
"Kau baik?" Keesokan harinya Kak Cheng meneleponku.
"Aku baik, jangan khawatir."
"Dia tidak menemuimu lagi?"
"Dia menemuiku keesokan paginya mencoba membuat deal denganku, lalu mengancamku."
"Mengancam apa?"
"Hmm.... dia akan memilih menikahi adik tiriku jika aku tak bersedia menerimanya."
"Ohh..."
"Sudahlah keluargaku memang bencana. Aku sendiri pusing mendengarnya."
"Papamu berseberangan dengan Mamamu bukan."
"Ya tentu saja. Papa membela wanita itu. Dia bersedia menceraikan Mama, Mama juga bersedia menceraikannya tapi akan banyak catatan di belakangnya. Mama cukup pintar untuk menaruh banyak asset atas namanya, tapi perusahaan adalah hal yang berbeda. Itu akan terjadi perebutan begitu dua majority berpisah. Dan membayangkan salah satu anak wanita itu akan duduk di posisi utama membuat ... perasaan tidak rela tentu saja."
"Ibumu punya rencana sendiri bagaimana menghadapi ini seharusnya." Entah kenapa aku merasa bisa bicara dengan Kak Cheng ini. Dia sepertinya orang yang tepat untuk bertukar pikiran.
"Kuharap dia punya, tapi selama setahunan ini aku bisa dikatakan tak mau terlibat, tapi aku mulai berpikir sikapku salah sekarang. Aku akan kembali ke Hongkong..."
"Itu bagus, kau anak pertama, kau tidak boleh tinggal diam saja soal keluargamu. Mungkin maksud Mamamu memang baik tapi kau tak bisa membiarkannya sendiri juga..."
"Iya memang itu yang kupikirkan."
"Ya baiklah, kau sudah aman. Jika kau perlu sesuatu katakan saja."
"Kau masih hutang bayaran makan malam Kak Cheng, aku yang bayar." Sekarang dia tertawa.
"Iya baiklah, kabarkan saja kau dimana nanti. Kita pindah diantara dua kota, itu akan membingungkan."
"Terima kasih Kak Cheng."
"Bye. Jaga dirimu."
Aku memutuskan hubungan teleponnya. Dia baik bukan. Kurasa aku menyukainya.
\=\=\=\=\=\=\=
Mama mengetahui apa yang terjadi, dan dia langsung menelepon Papa dan marah-marah sekarang.
"Papamu itu memang keterlaluan! Dia menjual anaknya sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan! Jika si bangsat itu mengangumu lagi, Mama sendiri akan mendatangi Ibunya!"
"Ya, tak apa. Aku tak akan membiarkan dia bicara denganku lagi Mama, semalam aku terpancing emosi meladeninya. Untung ada Kak Cheng disana."
"Kak Cheng? Siapa?" Kuceritakan siapa dia ke Mama dan bagaimana kami bertemu.
"Ohhh anak kedua keluarga Cheng, duda?"
__ADS_1
"Iya, dia baik. Lebih baik dari Nathan yang pemaksa dan menggunakan segala cara itu untuk memaksakan aku harus menyukainya. Dia membuatku tak bisa bernapas."
"Dia baik padamu? Kau menyukainya?" Kenapa tiba-tiba Mama menanyakan apa aku menyukainya. Jangan-jangan dia....
"Mama, tunggu dulu aku tak ingin kau mengatur sesuatu seperti Papa yang melakukannya."
"Katamu dia baik, tak apa bukan mengatur... sedikit." Mama tertawa di ujung sana.
"Mama..."
"Iya...iya baiklah, Mama hanya bercanda sedikit. Jangan terlalu tegang Cherrie sayang. Tidak, Mama tidak akan mengatur apapun." Aku menghela napas lega.
"Baiklah, aku harus bekerja Ma. Nanti kutelepon malam."
"Hati-hati jika dia menggangumu lagi bilang langsung pada Mama."
"Iya."
Aku turun ke bawah untuk sarapan. Nathan ada di sana aku melihatnya. Aku memutar dan mengambil tempat duduk paling ujung menjauh darinya setelah mengambil sarapanku.
Tapi tampaknya itu tak membantu, dia melihatku dan tetap pindah ke mejaku dengan gelas kopi di tangannya.
Aku harus menghela napas menyabarkan diriku sekarang.
"Oke, maaf soal semalam... Aku salah memaksamu begitu saja." Permintaan maaf yang setengah hati, gampang sekali minta maaf setelahnya. Diam saja, malas menanggapinya. Aku makan dengan cepat
"Kau mau dia ditemani hari ini."
Mungkin dia merasa diremehkan, selama ini gadis-gadis mengejarnya, mengharapkannya, dia yang memegang kendali permainan, tapi sekarang dia harus bersikap baik padaku dan kutolak habis-habisan.
"Baiklah terserah padamu. Nampaknya kau sangat tak menyukaiku sekarang. Dimana Anthony Cheng? Tidak ikut sarapan?" Dia membuatku harus menghela napas lagi.
"Apa aku punya kewajiban harus menjawab pertanyaanmu? Kenapa kau tidak duduk ditempatmu saja?"
"Jika aku membantu Ayahmu di perebutan CEO perusahaan Ibumu pasti kalah, kau tak mau kesempatan membantu Ibumu?"
"Mamaku bisa mengurus urusannya sendiri. Dia tak melibatkanku."
"Ohh ya, kau akan menyesal mengatakan itu. Kau punya adik perempuan di sisi Ibu tirimu yang umurnya 19 tahun, dia mungkin lebih bisa diajak kompromi darimu."
"Terserah kau mau lakukan apa Nathan." Dasar sakit, dia melakukan semuanya demi bisnis keluarga.
"Kau akan menyesal berkata seperti itu. Dan saat kau menyesal tak akan ada kompromi lagi. Mungkin lain kali kita akan bertemu di kantor Ayahmu dan kau hanya pemegang saham minority yang tak bisa melakukan apapun. Kuberi kau sebulan untuk berpikir, pikirkan baik-baik sebelum kau menyesal."
"Terima kasih atas tawaran baik hatimu, sekarang bolehkah kau pergi dan menikmati sarapanku dengan tenang."
"Aku akan pergi. Jangan khawatir." Dia meninggalkan mejaku. Aku melihatnya dengan
Gadis yang merupakan anak lain Ayahku, mungkin akan istri CEO yang menguasai jalannya perusahaan. Drama keluarga ini membuatku muak, kurasa aku harus kembali ke Hongkong melihat keadaan Mama.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
"Mama apa Mama yakin menang?" Aku akhirnya mendarat kembali ke Hongkong. Dan makan siang dengan Mamaku di restoran favorit kami.
"Jalannya masih jauh Cherrie, belum bisa mengatakan menang atau kalah. Sebenarnya ini melelahkan, kadang Mama pikir sebaiknya Mama tak berusaha sejauh ini. Tapi kadang sakit hati membuat Mama maju lagi..."
"Kau Mama, Nathan Chow mengancamku, kalau aku tidak mau menjadi istrinya, dia akan beralih ke anak wanita itu.
"Tidak akan Mama biarkan. Mama dan Pamanmu akan mencari sekutu juga. Sayang, Anthony Cheng itu sebenarnya bisa dijadikan sekutu yang bagus juga. Keluarganya pernah mendekati Mama sebenarnya menawarkan bantuan tersirat, dia dan Chow sebanding,... Jika kalian berdua ... bisa bersama,..." Mama tertawa dan tersenyum kemudian. "Tapi yang lebih penting adalah kau bahagia Cherrie. Jikapun Mama kalah, tapi asal kau bisa hidup dengan bahagia di jalanmu itu sudah cukup. Sementara mungkin uang rasanya tak pernah cukup. Jadi jangan kuatirkan Mama oke."
"Wah ada Nyonya pertama di sini." Sebuah nada yang tidak enak di dengar membuatku menoleh. Ternyata wanita penyanyi terkenal bernama Emily Leen itu selama ini menyembunyikan indentitas Ayah Putri dan Putranya, sebelum akhirnya memutuskan keluar dari persembunyiannya dan menuntut haknya untuk diakui.
Pemberitaan itu meledak bagai boom saat dia bertemu Mamaku dan langsung meminta anaknya dan satu wanita lain dimasukkan ke dalam ahli waris perusahaan.
Mamaku yang terlalu shock langsung pergi dari rumah saat itu. Saat itu aku di Jakarta dan apa yang diceritakannya membuat duniaku jungkir balik sekali lagi.
Mama mengamuk pada Papa tentu saja, satu keluarga menuding Papa, dan saat itu dia muncul dengan pemberitaan di media mengumumkan semuanya, dengan anak gadisnya, dia yang membuat berita bahwa Mamaku kejam, dan segala macam berita bohong lainnya, padahal tahu keberadaannya pun Mama tidak.
"Apa maumu?"
"Nyonya, aku hanya menyapa. Tidak apa bukan menyapamu, ohh ya sayang, beri salam kepada Bibi Janice Chan."
"Bibi..." Gadis ini, gadis yang katanya akan dipasangkan dengan Nathan Chow.
"Dan anakku ini di masa depan akan jadi istri CEO yang baru dari Shing Wang Corp." Ohh rupanya Nathan sudah menyerah mendapatkanku. Dan yang lain langsung mengambil kesempatan.
"Jangan terlalu banyak bermimpi, istri CEO Shing Wang, kau membuatku tertawa."
"Wanita ular, mencuri suami orang lain dengan bangga dan berlagak lebih tinggi." Aku membela Ibuku.
"Aku tak mencuri Ayahmu sayang, dia sendiri yang datang padaku, aku hanya menerima apa yang datang padaku. Jadi urus saja nasib burukmu sendiri."
"Kau kesini hanya untuk mengatakan itu? Kau sudah selesai? Jadi pergilah sekarang."
"Wanita tua, jangan berpikir kami akan kalah olehmu." Mama menghela napas mendengar kata-katanya sementara aku ingin mengunting rambut bergelombangnya itu.
"Kami sedang makan, kau merusak selera makan kami." Ibuku bahkan tak ingin melihat wajahnya sekarang.
"Aku yang menang sekarang Nyonya Besar." Ibuku tak menganggapinya, tapi aku tak akan tinggak diam, kuambil teh di mejaku dan kusiramkan ke mukanya.
"Pergi dari sini wanita murahan! Atau kujambak rambut palsumu itu sampai lepas!"
"Kau dan Ibumu akan membayar ini gadis sombong." Dia menyeka bajunya yang basah. Anak gadisnya melihatku dengan penuh rasa benci.
Aku menatapnya lurus ke gadis cantik bodoh itu. Dia pikir dia bisa menang dariku dengan menikahi Nathan Chow.
"Gadis bodoh, semoga kau segera menikah dengan Nathan Chow, nanti kau akan tahu apa yang bisa dilakukannya padamu. Dia menjadi CEO di Shing Wang, langkahi dulu mayatku."
"Mama ayo pergi, melihat mereka disini membuatku kehilangan selera makan."
Aku menarik tangan Mama. Sekeliling meja kami berbicara berbisik tentang apa yang terjadi di meja kami. Selama ini apa yang dihadapi Mama tak mudah.
Kurasa aku tak bisa menghindar lagi dari ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu Mama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=