Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 125


__ADS_3

Di dalam galeri hanya ada alunan isak tangis dari seorang mantan pianis. Sejak dinyatakan tidak bisa bermain musik klasik lagi, Bella memberitahu Elisha untuk mengumumkan jika dirinya pensiun dini.


Banyak orang-orang khususnya yang menyukai permainan Bella, kecewa. Hujatan demi hujatan pun tidak pernah lepas membayanginya selama ini.


Ayana menatap Bella dalam diam membiarkan sang lawan bicara menangis sepuasnya.


Tidak lama kemudian ia pun menghentikan tangisan kembali memandangi Ayana. Manik jelaganya sedikit membengkak dengan hidung merah padam.


"Aku benar-benar minta maaf, sudah menyakitimu berulang kali. Sekarang ... aku sudah menerima karmanya," ucap Bella lagi.


Ayana kembali mengulas senyum dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya.


"Tidak ada yang luput dari sebuah kesilapan, tetapi salahnya adalah orang itu melakukan sesuatu tidak benar berulang kali. Jujur, memang tidak mudah melupakan perbuatanmu di masa lalu."


"Namun, sampai kapan pun kamu tetap menjadi sahabat terbaikku. Aku juga bukan manusia paling sempurna dan mulia. Aku banyak melakukan kesalahan dan kesalahan, bahkan ... kesalahan yang tidak termaafkan."


"Aku menzalimi diri sendiri menentang takdir yang telah Allah berikan. Seiring berjalannya waktu, ujian demi ujian yang Allah datangkan menyadarkan ku jika ... tidak ada kebahagiaan yang sempurna tanpa diiringi derai air mata serta rasa sakit."


"Aku ... sudah memaafkan mu, Bella. Aku sudah ikhlas atas apa yang terjadi pada kita," ungkap Ayana panjang lebar.


Bella semakin terharu membuat liquid bening itu kembali bercucuran. Tanpa mengucapkan sepatah kata ia menangkupkan wajah berair nya di kedua telapak tangan.


Iris cokelat Ayana memindai setiap jari jemari sang sahabat yang masih terbalut kasa. Ada getaran dalam jiwa menyaksikan jika itu satu-satunya yang Bella miliki.


Entah sadar atau tidak Ayana bangkit dari duduk dan berjalan mendekati Bella. Tangannya terentang memeluk hangat tubuh bergetar wanita itu.


Bella terkesiap merasakan kehangatan yang Ayana berikan. Isak tangis kembali terdengar memilukan seiring dengan mantan pianis itu membalas rengkuhan sahabat karib.


"Terima kasih, Ayana. Terima kasih banyak, aku benar-benar menyesal. Sekali lagi aku minta maaf," ungkap Bella lirih.


Ayana hanya mengangguk-anggukan kepala dan ikut menitikkan kristal bening di kedua pipi.


"Ya Allah, terima kasih sudah menyadarkan Bella dan ... terima kasih sudah memberikan kekuatan pada hamba untuk bisa memaafkannya," benak Ayana sembari menutup kelopak mata rapat.


...***...


Setelah pertemuan dengan Bella, Ayana bergegas kembali ke kediaman Zidan. Baru saja pintu terbuka kepulangannya disambut senyum merekah dari keluarganya.

__ADS_1


Tepat di depan mata kepalanya, Ayana memandangi sang suami, adik ipar, kedua ibu mertua, orang tua, serta kakak sambungnya di sana.


"Selamat kembali ke rumah, Ayana," kata mereka kompak.


Mulut ranum itu pun menganga lebar, Ayana langsung menutupnya menggunakan kedua tangan seraya memandangi ketujuh keluarganya satu persatu.


"MasyaAllah, Assalamu'alaikum aku pulang," kata Ayana dengan nada bergetar.


Mereka saling pandang masih mengembangkan senyum hangat.


"Wa'alaikumsalam," balasnya lagi bersamaan.


Ayana diam mematung merasakan kehangatan yang berkali-kali menghantam diri. Semua sudah berubah, tidak seperti dulu yang hanya dibalut luka.


Kini di saat ia pulang ke rumah ada orang-oran yang menunggu keberadaannya. Jika dulu hanya ada keheningan, sekarang ada keramaian.


Air mata menitik tak tertahankan membuat Zidan berjalan ke depan. Ia langsung merengkuh tubuh ramping sang istri dan membubuhkan kecupan berkali-kali di puncak kepalanya.


"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanyanya lembut.


Mereka pun saling memeluk erat mengabaikan beberapa pasang mata mengamati. Danieal yang menjadi salah satu saksi seperti apa perjuangan Ayana dalam mengobati depresi serta traumanya mengangguk lega.


"Em, syukurlah kalian menjadi suami istri sesungguhnya," benaknya penuh haru.


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita makan. Mamah dan ibu mertuamu sudah menyiapkannya," timpal Celia membuat pasangan muda di depannya melepaskan pelukan.


Ayana memandangi ibu sambungnya dan berjalan mendekat lalu menggandeng lengan wanita itu erat.


"Terima kasih, Mamah," ucapnya manja.


Celia menoleh ke samping kanan melihat putri sambungnya tengah menyandarkan pipi di bahu.


"Hem? Sejak kapan putri Mamah jadi manja seperti ini? Hei, malu dilihatin suamimu itu," ujarnya mengendikan dagu ke depan di mana Zidan tengah menatap mereka.


Ayana sekilas menoleh pada sang suami dan kembali pada posisinya. "Biarkan saja, aku mau menjadi putri kecil Mamah," balasnya.


"Kalau begitu Mamah juga akan memanjakan mu." Lina ikut bergabung bersama kedua wanita itu dengan menggandeng lengan sebelah kanan menantunya.

__ADS_1


"Terima kasih Mamah," kata Ayana menatap ibu mertuanya.


Ketiga wanita itu pun saling rangku satu sama lain mengabaikan para pria.


Selesai membagi kehangatan bersama, mereka pun menikmati makan malam. Celotehan demi celotehan ringan berdengung menarik atensi kekeluargaan.


Para pelayan yang sedari tadi terus melayani tuan-tuannya pun ikut senang melihat mereka. Pada akhirnya keluarga tuan muda Zidan sudah berada dititik sebenarnya.


Ayana menatap satu persatu anggota keluarga yang ada di sana. Dalam diam ia mengucapkan syukur atas keberadaan orang-orang yang telah Allah hadirkan ke dalam hidupnya.


"Mah, Yah, sekarang aku sudah mempunyai keluarga baru. Apa kalian melihatku di atas sana? Aku benar-benar bahagia. Mamah, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, tetapi izinkan Mamah Celia menempati kekosongan setelah Mamah tiada. Ayah, tidak ada yang bisa menggeser keberadaan mu, tetapi izinkan Ayah Adnan menjadi pelindungku setelah Ayah pergi."


"Sekarang aku juga punya seorang kakak yang benar-benar peduli. Mas Danieal sudah membantuku selama ini, mereka ... benar-benar menyayangiku. Mah, Yah, terima kasih sudah mengenalkan ku pada Mamah Lina dan Papa Arshan, mereka adalah mertua yang terbaik. Aku juga punya adik ipar yang sangat pengertian."


"Kini aku mendapatkan suami yang tulus mencintaiku. Aku bahagia, terima kasih ya Allah," monolog Ayana dalam benak memandangi satu persatu anggota keluarganya di meja makan.


Diam-diam ia mengembangkan senyum melihat keakraban mereka satu sama lain. Ia sudah mendapatkan keluarga serta rumah tangga sesungguhnya.


Ia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi, meskipun masih ada satu yang kurang yaitu, kehadiran buah hati.


Namun, selama mereka baik-baik saja Ayana tidak begitu terlalu memikirkannya.


...***...


Malam semakin larut, di salah satu bandara internasional ibu kota seorang wanita berambut panjang sepinggang mengenakan pakaian casual berjalan seorang diri.


Ia menyerat koper besar serta tas punggungnya keluar bandara. Kacamata hitam membingkai wajah cantiknya memindai keadaan sekitar.


Tidak lama setelah itu ia diam di depan bandara memandangi jalanan yang sudah lama ditinggalkan. Ia pun melepaskan kacamata, memandang lurus ke depan dengan sorot mata serius.


"Sudah delapan tahun berlalu, bagaimana kabar kalian? Apa masih mengingatku? Aku sangat merindukan kalian, terutama kamu," gumamnya lalu menengadah melihat langit bertabur bintang malam ini.


Kedua kaki terbalut sepatu boots berhak itu pun melangkah lagi saat melihat jemputannya sudah tiba. Ia masuk ke dalam mobil dan menuju kediamannya berada.


...THE END SEASON 1...


^^^Berlanjut ke season 2 yah teman-teman, terima kasih banyak yang sudah setia membaca sampai sini. MasyaAllah, Alhamdulillah Jazakallah khairan 🙏🏻😌🤗❤️^^^

__ADS_1


__ADS_2