
"Baiklah, terserah padamu." Aku memberikan kunci mobil padanya di lift yang membawa kami ke bawah. Wangi parfum ini, aku akan terbiasa mencium musk and patchouli ini selama 30 hari ini.
Mungkin akan bangun dengan merindukannya setelah 30 hari. Tapi tak apa, anggap saja mimpi indah, seperti saat liburan. Ada saatnya aku harus kembali ke duniaku kembali.
"Kita mau kemana?"
"Hmm ikut saja." Dia malah tak memberitahuku kemana. Tapi dia mengarah menyeberang pelabuhan ke Cross Harbour Tunnel untuk menyeberang ke Tsim Tsa Sui, aku mulai bertanya kemana kami akan pergi.
"Oliver kita akan kemana?" Kenapa dia membawa kami menyeberang.
"Kowloon. Bagaimana kalau kita ke Mong Kok saja, berbaur dengan tourist. Banyak makanan enak disana."
"Aku tidak mau, kenapa kita harus kesana. Kau tak serius bukan." Aku langsung mendebatnya dengan banyak hal buruk mulai melintas di kepalaku.
"Disini aku bossnya terserah aku mau kemana." Aku diam, dia sengaja mengatur agar kami pergi kesana, membenturkanku dengan masalah untuk melihat reaksiku.
"Oliver, kenapa kau melakukan ini..."
"Kita lihat ada apa yang akan terjadi jika kau pergi ke sana. Bagaimana jika kita hadapi saja apa yang muncul. Mungkin ada preman mengejarmu, kita tinggal siap-siap lari ke kantor polisi terdekat. Sederhana... daripada kau ketakutan masih ada yang mencarimu di Hongkong atau tidak bukankah kita lebih baik menghadapi masalah dan selesaikan."
"Kau kurang kerjaan mencari masalah Oliver."
"Kau yang tidak logis. Kau ketakutan sampai lima tahun tak kembali ke Hongkong. Jika kau mencuri sesuatu dari seseorang lebih baik kau selesaikan. Aku bisa membantumu, kau berhutang berapa kita selesaikan sekarang." Dia benar-benar baik menganggapku teman, ingin membantu menyelesaikan masalahku , tapi bukan itu masalahnya sekarang.
"Oliver aku tak ada hutang ke siapapun. Kenapa kau menyudutkanku begini." Mungkin sekarang waktunya aku cerita ke Ko Derrick saja. Minta bantuan apa dia bisa melalukan sesuatu jika tiba-tiba Kent memutuskan dia masih penasaran padaku.
"Sandra, lihat betapa kacaunya dirimu itu, baru aku mengajakmu ke Mong Kok saja kau sudah terlihat sangat tertekan Sandra. Sudah kubilang akan kubantu, ayo kita hadapi masalahmu sekarang... Lalu kau bisa kembali kesini kapanpun kau mau."
"Oliver, kumohon aku akan menyelesaikannya sendiri. Kumohon padamu. Kita jangan ke sana sekarang, kau tak bisa membantuku menghadapi ini." Aku sekarang memegang lengannya.
"Lalu jika masalah itu muncul siapa yang bisa membantumu? Mungkin musuhmu itu sudah tahu kau ada di Hongkong dan sekarang mulai mencarimu sekarang. Akan kuberi kau skenario terburuk yang lewat di pikiranku saja sekarang, Kowloon itu daerah Triad, kubayangkan masalahmu sekelas orang yang punya banyak orang yang bisa dijadikannya mata-mata, Triad yang punya kekuasaan ribuan orang, siapa yang bisa menolongmu? Kau pasti punya teman yang bisa kau percaya disini, lebih pasti lagi siapa yang tahu masalahmu?"
Aku memang menjadi khawatir sekarang, jika dia tahu aku di HK, dia memang bisa menyebarkan fotoku ke ratusan orang mungkin di seluruh Hongkong. Jika dia masih berniat membalasku karena meninggalkannya. Aku tahu dia belum menikah sekarang. Setelah bertahun-tahun,... apa dia masih berniat mengejarku. Kemarin dia masih berusaha...
"Sandra? Siapa yang bisa menolongmu?" Oliver bertanya lagi saat aku tak tahu bagaimana harus memberitahunya.
__ADS_1
"Sudahlah Oliver, kumohon sudahlah, aku disini hanya 30 hari, 14 harinya di Vietnam, kenapa kau mengurus masalahku. Tidak akan ada gunanya kita mencari masalah."
"Baiklah sekarang aku bertanya, jika kemungkinan paling buruk terjadi besok. Siapa yang bisa menolongmu? Siapa yang bisa kuhubungi." Sekarang aku menghela napas.
"Mungkin Ko Derrick."
"Orang yang kau bilang boss mu di Jakarta. Dia tahu masalahmu?"
"Sebenarnya tidak."
"Lalu bagaimana mungkin dia bisa membantumu?! Kau jangan membuatku frustrasi! Ini demi keselamatanmu sendiri!" Sekarang dia bicara dengan nada tinggi sehingga membuatku kaget. Dia menghela napas melihat ekspresi jeriku.
"Sorry, kau bicara berputar-putar membuatku binggung Sandra, bagaimana dia menolongmu jika dia tidak tahu masalahmu? Apa yang harus kukatakan padanya jika tiba-tiba kau menghilang suatu saat."
"Dia akan tahu karena supervisorku, bossku yang sekarang tahu. Tapi tak akan terjadi seperti yang kau pikirkan. Itu hanya kemungkinan terburuk."
"Jadi orang yang kau takuti di Kowloon ini benar punya kekuasaan dan kemampuan untuk memerintahkan banyak orang. Dan Derrick itu bisa menolongmu walaupun dia di Jakarta? Kenapa itu terdengar tak masuk akal? Bagaimana mungkin? Memang Derrick bisa menghentikan apa? Bukankah dia profesional business man di Jalarta. Kau bicara tidak masuk akal. Dia hanya bisa mengatasi itu kalau terjadi kalau dia dalam satu struktur organisasi...."
Dia melihatku dan tiba-tiba bisa mengambil kesimpulan sendiri dan kesimpulannya itu benar. Dia menarik garis merah setiap clue yang kuberikan. Aku memalingkan muka melihat jalanan, sekarang dia tahu gambaran besarnya.
Aku diam. Tiga hari disini dia sudah membongkar masalah pribadiku. Tapi sebaliknya dia juga sebenarnya menceritakan siapa dirinya.
Dia duduk di sampingku sekarang, masih menunggu penjelasan. Melihatku sementara aku sudah menyerah dengan interogasinya. Baiklah biar dia tahu semua masalahku, setelah ini mungkin dia akan menjauh.
"Kenapa dengan bossmu itu sampai kau tak pernah berani kembali ke Hongkong lima tahun. Kau bilang tidak membawa pergi sesuatu darinya?" Aku menghela napas, baiklah akan kuceritakan pada Oliver.
"Baiklah. Jika kau ingin tahu, aku dulu punya mantan pacar sangat toxic, tukang pukul, tukang siksa dan posesif bernama Kent, dia orang kepercayaan Philip, bisa dibilang dia komando utama semua kekuatanaku Boss Philip di Hongkong, aku bisa lari darinya saat aku akhirnya punya pekerjaan di Singapore, itupun dengan group musuh bebuyutan Philip. Sekarang kau puas?!" Aku jadi marah aku harus memberitahunya setelah dia memojokkanku.
"Aku sangat membencinya tapi tak bisa lari darinya selama setahun hidupku seperti ada di neraka, aku tak ingin dia tahu aku disini, kemarin aku tak sengaja bertemu dengannya di Jakarta dan dia masih... mencoba... menjangkauku. Kumohon kita tak ke Kowloon? Aku tak mau. Kau tak akan bisa melawannya dia akan membunuhmu dengan mudah jika kau mencoba, aku tak berani kembali lagi ke Hongkong, karena dia bilang akan membunuhku jika aku pergi darinya." Sekarang aku malah menangis terisak di depan Oliver. Aku mati-matian menghindari masalah, tapi dia malah membawaku ke sana.
"Kita tak akan kesana, baiklah -baiklah. Berhentilah menangis, kita tak akan kesana. Nanti kita putar arah ke Wan Chai lagi. Berhentilah menangis..." Dia memberiku tissue. Tangisanku membawa hasil juga.
Aku diam berusaha menenangkan diriku.
"Aku tak tahu kau punya trauma seperti itu, maafkan aku sudah memojokkanmu." Dia keluar dari dari tunnel, lalu mengambil jalan kembali ke Wan Chai. Aku lega selega-leganya.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa berhubungan dengan orang macam itu..
"Aku tak tahu dia punya kelainan begitu. Dia seperti pria lainnya, tapi kemudian ketika akhirnya dekat aku baru tahu dia pelaku mas*ochis*m, tukang memu*kul, mena*mpar, menganc*am, poses*if, aku bersamanya mungkin sampai aku setahunan, saat aku punya kesempatan kabur aku tak keberatan tak kembali lagi ke Hongkong. Kemarin saat kami tak sengaja bertemu di Jakarta, dia memaksaku makan siang dengannya dengan mence*kikku, dia tahu aku tak berani melawannya... Mentalku sudah ciut duluan, sampai sekarang aku tak punya keberanian."
"Kau tak pernah melawannya? Bukankah kau bisa berkelahi."
"Aku wanita, bagaimana aku bisa melawan petarung level wahid. Aku pernah melawan sekuat tenagaku, tapi kemudian dia mengirimku ke UGD rumah sakit sambil mengancam akan membunuhku jika aku berani mencoba lagi."
"Kau bilang Derrick bisa menolongmu, tapi kenapa dia tidak menolongmu..."
Kuceritakan semuanya, apa yang terjadi. Posisi Kent, posisi Derrick, bagaimana sebenarnya dulu Derrick menitipkan aku ke Kent, kenapa sekarang Derrick mungkin bisa menolongku jika Kent berkeras membuat ulah lagi. Oliver diam lama mendengar ceritaku.
"Jika dia muncul lagi, biar aku yang menghadapinya. Jika kau punya seseorang dia tidak akan berani. Akan kuadukan dia ke bossnya jika dia berani menyentuhmu lagi."
"Jangan membawa dirimu sendiri dalam masalah Oliver." Oliver diam saja sekarang, aku jadi takut dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya. "Oliver, ..." Aku mengoncangkan lengannya membuatnya menatapku.
"Ini tak bisa di biarkan Sandra, aku akan mengurus bedebah itu sepulang dari Vietnam, kau aman bersamaku di sana. Dia sudah berani mengancammu lagi di Jakarta, kau pikir dia tak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Ini harus diselesaikan. Bangsat rendahan yang cuma berani ke wanita itu harus mendapatkan balasannya."
Kenapa dia mau melakukan ini untukku.
"Tapi bagaimana kalau..." Aku malah khawatir Kent akan menjadikannya target dan mencelakainya jika dia langsung mendatanginya begitu saja.
"Sandra, percaya saja padaku. Biarkan aku bicara dengan Derrick itu, aku tahu maksudmu, aku menghadapi orang keperayaan Philip yang mungkin bisa mengancamku balik dan membahayakan jiwaku. Aku tak akan mendatanginya dan langsung bilang 'Menjauhlah dari Sandra!' aku juga tahu itu bunuh diri, aku tak jadi arsitek jika aku tak punya berlapis-lapis perhitungan dalam kepalaku."
"Kau bicara pada Ko Derrick..."
"Iya aku yang bicara pada cinta tak sampaimu itu." Aku melihatnya, apa dia sedang cemburu, kenapa nadanya seperti itu. "Yang jelas kau jangan bodoh mau ditekan bangs*at rendahan itu lagi."
"Aku pernah menendangmu ke kolam, bahkan memukulmu. Kenapa kau mau melakukan ini untukku." Dia tersenyum padaku.
"Karena kita teman. Itu saja... Aku menghargai orang yang kuanggap teman." Don Juan ini hanya mengatakan itu. Bahwa kami teman, kenapa aku jadi bertanya-tanya kenapa dia berubah begitu jauh sekarang.
Benarkah dia melakukannya hanya karena kami teman. Semua ini dilakukannya karena kami teman?
Teman kenapa menjadi temannya rasanya sangat istimewa.
__ADS_1