TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 35. I Love You 1


__ADS_3

Berita aku menghajar Nathan Chow itu sampai kemana-mana di komunitas bisnis. Orang-orang membicarakan sampai Mama pun tahu.


"Cherrie?! Kau berkelahi dengan Nathan Chow?" Mama tiba-tiba meneleponku dua hari kemudian.


"Hmm bukan berkelahi tapi bertanding di ring Mama."


"Apa bedanya, itu berkelahi juga."


"Beda, itu memakai pelindung, diawasi wasit, ada waktunya. Jika aku berkelahi sudah kucakar dan kugigit dia sampai luka-luka."


"Katanya kau menghajarnya habis-habisan. Kau bisa berkelahi?"


"Aku baru belajar, tapi cukup menghadapinya. Iya dia kalah telak."


"Kenapa kau bisa sampai berkelahi dengannya?" Kujelaskan semua kejadian di Shanghai.


"Memang pantas kau hajar kalau begitu. Teman-teman Mama sampai tahu pertandingan itu. Keluarga Chow yang malu besar. Papamu tidak kembali ke kantor belakangan."


"Dalam tiga minggu ini belum. Mungkin dia tahu dia sudah kalah. Jadi dia mulai menyerahkan jabatan ke Paman kurasa."


"Ya sudahlah, terserah dia mau apa." Ada nada kesedihan di kata-kata Mama. Mungkin dia ingin Papa kembali saja padanya entah bagaimana. Mengakui kesalahannya dan berdamai, sayangnya Papa memang tak punya pikiran seperti itu.


"Mama aku sudah berbaikan dengan Papa Lam." Mama diam di ujung telepon sana.


"Iya Mama tahu, Pamanmu memberitahu Mama, bagus buatmu. Sebenarnya dia tak pernah punya keinginan membuangmu, Mama dan Papa yang ingin kau tak menemuimya lagi. Mama salah melalukan itu. Bagaimana keadaan Papa mu sekarang."


Aku bercerita adik dan Papa, bahkan istrinya menganggapku bagian dari keluarga, kami berkumpul di rumahnya saat Tahun Baru.


"Baguslah, kau punya seseorang yang bisa dilihat baik keluarganya. Adikmu pun memberitahu Mama dia sedang mempersiapkan pernikahan. Mama turut senang untuk kalian."


"Mama bagaimana?"


"Mama?"

__ADS_1


"Apa Mama tak kesepian?" Mama tertawa.


"Jangan pikirkan Mama, Mama punya banyak teman untuk menghibur Mama. Tapi kali ini demi adikmu, Mama akan mengunjungi Papa Lam dan istrinya, Istrinya dengan baik hati sudah membantu adikmu, tidak membedakan dengan anaknya yang lain, adikmu tidak pernah mengeluh pada Mama dia diperlakukan tidak baik. Mungkin Mama melakukan ini terlambat tapi daripada tidak sama sekali."


"Aku senang Mama ingin melakukan itu Mama."


"Ya sudah nanti jika Mama mau bertemu Papa Lam dan keluarganya, teleponkanlah untuk Mama?"


"Iya pasti, kapan pun Mama ingin, aku akan menemanimu. Papa juga pasti senang kita tidak saling membenci lagi. Sebenarnya kemarin Papa Lam juga membantu memenangkan Paman, tapi dia bilang tidak usah bilang, karena dia menaruhnya atas nama Philip."


"Ohh begitukah. Kalau begitu Mama harus mengucapkan terima kasih untuknya. Ngomong-ngomong sejak kapan kau berbaikan dengannya?"


"Sudah lama, saat aku punya masalah di Jakarta. Aku bertemu dengannya di Jakarta."


"Ternyata begitu. Baiklah, nanti Mama beri tahu kapan Mama bisa bertemu Papa Lam."


"Iya Mama."


Akhirnya Mama berbaikan dengan Papa Lam, tapi malah tak bicara dengan Papa. Cerita hidup ini memang tak bisa ditebak.


Sebuah berita terlihat olehku malam ini. Papa memutuskan bercerai dengan wanita ular itu. Akhirnya dia mendapatkan balasannya juga.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu." Koko melihatku menarik sebelah bibirku, tersenyum sinis sambil melihat handphoneku.


"Tidak, aku hanya melihat berita Papa akhirnya menceraikan ular itu." Aku berada di apartmentnya Koko sekarang.


"Akhirnya mereka bercerai?"


"Menurut berita ini begitu."


"Dia tak akan bekerja di Shing Heng Hongkong lagi?"


"Aku tak tahu tapi katanya dia bilang ke Paman untuk di tempatkan di Shanghai. Aku sudah menduga waktu aku mendengar dia akan pindah ke Shanghai. Kurasa dia memang akan pindah ke sana."

__ADS_1


"Ya, mungkin seperti itu lebih baik."


Koko tidak berkomentar lebih jauh, memang bukan urusan kami. Papa sudah tahu memutuskan jalan hidup yang ingin dia tempuh. Sudah dipastikan Papa harus menyerahkan posisi CEO yang sudah dipegangnya selama ini.


"Apa orang yang mengirimimu pesan kemarin masih mengirimimu pesan."


"Kurasa tidak. Apa mantan istrimu masih menghubungimu."


"Dia masih mencoba tapi aku tak pernah membalasnya lagi satu katapun. Jadi belakangan nampaknya dia tidak mengirim pesan lagi."


"Lama-lama dia juga sadar selama kau tak meladeninya." Kurasa semua masalah akan ada saat tenangnya, mungkin ini saat tenang kami. "Kau tahu akhirnya Mama berbaikan dengan Papa Lam karena pernikahan adikku. Aku senang dia melakukannya."


"Papamu belum berbicara denganmu lagi."


"Belum. Menurutmu aku harus meneleponnya?"


"Kurasa kau bisa punya kesempatan menemuinya di sini beberapa hari lagi. Bicaralah padanya sedikit, tak baik menyimpan dendam."


"Aku bukan dendam, aku hanya pikir dia tidak melakukan hal yang benar, aku membenci apa yang dia lakukan, tapi ya dia tetap Ayahku, aku bisa seperti ini karena dia juga. Belakangan aku menyadari dari sudut pandangku pilihan hidupnya tidak kusukai, tapi itu dari sudut pandangku yang mengatakan itu salah, di sudut pandangnya apa yang dia lakukan adalah benar."


"Akhirnya kau mengerti. Kita tak bisa mengatur pilihan orang lain, hanya bisa mengatur bagaimana cara bijak menanggapinya dan mengatur diri kita sendiri seperti yang kita mau. Semua orang menanggung konsekuensi pilihannya sendiri. Menyimpan dendam dan sakit hati terhadap kelakuan orang lain adalah sia-sia."


Aku tersenyum, dulu di masa mudaku, aku tak akan pernah berpikir tenang seperti ini. Seiring waktu, terutama dengan kejadian beberapa tahun belakangan, aku melihat banyak hal yang membuatku belajar.


"Sebentar lagi Tahun baru, kau tahu tahun pertama keluarga kami tak berkumpul lagi, aku menangis semalaman sendiri. Dua kali aku menangis seperti itu dalam hidupku, rasanya menyedihkan sekali harus melewatkan malam tahun baru dengan menangis seperti itu. Kau berharap mereka ada, makan bersama, tapi yang kau dapatkan adalah makan malam dengan masalah... dan kenyataan orang tuamu berpisah dan membenci satu sama lain."


"Itu hal yang wajar, ... setiap kita punya keinginan keluarga kita baik-baik saja. Tak ada yang ingin mengalami keluarganya pecah." Dia memeluk bahuku.


"Berjanjilah kita tidak akan membiarkan anak-anak kita mengalami itu. Mereka perlu kita, walaupun sampai tua, mereka perlu Ayah Ibunya."


"Kita akan mengusahakan yang terbaik, kau dan aku. Anak-anak kita akan melihat kita sebagai teladan dan sumber kebahagiaan mereka. Itu janji kita, untuk memberikan mereka keluarga bahagia dan kita akan membahagiakan satu sama lain." Dia memberikan janjinya dengan memberikan tautan jari kelingkingnya. Aku tertawa dan mengaitkan jari kelingkingku padanya.


"Kita berjanji saling membahagiakan satu sama lain. Aku suka itu, aku kadang bawel, jangan ikut marah kalau aku sedang emosi, nanti aku sadar sendiri kalau sudah tenang."

__ADS_1


"Aku melihatmu tak seseram itu sebenarnya, jika kau marah, kau malah jadi licik, tapi tidak impulsif, dulu sepertinya iya, reputasimu agak seram." Aku tertawa.


__ADS_2