
Kak Cheng tidak menjawab apapun selama tiga hari ini, aku tak berani meneleponnya. Mungkin dia tak setuju, tiga hari dia tidak bertanya apapun, tidak ada satu pesanpun.
Mungkin peluangku memang kecil, kami baru 4 kali bertemu dan aku langsung menodongnya dengan pertanyaan itu. Itu seperti lamaran tiba-tiba, waktuku tinggal dua minggu sampai pertemuan 100 pemegang saham, aku harus menemukan aliansi kuat secepatnya.
Aku ada di gallery pamer empat hari kemudian, Direktur Operasional yang baru mulai bertugas, aku sudah memberikan mandat, dan mereka sedang menyusun display untuk musim baru.
"Nona, ada Tuan Anthony Cheng mencarimu dibawah." Tiba-tiba dia datang sekarang. Ada apa?
"Ohh? Baiklah suruh dia naik." Aku naik ke kantor. Dia kesini mencariku? Kenapa? Berbagai pikiran berjalan di otakku.
"Sihlakan Tuan, ..." Dia masuk aku melihatnya lagi sekarang. Seseorang yang mungkin jadi suamiku, entahlah, dia mungkin dari kantor seperti sebelumnya. Aku masih melihatnya dengan pakaian kerjanya.
"Kau sibuk?"
"Tidak ada yang terlalu penting hari ini. Lagipula jam kantor hampir berakhir."
Tapi telepon di mejaku berbunyi kembali.
"Nona, ada Tuan Nathan Chow ingin menemuimu juga."
"Nathan Chow?" Aku melihat ke Kak Cheng. Bagaimana mereka bisa datang bersamaan begini.
"Apa yang dia mau?"
"Entahlah, kurasa dia mau bertanya apa aku mau bersamanya atau tidak. Mungkim pertanyaan terakhir sebelum dia melanjutkan dengan adik tiriku seperti yang kubilang padamu."
"Kurasa aku tidak ingin muncul sekarang, lebih baik itu menjadi kejutan di tanggal 25."
"Ohh, ..." Ternyata Kak Cheng setuju dengan permintaanku? "Jadi kutemui saja dia dulu sekarang?" Karena dia menyetujui, kurasa aku perlu mengatakan padanya apa yang aku akan lakukan.
"Ya, kau boleh menemuinya."
"Baiklah." Aku mengarahkan reception untuk mengarahkan Nathan ke meeting room. "Kutinggal dulu Kak Cheng."
"Iya."
Aku menuju ke ruang meeting sekarang. Dia setuju... dia setuju, hanya itu yang ada di pikiranku.
Nathan duduk di ruang meeting di lantai yang sama dengan ruanganku.
"Nathan, ada apa kau kesini?"
"Sudah lewat sepuluh lewat dari pertemuan terakhir kita, karena aku sedang disini, dari pertemuan kita aku ingin mendengar sendiri apa keputusanmu." Dia duduk menyilangkan kakinya dengan sombong di depanku.
"Keputusanku tetap sama, aku menolak kerjasama denganmu. Tak ada yang berubah." Aku menjawabnya dengan tenang.
"Jadi kau ingin adik tirimu yang memgambil kesempatan ini?"
"Ya sihlakan. Aku akan memilih caraku sendiri."
"Fine, nampaknya kau sangat pintar. Akan kulihat bagaimana kau menangis nanti. Saat itu semua akan terlambat bagimu."
Dan dia pergi sekarang, aku kembali ke ruanganku dimana Kak Cheng menungguku.
"Dia sudah pergi." Aku masuk dan dia duduk tenang di sofa dengan ponsel di tangannya.
"Dia mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada yang baru selain dia bilang aku akan menyesal tidak menerima tawarannya."
Aku duduk sofa disampingnya, agak binggung bagaimana membuka pembicaraan lanjutan.
"Keberatan jika kita jalan-jalan. Biarkan aku yang menyetir?"
"Ohh baiklah, tentu saja boleh."
Masuk ke mobil. Kurasa jantungku mulai berulah lagi, tapi nampaknya dia tidak terpengaruh, dia mengemudi dengan tenang, sementara aku menunggu apa yang ingin di bicarakanannya.
"Apa kau lapar?" Sekarang Kak Cheng yang membuka pertanyaan duluan.
"Ya, mungkin kita bisa makan malam."
"Kesukaanmu?"
"Makanan Jepang. Apa kau suka?" Aku tak yakin apa yang sedang dia lakukan, apa ini seperti pengenalan pacaran? Dia menanyakan makan kesukaan?
"Aku suka. Nama restorannya?" Aku menyebutkan sebuah restoran di Shanghai.
__ADS_1
"Baiklah, kita kesana."
"Kau sedang berusaha semacam tahu apa kesukaanku atau hal seperti itu? Seperti orang pacaran mungkin?" Aku menatapnya dan tersenyum, seperti masa lalu, masa-masa high school mungkin, dimana aku belum jadi pemaksa sepenuhnya, masih gadis yang senang menunggu.
"Yah, mungkin." Dia membalas senyumku.
"Kau setuju?"
"Aku belum mengatakan itu."
"Ohh... Lalu?" Ternyata dia tidak secepat itu setuju, tapi kenapa dia bilang dia akan datang tanggal 25.
"Faktanya aku mungkin tak bisa memutuskan dalam 7 hari, tapi mungkin aku bisa menyetujui untuk menjadi partnermu dan mungkin membantu dalam enam bulan ke depan, tapi hubungan personal, membuat ikatan, aku jelas tak bisa memutuskan itu dalam tujuh hari. Itu seperti berjudi dengan hidupku, hal seperti itu tidak akan terjadi dengan pertukaran kesepakatan bisnis."
"Ohh baiklah aku mengerti." Dia lebih logis dari pada aku, jelas. Dia tidak mau masuk ke dalam skenario yang kubuat. Jadi apa yang harus kulakukan sekarang. "Tapi kau mau membantuku menghadiri pesta tanggal 25,..."
"Itu bisa, Ayahku dan keluargaku setuju soal membantu kalian....tapi soal ikatan personal, aku tak bisa memutuskannya secepat itu." Ternyata dia tak ingin menukar kesepakatan bisnis dan kesepakatan keluarga. Itu syarat yang lebih ringan untukku.
"Ya baiklah, aku mengerti maksudmu."
"Katakan apa plan B-mu?" Dia tiba-tiba bertanya.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?" Dia bahkan belum menyetujui apapun.
"Karena kau sudah menawarkan ikatan, aku tak akan merugikanmu, tapi kau harus belajar percaya padaku."
Kak Cheng ini punya pikiran yang bagus kurasa. Bagaimanapun dia pernah bercerai, mungkin dia tak ingin melewati kegagalan lagi. Dan ini adalah untuk membuat kami percaya satu sama lain, dia bersedia membantuku. Itu bagus sebenarnya.
"Kau di pihakku sekarang, kau yakin?"
"Aku di pihakmu, tak mungkin aku membocorkan rencanamu ke keluarga Chow atau Ayahmu."
"Baiklah. Tapi bagaimana kalau makan dulu, aku lapar Koko..." Aku bersandar pada sandaran tengah mobil, menatapnya dengan lekat.
Dia tampan tak memalukan untuk di gandeng. Setidaknya aku punya gandengan tampan daripada Nathan Chow menyebalkan dengan anak ingusan selingkuhan Papa itu.
** panggilannya ganti koko aja ya lebih match hehehe
"Baiklah, tempatnya tidak jauh lagipula."
"Terima kasih,..." Aku berterima kasih karena dia telah begitu baik bersedia membantuku.
Mungkin Kak Cheng menggangapku jelek, dia pernah mendengar reputasiku dia bilang. Saking jeleknya dia takut jatuh ke jebakanku.
Aku meringis diam-diam sekarang. Dia takut aku memanipulasinya, sama sekali tak percaya padaku kukira setelah ini. Tapi kemarin di makan malam kami dia bersikap lebih terbuka, saat dia memikirkan lagi beberapa hari ini mungkin dia berpikir aku mungkin sengaja memasang jebakan untuknya.
Itu yang aku pikirkan kukira.
Kami tiba di restoran yang kami tuju. Berjalan bersisian seperti kami berdua adalah kolega dari kantor. Aku putuskan lebih baik aku tak berusaha maju mempengaruhinya, yang penting dia mau membantuku. Aku akan jujur tentang apa yang akan kulakukan dalam enam bulan ke depan.
"Disana saja?" Aku memilih meja agak pojok agar kami bisa bicara lebih tenang.
"Ya boleh."
Kami memilih set sushi yang kami inginkan, dia membuka dengan pembicaraan ringan sambil kami makan.
"Kau ingin kita ke Shanghai bersama nanti?"
"Tanggal 24 aku masih ada meeting, pertemuannya tanggal 25 malam bukan?"
"Aku 25 pagi baru berangkat dari sini, apa itu oke untukmu?"
"Baiklah, terserah Koko saja."
"Sekarang aku ingin tahu rencanamu menghadapi ."
"Kau bantuan besar, tapi pemegang saham lain tak mungkin bergeser tanpa bantuan musuh besar keluarga Chow, walau Paman berusaha aku rasa itu tak bisa manandingi nama Papa..."
"Aku sebenarnya juga berpikir begitu, kau punya rencana apa."
"Musuh dari musuhku adalah temanku. Aku akan berusaha mencari dukungan ke Philip Leung. Aku punya link ke Philip Leung, aku ingin dia masuk sebagai sekutu, dia orang kuat satu-satunya yang bisa menghadapi pengaruh keluarga Chow dan Papaku yang sudah bercokol lama di perusahaan."
"Kalian selama ini berseberangan dengan Philip Leung bagaimana kau bisa punya akses ke Philip Leung." Kak Cheng langsung heran.
"Aku punya kakak ipar, tangan kanan Philip Leung."
"Kakak ipar darimana? Kau anak tertua." Dia langsung heran.
__ADS_1
"Aku bukan anak tertua." Dia tambah binggung. "Baiklah, aku sebenarnya punya dua orang Papa."
"Ohh ya? Siapa Papamu, kenapa kau menyebutnya Papa. Wong Lee Man bukan Papa kandungmu?! Bagaimana kau bisa lolos jadi anak kandung?" Dia langsung membuat cerita konspirasi di kepalanya.
"Mungkin Koko tak tahu... Dulu,..." Kuceritakan semua sejarah keluargaku yang sangat kacau itu. Dia mendengarkannya tanpa berkedip. Dia tak tahu soal Papa Lam dan bagaimana awal keluarga kami tentu saja.
"Arnold Lam. Jadi dia mengangapmu Putrinya."
"Iya semua anaknya baik padaku, istrinya yang sekarang, dan adikku yang adalah anak Papa Lam. Mereka semua menganggapku keluarga. Tapi sebenarnya Mamaku tak tahu aku berbaikan dengan Papa. Sebelumnya aku membenci Papa Lam... Ceritanya sangat panjang. Kacau sebenarnya, bisa dibilang rasanya aku baru tenang setelah tahun-tahun belakangan. Koko jangan bilang ke Mama apa yang kuceritakan ini...."
"Nampaknya kau jadi gangster terkenal di Hongkong karena hidupmu yang kacau itu." Aku tersenyum.
"Ya mungkin ..."
"Kau punya persiapan strategi yang bagus, enam bulan lagi harusnya kau bisa menarik dukungan para pemegang saham. Ayah bilang dia mungkin bisa mempengaruhi beberapa orang, tapi dia tak yakin bisa mengalahkan keluarga Chow dan Ayahmu."
"Aku tahu, mengeser Ayah dari CEO sangat sulit, tapi bukan tak mungkin..."
"Ibumu setuju?"
"Aku sebenarnya belum bilang aku bisa mengusahakan dukungan Philip Leung. Tapi kurasa mereka juga kehabisan pilihan."
"Ya baiklah, nampaknya Wong Lee Man akan dikalahkan putrinya sendiri. Kalian keluarga yang sangat kacau." Dia tertawa dan terang-terangan sekarang.
Aku diam, dia memang benar, keluarga kami kacau, aku gadis yang punya reputasi buruk, aku sudah biasa di cap buruk, aku tak perduli, tapi ketika Kak Cheng yang mengatakannya, ada sebuah rasa sakit yang datang.
Dengan melihat ini mungkin dia tak akan setuju punya hubungan personal denganku. Ya sudah, aku memang tak sebaik itu. Lagipula dia setuju untuk berdiri sampingku saja sudah bantuan besar.
"Aku mau pulang Ko." Sekarang aku langsung beranjak. Moodku turun ke dasar, tapi aku tak boleh merusak hubungan ini.
"Oh, kau mau pulang?"
"Besok aku punya jadwal meeting pagi. Biar kubayar bill-nya dulu."
"Kenapa kau yang membayar?" Aku yang akan membayar."
"Tak apa."
"Tidak." Akhirnya dia yang menyerahkan kartunya. Aku menunggunya di sampingnya dengan tenang. Apapun yang terjadi aku tak boleh merusak dukungan keluarga Cheng. Yang lain akan kutangani dengan Paman dan Mama.
"Terima kasih Ko." Aku tak akan membuatnya merasa risih dengan apapun, partner bisnis. Itu saja... yang kuharapkan.
Kami masuk ke mobil kemudian. Aku lebih banyak diam sepanjang perjalanan ke apartment.
"Apa ada yang salah?"
"Tidak. Maksudnya apa yang salah?"
"Kau terlihat sangat diam,..."
"Maaf, banyak hal yang lalu lalang di kepalaku. Koko ada yang ingin di tanyakan lagi?"
"Aku mungkin tak bisa sering meninggalkan Shanghai, tapi Ayah di Hongkong akan membantumu jika kau butuh bantuan. Nanti saat aku kembali ke Shanghai kau akan ku kenalkan dengan Ayah." Dia akan jarang berada di Hongkong, bagaimana mungkin kami akan bisa bersama, itu sudah jelas. Sia-sia rasanya aku mengatakan aku menyukainya, memalukan...
"Iya, aku sangat berterima kasih atas bantuan Koko, tentu saja aku tak akan menggangu pekerjaan Koko di Shanghai." Bibirku mengulaskan senyum, menutupi kekecewaan yang terlanjur tumbuh.
"Kapan kau akan ke Hongkong?"
"Tanggal 22 kukira. Tapi aku masih bolak balik ke Shanghai dalam bulan berikutnya, aku baru mengambil jabatan fungsional satu bulan ke depan. Aku harus memastikan Philip Leung bergabung dan menjamin 51% suara untuk mengganti CEO."
Aku mengatakan semua rencananku dengan gamblang padanya untuk membuat dia yakin bahwa aliansi kami akan menguntungkan, dan aku mengamankan dukunganku sampai enam bulan ke depan.
"Jika kau butuh bantuan jangan segan menelepon Ayah atau aku."
"Akan kuusahakan tidak menggangu Koko. Aku sudah menghabiskan 8 tahun karierku di kantor Ayahku sendiri, ... Mungkin Nathan akan mencoba masuk jabatan fungsional, dia berambisi menjadi CEO, aku akan membuatnya menderita di sana, banyak yang bisa kulakukan... Aku akan sibuk begitu kembali. Ban*gsat itu akan tahu siapa yang dia hadapi."
Nampaknya pertarungan di depan akan mengasikkan. Nathan Chow berani menginjakkan kaki di wilayahku, akan kupastikan dia jadi bulan-bulanan.
"Kau terdengar bersemangat."
"Aku selalu suka pada keributan..." Kak Cheng melihatku yang tersenyum dingin. Aku tidak akan memasang topeng lagi gadis lembut lagi, dia tak tertarik padaku lagipula. Aku akan menunjukkan , jika kau musuhku, dengan senang hati aku akan sengaja membuat masalah di depanmu.
"Akan kukatakan pada Ayah 80% kami pasti menang." Sekarang dia tertawa.
Aku diam, banyak yang harus dilakukan di depan. Tapi ternyata berkencan tidak termasuk. Aku terlalu bermimpi indah beberapa hari ini.
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
.