
Aku melihat Kak Cheng yang terkejut sama denganku. Menghela napas, Nathan ini membuatku kehabisan ruang sekarang, aku punya pikiran gila apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku berbalik ke belakang.
"Kita cuma punya jadwal bertemu breakfast besok, aku tak pernah mengundangmu kesini."
"Ohh jadi kau mengundang dia ke sini?"
"Tunggu dulu ini salah paham, kami..." Kak Cheng langsung menengahi kami. Tapi aku memotongnya.
"Jika aku mengundangnya ke kamarku pun itu bukan urusanmu. Kau yang mengangguku bukan Kak Cheng." Kak Cheng melihatku dengan tak percaya.
Nathan diam.
"Brother Cheng, kau punya hubungan dengan dia." Dia sengaja mengabaikan pernyataanku dan bicara dengan Kak Cheng seolah aku tak ada. Dia membuatku emosi sekarang.
"Ini ..." Dia melihatku dan Nathan yang bersitegang.
"Ayahmu yang menyerahkanmu pada pengawasanku. Ikut aku." Dia memegang tanganku. Menarik aku ke sisinya, kulepas tanganku dengan sekuat tenaga.
"Issh, jangan menyentuhku bangs*at. Aku tak mau melihatmu lagi." Aku mendesiskan kata itu pada Nathan dengan emosi memuncak. Berani sekali dia menarik tanganku.
"Kalian berdua, jangan bertengkar. Nathan tahan dirimu. Dia Ayo, kalian membuat keributan di sini, sudahlah..."
"Kau perempuan tak tahu diuntung, aku mengangkat keluarga Wong dan Chan, jika kau bersamaku, kau bergabung dengan keluarga ternama di Hongkong. Tak tahu diri, aku memperlakukanmu seperti ratu tapi kau tak punya empati sedikitpun!"
"Kau yang tidak berhak mengganggu kehidupanku begini, aku tak perlu uangmu, kukatakan sekali lagu aku menolak perjodohan ini. Pulang ke Hongkong sana aku tak pernah mengundangmu ke sini, tak perlu kau disini. Jelas!"
"Ikut aku, kita bicara." Dia menarik tanganku sekali lagi, kali ini aku tak bisa melepaskannya.
"Lepas, atau aku akan berteriak." Aku terseret tarikan tangannya.
"Kalian berdua, sudahlah. Nathan sebaiknya kau tinggalkan dia." Sekarang Kak Cheng yang membantuku menarik tanganku.
"Brother Cheng, ini bukan urusanmu. Ini urusan keluarga kami. Kuperingatkan kau!" Nathan mengancam Kak Chen sambil menunjuknya.
"Aku bukan keluargamu! Lepas!" Dia tetap menarikku ke arah lift, sementara posisi kami yang dekat ke bagian dalam lobby dan dia diuntungkan. Aku sudah ingin berteriak sekarang.
__ADS_1
"Nathan lepaskan dia!" Kak Cheng akhirnya mengambil tindakan memisahkan kami, Nathan melepaskan cengkramannya padaku, sementara keamanan datang. Aku membenci Nathan Chow sekarang dia pamaksa rendahan yang berpikir dia bisa menang dengan fisik.
"Ada apa ini, Tuan dan Nona. Kalian punya masalah?"
"Orang ini memaksaku untuk mengikutinya ke kamarnya. Saya tamu disini, orang ini menggangu saya." Aku menunjuk ke Nathan dengan serta merta.
"Apakah benar Tuan? Mohon jangan menggangu tamu lain. Sihlakan kembali ke kamar Anda Tuan."
"Kau akan membayar penghinaaan ini Cherrie."
"Kau yang menghinaku! Kau pikir aku mengemis uangmu?!"
Sementara keamanan menghalangi Nathan, Kak Cheng menahanku yang sudah panas ingin mencercanya habis-habisan.
"Tuan tolong pergi saja." Dua petugas keamanan menghalagi dia yang ingin maju lagi.
"Lepas!" Akhirnya dia pergi juga setelah membentak petugas keamanan.
"Beraninya main tangan dengan wanita!" Aku masih kesal dan berteriak ke arahnya.
Dan dia mengarahkan aku kembali ke kamar. Aku diam karena kesal masuk ke kamarku tanpa suara dan duduk begitu saja.
"Sudah tenanglah, tambah kau memprovokasi orang seperti itu dia akan lebih senang lagi mencari masalah denganmu."
"Maaf kak Cheng, aku salah melibatkanmu."
"Bukan masalah kau melibatkanku, tapi kau sendiri disini, tanpa teman, jika dia memutuskan untuk melakukan sesuatu karena terpancing provokasimu akan banyak masalah."
"Iya, maaf, aku kesal tadi..."
"Sudahlah, tak apa, kenapa kau minta maaf, dia memang melewati batas begitu dia menarik tanganmu. Berapa hari kau disini? Kau mau pindah hotel saja, menghindari keributan lebih jauh dengan orang itu."
"Tak apa tinggal dua malam, sulit mencari kamar semalam ini. Outfitku sudah di lemari semua, sulit menyusun semuanya dari awal lagi. Packing barang-barang ku harus kuselesaikan di hari terakhir."
"Kau yakin, bagaimana kalau besok dia memaksa denganmu begitu lagi."
"Aku akan berteriak ke keamanan gedung dan membuatnya dikeluarkan dari tempat ini. Dia tak akan berani. Acaraku ke tempat umum semua. Aku tak apa Kak Cheng terima kasih sudah membelaku, aku yang minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini." Mencoba tertawa, lain kali aku akan menendangnya, coba saja sekali lagi dia berani menarik tanganku.
__ADS_1
Kak Cheng diam.
"Kau tak punya siapapun disini, kau yakin ini aman? Kau bisa pindah ke hotelku. Itu suite, besok akan kuperpanjang, hari ini aku bisa tidur di bed tambahan...."
"Tak perlu Kak Cheng, kau lihat barang-barang ini, banyak sekali yang perlu aku packing di hari terakhir. Ini butuh waktu packing, in. Dia tak akan berani macam-macam. Tinggal dua malam lagi, dia tak akan gila berani macam-macam denganku."
"Kau yakin? Kubantu kau packing juga tak apa?" Aku tersenyum dia manis sekali. Sampai mau membantuku packing.
"Jika kau membantuku packing aku akan lebih marah-marah tak jelas karena kau membuatku pusing." Dia tertawa akhirnya dari tadi mukanya terlalu serius. Kupikir dia akan memarahiku dari tadi.
"Baiklah, jika dia nekat, kau punya semprotan lada?"
"Ada tentu saja." Aki meringis lebar begitu Kak Cheng bertanya sampai ke semprotan lada.
"Perlihatkan padaku." Dan sekarang dia tak percaya sampai melihatnya sendiri. Aku mengambil tasku dan memperlihatkannya.
"Ini semprotan plus pena tajam di tempat yang gampang di jangkau di tas, aku tahu dasar bela diri dan cara membela diri, kau tak usah khawatir, aku sendiri bukan dalam waktu yang singkat. Aku malah pernah menyemprot penjabret di Paris ini."
"Bukan masalah kau punya semua itu, itu langkah terakhir. Jika kau tidak ingin meladeninya, tinggalkan dia jika bisa saat kau melihatnya hindari dia. Itu akan lebih baik. Jangan mencari masalah, bagaimanapun dia punya tenaga lebih besar, lagipula tak ada gunanya bertengkar tanpa hasil." Dia malah menceramahiku.
"Iya aku mengerti, aku tahu maksudmu Kak, aku tak akan sengaja bertengkar dengannya lagi, aku akan menghindarinya jika melihatnya..."
"Kau yakin tak mau pindah? Kubayar perpanjangan kamarnya?"
"Tidak." Aku tersenyum, senang ada yang menawarkan bantuan dengan begitu tulus padaku. "Aku sudah banyak menyusahkan Kakak, sudah malam, Kak Cheng pulang saja dan istirahat, aku akan baik-baik saja."
"Jika ada sesuatu kau tahu kemana kau meminta bantuan disini?"
"Aku punya kolega disini. Kak Cheng, tenang aja aku berusaha tak mencari masalah dengannya."
"Baiklah." Dia berjalan ke pintu. "Ingat untuk menutup pintumu dengan baik. Tak usah mengantarku."
"Selamat malam Kak Cheng, terima kasih buat makan malamnya. Buat bantuannya tadi juga."
"Ya sudah jaga dirimu." Kak Cheng pergi dan aku menutup pintu. Tersenyum sendiri dengan apa yang terjadi, perasaan terlindung ini, walaupun dia memarahiku, tapi maksudnya baik.
Kapan aku bisa bertemu lagi dengannya.
__ADS_1