
Kami perlu beberapa pertemuan lagi untuk membahas draft perjanjian sebelum menyetujui kredit. Aku dan timku nampaknya kami akan mencapai kesepakatan.
Di pertemuan pertama kemarin nampaknya pemerintah cukup bisa menerima persyaratan force mejeure yang kami berikan jika kami bersedia masuk sebagai investor.
"Sepertinya ini akan disetujui Shiori-san oleh dewan."
"Pihak pemerintah mau bekerjasama. Itu sangat bagus. Kirimkan draft pertama kita besok Kenichi-san, kita lihat apa mereka setuju."
"Baik."
"Aku pulang dulu dulu jika begitu, apa ada masalah lain."
"Tidak itu saja."
Waktunya kembali, aku berniat membeli Gyoza untuk Mama. Dia suka Gyoza dekat stasiun yang kubawakan minggu lalu untuknya.
Hujan diluar, petunjuk lift menunjukkan aku harus membuka payungku di luar. Tapi ternyata hujan sudah reda dan meninggalkan jalan yang berkilat basah tertimpa lampu neon sepanjang jalan.
Tak lama untuk mendapatkan bus, kantorku di Yurakucho kira-kira setengah jam perjalan dari residential area di Koenji. Ayah dan Ibu masih mengisi waktunya mengajar bahasa asing, mereka punya kegiatan, Koenji merupakan daerah penuh kehidupan. Ayah dan Ibu juga tak terbiasa tinggal di pedesaan, jadi ini keberuntungan yang menyenangkan punya tempat tinggal dan kantor yang tak terlalu jauh dan penuh makanan enak.
Aku turun dari bus dan berjalan menuju rumah sekitar lima belas menit, perjalanan yang menyenangkan dibawah bau dan udara hujan yang dingin.
Teringat kerang yang belum ku susun ke botol. Malam ini aku akan menyusunnya. Pikiranku melayang kemana-mana, aku lupa aku mau membeli Gyoza, harusnya aku turun di halte sebelumnya, terpaksa aku membatalkan niatku dan terus saja berjalan ke depan.
"Dia?" Sebuah perkataan yang terdengar membuatku menoleh ke belakang. Beberapa orang pria melihat ke arahku, sejak kapan mereka mengikutiku?! Aku reflek lari.
Tanpa kusangka mereka langsing mengejarku dan mendorongku ke sebuah sudut. Sekelebat kilat, sebuah pukulan menghajar kepalaku, sakitnya tak terkira, ditambah sodokan ke ke perutku. Aku tak tahu apa yang terjadi pukulan bertubi-tubi menghantamku dan rasa sakit dan bau darah bercampur membuatku hanya bisa meringkuk melindungi kepalaku. Kukira aku akan mato dalam detik-detik itu.
__ADS_1
"Hei! Kalian gila! Apa yang kalian lakukan!" Seorang berteriak, mereka pergi tapi bersamaan dengan itu aku tahu bajuku sudah basah bersimbah darah.
"Nona! Kau tak apa?!" Dia cepat menghampiriku meringkuk tak bisa bergerak.
"Tolong aku..."
"Gunakan cardiganmu Nona. Darahnya banyak sekali. Kau bisa berdiri? Tolong! Tolong!" Aku hanya tahu beberapa orang datang. Kepalaku pusing sekali. Seorang memapahku, sebuah taxi kurasa yang membawaku, aku hampir kehilangan kesadaran sampai UGD.
Semuanya kabur dan gelap kemudian.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Rasa pusing dan sakit membuatku terbangun. Aku tak tahu dimana aku, tapi kulihat Mama di sampingku. Langit-langit dan ranjang ini, ini pasti rumah sakit. Kulihat jam di depanku sudah lewat jam 9 malam.
"Shiori?" Aku melihatnya dengan wajah begitu khawatir. Bajuku sudah berganti baju rumah sakit.
"Suamiku panggil dokter!"
"Mama..."
"Mama, aku tak tahu..."
Dokter datang kemudian.
"Nona kau ingat namamu?" Aku tahu aku diperiksa untuk cedera kepalaku. Untungnya CPUku tidak rusak. Tapi kepalaku sudah dibalut perban tebal.
"Shiori, ini Mama, Papa..."
"Masih pusing mual?"
"Iya."
"Kau ingat kejadiannya."
__ADS_1
"Aku hanya sempat melihat samar mereka tiba-tiba mereka sudah memukulku saat sudah dekat sekali, empat orang."
"Kau bisa mengingatnya itu tanda bagus, selain kepalamu 9 jahitan, tulang rusukmu retak, dan lenganmu juga cedera, kau terpaksa bed rest total selama beberapa hari kedepan, Tuan dan Nyonya kami siapkan CT scan sebentar. Polisi akan bicara denganmu tapi cuma boleh lima menit."
Aku ditanya sebentar apa yang kuingat oleh polisi. Apa aku mengenal orangnya, siapa yang mungkin kucurigai. Kusebutkan siapa yang mungkin mengancamku. Satu-satunya yang mengancamku hanya dia. Wanita gila itu, apa yang didapatkannya dengan membuatku celaka? Melampiaskan emosinya?
Dia benar-benar gila.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Bossku datang melihat kondisiku siang ini, dia tidak tahu apa yang terjadi di Hanoi tentu saja, sampai Ayahku yang menjelaskannya. Dokter membatasiku menerima tamu.
Hanya boleh menerima tamu tak lebih dari sepuluh menit dalam tiga hari kedepan, tak boleh menangani pekerjaan, membaca tak boleh lama. Aku seperti dihukum beristirahat dalam tiga hari ke depan. Walaupun CT scan tak menemukan kerusakan lain, tapi pingsan yang kualami membuat dokter punya prasangka buruk sehingga menaruhku dalam pengawasan ketat.
"Aku mendengar cerita Ayahmu Shiori, ada orang lain yang tahu selain tentu saja Tuan Ryohei?"
"Derrick-san tahu, sebenarnya dia yang memberitahu Ryohei-san. Dari rekaman kamera pengawas, bukan aku yang mengatakannya..."
"Ternyata begitu. Aku akan memastikan polisi menangkap orang-orang yang menganiayamu dan siapapun yang memberi perintah. Kau beristirahat lah, sampai dokter bilang kau boleh bekerja kau baru boleh menangani pekerjaan, teman-temanmu akan kusuruh jangan menganggumu dan mengunjungimu dulu dalam tiga hari ini." Bossku itu memberi cuti khusus tanpa boleh diganggu padaku.
Aku tak percaya wanita gila itu akan mengakuinya dengan mudah. Entah mereka ditemukan atau tidak. Aku juga tak yakin.
"Shiori, seseorang bernama Derrick meneleponmu." Mama yang menjagaku memberikan teleponku.
"Shiori-san?! Aku kaget mendengar beritamu dari Tuan Akada. Wanita tak waras itu benar-benar mencari masalah denganmu?!"
"Derrick-san aku tak tahu apa benar dia. Tapi yang pernah mengancamku hanya dia, bagaimana jika polisi tidak bisa menemukan orangnya."
"Dia tak mau mengaku, ohh, itu sangat bagus, aku lebih punya banyak cara untuk membuatnya menderita." Sekarang aku merasa Tuan Derrick ini sangat tahu bagaimana menaruh orang dalam ketakutan.
"Aku tak tahu Derrick-san."
"Kau memang tak perlu tahu, kau istirahat, kudengar dari bossmu dokter sama sekali melarangmu bekerja atau menerima tamu. Kami akan membereskan semuanya. Oke. Jangan khawatirkan apapun. Segeralah pulih. Aku tak akan menggangumu dalam 3 hari ini."
__ADS_1
"Terima kasih Derrick-san."
Baiklah, terserah bagaimana mereka menanganinya. Asalkan aku tak berhadapan dengan orang-orang gila itu lagi.