TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5. Part 26. I Will Come Again Tomorrow 1


__ADS_3

POV Julie.


Aku mendengar berita tentang persidangan orang yang menjadi incaran Louis beberapa minggu yang lalu. Thomas bilang persidangannya masih berjalan belum bisa dipastikan kapan keputusannya.


Tapi hari ini dari pagi entah kenapa rasanya ada yang salah. Sesuatu yang menbuatku tidak tenang seperti firasat jelek akan terjadi sesuatu. Perasaan ini terus membayangiku seharian. Aku menjadi khawatir sekarang.


Perasaan ini tak hilang sampai malam, entah kenapa aku merasa harus menelepon Kimberly. Aku melakukannya. NY dan London berbeda lima jam harusnya ini masih sore.


"Julie." Kimberly mengangkat teleponku.


"Kim, bagaimana kabarmu. Kau baik?" Dan aku mendengar dia terisak. Kenapa dia menangis apa yang salah.


"Aku tidak baik-baik saja. Louis baru saja tertembak, sedang menjalani operasi, belum keluar dari sana dan aku tidak baik-baik saja." Mendengarnya membuatku limbung?! Tertembak?! Bukankah dia punya pengawal, bagaimana dia bisa sampai tertembak.


"Apa?! Bagaimana..." Dia masih terisak sementara rasanya jantungku ikut teremas mendengarnya.


"Aku tak tahu Julie, ini seperti mimpi buruk, aku harap aku tak ada dalam mimpi ini, ini mengerikan. Aku hanya mendengar suara tembakan di perjalanan kami di tempat parkir dan dia sudah roboh tertembak."


"Siapa yang menembaknya?"


"Aku tidak tahu, mereka sedang bekerja mencari penembaknya."


"Dia tertembak dimana, apakah parah?" Kalau dia sampai menangis begitu pasti parah.


"Dada kiri, dia tak sadar saat dibawa kesini. Aku takut Julie, dia menyebut akan bertemu Chelsea, aku takut aku harus merelakannya seperti Chelsea, padahal aku menjaga dia tidak terlibat langsung. Aku tak tahu apa ada yang mengenalinya sebagai suami Chelsea." Chelsea itu pasti nama istrinya yang terbunuh. Dada kiri, orang itu pasti menginginkan dia mati.


"Jadi sekarang dia masih di ruang operasi?"


"Iya, kami hanya bisa menunggu di sini dan tak tahu bagaimana kabarnya. Aku sangat khawatir, dia sudah tiga jam masuk ke ruang operasi dan tak ada kabar sama sekali. Aku sangat takut karena dia menyebut Chelsea." Sekarang aku ikut menangis juga bersama Kimberly.


"Dia akan selamat, dia akan selamat. Tuhan akan menolong orang baik sepertinya." Aku juga tak bisa menutupi kekhawatiranku lagi.

__ADS_1


"Aku akan langsung ke NY besok, mencari penerbangan pertama. Melihat keadaannya."


"Kau mau kesini tiba-tiba? Apa tidak menganggu jadwal kerjamu?"


"Aku memang harus ke NY seminggu lagi. Show musim gugur akan dimulai. Aku hanya mempercepatnya."


"Baiklah, terserah padamu."


"Kirimkan rumah sakit tempat Louis dirawat."


"Akan aku kirimkan padamu. Nanti jika ada kabar aku juga akan mengabarimu, semoga dia bertahan di ruang operasi."


Aku langsung mencari tiket penerbangan besok pagi. Aku menemukannya, dan langsung memilih opsi pembelian, lalu mengepak keperluan yang kubutuhkan secepatnya. Menelepon housekeeper di NY bahwa aku akan kesana besok.


Sejujurnya aku tak tahu kenapa aku melakukan ini, tapi aku tak bisa menahan air mata dan rasa khawatirku atas keadaannya. Aku berkali-kali mengirim pesan kepada Kimberly menanyakan keadaannya. Hari sudah larut, tapi aku sama sekali tak bisa tidur karena khawatir.


Hubunganku bersama Colin terasa tenang dan nyaman, tapi aku membohongi diri sendiri karena aku selalu memikirkan Louis, jika di bilang mungkin aku tak sepenuhnya bersamanya. Dia baik, sangat baik, tapi setengah dari hatiku sudah jatuh ke tempat lain walau mungkin Louis juga tak pernah memikirkanku. Aku yang sudah tertawan olehnya.


Aku tak sabar melihat jam sampai besok. Mengupdate keadaan Louis dari Kimberly sampai tak bisa tidur sudah jam 2 malam.


"Dia sudah keluar, masih observasi ketat, tapi kata dokter pelurunya tak mengenai bagian vital, seharusnya kondisinya bisa stabil. Dia belum bangun." Aku baru lega setelahnya, bersyukur aku diberi kesempatan melihatnya lagi.


"Aku akan tiba besok siang jam 12 siang. Aku memesan penerbangan jam 8 dari London."


"Iya baiklah. Aku akan ada di sini besok menunggumu."


Aku berangkat dengan penerbangan pertama yang bisa kutemukan. Hanya sempat tidur sebentar setelah mendengar kabar dari Kimberly. Sisanya aku coba tidur di pesawat dengan penerbangan panjang 7 jam itu.


Hampir jam 12 aku sampai di JFK dan langsung menuju rumah sakit. Kimberly melihatku di lobby melambai padaku.


"Bagaimana keadaannya." Kedua kali kami bertemu. Aku sekarang tahu dia juga adalah sahabat Chelsea.

__ADS_1


"Dia tadi bangun sebentar, tapi dokter bilang dia masih di bawah pengaruh obat, jadi dia tertidur lagi, ternyata lukanya tidak mengenai arteri atau bagian penting, syukurlah. Ibu dan Ayahnya juga sudah tiba di sini dari rumah mereka di Minnesota tadi pagi. Kau sampai mengkhawatirkannya begini, baji*ng*an itu beruntung sekali, kita menangis mengkhawatirkannya tapi dia baik-baik saja syukurlah..." Kimberly sudah bisa sedikit tertawa. Aku hanya tersenyum.


"Apa dia bisa di jengguk?"


"Tentu saja. Ayo kukenalkan pada Paman dan Bibi juga." Aku menitipkan koperku ke nurse station sebelum melihatnya. Dua orang tua terlihat menunggu di ruangan VIP itu. Dia ternyata sudah di ruangan biasa.


"Paman, Bibi, ada yang jauh-jauh dari London ingin melihat Louis." Ibu dan Ayahnya tersenyum melihatku.


"Kau teman Louis? Kau terlihat mirip... " Ibunya tak jadi bicara. Aku tahu apa yang ingin dia katakan, bahwa aku mirip Chelsea, kenyataan yang menyakitkan, tapi aku sudah berdamai menerimanya.


"Aku Julie Harris Bibi, senang bertemu denganmu." Aku menyalami Ibunya dulu sebelum ke Ayahnya.


"Kau Julie Harris yang pemain film itu bukan?" Papanya yang sekarang menelitiku.


"Iya Sir, aku Julie Harris yang itu."


"Dia artis terkenal. Kau dari London, baru dari airport? Kau baik sekali pada anakku." Papa Louis bertanya lagi. Mamanya menatapku tak percaya. Mungkin tak percaya anaknya punya pengagum selevel selebriti.


"Kau pasti lelah, kau kesini jauh-jauh untuk melihatnya." Dia mengajakku ke bed perawatan Louis. Aku jadi bersyukur dia tidak dalam alat bantu terlalu banyak. "Dokter bilang dia masih harus banyak istirahat, walaupun tidak ada kondisi yang harus dikhawatirkan. Tapi mungkin seminggu dia harus tetap di sini dalam pengawasan. Sebelum boleh pindah ke rumah."


"Syukurlah dia baik-baik saja." Aku menghapus air mataku. Setidaknya dia tidak mati sia-sia di tangan penjahat. Dia tidak boleh mati. Ibunya menepuk bahuku.


"Apa kalian, ...kekasih?" Pertanyaan yang akan ditanyakan siapapun kukira, tapi sayangnya bukan.n


"Tidak, kami hanya teman."


"Ohh teman." Ibunya mengangguk mengerti. "Kau baik sekali, mengkhawatirkannya seperti ini. Terima kasih sudah terbang sejauh ini."


"Tak apa Bibi, aku memang ada pekerjaan di New York minggu depan. Aku hanya lega melihatnya baik-baik saja."


"Dua jam lalu dia bangun, mungkin dia nanti akan bangun lagi. Kau sudah makan siang. Bagaimana kalau temani Bibi makan siang? Atau kau ingin kembali istirahat dulu, kau bisa kembali kapan saja, anak nakal ini baik-baik saja? Kau pasti lelah menempuh perjalanan begitu panjang." Bibi bersikap baik sekali padaku.

__ADS_1


__ADS_2