
Kudengar pesta bagi para Manager dan Director itu tetap dijalankan, tapi dengan itu juga kaki tangan Paman dengan pintar menyebarkan fakta bahwa sekutu utamanya tidak berpihak pada dia lagi.
Kau pikir aku akan membiarkannya berperan menjadi Santa Claus. Tentu saja tidak. Walaupun dua tahun ini aku otomatis tidak terlibat executive perusahaan, tapi delapan tahun sebelumnya aku dilatih keras sebagai penerus perusahaan.
Tak mungkin aku melepaskanmu setelah kau menantangku.
"Koko, bisa minta tolong menemaniku ke pesta malam ini. Bisa kau mengancam Nathan Chow untuk datang ke pestaku." Aku dan Koko sedang bertemu untuk makan siang sekarang.
"Kau ingin aku mengancam Nathan Chow untuk menghadiri pesta siapa." Kuceritakan pesta siapa yang akan kukacaukan.
"Ternyata begitu." Dia tersenyum, lalu mengambil ponselnya menelepon seseorang, pastinya si Nathan ban*ci itu. "Kalian wanita jika bertengkar melibatkan perang urat syaraf heh..." Aku meringis lebar.
"Hei Nathan, ..." Dia memasang loudspeaker agar aku bisa mendengarnya.
"Apa yang kau mau."
"Malam ini hadiri pesta bersamaku, kau hanya harus meluangkan waktumu 20 menit muncul di sana."
"Pesta apa? Kenapa aku harus mengikutimu?"
"Karena jika kau tak mengikutiku, akan kau lihat apa aku bisa mematahkan gigimu lain kali." Koko ku yang ganteng ini bahkan tak perlu menjelaskan alasannya, pastinya dia sudah menghajar Nathan kemarin sehingga banci itu takut padanya.
"Jas pesta, jam 8, jangan terlambat, kukirimkan alamatnya padamu. Mengerti."
"Iya bangs*at."
"Jaga bicaramu banci! Awas jika kau tak muncul." Selesai Kak Cheng memutuskan teleponnya.
"Beres. Jam 8 nanti malam kan? Harusnya kau mengajak Ibumu, sebenarnya si Nyonya tak punya nama disana, yang punya nama adalah keluarga Chan dan keluarga Wong bukan."
"Ya kau benar, aku harus mengajak Mama ke sana. Kita bertemu di lobby hotel jam delapan oke. Aku memastikan si ba*nci itu datang." Aku mengangguk.
"Aku akan datang dengan Mama, jam delapan saat semua orang sudah disebarkan gosip siapa yang akan mengendalikan perusahaan, kita akan datang memvalidasi gosipnya." Aku tersenyum senang, setidaknya malam ini aku bisa membuat wanita itu kesal dan bertengkar dengan Papaku.
Aku tak sabar melihat wajah tercorengnya. Mama yang ku telepon tak bisa menahan tawanya mendengar rencanaku.
__ADS_1
"Kau ini jika di suruh memanasi orang memang akalnya sampai ke mana-mana. Baiklah Mama ikut saja, pasti menyenangkan melihat ular itu mencak-mencak tak keruan." Mama tertawa.
Jadilah aku dan Mama dengan gaun merah kami datang menghadiri pesta. Di lobby hotel Koko sudah menungguku dengan mengeret Nathan yang mukanya kaku dan sama sekali tak berniat menentang mataku yang memelototinya. Bahkan dia tak meminta maaf, menyesalpun tidak kurasa, tapi kurasa akupun tak berniat memaafkannya.
"Koko, kalian berjalan di belakangku saja. Ada orang Paman yang sudah mengatur spotlights begitu kita masuk."
"Oh ya, Philip mengirim Direktur Keuangan Groupnya untuk bergabung, tunggu sebentar, Mr. dia bilang dia sudah di lobby tapi aku tak melihatnya."
"Ohhh begitu?"
"Ahh itu dia," Koko menunjuk seseorang dan melambai kepada seseorang sekarang. "Tuan Yun Li, senang Anda bersedia meluangkan waktu kesini."
"Mendukung executive utama adalah tugas saya, tentu saja saya harus kesini, jangan khawatir."
"Saya perkenalkan Anda. Ini Nyonya Janice Chan, Nona Cherrie Wong, dan ini Tuan Nathan Chow."
"Tuan Yun Li, kami berterima kasih atas waktu Anda, mungkin keadaan agak sedikit kacau di dalam. Anda mungkin sedikit binggung nanti."
"Ohhh saya sudah di jelaskan keadaannya oleh Tuan Philip, saya mengerti ini memang dibutuhkan untuk membuat perusahaan solid ke depan. Perusahaan solid, investasi kami berkembang, saya akan mendukung Anda apapun yang Anda butuhkan."
"Baik, terima kasih. Sebentar saya hubungi orang saya di dalam." Aku menelepon seorang kaki tangan kubu kami yang bertugas di bagian acara.
"Baik Nona, masuk saja, lagu ini akan berakhir 20 detik lagi, saya akan memberi tanda ke pada MC acara."
Kami masuk langsung berjalan lurus ke panggung dengan tatapan orang-orang di sekeliling kami yang tahu setidaknya aku dan Mama. Walau mereka tak tahu siapa yang berjalan di belakang kami.
MC mengambil alih acara setelah penyanyi selesai menyanyi.
"Saya diberitahu kita kedatangan tamu istimewa malam ini. Para pemegang saham ternyata bersedia hadir disini, memberikan sedikit kata untuk kita. Mari kita sambut, Nyonya Janice Chan, Nona Cherrie Wong dan para perwakilan pemegang saham lainnya."
Rumor yang telah disebar dari kemarin bahwa telah terjadi perubahan peta kekuatan akhirnya di validasi. Di meja VIP wanita ular itu, Camilla Chai, yang hari ini memakai gaun putih bersih bagai bidadari putih itu, lansung berdiri dari duduknya ketika melihat aku yang naik kepanggung bersama empat orang lainnya. Sementara Ayahku yang sudah jadi lawanku tampak tak bisa bicara. Dia memang tak bisa bicara, karena akulah pemenangnya sekarang. Anaknya sudah bisa mengalahkannya, bukannya itu akan membuatnya bangga.
Wanita ular itu berdiri, tapi membuat keributan disini tak akan membuatnya menang, malah aku akan memperlihatkan betapa tak beretikanya jika dia berteriak dan membuat keributan di depan karyawan yang lain. Jadi terima saja aku telah berhasil menyabotase acara pestamu. Bahkan aku mencuri pidato dan spotlightmu.
"Selamat malam, para direktur, para manager Shing Heng group yang telah hadir disini. Kami berterima kasih Anda telah datang kesini. Para Direktur, Para Manager sekalian adalah ujung tombak terdepan dalam melaksanakan semua kegiatan perusahaannya. Di belakang saya ada semua pemegang saham terbesar Group Shing Heng kita, mereka pendukung dan menginvestasikan uangnya untuk membangun group ini, perwakilan Group Hong Lung, Tuan Yun Li." Tuan Yun Li membungkuk memberi salam ke arah hadirin. "Tuan Anthony Cheng, perwakilan Group Mars Electric, dan Tuan Nathan Chow perwakilan Wisco Group. Kami semua berharap di tahun tahun ke depan kita bisa bekerja sama membesarkan perusahaan kita, menjadikannya pelopor di setiap bidangnya. Dan saya juga Cherrie Wong akan berjuang bersama Anda semua di depan. Terima kasih atas kerja keras Anda semua. Nikmati pesta yang telah disediakan oleh Tuan Wong."
__ADS_1
Aku tersenyum dan membungkuk ke arah hadirin. Pertunjukan kekuatan telah selesai. MC mengambil alih acara. Dan sekarang kami turun dan memberi salam kepada Tuan rumah pesta.
"Ah Tuan dan Nyonya senang bertemu Anda. Saya dan Putri saya mendengar Anda mendengar Anda mengelar pesta untuk para Direktur dan Manager. Tak sopan rasanya jika kami tidak menyempatkan diri untuk hadir, Anda sudah pasti sudah berusaha keras mengatur acara ini. Saya atas nama para pemegang saham mengucapkan terima kasih."
Mama memainkan perannya dengan sempurna, dia menunjukkan kelas dan levelnya.
"Sayangnya Anda memang tak tahu diri, saya tak pernah mengundang Anda dalam pesta saya."
"Ohh Anda tak mengundang kami? Tak usah khawatir, saya tak perlu undangan dari Anda." Aku menjawab dengan tersenyum lebar. "Anda terlihat cantik Nyonya, versi malaikat salju malam ini." Aku ingin mendorongnya sampai dia di titik didih.
"Ohh ya calon menantu Anda yang melarikan diri ingin memberi salam kepada Anda. Nathan Chow kau tak memberi salam kepada mantan Ibu mertuamu?"
"Bibi, Paman... " Nathan hanya berani mengucapkan dua kalimat pendek itu.
"Ohh begitu saja, kau tak bertanya kabar pacarmu? Dia pasti kesepian di kamarnya menunggu kunjunganmu."
Nathan diam tak bisa bicara. Sang Nyonya melihatku dengan hawa membunuh, suaminya nampaknya tak berdaya membelanya, pulang dari acara ini, sang Nyonya akan mulai memarahinya detik pertama pintu ditutup.
"Tutup mulut berbisamu itu." Dia mendesis, kurasa jika tidak ada orang disini dia akan mengeluarkan cakarnya. Aku dan Mama tertawa dengan anggun.
"Kalian bisakah kalian pulang saja." Akhirnya Papaku membela sang Nyonya.
"Ohhh Papa menyuruh kita pulang Mama, ..."
"Sudahlah, Nyonya baru seperti dia memang tak tahu etika menjamu tamu dan berbisnis. Apa yang kau harapkan dari wanita penghibur kelas mahal, dia hanya tahu mendesah, bersikap pasrah, hal terbaik yang dipikirkannya menjamu karyawan untuk mendapatkan simpati dan menjual anaknya sendiri yang sayangnya juga tak menghasilkan apapun, bahkan kemudian kehilangan jabatan. Wong Lee Man, kau tak merasa salah dengan dirimu sendiri?" Ternyata Mama bisa berkata pedas juga akhirnya.
"Tutup mulutmu!" Akhirnya dia meledak juga. Orang-orang memandang kami. Wajahnya yang tadi masih tersenyum seperti peri, sekarang sudah berubah menjadi harimau marah. Aku dan Mama berpandangan dan tersenyum menang.
"Ahh Nyonya maaf kami mengacaukan pestamu. Aku memang datang kesini ingin mengacaukan pestamu tentu saja." Aku tertawa. Mama tetap bersikap anggun di sampingku.
"Kau pikir kau menang?!" Dia mulai menunjukku. Aku memang sudah menang.
"Camilla, jangan terlalu banyak marah-marah, kau tuan rumah, jika kau marah tamu-tamumu akan pergi. Baiklah, kami pergi dulu, kami hanya menyapa Tuan rumah pesta. Tuan-tuan ini punya urusan yang lebih penting. Termasuk mantan calon menantumu ini."
Kami pergi dari sana. Besok suasana kantor akan jelas. Papaku akan kehilangan jabatannya. Mungkin itu akan membuatnya sadar apa yang telah dia buang?
__ADS_1
Entahlah apa dia akan sadar. Jika sadar apa yang dia akan lakukan? Semuanya sudah terjadi. Dia hanya akan mendapatkan akibat.
ππππππ