya, bye Ko."


Aku bersiap, pertarungan selanjutnya akan di mulai nanti malam.


\=\=\=\=\=\=\=๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


Ayah berjalan di samping istri selingkuhannya yang bergaun keemasan dengan muka angkuhnya seperti biasa. Yang ini selingkuhan paling kurang ajar, selingkuhan satunya tidak berani muncul seperti ini.


Ayah dan aku sama angkuhnya, aku tahu itu, aku anaknya, sifatku adalah sifatnya. Tetap ketika kami dipihak berseberangan seperti ini aku jadi sangat membencinya. Dia dan keluarga Mama berjuang membangun perusahaan ini tapi dia tak mau berjalan di samping Mama. Bagaimana Mama tak berniat menggulingkannya.


"Ayahmu dan istri barunya itu nampaknya sangat cocok." Kak Cheng muncul dengan sarkasmenya.


"Memuakkan,..."


"Kalian masih bicara bukan."


"Seperlunya saja sekarang."


Mama dan Paman tandem dalam acara ini, sementara aku dan Kak Cheng berdua. Yang berada di area kami sepakat memakai warna merah, entah dasi merah, atau gaun merah.



Gadis itu bergandengan dengan Nathan Chow, aku baru tahu namanya sekarang Cecilia Wong. Gaun pink pastel itu menggelikan, dia memakai gaun yang agak mengembang seperti mau menikah saja, kenapa tidak putih sekalian. Akan kubuat pesta pernikahan mereka di acara ini sekalian.


Mengandeng Nathan Chow dengan pandangan putri baru menemukan pangerannya, tingkahnya membuatku mual, nanti dia akan tahu siapa Nathan Chow, laki-laki itu akan membuangnya dia tahu dia tidak punya kesempatan memegang kendali utama Shing Wang.


"Kakak, selamat malam, kau terlihat cantik." Dia menyapaku dengan senyum manisnya sekarang.


"Ahh Brother Cheng, akhirnya warna aslimu terlihat. Kalian berdua terlihat cocok. Selamat bergabung di pesta." Giliran Nathan yang menyapa Kak Cheng.


"Yang harus bilang selamat datang di pesta itu aku Nathan, kau yang hanya tamu disini." Aku yang langsung menjawabnya.


"Bulan depan aku akan berkantor di Shing Wang, di masa depan Shing Wang harus punya penerus yang baik."


"Ohhh sama, bulan depan aku juga akan kembali ke Shing Wang, kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik, ada banyak hal yang akan kau pelajari di sana. Sebagai senior aku akan mengajarimu dengan baik." Aku tersenyum padanya, lebih tepatnya mengancamnya.


"Begitu, Kak Cheng, apa kau berniat masuk Shing Wang juga."


"Wanita sudah cukup untuk menghadapimu. Jangan meninggikan dirimu sendiri." Sekali Kak Cheng bicara, dia menikam tepat sasaran. Aku langsung tertawa dan memeluk lengan Kak Cheng dengan mesra.


"Sayang, kau sangat percaya padaku rupanya."


"Tendang dia secepatnya. Dia terlalu banyak bicara."

__ADS_1


"Kita lihat siapa yang di tendang nanti." Nathan mengatubkan rahangnya dengan emosi.


"Nathan, bersabarlah, kau lihat bagaimana aku akan menanganimu nanti."


Aku beralih ke Cinderella. "Cinderella, jaga pangeranmu, jangan sampai dia punya banyak selir di belakangmu, sebenarnya dia sudah punya banyak, tapi mungkin kau bisa membuatnya bertobat. Kau juga cantik malam ini Cinderella."


Aku menutup pembicaraan dengan meninggalkan masalah untuk Nathan. Kita akan lihat bagaimana dia menghadapi Cinderella manja yang cemburu.


"Ayo kita pergi, banyak yang harus kita temui. Selamat menempuh hidup baru buat kalian."


Kak Cheng membawaku pergi dengan segera. Aku tersenyum lebar memandangnya.


"Apa?"Dia menaikkan alisnya dengan senyum lebarku.


"Kau punya kemampuan khusus membuat orang marah Koko."


"Aku pendukung nomor satumu." Aku tersenyum padanya, saat dia bilang menjadi pendukung nomor satuku. "Nathan itu bukan orang yang akan bermain jujur, kau harus berhati-hati padanya. Termasuk dia akan menggunakan kekerasan fisik. Aku pernah melihat dia memukul seorang wanita di klub."


"Oh ya?"


"Jika dia berani macam-macam dengan kekerasan fisik beritahu aku, akan kuhajar anak manja itu dengan tanganku sendiri."


"Kau bisa berkelahi, ajari aku?"


"Berkelahi bukan bagianmu." Kak Cheng tersenyum. "Ayo, kita akan bertemu dengan beberapa orang."


Dia tak mau mengajariku, aku akan belajar sendiri. Akan kutunjukkan padanya nanti bagaimana aku menghajar Nathan jika dia berani melayangkan tangannya padaku.


"Anthony Cheng, tak kusangka kau ada di samping anakku. Cherrie kau kembali ke Shanghai?" Kami bertemu Ayah setelah dia membuka acara, bagaimanapun dia masih CEO, walaupun kami berada di sisi yang berbeda sekarang. Aku tetap berusaha tak akan bertengkar terang-terangan di depan umum.


Dia tak tahu aku akan kembali, tambahan dia tak tahu aku akan sekantor kembali dengannya bulan depan.


"Aku akan mulai mengambil jabatanku lagi bulan depan Papa. Dan aku akan berada di pihak Mama, aku tak akan absen lagi. Aku sudah menyerahkan urusanku di Shanghai dan sekarang kembali ke sini."


"Bukankah kau tak mau terlibat dengan urusan Papa dan Mama?"


"Benar, sampai selingkuhanmu ini menghina Mama didepanku. Jadi sekarang aku pastikan, aku kembali."


"Menghina apa?" Papa memandang istrinya.


"Aku hanya mengucapkan salam saat bertemu, tapi mereka menerimanya sebagai penghinaan. Sungguh berlebihan...." Wanita ular ini sungguh perlu ditampar lain kali. Tunggu saja waktunya.


"Memang begitu anak manis, bagian mana pertemuan kita yang kau anggap penghinaan." Dia langsung membalas perkataanku.


"Bagian sebelum aku menyiram teh padamu. Kau ingat Bibi?" Sekarang matanya menyipit dan aku tertawa kecil.


Papa melihat kami berdua saling menatap satu sama lain. Dia sekarang tahu jika aku sudah bertindak pasti kejadian itu benar.


"Ohhh maaf Papa, seperti yang Bibi ini bilang, kami hanya saling menyapa. Mana mungkin aku menyiram Bibi." Rasakan kau! Kau pikir aku tak bisa membalik kata-katamu?!


"Itu saja Papa, aku harus pergi mengumpulkan dukungan untuk Mama sekarang. Nanti kita punya banyak waktu bicara."


"Paman Wong, Papa menitipkan salam untukmu. Dia bilang ini keputusan Mama untuk mendukung Bibi, dia tak melawan permintaan istrinya. Dia minta maaf dia tidak bisa hadir malam ini." Kak Cheng menyalaminya dengan sopan, tapi sepertiku dia tak perduli dengan perempuan itu.


"Kami pergi dulu Paman." Kami melenggang pergi dengan senyum di bibir kami.


"Kau benar-benar menyiram wanita itu?"


"Tentu saja." Kak Cheng mengelengkan kepalanya. Nampaknya cap buruk akan tambah tebal tertempel di keningku. "Aku belum pernah cerita?"


"Belum." Kuceritakan padanya apa yang terjadi saat itu.


"Kau pikir aku salah?"


"Kau membela Mamamu, tentu saja kau benar."


Aku senang mendapatkan dukungan yang kubutuhkan malam itu. Mama berjalan tegak dan menyapa tamu-tamu, Paman dan aku mendukungnya penuh.


"Mama sangat senang malam ini punya kau disamping Mama, Anthony terima kasih sudah kemari menemani Cherrie, sampaikan salam buat mereka. Besok malam Bibi akan mengajak Cherrie berkunjung ke rumah kalian."


"Tentu Bibi, Mama dan Papa akan sangat senang Bibi bisa datang. Kalau begitu saya pulang dulu."


Kak Cheng pulang, Mama langsung memepetku.


"Dia baik bukan? Kau suka pada Koko ganteng itu?"


"Mama, Koko ganteng itu tidak tertarik pada reputasiku yang tukang menghajar orang. Walaupun aku bilang aku bersedia jadi jaminan atas kerjasama kita, dia sendiri yang menolaknya dan mengatakan bahwa dia tidak ingin membuat pernikahannya berdasarkan hubungan bisnis. Jadi besok Mama jangan membuatnya tak nyaman."


"Benarkah?" Mama melihatku dengan tak percaya.

__ADS_1


"Benar, jadi besok Mama harus bicara, terserah anak-anak kita saja. Aku takut jika kita menekannya Koko ganteng itu tidak mau membantu kita lagi."


"Kau tak bisa merayunya?"


"Mama, sejak kapan aku bisa merayu."


"Ahh sayang sekali." Mama menatapku. "Tapi perkataannya bukan berarti dia menolakmu bukan?"


"Aku tak tahu artinya Mama, pokoknya jangan memaksanya."


Mama melihatku dan diam berpikir. Posisi kami sudah bagus. Selanjutnya tinggal menelepon Ko Derrick, semoga ini berhasil.


\=\=\=\=\=๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


Aku langsung menelepon Ko Derrick keesokan paginya menceritakan apa yang terjadi di Hongkong dan rencanaku.


"Kau ingin Kakak menyampaikan dulu?" Aku sudah memanggilnya Kakak Ipar sekarang, bukan Ko Derrick lagi.


"Iya, Shing Wang dan Hong Lung banyak bersaing di bidang yang sama. Dengan masuknya Hong Lung kami bisa bekerja sama, berbagi informasi, dan sekaligus bisa menendang keluarga Chow yang juga rival Hong Lung. Aku hanya butuh penyertaan modal, dan satu kali Tuan Philip mau datang ke acara kami menyatakan dukungannya..."


"Aku paham maksudmu, akan kujelaskan padanya, tapi bagaimana pembicaraannya, sihlakan negosiasikan sendiri."


"Aku mengerti. Yang penting link pertamanya untuk mengatur pertemuan kami. Sisanya akan kutangani."


"Kau benar-benar menendang Ayahmu dari CEO."


"Ya bisa dibilang melawan Ayah, aku sebenarnya tak ingin melakukannya, tapi dia dan perempuan itu sudah keterlaluan."


"Baiklah, nanti Kakak sampaikan permintaanmu. Tunggu saja."


Deal ini harus berhasil. Kemarin kami menghitung kekuatan, harusnya sekarang kami di 43-45%, beberapa ada yang masuk dan menyatakan dukungan ke kami berkat beberapa kolega dekat yang mempengaruhi mereka. 5% lagi, jika Hong Lung bersedia menyetor 2-3% saja, aku yakin aku bisa mendapatkan pembelotan 5-10% dengan mudah.


Sore kami sudah sampai di kediaman keluarga Chow, Mama dan Istri Tuan Cheng memang dikatakan teman dekat, makanya suaminya dengan mudah menyetujui dukungan ini.


"Ahh Cherrie,... Janice, ayo masuklah, kami sudah menunggu kalian." Bibi Cheng menyambut kami sendiri.


"Bibi, terima kasih sudah mengundang kami, aku membawakan gingseng dan ling zi (jamur ganoderma) terbaik dari Shanghai untukmu dan paman."


"Kau sangat repot membawakan kami hadiah, terima kasih. Mana Anthony, kenapa dia belum turun." Aku menyapa Paman dan Bibi Cheng dengan sopan. Untuk soal perjodohan ini nampaknya bibi yang paling bersemangat. Tapi seperti yang kubilang aku tak ingin memaksakan apapun.


"Tak apa Yun Er, kami disini untuk bertemu kalian mungkin Anthony sedang istirahat. Tak usah menggangunya." Mama yang bicara, dia mau diajak kerjasama. Setidaknya aku tak kelihatan memaksakan apapun.


"Benar Bibi, mungkin Kakak sedang ingin istirahat, kami ngobrol bersama kalian saja." Aku menambahkan kata-kata Mama.


"Tidak, siapa yang terganggu, dia kesini memang untuk mendukung Cherrie. Sebentar biar pelayan yang memanggilnya. Kau akan kembali ke Shanghai Cherrie."


"Ahh iya, aku masih ada yang harus kuatur di Shanghai. Tapi bulan depan aku akan mulai sepenuhnya di Hongkong.


"Baguslah, Mamamu pasti senang kau menemaninya. Adik-adikmu masih semuanya di luar negeri, dia tak punya teman disini."


"Iya Bibi, aku akan di Shanghai."


Tak lama Kak Cheng turun, memberi salam pada Mama. Dia terlihat tampan seperti biasa, baru kali ini aku melihatnya dengan kaus rajut biasa dan celana jeans.



"Hei, ..." Dia menyapaku singkat dengan senyum kecil.


"Hai Ko, sorry ganggu waktu istirahat Koko."


"Tidak, ini memang waktu makan. Disini makan harus di meja makan jika kau ada di rumah. Tak ada kau juga aku haล•us kesini." Well nampaknya dia tak terganggu, itu melegakan.


Kami ngobrol dan makan malam kemudian.


"Anthony, ajak Cherrie ke atas." Selesai makan tiba-tiba Mamanya bersuara.


"Ke atas? Ke mana?" Kak Cheng binggung dengan perintah Ibunya.


"Ke kamarmu." Aku membelakakan mata, aku ke kamarnya?!


"Kamarku?"


"Orang tua mau ngobrol sendiri, kalian sana cari tempat ngobrol sendiri. Sana, angkat pantatmu dari sini." Ibunya memerintah sambil berkacak pinggang. Aku mau tak mau menahan tawa setengah mati. Aku kesini untuk di jebak ternyata, para orang tua ini kadang sangat banyak akalnya.


"Mama,..." Kak Cheng protes.


"Cherrie sana." Tanganku ditarik oleh Bibi dan di dorong ke tangga. Aku meminta bantuan ke siapa.


"Sana. Kami mau bicara sendiri. Sana ke atas." Kak Cheng menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Cherrie, ikut dia ke atas." Aku terpaksa maju selangkah ke tangga karena Bibi mendorongku, melihat Kak Cheng yang sama-sama sudah tak punya jalan mundur.

__ADS_1


_______bersambung besok ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2