TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 30. Cheer Up 2


__ADS_3

“Pasti puas, saya dengar tim Bu Anita juga memegang beberapa perusahaan besar.”


“Oh, kami memegang...” Aku menyebutkan beberapa perusahaan yang pernah kutangani.


“Luar biasa bakat kreatifnya.” Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Ohh ya, sudah hampir jam 5, bagaimana kalau kita sekalian makan malam.” Aku langsung membaca gambaran besar yang terjadi. Apalagi kalau bukan ingin mendekatiku secara pribadi karena aku  anak Arnold Lam.


“Pak Andrew, maaf sekali, saya ini ada meeting tim produksi. Mungkin  lain kali  oke.” Ya tenang saja, aku juga tak mentah-mentah menolaknya, kugantung saja dulu, yang penting proyeknya masuk.


“Panggil Andrew saja...”


“Oke Andrew, lain kali oke. Saya harus kembali ke kantor.”


“Thanks ya.” Aku bilang ‘thanks’ bukan ‘terima kasih’, dia tersenyum karena aku  memakai cara yang casual.


Aku melenggang pergi. Untuk pertama kalinya aku mendapat priviledge karena ada nama ‘Arnold Lam’ melekat padaku. Apa aku senang mendapat previledge didekati anak boss? Tidak, karena aku tahu dia memandangku bukan karena siapa aku, tapi siapa Ayahku.


Dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan apapun, Andrew sudah masuk ke list tong sampah sekarang, sebaik apapun dia memperlakukanku.


“Masuk,...”Ko Derrick aki ganteng ini memperhatikan wajahku saat aku masuk ke mukanya. Mungkin mencari tanda aku kurusan ,lusuh, mataku merah  lalu akan menasehatiku panjang lebar. Tapi sudah kubilang aku tak suka orang merasa kasihan padaku.


“Kokooo, kau baik sekali ngajak diriku  makan.” Sekarang aku bertingkah ceria saja sambil tersenyum lebar. Dia meringis,... nampaknya puas melihatku masih hidup dan masih bisa masang  topeng senyum.


“Mau makan apa kita tukang makan.” Plus aku lebih rela ikut Ko Derrick makan malam daripada makan malam dengan Andrew.


“Hmm...Udon. Boleh?”

__ADS_1


“Boleh, ayo.” Dia menjalankan mobilnya. “Gimana kerjaan. Sibuk banget?”


“Hmm, lumayan. Ada mau masuk beberapa kayanya, banyak proyekku, banyak duit, senang hati.” Dia melihatku menilai cara menjawabku mungkin.


“Baguslah, inget aja Papamu udah ingetin dua Minggu lagi kamu udah harus ke HK.”


“Iya-iya, dia mah tiap hari juga ngingetin Ko. Udah Papa yang ngigetin, Tante Yun juga, ya ampun.”


“Bukannya itu bagus. Mama tiri kamu juga sangat baik sama kamu.”


“Iya, Tante Yun sangat baik. Baik sekali...” Aku tersenyum, tak kupungkiri itu. Diantara rasa kehilangan ada juga sesuatu yang baik terjadi padaku. “Ada yang lebih lucu Ko.” Sekarang aku tak sabar menceritakan aku dipepet oleh anak boss gede.


“Apa?”


“Tahu gak Ko, aku kan dapet telepon kemarin dari klien baru. Langsung anak bossnya, mau bikin buat tivi, baek banget ngomongnya ramah, ehh ujung-ujungnya ngajak dinner.”


“Ewww, itu namanya udang dibalik batu.”


“Udang  dibalik batu?” Ohh ya dia mungkin tidak pintar peribahasa.


“Maksudnya ada tujuan tersembunyinya Ko. Bukan terpesona sama saya, terpesona sama Papa saya siapa...”


“Ohhh...” Koko  Derrick ketawa. “Ya...itu sih ya biasalah.”


“Ga suka.” Aku langsung memotongnya.

__ADS_1


“Coba saja dulu, jangan langsung judging begitu. Siapa tahu orangnya memang baik.”


“Gak, udah kucap jelek duluan. Ku tarik ulur aja nanti sampe kerjaan beres, paling ku iyain  buat makan doang. “ Ko Derrick meringis melihatku.


“Kejam banget ya manfaatin orang.”


“Lah  dia bukannya sama apa bedanya, coba kalo namaku gak ada embel-embel nama Papa apa dia mau ngajak makan malam aku. “



“Ya itu namanya kan  kamu dapat CEO gak susah-susah karena ada latar belakang keluarga.”


“Omong kosong, Papaku jatuh cinta  ke Mama dengan cara sangat normal, dia mencintai Mama karena memang  cinta. Aku ingin menemukan juga yang seperti itu jika aku menikah.“ Aku mendengus membantahnya. Ko Derrick tersenyum mendengarku bicara, aku baru ingat dia juga  korban cinta tak direstui keluarga.


“Ya... semoga kamu menemukan yang seperti itu. Itu bagus tentu saja. Tapi Papamu juga harus menyetujui.”


Aku diam, teringat Mama, dia menginginkan aku menikah, punya anak, tapi di umurku yang sekarang ini terlalu banyak pertimbangan yang memberatkan untukku. Aku sadar aku sangat pemilih. CEO impian para gadispun tidak menarik untukku, lihatlah dimana aku memilih berada sekarang. Lebih memilih bersama orang yang kuanggap keluarga, tapi setidaknya dia disampingku dengan niat tulus. Hanya menganggapku adik... Tapi kemudian aku penasaran sama cerita Ko Derrick. Dia sudah diatas, pekerjaan bagus, uang ada , kenapa tidak menikah lagi.


“Ko, koko gak pengen merried lagi?” Dia mengangkat bahu.


“Entah... “ Jawaban ngasal.


“Gak ada yang ngejer Ko.”


“Banyak.”

__ADS_1


"Sok terkenal." Aku ngakak menanggapinya. Ya tapi sangat mungkin sih


__ADS_2