
Satu bulan berlalu begitu cepat, hari demi hari menghabiskan waktu bersama orang tercinta mendatangkan kenangan berharga.
Memori berkasih melekat sepanjang napas masih berhembus. Bayangan masa lalu perlahan memudar berganti kebahagiaan.
Setelah menjalani pengobatan, Zidan pun berangsur-angsur pulih. Ia bisa pulang kapan saja untuk beristirahat di rumah.
Ia juga sudah mulai menggunakan kedua kakinya lagi. Keajaiban itu datang pada saat melindungi sang istri.
Dokter Abizar pun dibuat takjub dengan perubahan sang pasien sekaligus tuam mudanya. Mereka menyadari tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Siang ini Zidan memilih untuk pulang ke rumah. Sedari tadi pagi Ayana membereskan barang-barangnya di ruang inap.
Tidak henti-hentinya lensa cokelat susu itu memindai wanita berhijab di depannya lekat. Berkali-kali Ayana mendelik menahan malu, masih belum terbiasa akan perubahan tersebut.
"Berhenti menatapku, Mas," ucapnya sambil melipat pakaian.
Zidan tergelak senang lalu berjalan mendekat. Kedua lengan kekar itu memeluk Ayana dari belakang, wajah tampannya bersembunyi di ceruk leher sang istri.
"Harum mu masih sama seperti dulu, Sayang. Em, wangi sekali." Ia berkali-kali mengendus raksi yang menguar dalam tubuh pasangannya.
Merasakan pergerakan sang suami membuat Ayana merinding. Ia terdiam bak pahatan patung dengan manik melebar.
Zidan pun menyadari perubahan tersebut, kedua sudut benda kenyalnya membentuk kurva sempurna. Ia membalikan tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan.
Dengan penuh keraguan, Ayana berulang kali menoleh lalu kembali menunduk. Zidan semakin bertambah gemas dan langsung menangkup pipi mulus sang pujaan.
"Jangan palingkan wajahmu lagi, Sayang," ucap Zidan lembut.
Ayana masih bungkam seribu bahasa. Kata-kata yang ingin dilontarkan tercekat di tenggorokan, ia tidak bisa melayangkannya dan hanya diam membisu.
"Katakan sesuatu atau aku cium?" ujar Zidan menggodanya.
Seketika rona merah merambat di wajah putih Ayana. Kepala berhijab itu bergerak gelisah menghindari sepasang onyx di hadapannya.
Zidan terkekeh pelan dan semakin mengeratkan tangkupan di wajah cantik Ayana.
Pandangan mereka saling bertemu, mengunci satu sama lain menyelami keindahan bola mata masing-masing.
__ADS_1
Kepala berambut hitam legam itu pun mengangguk beberapa kali. Tatapan sendu nan memuja memandangi wanita yang kini bertahta di dalam dada.
"Aku mencintaimu, Ayana."
Tiga kata, satu napas, dan satu kalimat tercetus jua. Bagaikan sengatan listrik, aliran darah mengalir ke seluruh tubuh.
Bak kembang api menyala di hatinya, keindahan kilatannya menyembur membentuk kebahagiaan. Sudah lama, sudah sangat lama kata-kata itu ingin Ayana dengar.
Sekarang keinginan tersebut terwujud, meskipun harus melalui berbagai rintangan serta cobaan yang benar-benar menguji kesabaran.
Balasan yang Allah berikan sungguh luar biasa, pria itu, sosok yang sangat ia cintai membalas perasaan.
Ayana yang hampir melepaskannya sepenuh hati kembali ditarik sepenuh jiwa. Ia harus kembali bersama pria yang telah memberikan luka terhebat.
Namun, ia percaya Allah memberikan ujian tersebut sebab dirinya mampu melaluinya. Meskipun pernah untuk mengakhiri hidup, tetapi Allah masih melindunginya,
Ayana bersyukur, sangat bersyukur atas kesempatan yang telah Allah berikan. Ia tidak henti-hentinya mengucapkan Alhamdulillah dalam diam untuk keberkahan yang Allah hadirkan.
"Terima kasih ya Allah, berkat karunia-Mu semua indah pada waktunya," benak Ayana.
Tanpa sadar air mata menetes tak tertahankan. Dengan lembut Zidan menghapusnya bersamaan lengkungan bulan sabit bertengger di bibir menawan itu.
Degup jantung bertalu kencang membuat kedua tangannya terasa dingin. Sudah lama sekali ia tidak bersentuhan dengan sang suami dan momen kali ini benar-benar membuatnya gugup.
Zidan yang memandanginya pun mengembangkan senyum manis. Ia tidak menyangka jika Ayana sudah berusaha membuka hati untuknya lagi.
Apa yang Ayana pikirkan pun melesat jauh. Zidan tidak menciumnya di bibir, tetapi melayangkan kecupan ringan di dahi lebarnya.
Ayana membuka kelopak mata lebar melihat sang suami merenggangkan jarak.
"Aku akan melakukan di sini, saat kamu benar-benar siap," ucap Zidan sembari mengetuk pelan bibir ranum Ayana.
Sang empunya terkesiap dengan kedua mata berkedip-kedip. Zidan lagi-lagi tersenyum lebar menyaksikan reaksi Ayana.
Ia menggenggam hangat rahang sang istri masih memberikan tatapan lembut nan mendamba.
"Aku benar-benar akan menunggu sampai kamu siap, Sayang. Karena ... aku sangat mencintaimu," ungkapan cinta untuk kesekian kali tersampaikan begitu lugas.
__ADS_1
Zidan mengakui perasaan terdalam pada istri yang dulu disia-siakan. Ia bersyukur bisa sadar dari kesalahan dan akan memperbaikinya selama sisa hidup.
"Aku berharap hubungan kita bisa sampai ke jannahÂ-Nya, itulah keinginanku sekarang," lanjut Zidan lagi.
Ia kembali membubuhkan ciuman di dahi istrinya, kali ini begitu dalam nan hangat. Seakan semua perasaan disalurkan melalui sentuhan ringan itu, Ayana menutup maniknya dan tidak terasa air mata menetes tak tertahankan.
"Ya Allah terima kasih atas kesempatan yang sudah Kau berikan. Mudah-mudahan hubungan kami benar-benar bisa berjalan dengan baik," benaknya kemudian.
Pemandangan tersebut membuat sepasang iris menatap nyalang. Ia tidak percaya menyaksikan sebuah pertunjukan menakjubkan tepat di depan mata kepalanya sendiri.
Ia mengepal kedua tangan kuat menangkap ketulusan di balik mata yang selalu memberikan tatapan memuja padanya.
"Ba-bagaimana bisa mas Zidan jatuh cinta pada Ayana? Wanita itu pasti sudah melakukan sesuatu, tidak mungkin seseorang bisa berubah begitu cepat," gumamnya geram.
Sedetik kemudian ia pun menggeser pintu ruang inap membuat kedua penghuni di dalamnya terkejut.
Ayana dan Zidan menoleh ke arah ambang pintu menyaksikan wanita tidak diundang itu ada di sana.
Seketika Ayana melayangkan tatapan tajam melihat bibir merona di hadapannya melengkung begitu saja.
"Mau apa kamu datang ke sini, Bella? Apa urat malumu sudah putus?" tanyanya geram.
Bella berdecih kasar lalu melipat tangan di depan dada. Kedua kaki berheels itu melangkah ke depan tepat di hadapan sang mantan suami.
Ayana pun langsung memasang badan membuat Bella maupun Zidak terkejut. Namun, sebelum kembali melayangkan sepatah kata pria itu maju menggantikan posisi sang istri.
"Pergi! Kamu tidak diterima di sini," ucap Zidan menahan kekesalan.
Bella tergelak mendengar penuturannya. Wanita ini sudah gila, pikir Ayana menyaksikannya dalam diam.
"Apa yang lucu dari perkataanku?" tanya Zidan lagi.
"Apa kamu benar-benar akan mengusirku, Mas? Apa kamu lupa siapa wanita yang kamu cintai?" Bella semakin menjadi-jadi.
Hening melanda, ketiga insan tersebut beradu pandang satu sama lain. Konflik yang terjadi di antara mereka masih berlanjut.
Diam-diam Ayana mengepalkan kedua tangan masih memperhatikan Bella. Sebelah sudut bibirnya melengkung perlahan, ia menyeringai kala bayangan demi bayangan informasi mengenai wanita ini sudah berada dalam genggaman.
__ADS_1
"Sampai waktunya tiba, nikmatilah permainanmu sendiri, Bella. Aku yang akan mengakhirnya sampai finish," benak Ayana tetap melihat wanita di depannya.
Bella tersenyum begitu lebar memandang pada Zidan berharap keduanya bisa bersama. Namun, faktanya akan ada kejutan besar menanti di depan sana.