
Oliver mendiamkanku dari kemarin sore, semalaman dia tidak mengajakku bicara. Lucu juga sebegitu dia tersinggungnya dengan apa yang kulakukan. Padahal aku hanya melakukan sesuatu yang menurutku benar.
Karena Nguyen belum mendapatkan seorang pesuruh dan pembersih untuk kantor aku pagi-pagi sudah berada di kantor untuk membereskan kantor. Sementara sarapan pagi sudah di urus oleh housekeeper yang ada di rumah. Aku tak perlu melihat wajahnya di meja makan, hari ke 7, 23 harilagi aku akan melewati siksaan ini.
"Kau sudah disini?" Ternyata dia datang ke kantor duluan. Aku menyesaikan membersihkan lantai.
"Oliver pagi, kau ingin kopi? Aku hanya membersihkan kantor duluan, kata Nguyen dia belum berhasil mendapatkan pesuruh." Aku tersenyum padanya.
"Kubantu." Baik juga mau membantu.
"Tak apa. Ini sudah hampir selesai. Tunggu sebentar, kan kubuatkan kau kopi."
"Aku tak mendengar suara mobil."
"Aku menggunakan Grab." Jam kantor nampaknya sama tetap jam 9 seperti di kantor mereka di HK, ini kurang dari jam delapan.
"Kubuat sendiri kalau begitu...." Dia berjalan ke belakang pantry sementara aku menyelesaikan pekerjaanku. Karena medan diluar adalah proyek yang masih tanah terbuka, tentu saja kantor ini perlu dibersihkan secara berkala.
__ADS_1
"Kau masih marah padaku rupanya Tuan Oliver." Dia masih di pantry saat aku mendatanginya. Dia melihatku, sesaat hanya melihatku sebelum mendekatiku.
Aku mundur selangkah karena dia terlalu dekat.
"Aku merasa kau memang tak ingin memberiku kesempatan. Kenapa, apa aku begitu buruk. Nampaknya aku tak mungkin menang dari Ko Derrickmu itu bukan."
Oliver ini membuatku ingin tertawa sekarang.
"Sebenarnya apa yang ingin kau menangkan, aku sudah bilang dia hanya orang yang kuanggap Kakak. Dia bahkan akan segera menikah, apa kau pikir aku akan merebutnya dari istrinya dengan memintanya membantuku."
"Aku hanya memintamu percaya padaku untuk mengurusnya apa itu sesuatu yang sulit. Kenapa kau tak memberiku kesempatan untuk membuktikan itu..." Dia masih memakai sudut pandangnya.
"Itu hanya hal yang benar kulakukan. Bukan masalah tak memberimu kesempatan, bukan masalah aku memintamu membuktikan sesuatu, Ko Derrick sudah menganggap adik dari umurku 23 tahun sudah 17 tahun Oliver, aku mempercayainya hal-hal yang dia lakukannya untukku, aku menganggapnya keluarga karena keluargaku adalah teman-teman terdekatku, kenapa aku tak boleh minta tolong padanya. Dia menganggapku adik, jadi aku tak boleh cerita tentang masalahku kepadanya? Dan semua harus padamu? Apa semua harus tentangmu? Kau siapa?"
Setelah mengatakan itu aku tak tertarik punya pembicaraan lagi dengannya. Dia sama sekali tak lulus ujian sekarang. Sudut pandang kami memang berbeda, tapi jika dia keberatan aku meminta bantuan dengan orang yang ku anggap Kakak, maka aku juga keberatan dia masuk ke hidupku. Sederhana. Itu yang akan kulakukan.
Kuhabiskan waktu membantu keperluan kantor, mengumumkan mereka bisa memintaku membantu mereka. Mencari kesibukan menjauhkan diri dari Oliver, hanya bergabung dengannya saat makan siang dan makan malam, bertanya padanya dengan normal apa dia memerlukan bantuan. Tapi setelah itu, aku tidak ingin punya interaksi apapun dengannya.
Malam ini berlalu cepat. Jam 7 kami sudah menyelesaikan makan malam bersama. Nguyen mengajak para staff ke restoran di kota. Dan kami ngobrol dan jalan sampai malam saat Tuan Andy dan Oliver memutuskan mereka akan kembali ke rumah lebih dulu.
__ADS_1
Semua orang mandi, masuk ke kamar masing-masing setelah sampai ke rumah. Dan kau tahu entah bagaimana aku merasa lega melepaskan semua ketertarikanku padanya, semua harapan yang mengantung di hatiku selama lima hari ini.
Senang rasanya bisa membuat hatiku tawar lagi. Sekelilingku tadinya penuh dengan bunga warna warni berterbangan, membuatku tersenyum terlalu riang. Tapi sekarang hanya ada mungkin beberapa kumpulan bunga yang tenang di pojok ruangan yang bisa kujangkau, itu adalah mereka yang menganggapku keluarganya. Tiba-tiba aku kembali menghargai hidupku yang sederhana itu.
Setekah tadinya ruanganku ini pernah porak poranda, kini aku melihat lagi diriku di ruangan yang tenang ini.
Sebuah ketukan di pintuku. Aku bisa menebak siapa yang datang.
"Bisa bicara..." Dia tiba di depan pintuku sekarang.
"Aku lelah, mungkin besok saja Oliver. Aku hanya ingin istirahat dengan tenang malam ini. Oke." Aku menutup pintunya. Tapi kemudian dia menahan pintuku.
"Aku hanya ingin minta maaf."
Aku tersenyum pahit, maaf apa artinya maaf, manusia tetap manusia mereka kadang memanfaatkan maaf sebagai jalan pintas.
"Kau tahu di satu titik dalam hidupku, ada saat maaf itu sama sekali tanpa arti. Jadi bisakah kau mundur dulu sebentar Oliver. Beri aku ruang untuk bernapas, aku hanya istirahat tanpa memikirkan masalah apapun, kita masih punya waktu untuk bicara nanti."
Akhirnya dia membiarkan aku menutup pintu.
__ADS_1
Kurasa akan sulit membuka pintu ruanganku lagi, aku membukanya sedikit beberapa hari yang lalu, lihat sekarang ini menjadi berantakan, yang kulakukan sekarang adalah membersihkan kelopak bunga yang berhamburan disekelilingku.
Menjadikan ruangan hatiku rapi lagi. Mungkin yang harus kulakukan adalah melemparkan kuncinya entah kemana.