TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 12. Dua Tamparan


__ADS_3

Aku pulang dan  menemui Mama yang penuh kekhawatiran dan pertanyaan kemarin.


“Kok bisa dia ngejebak kamu sampai begitunya Ta?”


“Gak tahu Ma, Tata sudah bilang  kita cuma temen. Kemarin juga dia bersikeras ngajak keluar Tata sebenarnya males, tapi dia  maksa, Tata gak tahu kalau dia gak bisa nerima itu sampai berani ngejebak Tata.”


“Jangan keluar lagi sama dia Ta. Kalau gak ada Pak Derrick gimana kamu. Untung  ada yang liat.”


“Iya Ma, Tata gak bakal keluar lagi sama dia.” Aku berjanji tak akan keluar lagi dengan Marcello, tak pernah lagi mempercayainya sebagai orang yang pantas kusebut teman.


Pagi-pagi saat datang ke kantor aku melihat Marcello berjalan ke ruangannya, dan mengikutinya bicara di  ruangannya pagi itu, dia pun melihatku. Tapi nampaknya dia tidak berniat menghindariku. Aku masuk dan berdiri di depannya.


“Kenapa kau menjebakku?” Dia sekarang berdiri didepanku.


“Karena aku kehabisan cara memintamu baik-baik.” Tanganku melayang untuk sebuah tamparan. Dia melihatku dengan ekspresi sulit ditebak.


“Sekarang kita tidak akan berakhir baik-baik. Mulai hari ini kita bahkan bukan teman lagi.” Aku berbalik tapi Marcello mencekal tanganku.


“Kau kenapa begitu sombong, aku bersikap begitu baik padamu selama ini. Apa sih yang kurang dari gue Ta?” Aku menepiskan tangannya dengan marah sekarang.


“Kalo gue gak mau ya gak mau Marcel, berapa kali harus gue  bilang ke lu! Masih banyak wanita lain yang mengejar lu, kenapa harus menjebak gue, lu pikir dengan bisa nidurin gue, terus gue bakal sama lu. Gue  memasukkin lu ke dalam penjara! Gue kasih tahu lu aja, gue masih mandang  kebaikan lu, gue masih maafin lu kali ini, tidak menyebarkan kejadian ini, tapi sekarang kita sudah gak temanan lagi. Jelas!”


“Nita!” Aku mendengar panggilannya  begitu aku membanting pintu dan keluar, tapi mulai hari ini, aku tak akan peduli  padanya lagi. Orang-orang di cluster ruangannya  melihat kami bertengkar karena ada bagian kaca yang memungkinkan orang  melihat apa yang terjadi, tapi tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas aku tak akan perduli lagi dengan keberadaannya sekarang.

__ADS_1


Masuk ke ruanganku sendiri dengan perasaan masih kesal. Semua orang  melihat mukaku yang bete. Yenni muncul dengan penasaran.


“Nit? Kenapa lu, lu berantem ama Marcel, bukannya lu kemarin pergi sama dia...”


“Udahlah Yen, gue gak mau bahas dia.”


“Kenapa? Dia punya cewe lain?” Yenni malah menyangka aku mau pacaran sama Marcello.


“Kapan gue pacaran  sama dia. Lu  aneh-aneh aja nanyanya.”


“Ohh engga...”


“Kerjaan  banyak, meeting ama tim produksi bahannya udah siap? Udah. Ya udah kita ngurusin kerjaan aja. Gak usah ngomongin dia”


Begitu seterusnya sampai beberapa hari kemudian dia tak menyapaku di kantor. Aku menganggap dia menyerah dan masalah kami selesai.


“Nita.” Suara Marcello ketika aku berhenti di sebuah Mall untuk membeli  pesanan Mama saat pulang kerja. Apa dia mengikutiku?


“Lu  ngikutin gue... ?” Sebuah rasa khawatir menyelinap di hatiku saat dia muncul di belakangku tiba-tiba. Apa yang di lakukannya disini.


“Saya denger kamu mau ke Mall tadi pas kamu mau pulang...” Aku berjalan terus ke arah pintu masuk. Tak mau sendiri begini sama orang yang berani masukin obat ke minumanku. Gimanapun dia cowo.


“Gak usah aneh-aneh Cel, gue udah bilang kita bukan temen lagi, yang ngejer lu banyak, gak usah nyusahin diri  lu sendiri.”

__ADS_1


“Nita, sebenernya apa sih kurang gue ke lu.”


“Gak ada.  Lu gak punya kurang, mapan, ganteng, baek, gak ada kurangnya. Cuma hidup gue juga gak ada kurangnya sekarang, gak perlu ditambah lagi. Gue udah bilang sama lu, gue gak tertarik buat merried. Simple Cel, even lu tidur sama gue pun gak  akan ngerubah itu...”


“Lu belum coba apapun, kenapa gak kasih kesempatan buat gue, gak setiap cowo sama kaya Papa kamu.” Sekarang aku berhenti dan menghela napas panjang, ngadep dia.


“Lu gak ngerti  ya Cel, ini pilihan hidup gue, napa lu ribet banget sih.”


“Lu gak ngasih kesempatan...” Aku memotongnya.


“Gue  gak pernah ngasih kesempatan ke siapapun Cel. Bukan lu doang yang gue giniin kalo lu mau tahu. Ini pilihan hidup gue.” Sekarang dia diam.


“Begitu?”


“Iya begitu...” Aku menentang matanya.


Tiba-tiba dia mendekatiku, dan dalam sekejab dia merangkul pinggangku dan mengunci tengkukku. Bibirnya mengunci bibirku, membuatku tak bisa bernapas dalam hitungan  detik  kemudian dan reflek aku mendorongnya dengan keras, tapi sesaat dia menguasai keadaan. Menguasai bibirku secara paksa.


Sebuah tamparan kedua melayang dari tanganku begitu aku bisa melepaskankan diri.


“Lu beraninya...” Marcello tersenyum kecil padaku saat aku menunjuknya tapi tak bisa mengeluarkan kata-kata karena kaget. Dia mengelus pipinya yang sudah kutampar dua kali.


“Jadi tadi ciuman pertama kamu bukan? Tamparan ini cukup adil.” Pipi dan mataku memanas sekaligus, aku tak tahu apa yang harus kujawab.

__ADS_1


Aku mundur, sekarang aku tak berniat masuk mall lagi. Aku berbalik berlari ke mobilku. Merasa diriku sangat pengecut sekarang. Marcello kurang ajar itu. Aku benci dia. Benci sekali...


__ADS_2