TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 2. Oliver Russell


__ADS_3

Aku kembali kamar sudah malam. Setelah petualangan mengagumkan di sungai dan menatap sunset dan makan malam yang menyenangkan diluar sana.


Suasana terlihat tenang, beberapa staff hotel terlihat berlalu lalang, di kejauhan suara samar live music restaurant hotel masih terdengar. Aku merendam diriku air kolam di depan kamarku, air yang dihangatkan itu terasa nyaman di kulitku.


Aku mengambang melihat langit penuh bintang yang ada diatasku.



Kejutan aku tiba-tiba bisa mendapatkan liburan ini dari Koko Derrick yang baik hati itu. Satu-satunya orang yang kukagumi, sosok laki-laki mengagumkan, mungkin kemudian aku pernah jatuh cinta padanya, tapi aku sadar dunia kami berbeda, dengan kharismanya, kepintarannya, dan semua fokus yang bisa dicapainya, aku tahu aku hanya akan jadi karakter pendamping.


Teman baik, dia menganggapku teman baiknya. Tapi memandangku sebagai seorang wanita? Itu tak akan pernah terjadi. Wanita cantik yang bersamanya sekarang, anak Tuan Arnold Lam, dia terlihat terang-terangan melindunginya sebagai permata berharganya.


Yah, aku hanya bernostagia pada kisah masa lalu disini, bertapa, mengingatkan diri pada rasa cintaku yang tak pernah terucap, rasanya sakit, tapi kemudian sakit itu sudah jadi bagian yang kukenal.


Aku cukup puas untuk jadi temannya kemudian. Dia teman yang baik hati, demi menarikku dari Wong Lee Man dia bersedia memberiku liburan ini. Sudahlah, ini sangat menyenangkan daripada terperangkap dengan Simon Tam yang menyebalkan itu.


"Wanita pertapa, kau sedang bertapa disini? Apa kau bisa bertapa sambil mengambang di air." Sebuah suara bariton, pria gila itu dengan t-shirt lengan pendeknya , duduk di belakang di kursi panjang kolam renang.


"Mau apa kau mesum?" Aku tak akan merubah panggilanku padanya.


"Aku hanya mendapatkan teman untuk meditasi disini."


"Ohh begitu." Bisa kubayangkan meditasi macam apa yang ada di benak bangsat Don Juan kaya macam ini. Pasti harem dengan pelayan berpakaian putih hitam dengan rok pendek. Aku sudah sering bertemu dengan species macam ini. Jadi kelakukannya arogannya sudah bisa dimaklumi.


Menanggapinya hanya membuat dia semangkin penasaran. Aku kembali memusatkankan perhatianku pada perasaan air mengalir di kulitku.


"Kau tinggal dimana." Sebuah pertanyaan yang tidak punya arti, dia mengangguku, riak pantulan air di kolam lebih menarik dari pertanyaannya.


"Buat apa kau tahu." Aku menjawabnya pelan.


"Aku tinggal di HK, kadang tapi berkantor di Singapore juga." Dia bercerita sendiri, aku tak memperdulikannya.


"Ohh."


"Sampai kapan kau disini?" Sekarang dia duduk disamping kolam menatapku.


"Masih lama."


"Wow, kau semacam sedang menghabiskan bonus liburan tahunan, atau sedang lari dari sesuatu." Aku tak berniat menjawabnya. Lebih baik aku kembali ke kamarku saja. Dia menggangu waktuku.


Aku mengangkat diriku dari air, mengambil handuk dan memakai bath robe-ku.


"Sorry, saya pergi dulu."


"Apa aku begitu menganggumu?" Dia berdiri di jalanku sambil mengangkat alisnya.


"Aku hanya pertapa yang tak terbiasa mengobrol dengan orang asing. Bisa biarkan aku lewat?"


"Jika aku tidak membiarkanmu lewat apa yang akan kau lakukan?" Aku menatapnya, apa dia menyangka aku bisa dikendalikan dengan cara seorang Don Juan memaksa menculik wanitanya.


"Aku akan melemparmu ke kolam. Dan aku serius soal ini..." Dia tertawa. Biarpun kami berbeda mungkin sekitar belasan cm, dan tubuhnya terlihat lebih kokoh tapi jika hanya melemparnya ke dalam kolam yang berjarak dua meter, bisa dilakukan dengan banyak cara.

__ADS_1


"Aku menunggu kau melakukannya?" Sebuah senyum langsung tercipta. Dalam sepersekian detik sebelum handukku jatuh ke tanah, jabku menemui rusuknya membuat dia terbungkuk selangkah ke depan, dan seketika aku mengeser kuda-kudaku ke samping, aku sudah dibelakangnya menendangnya hingga masuk ke kolam. Suara orang yang tercebur segera terdengar.


Aku mendapatkan hiburan sekarang. Bibirku mengulaskan senyum lebar melihatnya timbul di kolam itu.


"Kau yang memintanya. Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku serius." Dan sekarang aku berbalik pergi.


"Kelakukanmu memang sangat bagus. Si*alan." Aku tertawa sekarang.


"Kau perlu belajar, bahwa tak semua species wanita akan tertarik padamu Don Juan." Dengan kata-kata itu aku meninggalkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tiketmu ke Hanoi, Boss pesan ini tamu penting boss besar usahakan kau melindunginya dengan baik." Andy memberikan pesannya padaku. Yang sudah kudengar juga dari Ko Derrick.


"Oke, ini cuma 4 hari bukan."


"Iya, dia minta kita siapkan kemah cukup besar disana beserta dengan gensetnya. Tapi semuanya sudah disiapkan oleh penghubung kita yang juga investor lokal boss disana. Ini nomornya, orangnya akan menjemputmu di bandara.


"Okay, aku mengerti."


"Namanya siapa."


"Oliver Russell."


Dan sekarang aku sampai ke lokasi di sebuah daerah terpencil dengan lereng curam, ini tempatnya hampir mirip dengan Six Sense, tapi tak setinggi Six Sense vegetasinya masih cukup rapat dan tumbuhan liar masih menghijau, pantai dibawah sana indah, pasir putih yang terhampar bisa kulihat dengan jelas disini, tapi ada sedikit tanah lapang diatas sehingga kami bisa mendirikan tenda dengan yang cukup besar dengan baik.


"Persiapan kita sesuai yang diminta Nona kukira." Orang lokal penghubungku akan ikut tinggal disini, sehingga aku tak kesulitan dengan pengaturan lokal.


"Ya Nona?"


"Kau tahu cara memesan gadis-gadis cantik, mungkin kita akan membutuhkannya untuk tamu kita." Dia melihatku.


"Kau yakin Nona, di tengah hutan seperti ini?"


"Entahlah mungkin dia akan butuh sebagai inspirasi. Jika kau tahu bagus, tapi jika kau tak tahu mungkin kau harus siap-siap." Dia menggaruk kepalanya, kemungkinan dia orang baik-baik yang bekerja untuk keluarganya.


"Aku akan tanya boss saja Nona."


"Pastikan kau tahu dimana mencarinya."


"Mengerti Nona."


Kami menghabiskan semalam sebelum kedatangannya untuk mencoba berkemah disana. Dengan adanya listrik semua cukup mudah kurasa.


Sekarang Nguyen dan aku berdiri di lobby penjemputan Bandara International Noi Bai, pesawatnya sudah mendarat dari Hong Kong, kami menulis nama Oliver Russell dan mengacungkannya, seharusnya dia sudah akan keluar, pesawatnya sudah mendarat 20 menit yang lalu.


Aku melihat seseorang berjalan ke arah kami, mataku tak mungkin salah, pria itu adalah pria yang kuhajar di Six Sense!



Dia berjalan ke arah kami.

__ADS_1


Apa dia mau balas dendam padaku? Dia menatap lurus ke arahku, bibirnya mengulaskan senyum padaku.


"Sangat kebetulan sekali." Dia tersenyum padaku.


"Aku sedang menunggu orang. Urusan kita sudah selesai, kau mau kuhajar disini, kita tak punya urusan lagi?"


Dia mengeluarkan sebuah buku, buku paspor, menunjukkan namanya padaku dengan senyum lebar.


"Oliver Russell, kau melihatnya Nona?" Dia menatapku dengan senyum lebar.


Aku tak bisa bicara. Bagaimana mungkin diantara 7 milliar orang yang ada di dunia ini. Bisa dia yang yang muncul sebagai Oliver Russell.


"Namamu Nona cantik?" Dia tertawa dan tersenyum lebar padaku. Aku berbalik meninggalkan nya sekarang dan menelepon Derrick, minta penggantian tugas.


Derrick mengankat teleponku.


"Sandra, ada apa?"


"Aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini, bisakah kau mengirim orang mengantikanku, aku rela potong gaji, apapun yang kau inginkan." Apa lagi yang terjadi sekarang.


"Kenapa begitu?" Sebelum dia menjawabnya sebuah tanda telepon lain masuk. " Tunggu dulu..." Boss Philip.


Sial, dia langsung menelepon Boss Besar Philip.


"Ada apa denganmu?! Kau tak bisa keluar seenaknya begini? Kau meninggalkan tamu?!" Dan Ko Derrick memarahiku sekarang.


"Ko Derrick bisakah aku meminta penganti?"


"Tidak bisa! Boss meneleponku marah-marah! Oliver itu mau kau kembali, atau dia tidak akan bekerja! Kau tak akan mau tahu jika Philip marah pekerjaannya kau kacaukan apa yang bisa dia lakukan padamu! Kembali ke sana dan lakukan pekerjaanmu? Apa dia bisa membunuhmu? Nyawamu terancam? Kenapa kau mau pergi?"


"Astaga! Sialan! Sial! Oliver brengsek itu sialan!Aku akan membuatnya menderita!"


"Sandra kuperingatkan kau, jangan main-main ke boss besarmu! Itu tamu Philip! Jika sesuatu terjadi padanya aku tak akan bisa menolongmu dari kemarahan Philip? Ada apa sebenarnya?"


Aku tidak menjawabnya sekarang.


"Sandra?! Kau dengar aku!?"


"Ergggh, sial! fine-fine, dia lihat bagaimana aku mengurusnya! Sialan itu!" Dia berani main-main denganku akan kubuat urusan tambag panjang.


"Sandra, jika dia mengadu kau membuat masalah dengannya, kau akan menerima akibatnya. Kau lebih baik berpikir masak-masak sebelum bertindak. Jangan menyeretku ke dalam masalah. Sebenarnya ada apa dengan Oliver itu?"


"Tidak ada! Akan kuhadapi dia!" Aku memutuskan telepon Ko Derrick. Mau tak mau akan kuhadapi dia, aku pengawalnya, jika dia berani macem-macem akan ku kerjai dia.


Aku kembali ke depannya. Dia menyeringai lebar melihatku terpaksa kembali.


"Namamu Nona."


"Sandra Lai. Senang bertemu denganmu Tuan Oliver."


"Akupun senang bertemu denganmu Nona Sandra, nampaknya kita akan bekerja sama dengan baik." Senyum iblisnya membuatku meringis balik padanya.

__ADS_1


"Tentu saja..." Jika kau macam-macam denganku, akan kubuat kau diare sampai masuk rumah sakit. Percayalah padaku.


__ADS_2