
Mansion besar itu tempat parkirnya penuh, beberapa diarahkan ke sebuah lapangan parkir yang disewa dan di sediakan mobil jemputan. Tukang pamer ini memang ingin memperlihatkan Mansion besar yang baru dibelinya di daerah Cannes, pesisir selatan yang disebut French Riviera atau Cote d'Azure.
Kota dengan banyak populasi villa dan mansion yang dalam bahasa Perancis disebut Chateau ini, juga terkenal dengan festival filmnya.
Tim kami sudah berada di Cannes beberapa hari sebelumnya. Karena mereka harus berhubungan dengan penyedia jasa makanan.
Aku dan Charles datang satu hari sebelumnya. Beberapa selebriti datang, mereka di bayar untuk datang tentu saja. Sementara aku sedang berpura-pura liburan di Cannes, mendengar berita itu, menyewa villa dan bersedia datang.
"Ehm, mungkin kita harus beramah tamah ke yang lain dulu, sebelum kau bisa menghilang."
"Iya, aku tahu." Kami mempelajari tata ruang, dan harus melalui plafon. Satu orang dalam tim, akan berganti baju menjadi petugas keamanan, sementara Charles akan naik ke atas.
Kami masuk dan aku harus mengobrol dengan banyak tamu. Sampai saatnya nanti pidato rumah Alberto Tosar, aku dan Charles menyusup ke belakang.
"Selanjutnya... Tuan Alberto Tosar akan membuka acara ini secara resmi." Kami sudah akan bersiap-siap sekarang.
Tapi di barisan VVIP aku menangkap seseorang yang kukenal. Bas*tard Louis Allen itu apa yang dilakukannya di sini. Ternyata dia satu geng dengan penjahat. Dia memang bastard, yang kutahu dia memang terlibat bisnis penggelapan uang, dia memang iblis.
Dia melayangkan pandangannya dan menangkap sosokku, kami berpandang-pandangan, aku membuang pandanganku, entah apa yang dipikirkannya aku tak perduli.
"Julie, kita mulai." Charles berbisik padaku. Aku dengan otomatis mengikuti langkahnya, mundue ke belakang dan mengandeng tangannya.
"Ada seseorang mengenaliku."
"Apa maksudmu seorang mengenalimu?" Charles langsung bertanya.
"Kelly, ada Louis Allen disini. Dia melihatku." Aku dan semua tim terhubung dengan kontrol utama.
"Kita berbeda tujuan, selama dia tidak menggangu kita lanjutkan saja. Dia orang pemerintah, kurasa entah dia dalam penyamaran juga, Alberto Tosar juga target mereka." Benarkah? Tapi kenapa dia di VVIP, jelas dia bekerja sama dengan mereka.
Aku melihat anggota tim lainnya sudah bersiap dengan backup mereka. Kami harus bersikap normal layak kekasih untuk menghindari kecurigaan pengawas.
"Ok." Carlos dengan cepat menyelinap ke tempat yang telah di konfirmasi oleh agen yang menyamar jadi petugas catering pesta sebelumnya.
Aku menunggu sebentar lalu bergabung lagi dengan para kerumunan tamu, rupanya Alberto Tosar masih berpidato.
"Apa yang kau lakukan disini." Kau tahu siapa pemilik suara ini. Aku melihat padanya. Louis yang menyebalkan, tetap punya pesona dengan pakaian pestanya.
"Bukan urusanmu kurasa."
"Kau tahu siapa dia. Dia bisa membunuhmu." Ternyata benar dia juga menyamar.
"Dia juga bisa membunuhmu kurasa. Lebih kita tak usah saling kenal. Pergilah, bukankah kau VVIP di sini. Jangan mengangguku. Kau membuatku dalam resiko di sini."
"Siapa penghubungmu, masih sama seperti tahun yang lalu? Kalian mau apa? Aku bisa membantu kalian. Asal kau jangan muncul di sini lagi."
__ADS_1
"Aku lelah bicara padamu. Pergilah." Aku tidak memperdulikannya.
"Louis, ternyata kau mengenal Nona ini. Kau memang punya kualifikasi Don Juan." Aku menoleh, Alberto Tosar ternyata sudah berbaur kembali ke pesta makan malam, berjalan dengan tamu-tamunya.
"Tuan Alberto, tidak kami hanya pernah bicara beberapa kali." Alberto
"Beberapa kali itu nampaknya banyak, kalau sekali itu hanya kebetulan, betul Nona Harris. Terima kasih sudah bersedia bergabung dengan kami." Dia menjabat tanganku, aku tersenyum menerima jabat tangannya.
"Aku kebetulan berada disini Tuan Alberto, terima kasih sudah menerimaku untuk bergabung, dan pria ini memang Don Juan. Anda tidak salah menilainya, dia punya banyak wanita di sekelilingnya." Aku tak perduli apa yang dia katakan sekarang yang penting Carlos tak tertangkap, semoga dia tak bertanya apa aku membawa partner ke sini. Alberto Tosar tertawa dengan jawabanku.
"Nona Julie, pria sukses selalu punya banyak pengagum yang mengejarnya. Nampaknya yang kau temui ini adalah salah satunya. Tapi mungkin dia hanya punya satu wanita di dalam hatinya."
"Saya akan berusaha percaya itu Tuan Alberto, tapi yang jelas satu itu bukan saya. Anda dan istri Anda nampaknya salah satu contoh ideal hubungan harmonis yang perlu kami contoh, dan kemurahan hati Anda adalah hal yang patut ditiru." Kupuji saja dia untuk mencari bahan pembicaraan.
"Terima kasih Nona, kami ini hanya orang tua yang sudah puas dengan apa yang kami capai sekarang. Kau lama di sini?"
"Hanya sedikit liburan bersama teman-teman sebentar, sebentar lagi Thanksgivings keluarga di London sudah menunggu." Untung dia tidak bertanya apa aku membawa partner.
"Bagaimanapun terima kasih sudah mendukung saya, nikmati waktu Anda, saya harus mengunjungi tamu lainnya." Aku hampir menghela napas lega saat dia meninggalkan kami, pertanyaan yang kutakutkan tidak terjadi.
"Baik Tuan Alberto." Dan Louis masih penasaran padaku.
"Mana partnermu tadi?"
"Bukan urusanmu di mana partnerku." Aku mementahkan pertanyaannya.
"Sekali lagi bukan urusanmu? Kau dipihakku atau mau mencelakaiku? Kita jalan masing-masing." Aku tak memperdulikan perkataannya, apa dia pernah memperdulikanku? Bangsat ini tidak berharga untuk dibela.
"Aku akan menelepon Thomas itu, dia masih penghubungmu bukan?" Aku tak akan menangapinya lagi.
"Senang bertemu denganmu Tuan Louis." Kulangkahkan kakiku meninggalkannya dengan kata-kata itu. Sial, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi.
"Tetaplah tenang Julie." Kelly bersuara di headphone, aku menghela napas dan bergabung ke tamu-tamu yang lain. Mengenyahkan keinginan untuk mencercanya habis-habisan.
"Carlos berhasil menyelesaikan tugasnya. Tim yang lain akan berusaha mengamankan pintu masuk luar. Bisa kau yang menutup pintu masuk untuknya sebentar." Dia tadi naik ke atas dari toilet wanita.
"Oke." Aku bergerak menyelesaikan misi. Seorang memberi tanda padaku dia sudah siap di depan. Sementara aku menunggu satu orang terakhir keluar.
"Sekarang Carlos." Dia membuka tingkap keluar dengan cepat.
"Ada keamanan mengecek toilet, kalian harus improvisasi." Kelly mengingatkan. Kami langsung mempraktekkan latihan kami, kekasih kasmaran yang tidak bisa bertahan untuk tidak menggoda satu sama lain. Charles langsung mendudukanku di wastafel lebar itu sementara dia terpaksa pura-pura menciumku dan aku merangkul lehernya dengan mesra. Sementara keamanan membuka pintu, melihat kami yang tidak memperdulikan dunia.
"Kalian tak bisa melakukan ini di sini, ini toilet umum, love bird. Cari kamar sana!" Seorang keamanan menegur kami, karena memblok pintu.
"Sorry Sir. Kami keluar..." Aku dan Charles terkikik dan masih saling menggoda satu sama lain. Tapi ini berarti tugas kami sudah berhasil.
Aku melihat sekilas ke dalam, acara hiburan masih berlangsung, tapi sudah hampir selesai. Beberapa orang sudah pulang, dan kamipun pulang mengikuti yang lain.
"Kalian berhasil. Tim sudah mulai menerima data retasan." Kelly mengkonfirmasi keberhasilan aktivitas kami sekarang.
__ADS_1
"Kelly dia bilang dia mau menelepon Thomas."
"Biarkan saja dia menelepon. Jika ada deal, biar Thomas yang mengurusnya. Kita akan tahu juga apa yang dia lakukan disana."
Bang*sat itu! Kenapa dia harus terlibat di pesta ini. Kupikir seumur hidup aku tak bertemu dengannya lagi, ternyata hanya dua bulan kemudian dia sudah muncul lagi di depanku.
\=\=\=\=\=\=\=
POV Louis
Apa yang dia lakukan disini!? Sial, kenapa harus dia. MI6 mengejar Alberto Tosar juga?
Aku masih punya telepon Thomas, kupikir dia tahu operasi ini. Dia satu-satunya orang yang kutahu selain Julie yang hanya menerima apa yang diperintahkan padanya.
Kutelepon dia sekarang juga. Karena nampaknya Julie benar-benar membenciku, dia tak akan mau menerima teleponku.
"Louis Allen. Kejutan kau menelepon. Apa itu nama aslimu?" Dia sama sekali tak terkejut aku menelepon walaupun dia bilang kejutan, dia sudah pasti menunggu teleponku.
"Kalian mengejar Alberto Tosar?"
"Ya begitulah, seperti yang sudah kau temukan. Kau dipihak mana? Aku tak akan memberikan informasi apapun padamu. Apa kepentinganmu di kasus ini."
"Menumbangkan Alberto yang jelas."
"Lebih spesifik, dengan siapa kau bertanggung jawab, kemana aku harus meminta pertanggungjawaban, apa tujuanmu..." Langsung kupotong dia."
"Begini saja, aku akan membantu kalian apapun. Cuma keluarkan Julie dari operasi ini. Jangan biarkan dia terlibat dengan Tosar. Kalian tak tahu berapa banyak yang dia bunuh."
"Bagaimana aku menyelesaikan kasusku bukan kau yang menentukan Tuan Louis." Tapi begini saja kau bisa membantuku nanti. Tapi untuk saat ini aku belum perlu bantuanmu. Semua sedang berjalan baik, kami sudah mengumpulkan data."
"Kau pikir kau bisa menemukan satu namapun yang akan menghubungkannya dengan dokumen apapun. Dia tahu menyembunyikan keterlibatannya dengan rapi."
"Kau terlalu pesimis."
"Pesimis, kau tak tahu apa yang sudah kami lakukan, kami sudah pernah berhasil menarik satu perusahaannya, tapi hanya orangnya yang membayar penjara, dia tetap aman. Malah dia membunuh salah satu orang kami."
"Lalu kenapa kau ada di sampingnya sekarang?" Thomas menanyakan tujuanku.
"Ada seseorang yang ingin Alberto hancur, dan itu orang dekatnya. Aku sedang mencari celah orang dekatnya ini."
"Kau juga tak punya jaminan kau akan berhasil. Kau belum tahu siapa itu bukan. Jadi lebih baik kita jalan sesuai dengan jalan masing-masing saja. Tapi aku akan mengatakan padamu jika aku butuh bantuan. Begitu saja Louis."
"Tunggu dulu!" Terlambat, Thomas sudah memutuskan telepon. Sial, apa yang harus kulakukan sekarang.
Walaupun seharusnya Julie muncul bukan mendekatinya secara langsung, tapi jika dia muncul lagi pasti dia bisa dicurigai. Jika dengan cara meretas data berhasil, kami sudah menarik Alberto.
Sekarang apa yang harus kulakukan aku binggung.
bersambung besok ....
__ADS_1